
Lengan? Nesya yang tampak lemas, masih dapat berpikir. Lengan siapa yang sedang menopangnya ini? Hingga wanita itu memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat siapa gerangan.
Deg
Jantungnya kembali terasa seolah berhenti berdetak. Nicko? Lalu siapa yang duduk di kursi Nicko dan sedang berciuman dengan Stella saat ini?
"Nicko?" gumamnya memanggil nama pria itu untuk memastikan dirinya tak salah.
"Ya Sayang, Ini aku." Jawab Nicko menatap lekat Nesya dengan penuh perasaan.
Hingga kemudian Nesya kembali menangis. Dan Nicko segera mendekap tubuh wanita nya itu untuk masuk dalam rengkuhannya.
Nesya menangis lega sekaligus kesal dengan kejadian saat ini. Dengan sekuat tenaga Nesya memukul dada bidang pria itu. "Kau mengerjai ku?" tanya Nesya dengan emosi.
"Sebagai hukuman untuk anak nakal sepertimu." Jawab Nicko memeluk Nesya semakin erat.
"Jadi masih mau menolak untuk menikah denganku dalam waktu dekat ini?" tanya Nicko pada Nesya yang masih asik membenamkan wajahnya di dada bidang milik nya.
Nesya menggelengkan kepalanya. Rasanya tak mau kejadian yang baru saja terjadi akan menjadi kenyataan. Nesya tak ingin Nicko dimiliki siapapun. Karena Nicko hanya miliknya seorang.
"Lalu siapa yang ada di kursi mu itu?" tanya Nesya.
Karena sungguh Nesya begitu tertipu oleh wajahnya dari samping juga suaranya yang begitu mirip dengan Nicko. Maka tak ada alasan bagi Nesya untuk tak percaya sejak tadi.
"Hei kalian, berhentilah bermesraan. Calon istriku ingin berkenalan." Tegur Nicko yang melihat pasangan itu tampak saling bertukar saliva. Seperti tak ada tempat lain.
Akhirnya keduanya bangkit dari duduknya dan melangkah untuk duduk di samping Nicko dan Nesya. Nesya terkejut menatap wajah pria itu. Memang sangat mirip dengan Nicko.
"Apa dia kembaranmu?" tanya Nesya dengan polosnya. Dan hal itu membuat mereka tertawa.
"Bukan Girl, dia saudaraku yang selama ini berada di LN. Kau pasti jarang melihatnya, karena dia memang sudah lama berada di sana." Jelas Nicko pada wanita nya itu.
"Noah, dan perkenalkan ini tuangan ku Stella Willian. Kau pasti sudah melihatnya di media." Ujar Noah.
Kemudian kedua wanita itu saling berkenalan. Kini Nesya paham dengan alur jebakan yang Nicko ciptakan untuknya sampai pada kejadian barusan.
"Sebaiknya jangan tinggalkan lagi pria ini. Sebulan ini dia uring-uringan karena tak dapat melihat wajah mu." Tutur Noah bergurau pada Nesya.
Nesya dan Stella hanya mampu tertawa mendengar perkataan Noah itu. Sementara Nicko tampak melebarkan matanya saat mendengar hal itu. Bisa-bisanya rahasianya dibongkar di sini.
"Tentu saja, karena aku begitu mencintaimu." Ujar Nicko menatap Nesya lekat. Daripada merasa malu karena ketahuan, lebih baik menambahkan bumbu-bumbu yang lain. Demi merayu wanita nya itu.
"Apa kalian sudah lama bertunangan?" tanya Nesya yang merasa penasaran.
"Hari di mana berita tentang Nicko dan Stella keluar, waktu itu sebenarnya acara pertunangan kami. Maaf karena membantu Nicko untuk mengerjai mu supaya pulang." Jelas Noah pada Nesya.
"Ya, kamu hanya membantu saudara yang sedang merasa kesepian." Tambah Stella menimpali perkataan kekasih nya itu.
Mendengar penjelasan yang Noah sampaikan, Nesya semakin paham alur mengerjai dirinya itu. Sepertinya Nicko begitu niat melakukan semua itu. Ya sudahlah, dirinya memang keras kepala. Pantas mendapatkan hukuman sedikit.
"It's ok. Aku tak masalah tentang hal itu. Aku memang keras kepala dan harus diberi suatu pelajaran terlebih dahulu." Ujar Nesya merasa begitu kekanakan.
Hingga akhirnya Noah berangkat terlebih dahulu ke kantor untuk menggantikan posisinya. Sementara Nicko menunggu kedatangan Stella terlebih dahulu untuk ikut serta ke kantor.
Dan sampailah pada sandiwara yang mereka buat. Nicko dan Stella yang telah sampai di perusahaan tak sengaja berpapasan dengan Teira. Hingga akhirnya Teira menjelaskan situasi yang terjadi di dalam ruangan nya.
Nicko yang tak sabar menemui Nesya segera meminta Stella untuk segera masuk dan menjalankan misi mereka. Hingga adegan itu, kemudian Nicko masuk tepat waktu saat Nesya belum sampai terjatuh ke lantai.
Sementara Teira sudah Nicko jelaskan semua rencana itu. Hingga wanita itu akhirnya memilih pulang kembali ke rumah Nesya untuk bertemu teman-temannya yang lain. Toh Nesya pasti aman dengan adanya Nicko.
Apalagi Nicko rupanya memang tak seburuk pikiran Nesya selama ini. Nicko sebenarnya tak berpaling dari Nesya, dan semua itu hanyalah akal-akalan dari pria yang begitu mencintai Nesya itu.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Teira sampai di kediaman Nicholas. Tampak teman-teman nya dan kedua orangtua Nesya tengah bersantai ria di taman. Ada Aaron dan Sidy yang saling menggoda di kolam renang.
Sementara yang lainnya duduk santai dengan meminum jus dan cemilan yang terhidang di sana. Teira menatap Justin yang tampak asik mengobrol dengan kedua orangtua Nesya. Membuat hati Teira merasa hangat dengan kepribadian Justin yang mudah akrab dengan orang lain.
Apa mungkin saat nya untuk membuka hati. Teira sejujurnya masih menyimpan perasaan untuk mantan kekasihnya. Namun melihat bagaimana perjuangan Justin berusaha mendekatinya selama ini. Teira merasa harus segera membuka hatinya untuk pria itu dan menutup lembaran lama.
***
"Jadi apa kau mencintaiku?" tanya Nicko.
Saat ini mereka sedang menikmati waktu berdua di rooftop gedung perusahaan. Karena tak ingin diganggu sama sekali, Nicko sampai mengusir Noah untuk pergi dari perusahaannya. Karena pria satu itu tak mungkin membiarkan dirinya akan tenang. Jahilnya melebihi Nathan.
"Tentu saja." Jawab Nesya dengan singkat.
"I love you." Ucap Nicko.
"Love you too." Jawab Nesya menimpali.
Kemudian mereka menikmati pemandangan kota melalui tempat di mana mereka berada saat ini. Nesya bisa bernafas lega saat ini, karena Nicko memang hanya miliknya.
"Memangnya kapan kita akan menikah?" tanya Nesya ingin tahu.
"Lusa." Jawab Nicko dengan singkat.
"Apa?!" Teriak Nesya dengan terkejut.
Mengapa cepat sekali. Nicko rupanya masih menjadi pria gila yang begitu tak tertebak. Ia pikir tak secepat itu mereka akan menikah.
"Kenapa? Apa ada rencana untuk kabur lagi?" tanya Nicko menatap Nesya dengan tajam.
Dan Nesya yang mendapati pertanyaan itu seketika tersenyum malu-malu. Merasa malu dengan apa yang pernah dirinya lakukan waktu itu yang nekad kabur.
"Tentu saja tidak. Hanya saja mengapa secepat itu? Apa tak bisa seminggu atau sebulan lagi?" tanya Nesya.
Nicko menghembuskan nafasnya dengan berat. " Sebenarnya ini jadwal pertama perencanaan perniakahan kita yang Mami tentukan. Apa kau ingat?" tanya Nicko, dan diangguki oleh Nesya.
"Baiklah, aku juga tak bisa menolak." Ujar Nesya dengan pasrah.
Next .......