GEEKY GIRL

GEEKY GIRL
Ingin Membantunya



"Apa saja yang Mami bicarakan padamu?" tanya Nicko yang penasaran.


Takut juga jika Nesya akan mengatakan hal-hal yang akan membongkar sandiwara mereka. Hingga dirinya perlu menanyakan kejelasannya pada Nesya, kekasih pura-pura nya.


"Hanya obrolan singkat. Mami mu sempat menanyakan sudah berapa lama kita menjalin hubungan. Dan berapa lama kita mengenal." Tutur Nesya menjawab apa adanya.


"Lalu apa jawaban yang kau berikan?" tanya Nicko yang mulai khawatir. Takut Nesya menjawab dengan jawaban yang tak masuk akal.


"Sebulan, aku mengatakan kita sudah menjalin hubungan selama sebulan. Dan saling mengenal selama kurang lebih enam bulan." Jawab Nesya.


Nicko menghela nafasnya lega, kala mendengar jawaban Nesya. Beruntung jawaban yang Nesya berikan cukup masuk akal. Karena jika mengatakan lebih lama dari itu, tentu Maminya akan curiga. Mengapa baru Ia bawa hari ini, Nesya dihadapan sang mami.


"Mami juga menceritakan bagaimana kau dan Karnia bisa menjadi kekasih. Cukup memprihatinkan, tapi kau bisa segera terbebas sekarang dari wanita itu." Ujar Nesya pada Nicko.


"Wah kalian sedekat itu? Tampaknya Mami memng benar menyukaimu, begitu pun sebaliknya." Goda Nicko tanpa sadar.


"Aku? apa maksudmu? Wajar jika mami menyukai ku, karena setahunya aku adalah kekasih mu. Jadi mungkin Mami berusaha untuk bersikap baik. Kalau aku, aku tak begitu tahu. Mami sangat humble sehingga aku juga tak merasa canggung. Tapi untuk menyukai nya, aku rasa aku tak berhak." Jelas Nesya merasa sadar diri, bahwa semua ini hanya sandiwara semata.


"Yang aku lihat begitu, kau sepertinya juga menyukai Mami. Dari caramu memanggil nya terus menerus seperti itu, membuat ku semakin yakin." Ujar Nicko.


"Sepertinya aku menjadi terbiasa, karena sejak tadi Mami memaksa ku untuk memanggilnya seperti kalian." Jelas Nesya merasa tak enak.


"Maaf jika aku lancang dengan tetap memanggilnya seperti itu." Lanjut Nesya lagi.


"It's ok. Kau boleh memanggil nya sesuai keinginan mu. Dan untuk menyukai Mami ku, itu kau juga berhak." Jelas Nicko yang merasa tak nyaman melihat Nesya yang merasa tidak enak.


"Terimakasih." Jawab Nesya. Ia pikir Nicko akan marah pada dirinya, rupanya pria itu cukup pengertian. Membuat Nesya entah mengapa merasa Nicko begitu berbeda, rasa kesalnya selama ini seketika serasa menghilang.


Akhirnya Nesya sampai di rumah. Setelah Nicko melajukan kendaraannya pergi meninggalkan tempat tinggalnya. Nesya memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah.


Sesuai yang dirinya katakan tadi. Teira tak menunggunya pulang. Baguslah, pikirnya. Karena sejujurnya Nesya begitu malas untuk menjelaskan semuanya.


Bagaimana dirinya bisa terlibat dengan atasannya itu dan kedepannya sepertinya juga akan sama. Mengingat bahwa dirinya yang selama ini sedang dicari-cari oleh Nicko.


Keesokan harinya, Nesya maupun Teira tidak berangkat ke kantor. Karena hari ini hari libur. Sehingga mereka hanya asik berguling ke sana kemari di atas kasur. Bermalas-malasan.


Namun itu hanya berlaku sebentar saja bagi Nesya, karena terdengar seseorang tengah mengetuk pintu rumah nya. Awalnya Nesya tak ingin menggubris, namun saat terdengar suara yang rupanya suara Teira.


Nesya pun terpaksa harus bangkit untuk membukakan pintu untuk temannya itu. Nesya juga sudah menebak tujuan temannya itu datang ke tempatnya pagi-pagi begini.


"Ceritakan semuanya, kau sudah berjanji semalam." Pinta Teira langsung to the point.


Sudah Nesya tebak memang ini tujuannya, membuat Nesya menghela nafas lelah. "Aku akan mandi dulu, lebih baik kau masakkan aku sesuatu oke." Tutur Nesya pada Teira, kemudian berlalu pergi.


Meskipun mereka baru mengenal satu sama lain, namun tak membuat mereka merasa canggung atau harus menjaga perasaan satu sama lain.


Teira pun menurut dengan apa yang Nesya katakan. Ia memasakkan sesuatu untuk dirinya juga Nesya. Karena dirinya juga belum makan sebenarnya. Jadi sekalian saja bukan mereka makan bersama.


Hingga setelah beberapa saat, akhirnya masakan Teira sudah jadi. Sedangkan Nesya juga sudah selesai membersihkan dirinya. Bahkan juga sudah terlihat memakai pakaian. Karena saat ini, wanita itu tengah menghampiri Teira, makanan rupanya.


"Kau sudah selesai, mari kita makan." Tutur Teira dengan semangat.


Teira memang tipikal wanita yang memiliki sifat ceria dan ramah. Tak heran bila Nesya juga langsung nyaman berteman dengan tetangganya itu. Namun di sisi lain, Nesya juga merasa khawatir pada diri Teira.


Biarlah nanti akan dirinya tanyakan. Lebih baik mereka mengisi perut terlebih dahulu untuk saat ini. Baru menyelesaikan segala urusan apa yang perlu diselesaikan.


"Masakan mu enak sekali." Puji Nesya pada Teira.


"Tentu saja, apa kau tak tahu. Aku dulu sangat terobsesi menjadi chef, namun tak kesampaian." Jawab Teira dengan jujur.


Teira memang begitu berambisi pada sebuah makanan dan masakan. Maka tak heran, jika dirinya memiliki tangan yang mampu membuat makanan begitu lezat. Karena beradu dengan bahan-bahan makanan adalah hobinya.


"Wah benarkah? Mengapa seperti itu, apa karena biaya?" tanya Nesya mencoba menerka.


Dan dijawab anggukan oleh Teira. Memang dirinya terhalang biaya untuk melanjutkan menjadi chef. Karena waktu itu dirinya harus pergi ke luar negeri untuk mengembangkan bakatnya itu.


Namun karena kondisi perekonomian yang tak memungkinkan, hingga Teira memilih mundur dan mengubur mimpi-mimpinya. Namun Tuhan begitu baik, karena saat ini kekasihnya merupakan seorang chef. Mimpinya tetao berada dalam sekitarnya, meski tak dimiliki dirinya sendiri.


"Jika kau mendapatkan bantuan beasiswa atau semacamnya, apa kau masih ingin melanjutkan nya?" tanya Nesya penasaran.


Rasanya tak tega melihat Teira tak bisa mewujudkan mimpinya. Sedangkan dirinya yang bergelimang harta, justru saat ini malah memilih berpura-pura kesulitan ekonomi. Hanya untuk mencari orang-orang yang tulus menerima dirinya.


Nesya ingin membantu Teira mewujudkan mimpinya. Ia rasa kedua orang tuanya juga akan menyetujui keinginannya itu.


Teira tertawa mendengar perkataan Nesya. "Apa ada beasiswa untuk menjadi chef? Aku tak pernah mendengarnya di negara kita. Tapi kalau di negara lain, aku sering mendengarnya. Tapi untuk pergi ke sana pun, aku tak ada dana." Tutur Teira yang pasrah.


Toh dirinya juga sudah begitu lama mengubur mimpi-mimpinya itu. Jadi fokusnya sekarang bukan lagi untuk mengejar mimpi itu, melainkan memperbaiki kehidupannya. Supaya kelak anaknya tak akan merasa kekurangan seperti dirinya.


"Memang di sini tak ada, tapi apa kau tahu sebuah nama keluarga. Nicolas? Mereka sering membantu para pemuda yang ingin memperjuangkan mimpinya. Apa kau tak berminat?" tanya Nesya mencoba meyakinkan Teira.


"Benarkah? Aku tak pernah mendengar tentang Nicolas yang sering membantu para pemuda seperti itu." Tutur Teira tampak berpikir.


Padahal memang tak pernah keluarganya seperti itu. Ini hanya akal-akalan Nesya, supaya Teira mau dibantu. Dan tetap semangat mengejar mimpinya.


"Jadi apa kau mau?" tanya Nesya.


"Tentu saja aku mau jika memang Nicolas mau membantuku." Jelas Teira dengan mantap. Dan itu membuat Nesya tersenyum senang.


Next .......