
"Hm pertanyaan yang bagus" jawab Nicko menanggapi. Ia menatap Nesya dengan intens dan menjawab dengan benar. "Karena dia wanitaku." Tuturnya dengan pasti.
Uhuk
Dan jawaban Nicko membuat Nesya yang tak sedang minum pun. bisa tersedak. "Ma ...maksud nya?" tanya Nesya nampak belum paham.
Bagaimana mungkin Nesya di cap menjadi milik pria itu. Sedangkan mereka tak saling mengenal satu sama lain. Nampaknya pria di depannya ini, kurang waras atau memang sudah gila.
"Dia memang wanita ku, untuk saat ini dan selamanya. Karena sampai ujung dunia aku akan tetap menemukannya sampai kapanpun itu. Dan menjadikan dia milikku." Jelas Nicko supaya wanita di depannya itu paham.
Sedangkan Nesya ternganga mendengar jawaban Nicko. Memang benar, pria di depannya itu tampak gila. Bagaimana mungkin Nicko begitu berambisi untuk menjadikan dirinya sebagai wanitanya?
Padahal mereka tak saling mengenal apalagi mencintai satu sama lain. Bahkan pria yang menjadi atasannya itu sudah memiliki seorang kekasih, bagaimana mungkin ingin memiliki wanita lain. Sungguh pemain wanita, pikir Nesya.
"Apa kekasihmu tak akan marah jika mendengar apa yang baru saja kau katakan?" tanya Nesya yang memang penasaran sejak tadi.
"Maaf ...jika aku lancang, tak usah menjawabnya." Nesya memutuskan untuk meralat pertanyaannya, kala merasa pertanyaan itu terlalu sensitif.
Nicko yang mendengar pertanyaan dari sekretaris barunya itu, menghela nafas. "It's ok. Aku rasa kau juga melihat bagaimana hubungan ku dengannya. Bukankah tak tampak seperti pasangan?" Ujar Nicko yang malas membahas sebenarnya.
Nesya mengangguk pelan. Memang sikap Nicko kepada kekasihnya kemarin sungguh tak mencerminkan seorang pasangan. Namun sepertinya Karnia yang bersikap mereka benar-benar pasangan kekasih.
Apalagi rumor yang beredar, memang mereka merupakan pasangan yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun. Wajar saja jika dirinya berpikir mereka memang benar-benar pasangan bukan.
"Aku tak cukup paham dengan interaksi kalian. Hanya saja, banyak yang mengetahui kalian sudah menjalin hubungan sudah cukup lama." Tutur Nesya mencari jawaban aman.
"Lebih baik tak usah membahasnya lagi, aku paling muak dengan pembahasan itu." Ujar Nicko dengan tegas.
"Baiklah, maafkan aku. Hanya saja, jika kau sudah memiliki kekasih sebaiknya jangan mengejar wanita lain lagi. Jagalah perasaan kekasih mu, aku juga yakin wanita itu tak akan mau menerima pria yang sudah memiliki seorang kekasih." Jelas Nesya dengan berani.
Nesya tak ingin suatu hari jika identitasnya terbongkar oleh atasannya itu. Dirinya akan dipaksa seperti apa yang Nicko ucapakan. Karena selain tak menyukai Nicko sama sekali, Nesya juga tak ingin menyakiti hati orang lain.
Karena dengan hadirnya dirinya di hidup Nicko, jelas saja akan membuat Karnia kemungkinan merasa terluka. Dan Nesya tak ingin menyakiti perasaan siapapun.
Meski dirinya tahu, Karnia tak begitu baik dalam bersikap. Namun dirinya juga tak memiliki hak untuk membalas sikap buruk seseorang yang tak memiliki salah padanya.
Nicko tersenyum tipis mendengar perkataan wanita culun di depannya itu. Bagaimana mungkin wanita itu begitu berani memberikan peringatan untuk dirinya. Dalam hati, Nicko semakin salut dengan keberanian sekretarisnya itu.
"Kau benar dengan perkataan mu, tapi kau cukup berani dengan mengatakan hal itu di hadapan atasan mu." Ujar Nicko menatap tajam Nesya.
Nesya menunduk bingung dengan jawaban yang atasannya berikan. Seolah dirinya salah dalam berucap, setelah dipikir-pikir memang ucapannya terlalu berani sebagai pegawai kepada atasannya.
Dan sebenarnya dirinya tak merasa takut sama sekali jika perkataannya menyinggung atasannya. Karena, meski Nicko memiliki kekuasaan yang kuat dan besar. Tak sebaiknya melakukan segala hal dengan sesuka hatinya.
Apalagi dirinya kelak akan dibawa-bawa. Namun Nesya bertekad jangan sampai Nicko menemukan dirinya, karena semua rencana-rencananya akan berantakan jika begitu.
Saat Nesya akan menjawab perkataan Nicko, Ia urungkan kala melihat seorang pelayan yang menyajikan menu pesanan mereka. Hingga beberapa saat setelah pelayan itu pergi, Nesya kembali berucap.
"Maaf jika kau tersinggung dengan perkataan ku. Tapi apa yang aku katakan tak ada yang salah, jadi urungkan niat untuk mencari wanita itu. Karena kau telah memiliki kekasih yang berada di sisimu." Ujar Nesya kembali dengan semakin berani.
Selain karena ingin menolong hubungan Nicko dan kekasihnya untuk tetap damai. Nesya juga tak ingin melihat wanita lain terluka karena dirinya. Selain itu, Ia juga berusaha untuk membebaskan diri dari pengejaran Nicko yang sepertinya sangat berambisi memilikinya.
Sementara Nicko menarik sudut bibirnya sebelah, tersenyum smirk mendengar perkataan Nesya lagi. Wanita di depannya ini, memang cukup berani kepadanya. Padahal visual dan tampilan yang wanita itu tunjukkan tak begitu meyakinkan.
Namun diluar dugaan, sekretaris barunya itu memang benar berani kepadanya. Bahkan sepertinya tak ada memiliki rasa takut kepadanya. Nicko seolah mendapatkan sebuah tantangan dengan sikap berani Nesya ini.
Sebuah ide terlintas di benaknya. "Benarkah apa yang kau katakan? tapi aku memang tak ingin ada hubungan dengan wanita itu. Wanita yang kau bilang kekasih ku? sepertinya kau salah menilai kehidupan ku." Tutur Nicko dengan menyeringai.
"Jika kau tak ingin melihat ku mempertahankan wanita itu. Apakah kau mau membantu ku untuk membuatnya menyerah dengan hubungan kami?" lanjut Nicko dengan tatapan remeh.
"Apa maksud Tuan?" tanya Nesya yang masih bingung.
"Aku tak mencintainya, jadi kau harus membuat nya menyingkir dari hidupku. Jika kau tak ingin melihat aku menyakiti perasaan siapapun." Tutur Nicko menjelaskan.
Nesya jadi dibuat bingung dengan permintaan ambigu dari atasannya itu. Mengapa seolah menjadi dirinya yang harus berusaha menyelamatkan Nicko dari hubungannya.
Namun untuk membuat kekasihnya pergi dari sisinya, mengapa Nicko begitu lugas mengatakan hal itu kepadanya. "Maaf aku tak bisa, itu semua urusan kalian bukan urusanku. Jadi sebaiknya Tuan selesaikan urusan bersama kekasih Tuan sendiri." Jawab Nesya menolak dengan tegas.
Nicko terkekeh kecil mendengar perkataan Nesya. "Kau begitu berani memerintah ku untuk tak menyakiti siapapun? lalu sekarang kau tak berani untuk mengambil peran menyelamatkan perasaan salah satunya? Kau begitu munafik, hanya berani berucap tanpa berbuat." Sindir Nicko dengan pedas.
Nicko masih terus berusaha memancing supaya Nesya berhasil masuk ke dalam permainannya. Permainan yang akan membuat Karnia hengkang dari kehidupannya.
Sehingga dirinya dapat dengan leluasa mencari dan menemukan wanita yang ia incar selama ini. Wanita yang merupakan keturunan Nicolas. Wanita itu, entah mengapa selalu membuat hatinya terasa bahagia saat mengingat nya.
Nesya yang mendengar penghinaan dari atasannya merasa geram. Tangannya saling mengepal erat menyalurkan segala emosinya. Ingin langsung memberontak, namun Nesya masih ingat dalam mode sandiwara. Jadi jangan gunakan kekuatan Nesya Nicolas.
Next .......