GEEKY GIRL

GEEKY GIRL
Dibawa Pulang



Sementara Nicko dan Nesya baru sampai di kediaman keluarga Brown. Mereka memasuki rumah megah itu dengan beriringan. Nesya tampak terlihat gugup dan khawatir. Takut bila Karnia telah mengadu.


Namun jika dilihat-lihat tak ada tanda-tanda bahwa wanita yang sempat mengancamnya itu ada di dalam kediaman megah itu. Apakah yang Karnia katakan hanyalah sebuah gertakan semata untuk membuat dirinya takut.


"Sepertinya kekasih mu tak benar-benar mengadu pada Mami." Tutur Nesya pada Nicko.


Membuat pria itu mengalihkan pandangannya kepada wanita nya. "Ck dia bukan kekasihku, karena kau kekasihku." Jawab Nicko dengan tegas. Membuat Nesya memutar malas bola matanya.


"Kau salah, bukan tak jadi mengadu. Tapi wanita itu memang sudah pergi diusir oleh Mami." Jelas Nicko pada Nesya.


"What! benarkah?" tanya Nesya tak percaya. Bagaimana mungkin Mami akan melakukan hal itu. Tapi mengingat bahwa Mami Nicko mengetahui kebusukan wanita itu, jadi mungkin saja jika Mami melakukannya.


Mereka berjalan masuk menemui Mami yang tengah santai menonton televisi. Kehadiran mereka tentu saja menganggu fokus Mami yang sedang asik meresapi alur cerita.


"Mi, sesuai janjiku. Aku membawa menantu Mami pulang." Tutur Nicko mengagetkan Mami.


"Kau benar-benar Nick! Untung Mami tak memiliki riwayat jantung. Jika tidak, kau sudah digantung oleh Papi mu." Omel Mami merasa terkejut dengan perkataan tiba-tiba Nicko.


Mami menatap tajam putranya itu, namun kala netranya menangkap sosok cantik membuat ekspresi nya berubah. Tersungging lah sebuah senyuman manis kala menatap Nesya, calon menantunya.


"Sini Sayang, duduk bersama Mami. Jangan dekat-dekat dengan pria itu, nanti kamu akan diajari macam-macam." Tutur Mama menarik Nesya untuk duduk bersama dirinya.


"Tidakkah Mami berniat mengucapkan terima kasih karena telah membawa menantu Mami pulang?" tanya Nicko mulai menunjukkan tanda-tanda menyebalkan.


"Ck kau ini, untuk apa harus berterima kasih. Sedangkan yang paling bahagia di sini pastilah dirimu Nick." Tutur Mama yang memang benar adanya.


Dan jawaban itu membuat Nicko berdecak sebal. Kemudian melangkah kakinya untuk pergi ke kamar dan membersihkan diri. Namun saat akan memasuki kamarnya, langkahnya terhadang oleh Nathan.


Lelaki remaja itu tampak menghalangi langkah sang kakak. Tujuannya tentu saja untuk meminta imbalan karena sudah membantu kakaknya itu.


"Jangan lupa dengan janjimu Kak!?" ujarnya mengingatkan.


Nicko kembali berdecak, mengapa semua orang terasa menyebalkan hari ini. Namun hatinya kembali merasa bahagia kala mengingat wanitanya telah ditemukan. Dan saat ini berada dalam genggaman nya.


"Apa yang harus ku bantu?" tanya Nicko yang mulai bersedia menepati janji nya.


"Papi dan Mami lebih percaya pada mu. Jadi cukup membuat mereka yakin kalau pacarku saat ini benar-benar gadis yang baik. Bukan gadis nakal seperti yang mereka pikirkan selama ini." Tutur Nathan.


Nicko berpikir sejenak setelah mendengar perkataan adik bungsunya itu. Sepertinya mudah untuk meyakinkan mereka. Namun mengingat bagaimana kerasnya sang Papi, sepertinya akan sedikit sulit.


"Baiklah, aku akan berusaha membuat mereka yakin." Putusnya kemudian melanjutkan langkahnya tanpa perduli dengan respon Nathan.


Nicko membersihkan dirinya kemudian menuju tempat di mana sang Mami dan wanitanya tengah berbincang ria. Nicko dapat melihatnya dengan jelas, bagaimana mereka yang begitu mudah akrab. Memang jika jodoh, semesta pun akan turut mendukung.


Dengan langkah pelannya, Nicko juga sembari berpikir tentang bantuan untuk Nathan. Jika meyakinkan Maminya seperti mudah, karena itu keahliannya.


Namun untuk menyakinkan Papi, rasanya Nathan perlu melakukan hal ekstrem dulu sepertinya. Supaya Papi membukakan pintu untuk adik bungsunya itu.


"Mi, Papi belum pulang?" tanya Nicko.


"Belum, padahal Papi datang ke perusahaan untuk menemui mu. Tapi putranya malah keluyuranan membawa kabur menantu Mami." Ucap Mami yang masih saja mengomel.


Nicko merasa telinganya panas jika masih bertahan di tempat itu. Entah sejak kapan Maminya menjadi begitu cerewet jika menyangkut hal-hal tentang Nesya. Sebegitu pengaruh kah Nesya terhadap sang Mami.


"Mi, Nicko ingin mengajak Nesya ke belakang." Ujarnya mengatakan niatnya.


Nicko masih merindukan wanitanya, tapi sejak kedatangannya ke rumah ini tak bisa menyalurkan perasaan itu. Karena sejak tadi Nesya dimonopoli oleh Maminya. Tak diizinkan untuk lepas dari jangkauan sang Mami.


"No, bisa rusak nanti anak perawan orang kamu buat." Ujar Mami dengan ketus.


Mami sebenarnya masih merasa kesal kepada Nicko. Karena tragedi yang Karnia ceritakan di villa. Meski dirinya yakin tak ada yang terjadi diantara mereka. Namun Mami tahu kalau Nicko berusaha mengancam Nesya dengan hal-hal berbau seperti itu.


Tabiat anak-anak nya yang tak jauh dari suaminya, tentu saja membuat Mami paham dengan isi pikiran putra-putranya. Terlebih Nicko yang sudah lama menanti kedatangan Nesya yang sulit dicari selama ini.


"Mi, Nicko gak akan macam-macam sama Nesya. Nesya juga tak akan mau diajak macam-macam." Tutur Nicko.


"Tentu saja Nesya menolak, memang kamu siapanya?" tantang Mami pada Nathan.


"Nesya jelas saja kekasih Nicko. Mami tahu itu." Jawab Nicko dengan percaya diri.


"Benar itu Sayang, apa pria itu kekasih mu?" tanya Mami pada Nesya.


Dan Nesya menjawab dengan gelengan kepala. Hal itu sontak membuat Mami tersenyum remeh ke arah Nicko.


"See? Nesya saja tak merasa menjadi kekasihmu." Ujar Mami mengejek putranya.


Nicko menatap kesal ke arah Nesya. Bisa-bisa nya wanitanya itu tak mengakui dirinya. Padahal dirinya sudah berjuang bertahun-tahun untuk menunggu dan mencarinya.


Sementara Nesya merasa benar dengan menjawab seperti itu. Karena Nicko dan dirinya memang bukanlah sepasang kekasih. Hanya pria itu yang tengah mengejar-ngejar dirinya. Sedangkan dirinya merasa tak memiliki hubungan apa-apa.


"Bukan depan kalian harus menikah." Ujar Mami secara tiba-tiba.


Membuat kedua insan yang masih sibuk dengan pikiran masing-masing itu tersentak kaget. Kemudian mereka menunjukkan reaksi yang berbeda. Jika Nicko tersenyum bahagia, sedangkan Nesya menjadi terlihat tak nyaman.


Meski Nicko sudah menjelaskan bagaimana tertariknya Mami untuk menjadikan dirinya menantunya. Juga semua kebohongan yang telah terbongkar di depan Mami. Namun Nesya masih saja merasa kurang yakin. Ada keraguan dalam hatinya.


Karena sebanyak ini, Nicko yang mencintai dirinya. Sementara dirinya seolah tak diberi kesempatan untuk merasakan jatuh cinta pada Nicko. Membuat Nesya merasa hatinya tak puas dan kurang lega.


"Mi, mengapa harus dadakan? Lagipula Nesya dan Nicko gak ada hubungan apa-apa." Tutur Nesya dengan pelan.


Mami mengusap lembut rambut halus milik wanita cantik itu. Meski masih dalam bentuk penyamaran, namun sungguh kecantikan Nesya tak pernah pudar.


"Sayang, bukankah di villa kalian telah melakukan sesuatu?" tanya Mami bertanya.


"Tidak Mi, kami tidak melakukan apa-apa." Sanggah Nesya merasa tak melakukan apapun.


Next .......