
"Apa kau gila?! kita belum cukup mengenal, lalu bagaimana dengan begitu saja akan menikah." Jawab Nesya dengan ketus.
Entahlah, padahal setelah menjadi sekretaris pria itu Nesya merasakan sebuah ketertarikan pada atasannya itu. Namun setelah mendapatkan godaan-godaan saat dirinya telah mengakui jati dirinya. Nesya menjadi begitu melas berurusan dengan Nicko.
"Aku sudah mengenal mu dengan baik, Girl. Kau juga sudah mengenal ku, bahkan keluarga ku. Jangan berpura-pura lupa Girl, kau pernah menjadi kekasih pura-pura ku." Ujar Nicko menatap intens pada Nesya.
Nicko tak dapat membohongi diri sendiri, Nesya begitu cantik dan sayang sekali untuk dilewatkan. Apalagi untuk sekian lama, akhirnya dirinya bisa dengan leluasa menatap dan melihat langsung kecantikan wanita nya itu.
Karena selama ini dirinya hanya dapat melihat melalui potret atau sekedar gambar saja. Karena wanita itu seperti hilang ditelan bumi. Tak tahunya, ternyata bersembunyi di kandang musuh itu sendiri.
"Malas sekali berbicara dengan mu. Aku ingin pulang, lebih baik kita bicarakan hal ini besok saja." Tutur Nesya demi mengakhiri pembicaraan mereka.
Nesya merasa malas berurusan dengan Nicko yang super menyebalkan menurutnya. Berbeda sekali saat masih menjadi atasannya. Tampak berwibawa dan begitu menawan. Namun saat berhadapan dengan dirinya yang asli seperti ini, tak ada wibawa wibawanya sedikit pun.
"Tak ada waktu lagi untuk besok. Karena lusa kau sudah harus menjadi milikku, Girl." Tegas Nicko berucap.
Sudah cukup bagi nya, selama ini Nesya lepas dari genggaman nya. Nicko tak akan membiarkan Nesya lepas lagi dari jangkauan nya. Apalagi jika sampai membiarkan Nesya berkeliaran di luar sana. Nicko tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Nesya membulat matanya, dirinya merasa terkejut bukan main. Betapa gila dan tak waras nya pria di hadapannya itu. Sampai sampai menggampangkan semua hal. Bagaimana bisa, mereka akan menikah dalam dua hari kedepan. Sungguh tak masuk di akal.
Nesya melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Meski tahu bahwa pintu itu terkunci, siapa tahu Nicko berbaik hati akan membukakan nya. Jika dirinya sudah berdiri di depan pintu itu dan mengiba pada pria itu.
Namun saat tangannya akan memegang handle pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka sendirinya dari luar. Dan nampak lah wajah nenek lampir, eh wajah Karnia yang merah padam menahan amarah.
"Dasar bit**, kau berniat menggoda kekasih ku?! Dasar sekretaris tak tau malu, tak sadar diri!" Teriak Karnia langsung menjambak rambut Nesya.
Nesya yang tak siap dengan serangan tiba-tiba jelas merasa kewalahan. Karena dirinya tak memiliki persiapan apapun untuk melawan wanita lampir itu. Bukan hanya Nesya yang merasa terkejut, Nicko pun sama terkejutnya dengan serangan tiba-tiba itu. Terlebih keberadaan Karnia juga menjadi tanda tanya bagi Nicko.
Nicko segera mengambil tindakan dengan memisahkan Karnia dari wanitanya. Nicko memeluk erat Nesya, hingga yang menjadi sasaran kemarahan Karnia adalah punggung keras Nicko. Nesya merasakan kehangatan di dalam hatinya, melihat pembelaan Nicko padanya.
"Nicko, lepaskan wanita tak tau diri itu!" Teriak Karnia merasa emosi dengan apa yang Nicko lakukan, membela wanita lain di depan kekasih nya.
Nicko merasa geram dengan segala umpatan dan perkataan kasar yang Karnia ucapakan pada wanitanya. Netranya beralih menatap tajam wanita yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya itu. Padahal tak pernah diakui, dan lebih parahnya memiliki pria lain di luar.
"Mengapa kau menatap ku seperti itu? Dia yang salah bukan aku Nicko." Ujar Karnia merasa takut dengan tatapan tajam yang Nicko berikan.
"Nesya adalah wanita ku, camkan itu. Kau tak berhak mengatakan hal-hal buruk padanya. Dan satu hal yang perlu kau ingat, kau bukan kekasihku, hanya kau yang mengaku-ngaku selama ini." Ujar Nicko dengan dingin.
Nicko yang selama ini tak pernah memperjelas pandangan nya terhadap dirinya, kini di depan wanita yang menjadi sekretaris Nicko itu. Dengan tegas Nicko memperjelas nya. Hal itu membuat Karnia merasa curiga.
"Aku akan adukan semua ini pada Mami, dan kau lihat apa yang akan mertua ku itu lakukan pada wanita tak tahu diri seperti mu." Ancam Karnia.
"Ck beraninya kau mengancam wanitaku." Ucap Nicko dengan dingin. Membuat Karnia merasa takut dan memilih pergi untuk mengadu pada Mami.
Setelah kepergian Karnia, Nicko dan Nesya juga ikut pergi. Mereka juga menuju tempat yang sama di mana Karnia akan menuju. Tepat sekali, di kediaman kedua orangtua Nicko.
...***...
Sementara Karnia menggerutu dalam perjalanan nya menuju rumah calon mertuanya. Bagaimana tidak, Nicko yang selama ini dirinya anggap sebagai kekasihnya malah sedang berdua di dalam sebuah kamar berusa dengan sekretarisnya.
Membuat emosinya naik pitam. Padahal tadi dirinya berniat untuk menemui Nicko dan mengajak pria itu pergi jalan-jalan. Namun saat melihat mobil Nicko keluar dari area kantor, akhirnya dirinya mengikuti kendaraan roda empat itu.
Saat melihat rupanya mobil itu berhenti di sebuah villa, membuat Karnia bertanya-tanya dengan apa yang akan Nicko lakukan. Namun saat melihat rupanya ada sekretaris kekasihnya itu yang ikut serta. Membuat darahnya seketika naik.
Karnia mengikuti mereka untuk masuk ke dalam villa itu. Namun dirinya harus terhalangi oleh penjaga villa di sana yang mengatakan hanya pemilik nya dan kerabatnya saja yang diizinkan masuk.
Karnia mencoba menjelaskan bahwa dirinya merupakan kerabat sekaligus kekasih Nicko, namun penjaga villa itu tetap tak percaya padanya. Hingga akhirnya penjaga itu percaya, kala dirinya menghubungi calon mertuanya.
Dengan alibi yang dibuat-buat ketika mendatangi villa milik keluarga Brown itu. Tentu dirinya tak akan mengaku kalau sedang mengikuti Nicko, karena Mami pasti akan balik memarahinya. Karena menganggu aktivitas Nicko.
"Lihat saja sekretaris sial**, kau akan mendapat balasan yang setimpal. Mami pasti akan lebih mendukung dan membela ku dibandingkan kau." Gumamnya tersenyum sinis.
"Dan setelah nya aku akan memaksa Mami menikahkan ku dan Nicko. Kesalahan Nicko membawa wanita itu ke villa akan menjadi senjata untuk membuat Mami segera menjadikan Nicko milikku." Gumamnya lagi dengan smirk di bibirnya.
Sementara Nicko dan Nesya sedang dalam perjalanan dengan keheningan yang melanda. Sejak tadi Nesya merasa marah pada Nicko karena kelakuan pria itu dirinya akan terkena amukan Mami.
Bukan takut dengan ancaman Karnia, namun Nesya merasa harga dirinya tergores ketika nanti Mami mengetahui bahwa dirinya sempat berada di sebuah kamar berdua dengan Nicko. Di mana letak harga dirinya sebagai wanita jika seperti itu.
"Girl, Mami tak mungkin berpikir macam-macam terhadapmu. Percaya padaku." Setelah hening cukup lama, akhirnya Nicko tak tahan juga terus didiamkan.
Next .......