
“Pohon ini sama sekali tidak bisa dihancurkan. Memangnya masuk akal bisa memantulkan kekuatan sihir sebesar itu?” protes June sembari membersihkan pakaiannya yang terkena debu tanah.
Hector tampaknya juga tercengang. Meski begitu ia tetap kembali menebaskan pedangnya ke arah batang pohon.
“Biar aku saja yang melakukannya, June. Setidaknya kekuatanku tidak memantul,” ujar Hector tak berputus asa.
“Sepertinya pohon itu dilindungi oleh mantra yang membuat segala jenis serangan sihir memantul. Benar kata Hector, sebaiknya kita menggunakan serangan fisik saja untuk menebangnya,” usul Ilena kemudian.
“Tapi waktu kita sempit. Matahari sebentar lagi akan terbenam.” June masih tampak khawatir.
“Kalau begitu kau bisa membantu kami mencari lokasi mantra sihirnya, June,” perintah Ilena sembari merentangkan busurnya. Ia akan ikut membantu untuk menghancurkan pohon tersebut dengan anak-anak panahnya. “Kau juga bantu June, Raf,” lanjut gadis itu beralih ke Rafael.
Rafael mengangguk paham. Kini ia dan June mulai berkeliling ke seluruh taman gantung, termasuk terbang ke puncak-puncak pohon raksasa demi mencari petunjuk. Selama beberapa waktu, Ilena dan Hector hanya terus fokus memberikan damage kepada sang pohon raksasa.
Usaha mereka sama sekali belum membuahkan hasil. Bekas tebasan Hector hanya menggores tipis-tipis kulit pohon tersebut, sementara anak panah Ilena lebih banyak yang patah dan jatuh ke tanah dari pada yang berhasi menancap.
Meski begitu, keempat orang itu tetap bekerja keras. Matahari benar-benar sudah tinggal segaris lagi sebelum terbenam, ketika akhirnya June memekik dari salah satu dahan pohon yang cukup tinggi.
“Hector! Kemari sekarang!” perintah June tegas.
Hector mendongak, diikuti Ilena dan Rafael yang juga berada di bawah pohon.
“Cepat!” desak June berteriak keras.
Tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari dalam tanah, tepat pada saat titik cahaya matahari terakhir berada di langit sebelum akhirnya terbenam sempurna. Gempa bumi hebat menerpa taman gantung itu. Ilena segera berusaha untuk menyeimbangkan diri. Rafael, June dan Hector pun kini sudah berkumpul di dekatnya, sementara sang pohon raksasa mendadak mulai bergerak-gerak liar.
Dahan-dahannya menyabet ke segala arah, diikuti deru suara dari dalam batangnya yang seperti akan meledak. Tanah masih bergejolak, membuat keempat orang tersebut harus mati-matian bertahan berdiri dengan tegap.
Detik berikutnya, suara ledakan keras terdengar dari arah pohon raksasa tersebut. cahaya merah menyilaukan muncul bersamaan dengan suara ledakan. Ilena menyipitkan mata sembari membuang muka untuk menyelamatkan kedua matanya dari aliran cahaya yang membutakan.
Selang beberapa waktu, cahaya tersebut meredup. Ilena kembali membuka mata dan rupanya pohon besar itu sudah terbelah dua. Tepat di tengah batangnya, melayang setinggi dua meter dari tanah, sebuah Kristal cantik berwarna merah dengan cahaya yang terang. Bentuknya heksagonal, memiliki sebuah ukiran berbentuk bulat dengan empat kelopak bunga yang mengelilinginya.
Saat melihat Kristal tersebut, entah kenapa Ilena tidak berniat mengambilnya. Alih-alih, secara instingif, gadis itu merasa bahwa Hector lah yang seharusnya memiliki Kristal tersebut. Meski begitu, ia harus memastikannya lebih dahulu.
“Bagaimana cara kalian akhirnya berhasil membelah pohon ini?” tanya Ilena kemudian.
“Seperti yang kau bilang, aku menemukan mantra sihir yang tersembunyi di tujuh dahan yang ada di atas pohon tersebut. Wujudnya adalah sebuah lingkaran transmutasi yang menangkal adanya serangan sihir. Karena itu, aku tidak berpikir untuk bisa merusaknya dengan kemampuanku.
“Lalu, melihat anak panahmu yang juga sebagian besar justru patah setelah membentur batang pohon, aku lantas menyadari kalau dalam panahmu juga terkandung kekuatan sihir. Karena itu kau pasti juga tidak bisa menghancurkan lingkaran transmutasi ini, Ilena.
“Akhirnya aku berpikir kalau quest ini sebenarnya memang ditujukan untuk Hector. Pedangnya memang hanya menimbulkan damage kecil jika dibandingkan dengan milikku atau milik Ilena. Akan tetapi, justru serangan fisik itulah yang dibutuhkan. Dan benar saja. Tepat saat matahari nyaris tenggelam, Hector menyelesaikan semuanya,” terang June panjang lebar.
Ilena puas dengan jawaban tersebut. Maka, tanpa ragu, ia pun beralih pada Hector. “Ambillah Kristal itu, Hector. Red Obelisk. Itu milikmu. Misimu,” ucap Ilena kemudian.