
Nesya begitu terkejut mendengar perkataan pria di atasnya itu. Bagaimana bisa pria itu mengetahui penyamaran yang dirinya lakukan. Nesya bertanya-tanya dalam benaknya.
"Apa karena Mama tak merestui, jdinya ketahuan begini" Gumam Nesya dalam hati.
"Apa kau terkejut? Tentu saja aku tahu. Di mana pun kau berada, aku pasti mengetahuinya, Girl." Tutur Nicko dengan angkuhnya.
Nesya yang mendengar perkataan Nicko masih merasa begitu terkejut. Namun lama kelamaan dirinya dapat menguasai dirinya. Nesya masih ingin mengelak untuk mengakui dirinya yang sebenarnya pada Nicko.
"Tu ..an pasti salah paham. Aku tak mengenal wanita yang Tuan maksudkan." Ujar Nesya beralibi.
Dan hal itu membuat Nicko tersenyum smirk. Rupanya wanita di bawahnya ini masih ingin mencoba berbohong padanya. Jika memang begitu baiklah, mari kita mulai permainannya.
Nicko juga sudah menyusun segala rencana untuk membuat Nesya dapat mengakui penyamaran saat ini. Nicko tak sabar untuk melihat kembali wajah asli wanita pujaannya. Nicko begitu merindukan wanitanya itu.
"Begitukah? Sepertinya kau ingin kita bersenang-senang sebentar untuk melanjutkan pembicaraan ini." Tutur Nicko dengan terkekeh pelan.
Nicko dengan gerakan pelan mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. Sementara jasnya memang sejak tadi telah Ia tanggalkan di luar sebelum dirinya masuk ke dalam kamar.
Rasanya Nicko begitu gemas melihat wajah Nesya yang nampak ketakutan yang saat ini tengah berada di bawahnya. Terlebih saat mata wanita cantik itu membulat sempurna kala mendengar perkataannya barusan.
Nesya yang mulai melihat gerak-gerik dan perkataan Nicko yang menurutnya berbahaya, berusaha menggerakkan seluruh tubuhnya.
Tangan dan kakinya pun ikut serta untuk berusaha melepaskan diri dari rengkuhan dan kukungan pria yang masih setia berada di atasnya itu.
"Lepaskan aku, aku benar-benar takut." Ujar Nesya dengan tegas meski bibirnya tampak gemetar kala berbicara. Nesya tetap saja tak mampu melepaskan diri dari jeratan pria itu, meskipun dirinya sudah berusaha.
Nicko sebenarnya merasa tak tega mendengar permintaan wanitanya yang memohon dengan bibir gemetar. Namun Nicko juga tak bisa lagi untuk mundur membuat Nesya mengakui penyamarannya.
Nicko memang ingin mengakui di depan Nesya bahwa dirinya mengetahui penyamaran wanita itu. Nicko tak ingin bertingkah dan berpura-pura tidak tahu. Karena dirinya juga begitu merindukan wajah cantik wanitanya itu.
"Aku akan berhenti jika kau mengakui dirimu yang sebenarnya, Girl." Tutur Nicko memberikan penawaran.
Nesya menggeleng pelan, dirinya tampak mulai berpikir. Meski ketakutan tengah melanda dirinya, namun Nesya untungnya masih bisa untuk berpikir.
Setelah cukup lama terdiam dengan perasaan malu dan salah tingkah, karena sejak tadi Nicko menatap intens dirinya dari posisinya yang berada di atas dirinya itu. Nesya akhirnya menemukan sebuah jawaban untuk menghentikan aksi nekat Nicko.
Nesya yang memang telah mengakui tertarik pada pria di hadapannya itu, sepertinya tak salah jika membiarkan pria itu untuk mengetahui dirinya. Lagi pula akan berkilah bagaimana pun, Nicko pasti akan tetap yakin bahwa dirinya adalah Nesya.
Toh Nesya juga telah memutuskan untuk mencoba menerima pria itu, meski rencananya setelah melakukan pengujian terlebih dahulu. Dan sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat.
Setelah dirinya mengakui bahwa memang Ia adalah Nesya Nicholas, Nesya ingin pria itu membuktikan perasaannya. Jika memang pria itu ingin menjadikan dirinya milik pria itu.
"Baiklah, aku memang Nesya. Wanita yang selama ini kau cari memang adalah aku. Lalu apa maumu?" Jelas Nesya memancing pria itu untuk mengatakan rencananya pada dirinya.
Dan pertanyaan yang Nesya lontarkan membuat Nicko semakin melebarkan senyumannya. Wanita ini memang sangat unik, batinnya. Padahal selama menjadi sekretarisnya, wanita itu bertingkah penurut, polos, dan lugu.
Namun kini setelah mengakui jati dirinya, sifat galak dan ketus wanita itu kembali lagi. Dan hal itu membuat Nicko merasa begitu bahagia, rindunya terobati.
Dan baiklah, Nesya menanyakan apa yang dirinya inginkan. Tentu saja NIcko akan segera mengabulkan permintaan Maminya, untuk membawa Nesya menjadi menantu keluarganya.
NIcko juga sudah tak sabar untuk membuat Nesya menjadi miliknya seutuhnya. "Girl, tentu saja aku ingin kau menjadi milikku. Dan aku tak menerima penolakan apapun seperti yang dulu pernah kau lakukan." Tegas Nicko menatap tajam Nesya.
Nesya yang mendengar ucapan Nicko menghela nafas nya lelah. Bukan perkataan Nicko yang membuatnya menjadi tak nyaman seperti ini. Melainkan posisi mereka yang tak kunjung berubah.
Nampaknya pria itu memang tak berniat merubah posisi mereka. "Ck tak bisakah kita membicarakan hal ini dengan posisi yang normal?" tanya Nesya menatap malas pada atasannya itu.
"Tentu saja, Girl. Bukankah lebih nyaman seperti ini. Lagi pula jika kau sampai mengatakan kalimat penolakan apapun, aku tak segan untuk benar-benar membuatmu menjadi milikku hari ini Girl." Tutur Nicko berucap tegas.
"Ya terserah kau saja. Lebih baik kau bangkit dari posisimu sekarang." Titah Nesya pada atasannya itu.
Nicko pun akhirnya menurut, dirinya bangkit dari tubuh Nesya dan mendudukkan dirinya di tepian ranjang. Kemudian disusul dengan Nesya yang juga bangkit dari posisi berbaringnya.
Berbeda dengan Nicko yang duduk di ranjang, Nesya memilih mendudukkan dirinya di sofa yang ada di kamar itu. Nesya tak ingin dekat-dekat dengan pria itu, takut saja jika Nicko kembali berbuat macam macam padanya.
Dan hal itu tak luput dari perhatian pria yang mengaku ingin menjadikan Nesya miliknya itu. Nicko juga menyadari alasan wanita itu yang memutuskan duduk jauh darinya. Hal itu membuat Nicko justru tersenyum geli.
"Apa kau begitu takut, Girl? Padahal setelah kau menjadi milikku, kita juga pasti akan melakukannya." Tutur Nicko terkekeh pelan.
Dan perkataan Nicko itu membuat Nesya semakin geram bercampur rasa malu. "Diam lah dan lanjutkan pembicaraan kita."
Nesya begitu malas dengan segala godaan-godaan yang telah Nicko lakukan. Jelas hal itu membuat Nesya merasa kesal dan malas berbicara dengan pria yang mengaku tertarik padanya itu.
"Baiklah Girl, sepertinya kau tak sabar untuk menjadi milikku." Ujar Nicko masih saja menggoda dirinya.
"Ck jika kau masih saja mengoceh tak jelas, lebih baik kita tak perlu membicarakan apapun." Tutur Nesya yang terlampau kesal, dengan nada emosi.
Dan marahnya Nesya bukannya membuat Nicko takut, namun justru membuat pria itu merasa gemas sendiri dengan wajah lucu Nesya saat sedang marah padanya.
Namun Nicko juga tak ingin membuat Nesya semakin kesal padanya. Hingga Nicko berhenti untuk berusaha menggoda Nesya lagi.
"Secepatnya kita akan menikah." Tutur Nicko langsung pada intinya
Next .......