
"Mami tak mau tahu, yang Mami tahu kalian sudah melakukan tindakan tak pantas. Jadi bulan depan suka atau tidak kalian harus tetap menikah." Putus Mami secara sepihak.
Tentu saja itu hanyalah akal-akalan Mami untuk membuat Nesya segera menjadi menantunya. Tak ingin lagi wanita cantik itu nantinya akan pergi dan sulit dicari. Tentu juga kebahagiaan Nicko tetap menjadi salah satu pemicunya.
"Oke Mi, Nicko setuju. Nicko akan segera menemui kedua orang tua Nesya, membawa serta Papi dan Mami." Tegas Nicko tak ingin menerima bantahan dari Nesya yang terlihat tak setuju.
"Emm Mi, boleh Nesya berbicara sebentar dengan Nicko. Sepertinya ada hal yang perlu diluruskan." Ujar Nesya meminta izin pada Mami.
Mami terlihat berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya tanda mengizinkan. Setelahnya Nesya menarik lengan kekar Nicko untuk di bawa ke tempat yang cukup jauh dari Mami.
"Apa kau gila dengan langsung menyetujuinya?!" Marah Nesya yang merasa tak terima dengan keputusan mendadak Mami.
Apalagi Nicko langsung menyetujui begitu saja. Membuat Nesya merasa geram dengan Nicko yang tak memikirkan posisinya. Lagi pula mereka juga tak memiliki hubungan apa-apa.
Nicko menatap Nesya dengan senyum tipis yang tersungging di bibir nya.
"Bukankah saat di villa aku sudah mengatakan akan menjadikan mu milikku. Jadi tak ada alasan bagiku untuk menolak keputusan Mami." Ujar Nicko menyeringai ke arah Nesya, membuat wanita itu semakin dibuat geram oleh pria itu.
"Ingatlah Nick, kita tak memiliki hubungan apapun. Jadi tak bisa begitu saja akan melangsungkan pernikahan." Tutur Nesya beralibi, semua alasan akan dirinya lakukan demi membatalkan rencana konyol itu.
Nicko mengetatkan rahangnya kala mendengar pernyataan wanita yang berdiri di hadapannya itu. "Kau adalah wanitaku, tentu saja itu berarti kau adaah kekasihku sekaligus calon istriku." Tegas Nicko berucap dengan nada dingin.
Semakin lama berargumen melawan Nesya, rupanya memancing emosi juga. Apapun yang terjadi, Nicko tetap akan menjadikan wanita itu miliknya. Bersedia atu tidaknya Nesya, Nicko tak akan peduli.
Sementara Nesya merasa sedikit ketakutan kala pria yang berada di depannya itu tampak marah. Namun meskipun begitu, dirinya tetap ingin memperjuangkan haknya. Nesya tak ingin menikah dalam waktu dekat ini. Hal itu yang sebenarnya menjadi alasan utamanya menolak keputusan itu.
"Aku belum ingin menikah." Singkat Nesya berucap tegas.
Akhirnya dirinya mengungkapkan alasan utamanya menolak menikah dengan Nicko. Nesya berharap dengan mengatakan alasan yang sebenarnya, Nicko akan tergugah dan memahami keinginan dirinya.
Nicko tertawa pelan persisi ejekan, saat mendengar Nesya mengatakan alasannya. "Klise sekali alasanmu." Tutur Nicko tak percaya dengan alasan yang wanita nya berikan.
"Memang itu kebenarannya, aku sungguh tak beralasan atau mencari cari alasan. Aku tak ingin menikah dalam waktu dekat ini, asal kau tahu." Jujur Nesya mengatakan nya dengan tegas.
Pria di depan nya itu mengira dirinya hanya beralasan. Namun kenyataannya memang begitu. Harus bagaimana lagi agar pria itu mengerti jika sudah jujur pun dianggap mencari alasan.
"Lalu apa masalahnya? Kehidupanmu tak akan berubah sama sekali jika menikah denganku, Girl." Ujar Nicko menimpali.
"Tentu saja akan berubah, bagaimana mungkin sebelum dan sesudah menikah tak ada perbedaan?" Ketus Nesya menjadi kesal dibuat Nicko.
"Apa, jelaskan padaku Girl perubahannya." Titah Nicko menantang Nesya untuk mengatakan hal yang kemungkinan akan berubah, jika mereka menikah.
Nesya berpikir sejenak untuk mengumpulkan berbagai hal yang kemungkinan akan berubah jika dirinya dan Nicko jadi melangsungkan pernikahan. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya segala pundi-pundi memori itu akhirnya terkumpul.
Nicko kembali tertawa mendengar Nesya mengutarakan hal-hal yang ada dalam kepalanya. Wanita nya itu sungguh begitu lucu di matanya.
"Apa kau begitu takut Girl? Padahal setelah menikah pun aku tak akan menuntut apapun padamu. Aku hanya ingin menjadikan mu milikku, dan tentu saja saling mencintai. Simple bukan?" Ujar Nicko bertanya, menatap Nesya dengan lekat dan tajam.
"Dan jika kau ingin pergi kemanapun, aku akan membebaskan mu. Tak mungkin aku akan mengurung mu seperti dalam penjara." Lanjut Nicko berucap.
Nesya terdiam mendengarkan dengan seksama apa yang pria itu ucapkan. Nampaknya pria itu berujar dengan jujur tanpa dusta. Membuat Nesya mulai sedikit luluh.
Namun hanya sedikit. Karena Nesya tetap saja masih merasa ingin bebas sebagai seorang wanita lajang yang belum terikat oleh hubungan serius dengan siapa pun.
"Aku masih tak bisa, aku ingin menikmati kebebasanku untuk saat ini." Ujar Nesya masih menolak.
Hal itu membuat Nicko menghela nafas lelah. Keras kepala sekali wanita nya itu. Sulit sekali untuk dirayu. "Apa kau tak tertarik sama sekali padaku?" tanya Nicko menatap intens wanita itu.
Mungkin segala alasan yang Nesya berikan terkait pernikahan akan sulit untuk di luluhkan. Namun jika wanita nya memiliki perasaan pada nya, kemungkinan besar segala alasan itu akan sirna kalah oleh rasa.
"Mengapa kau menanyakan hal itu? Bukankah dari awal memang hanya kau yang mengejar-ngejar ku?" Ujar Nesya bertanya balik.
Nesya sedikit gugup mendapati pertanyaan yang Nicko utarakan. Karena bagaimana pun terasa memalukan jika sampai Nicko mengetahui dirinya mulai tertarik pada atasannya itu. Sebagai wanita, Nesya benar-benar memiliki gengsi yang tinggi.
"Saat menjadi sekretarisku? Apa tak ada sedikitpun ketertarikan padaku?" tanya Nicko lagi, walau pun pertanyaan nya yang pertama belum terjawab.
Nesya semakin salah tingkah dengan pertanyaan Nicko yang seolah tepat sasaran. Namun untung saja Nesya berhasil menguasai dirinya dengan baik dan segera.
"Tentu saja tidak, atasan menyebalkan sepertimu bagaimana bisa aku tertarik?" Jawab Nesya dengan ketus.
Nicko menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Baiklah, aku tahu sekarang alasan mu yang sebenarnya. Meskipun begitu, aku tak akan membatalkan niat untuk memilikimu. Bulan depan, pernikahan itu tetap akan terjadi." Tegas Nicko kemudian berlalu pergi meninggalkan Nesya di tempat nya.
Nesya menghela nafas berat kala mendengar ucapan tegas pria itu yang tetap kekeh dengan keputusan nya. Membuat Nesya menjadi pusing dan bingung sendiri sekarang.
Daripada merasakan kekhawatiran sendiri, akan lebih baik Nesya pulang ke rumah orang tuanya. Nesya kan mengadukan semua ini pada sang Mama. Bukan mengadu, tepatnya curhat pada ibunya.
"Mi, Nesya mau pamit pulang dulu." Pamit nya pada Mami yang masih stay di ruang menonton.
"Kalian sudah selesai bicaranya? Nicko kemana? Biar Nicko yang antarkan kamu." Ujar Mami yang terlihat mencari Nicko.
"Nesya bisa pulang sendiri Ma, please." Tutur Nesya dengan wajah mengiba.
Rasanya masih malas untuk bertemu dan bertatap muka dengan Nicko, atasannya itu.
Next .......