
Setelah melakukan pekerjaan masing-masing seharian, saatnya jam kerja pun selesai. Nesya mengendarai motornya seorang diri karena Teira sedang kencan dengan kekasihnya.
Nesya menikmati perjalanannya dengan santai. Hingga bunyi klakson mengangetkan dirinya. Yang membuatnya terpaksa menghentikan laju kendaraan motornya.
Saat menoleh ke samping, rupanya pria yang yang menjadi atasannya yang sudah membuat jantungnya seakan ingin melompat. Padahal sudah diluar area kantor, tapi atasannya itu masih saja tak henti mengganggunya.
"Ada apa Tuan menghalangi jalan saya?" tanya Nesya dengan kesal.
Tampak Nicko turun dari mobilnya menghampiri Nesya.
"Tugas yang aku berikan kemarin, sebaiknya segera kau kerjakan." Tegas Nicko berucap.
Nesya menatap heran ke arah Nicko, merasa tak etis sekali mencegat dirinya hanya untuk mengatakan hal itu. Bukannya bisa lewat online atau besok saat di kantor? Kadang atasannya itu terlihat aneh dan Nesya tak habis pikir.
"Bukankah besok saya akan memutuskannya Tuan. Karena saya masih harus mempertimbangkannya apa saya mampu atau tidak." Ujar Nesya membantah Nicko.
"Ck sudah ku katakan, jangan memanggilku formal jika di luar pekerjaan." Ujar Nicko datar.
"Ya baiklah Nicko. Jadi saat ini aku harus segera pulang. Dan untuk tugas yang kau berikan, besok aku akan memutuskan mau atau tidak." Jawab Nesya dengan penuh penekanan.
"No. Kau harus memberikan jawaban sekarang." Tegas Nicko tak mau dibantah.
Nesya menghela nafasnya dengan lelah. Mengapa atasannya itu seolah sengaja untuk mengganggu dirinya. Membuat Nesya menjadi geram sendiri, hingga akhirnya membuat Nesya menjadi kesal.
"Baiklah aku akan menolak tugas itu. Maka carilah orang yang lebih mampu untuk melakukannya." Ujar Nesya pada akhirnya.
Nicko tersenyum smirk mendengar jawaban yang Nesya berikan. "Baiklah. Karena kau menolak tugas yang aku berikan. Maka aku mengganti tugasmu. Dan kali ini kau dilarang menolak atau kau akan dipecat." Ujar Nicko dengan tegas dan berlalu meninggalkan Nesya yang menatap heran sekaligus terkejut.
Nicko kembali melajukan mobilnya meninggalkan Nesya yang masih terbengong di tempat. Hingga Nesya tersadar dengan tingkah absurd atasannya itu. Nesya dibuat pusing, heran, sekaligus bingung.
Tugas apalagi yang harus dirinya lakukan nanti. Biarlah waktu yang menjawab, semoga tak akan memberatkan dirinya. "Selain gila ternyata dia juga tak jelas." Gerutu Nesya dengan kelakuan Nicko.
Nesya kembali melajukan motornya untuk pulang ke rumahnya. Menikmati perjalanan yang memakan waktu beberapa saat, hingga Nesya sampailah di rumahnya. Memarkirkan motornya kemudian masuk ke dalam rumah.
Nesya yang merasa lelah segera melepaskan atribut yang ada ditubuhnya. Dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Supaya tidurnya juga akan nyaman.
Sampai setelah selesai mandi, Nesya mendengar ponselnya berdering. Rupanya nomor baru yang menghubunginya, membuat Nesya mengabaikan panggilan itu.
Namun sepertinya orang itu tak lelah untuk terus menghubungi Nesya. Hingga pada akhirnya karena merasa telinganya terganggu, Nesya pun mengangkat panggilan tersebut.
"Beraninya kau mengabaikan panggilan atasanmu" Geram seseorang di sana, yang rupanya adalah Nicko.
Nesya menghembuskan nafasnya, masih saja atasannya ini terus mengganggunya. "Ada apa Tuan, sepertinya jam kerja sudah selesai sejak tadi" Sindir Nesya yang merasa kesal.
"Kau berani sekali mengatakan hal itu." Ujar Nicko merasa Nesya begitu berani padanya.
"Saya hanya mengatakan fakta Tuan, jadi tolong Tuan jangan mengganggu saya di luar jam kerja." Ketus Nesya mematikan panggilan dari atasannya itu.
Nesya yang awalnya ingin bersikap sopan kepada atasannya itu menjadi urung. Karena sikap atasannya itu yang dirasa melewati batas sebagai atasan. Nesya tak ingin haknya diganggu, toh Nicko hanya atasannya saat di kantor. Tak memiliki hak atas apapun pada dirinya, selain pekerjaan.
...*******...
Sementara Nicko di seberang sana meremas ponselnya dengan kuat. Merasa geram dengan keberanian Nesya ada dirinya. "Wanita itu benar-benar. Jika saja tak membutuhkan bantuan darinya, tak sudi aku menghubunginya."
Hingga atensinya beralih pada seseorang yang memasuki kamarnya. "Ada apa? meminta uang lagi?" tanya Nicko pada Nathan.
Nathan hanya diam tak menjawab pertanyaan kakak sulungnya. Wajahnya tampak ditekuk, dan tanpa izin merebahkan tubuhnya di ranjang milik Nicko. Membuat Nicko menghela nafasnya berat melihat tingkah adik bungsunya itu.
"Kak, bantu aku untuk membuat Mami dan Papi setuju dengan pacarku." Pinta Nathan memelas.
Nathan masih mengingat bagaimana dirinya yang dijemput paksa oleh beberapa bodyguard. Dan rupanya sang Mami juga sedang menunggunya di dalam mobil. Padahal dirinya sedang asik makan bersama pacarnya.
Namun karena tragedi itu, dirinya harus meninggalkan pacarnya seorang diri. Bahkan Nathan tak bisa menghubungi karena ponselnya disita oleh Maminya. Hingga kini, jalan satu-satunya hanya meminta bantuan pada kakak sulungnya itu.
"Tidak ada untungnya aku membantu mu. Lagi pula, Mami dan Papi benar, memang seharusnya seusia mu hanya perlu belajar dan fokus sekolah." Ujar Nicko kepada adiknya.
"Ck ayolah kak, jika kau membantuku aku juga akan bersedia membantumu. Apapun itu." Ujar Nathan merayu kakaknya.
Nicko berpikir sejenak. Bukankah adiknya ini memiliki keahlian di bidang hacker. Kemungkinan besar dia bisa membantu untuk mencari keberadaan wanitanya yang sampai saat ini sulit dicari. Karena sepertinya, kekuatan Nicolas tentang penjagaan identitas teramat kuat.
"Apa kau bisa membantuku menemukan seseorang?" tanya Nicko untuk memastikan.
"Tentu saja, itu mudah bagiku. Bahkan calon istrimu yang berkhianat saja aku berhasil menyelidikinya." Ujarnya bangga pada Nicko.
"Sudah ku duga wanita itu" Gumam Nicko yang baru saja mendengar Karnia telah berkhianat di belakangnya.
"Jadi bagaimana Kak? Kita saling membantu bukan?" tanya Nathan menaik turunkan alisnya.
"Ya baiklah, aku akan membantu mu. Tapi jika kau sudah berhasil menemukan keberadaan wanita ku." Ujar Nicko berlalu pergi meninggalkan Nathan yang tercengang.
Licik sekali kakaknya. Bukankah dirinya yang lebih urgent permasalahannya. Lalu mengapa harus dia dulu yang didahulukan. Membuat Nathan hanya dapat menggelengkan kepalanya.
Lagipula dirinya juga penasaran, siapa wanita yang sedang kakaknya cari. Sehingga membuat seorang Nicko bahkan menolak Karnia dan wanita wanita cantik lainnya.
"Mengapa kau masih ada di kamarku? Keluarlah aku akan tidur." Usir Nicko saat masih melihat Nathan berada di kamarnya setelah dirinya keluar dari toilet.
"Kak bukankan harusnya membantuku dulu, baru aku akan membantu mu." Tutur Nathan memprotes.
"Terserah, jika kau tak mau. Aku bisa mencarinya sendiri." Ucap Nicko malas.
Nathan berpikir sejenak. Dirinya akan rugi jika kakaknya tak jadi membantu. Pacarnya bisa-bisa meminta putus dan meninggalkan dirinya. Nathan tak mau sampai itu terjadi.
"Baiklah, aku akan membantumu." Putus Nathan pada akhirnya.
"Bagus." Jawab Nicko.
Next .......