
Nesya memasuki rumahnya diikuti oleh Teira yang masih setia menempel padanya. Penasaran juga kemana teman nya itu seharian ini. Karena Teira tahu teman nya itu tak ada di kantor besama dengan atasannya Tuan Nicko.
Sementara Nesya langsung membaringkan tubuhnya di kasur empuknya,meski tak senyaman yang ada di rumah orang tuanya.
"Kemana kalian seharian tak ada di perusahaan?" tanya Teira mendesak Nesya. Matanya menatap Nesya dengan mengintimidasi.
"Hanya pergi bertemu klien, seperti biasa Ra." Jawab Nesya berbohong.
Tentu saja berbohong, mana mungkin Nesya akan jujur bahwa dirinya diajak ke villa. Dan diancam oleh atasannya itu. Kalau dijawab jujur seperti itu, yang ada Teira akan semakin banyak bertanya. Dan Nesya belum siap menceritakan semuanya.
Namun setelah dipikir-pikir lagi, apa sebaiknya Nesya ceritakan segala kebenarannya pada Teira saat ini. Daripada nantinya Teira justru akan kecewa jika mengetahui dari orang lain atau tahu sendiri.
"Ra, sebenarnya ada hal yang perlu aku ceritakan padamu." Tutur Nesya berniat jujur.
"What? Ohh aku tahu, apa kau telah menjalin sebuah hubungan dengan atasan kita itu?" Tanya Teira dengan antusias.
Namun dijawab gelengan oleh Nesya. "Lebih parah dari itu asal kau tahu." Nesya kembali berujar. Membuat Teira menatap bingung ke arah teman nya itu.
Nesya bangkit dari berbaringnya lalu duduk menghadap Teira. "Aku sebenarnya sedang menyamar selama ini." Tuturnya.
Membuat Teira tertawa mendengar omong kosong dari bibir teman nya itu. "Kau tak perlu bercanda seperti itu Nesya. Jujur saja jika kalian memang ada hubungan" Ucap Teira yang tak percaya pada perkataan Nesya.
"Aku jujur, dan akan ku buktikan." Ucap Nesya yang langsung membuka penyamarannya. Hingga menampakkan wajah asli seorang Nesya Nicholas.
"Kau?!" Kaget Teira dengan spontan.
"Yes, it's me. Aku Nesya Nicholas keturunan Nicholas." Ujar Nesya dengan jujur.
Sedangkan Teira masih menatap tak percaya teman nya itu. Jadi selama ini yang selalu bersama-sama dengannya adalah Nesya Nicholas. Teira benar benar tak menyangka, keturunan konglomerat akan ada di lingkungan hidupnya.
"Maafkan aku karena tak jujur dari awal, tapi aku memiliki alasan sendiri melakukan hal ini." Ujar Nesya menjelaskan, takut Teira marah karena sejak tadi wanita itu hanya terdiam.
"Aku tak masalah, hanya saja tak menyangka bisa bertemu dengan mu seperti ini." Tutur Teira yang masih merasa syok.
"Kau tak marah karena aku berbohong selama ini?" tanya Nesya was-was.
Teira menggeleng pelan, tentu saja tidak. Untuk apa juga marah, lagipula itu hak Nesya untuk belum jujur padanya. Karena terlihat bahwa Nesya hanya perlu waktu untuk berkata jujur.
"Tidak, karena itu hak mu. Lagi pula, jika kau mengkhianati ku sekalipun. Aku juga tak akan menyalahkan mu. Karena sejak awal aku yang memutuskan untuk mempercayai mu." Jawab Teira dengan tersenyum manis.
Nesya terharu mendengar jawaban yang Teira berikan. Hingga tangannya tergerak untuk memeluk Teira, menyalurkan rasa terharu dan bersyukurnya. Karena ditemukan dengan orang sebaik Teira.
"Lalu apa alasan yang membuat mu melakukan hal ini?" tanya Teira menjadi penasaran.
Hingga cerita itu mengalir dari bibir Nesya semuanya, tanpa terkecuali. Juga tentang kelakukan dan tekad gila Nicko yang akan menikahinya di bulan depan.
Teira bukannya prihatin justru menertawakan Nesya yang merasa frustasi dengan segala tingkah Nicko. Dan itu membuat Nesya bertambah kesal, hingga terjadilah perang bantal antar mereka.
"Astaga, anak itu." Keluh Mama setelah mengecek kamar Nesya dan mencari keberadaan putri nya.
Baru saja Mama ingin meminta Nesya keluar dari kamar segera. Tentu saja untuk menemani Nicko dan berbincang bersama. Namun saat dicek ke kamarnya, rupanya putri satu-satunya itu sudah hilang entah kemana.
Akhirnya Mama kembali ke ruang tamu dan memberi tahu Nicko apa yang terjadi. Dan tanpa banyak kata, Nicko segera mencari Nesya setelah berpamitan. Nicko meyakinkan mereka, bahwa Nesya akan baik-baik saja.
"Rupanya kau ingin bermain-main dengan ku, Girl?" gumam Nicko setelah melajukan kendaraan meninggalkan kediaman Nicholas.
Nicko tentu mengetahui di mana keberadaan wanita nya itu. Karena kemana lagi tempat yang akan Nesya tuju jika bukan rumah tempat persembunyiannya selama ini.
Nicko akan menangkap dan mengurungnya segera. Jika perlu Nicko akan melangsungkan pernikahan mereka besok. Agar Nesya jera dan tak kabur-kaburan seperti ini demi menghindarinya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Nicko akhirnya sampai di rumah kecil Nesya. Tanpa banyak berpikir lagi, Nicko segera mengetuk pintu rumah itu. Berharap sang empunya akan membukakan.
Namun sudah lima menit, tetap saja takada tanda-tanda pintu itu akan dibukakan oleh pemiliknya. "Girl, aku tahu kau ada di dalam. Bukalah atau aku akan merusak pintu mu ini." Ancam Nicko pada akhirnya.
Namun tetap saja tak ada sahutan, hingga suara langkah kaki seseorang mengalihkan atensinya.
"Maan Tuan, Nesya sedang tak ada di rumah. Saya pikir masih bekerja bersama Tuan." Tutur Teira memasang wajah semeyakinkan mungkin. Namun Nicko tahu jika ada kebohongan dalam ekspresi wajahnya.
"Katakan padanya, jika besok tak masuk kerja. Aku akan langsung menikahinya besok." Ujar Nicko dengan penuh ancaman.
Pria tampan itu berlalu pergi setelah mengatakan kalimat ancamannya. Nicko tahu Nesya saat ini tengah berada di rumah Teira. Namun untuk menerobos ke dalam rasanya akan merusak citranya sebagai pemimpin perusahaan.
"Kurang ajar sekali, siapa yang akan takut dengan ancamannya." Geram Nesya dengan sebal.
Setelah kepergian Nicko, Teira segera kembali ke dalam rumahnya dan menyampaikan ancaman yang Nicko berikan. Dan begitulah tanggapan wanita yang membuat Nicko jatuh cinta itu.
"Sebaiknya besok kau harus masuk kerja. Em kalaupun tidak, itu lebih bagus. Karena Tuan Nicko akan segera menikahi mu." Ujar Teira menggoda teman nya itu.
"Dasar kau. Aku akan masuk kerja besok, dan lihatlah apa yang akan aku lakukan." Ujar Nesya menyeringai, telah merencanakan sesuatu.
"Terserah kau saja, aku mengantuk dan ingin tidur." Ujar Teira lalu merebahkan dirinya untuk tidur.
Setelah kepergian dirinya dari rumah. Ternyata Mama nya mencari dirinya dan menghubungi nomornya. Nesya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan di tempat yang aman.
Nesya tak ingin mengatakan keberadaannya karena tahu Nicko pasti akan mengejarnya lagi, mengingat pria itu masih ada di rumahnya. Namun setelahnya, Mama mengatakan bahwa Nicko saat ini sedang perjalanan mencarinya.
Sontak hal itu membuat Nesya kelabakan dan segera mengunci pintu untuk menumpang di rumah Teira. Dan terjadilah kejadian tadi, dirinya tak ada di dalam saat Nicko mengetuk pintu.
Sementara Nicko memutuskan kembali ke rumah nya. Sudah cukup hari ini, besok dirinya akan membuat Nesya tak bisa lari lagi darinya. Nicko menjadi begitu posesif setelah berhasil menemukan keberadaan wanita nya yang dicari selama bertahun-tahun itu.
Next .......