Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Kematian Misterius



Illena sampai di kantornya sepuluh menit kemudian. Ia langsung melesat menemui Misa di rumah sakit perusahaan. Misa tampak berdiri di depan koridor kamar jenazah sembari berbicara serius dengan seorang pria paruh baya berbadan kekar yang dikenali Ilena sebagai asisten Kepala Divisi Keamanan. Dengan kata lain, asisten Misa.


“Misa,” panggil Ilena begitu sudah berada dalam jarak dengar rekan kantornya tersebut.


“Ilena, kau sudah datang,” sambut Misa dengan ekspresi serius. Gadis itu lantas menyuruh asistennya untuk kembali ke posnya. Kini Misa hanya berdua dengan Ilena.


“Ada apa?” tanya Ilena kemudian.


“Ikut aku.” Misa membawa Ilena masuk ke ruang jenazah yang ada di belakang mereka. Ruangan tersebut memiliki enam tempat tidur berjajar yang empat di antaranya terisi oleh tubuh-tubuh kaku yang tertutup kain.


“Orang-orang yang kutangkap waktu itu mati?” tanya Ilena memastikan sembari mencoba membuka kain yang menutupi jenazah-jenazah tersebut. Wajah pertama yang dia lihat adalah sang gypsi yang melawan June. Kembarannya berada di sebelah kanan sang gipsi. Di tempat terpisah, Caepio terbujur kaku tak bergerak.


Seluruh tubuh itu terlhat membiru seperti seluruh aliran darahnya berhenti tiba-tiba. Mata mereka membelalak dan menurut keterangan Misa, tidak ada yang bisa membuat mata jenazah-jenazah itu terutup. Seperti sudah kaku tak bergerak.


“Kenapa mereka tiba-tiba mati seperti ini? Bukankan kemarin mereka sudah baik-baik saja?” tanya Ilena tak percaya.


Bahkan ketika mereka bertempur, Ilena yakin bahwa ia dan rekan-rekannya sama sekali tidak melukai mereka separah itu. Dan kondisi jenazah ini juga aneh. Jelas-jelas kematian mereka adalah karena penyebab yang seragam, dan tidak terkait dengan luka-luka yang mereka dapat dalam pertempuran dengan Black Dragon.


“Linda menjelaskan tentang adanya kandungan racun yang membuat mereka mati. Aku masih menelusuri kasus ini, Ilena. Kalau benar mereka telah diracun, itu artinya ada orang yang berhasil menembus keamananku,” ujar Misa menerangkan. Gadis itu tampak tegang. Empat orang sandera dibunuh tepat di bawah batang hidungnya. Masalah itu tentu saja sangat genting.


“Apa kau berhasil mengorek informasi dari mereka?” tanya Ilena sudah pasrah dengan kejadian tersebut. ia masih berharap bisa mendapat secuil informasi saja tentang Sinister, lawan mereka yang misterius.


Akan tetapi Misa menggeleng pelan. “Setelah sadar dan dirawat selama beberapa hari, mereka menolak bicara. Kami sudah menggunakan segala cara untuk memaksa mereka bicara. Dari yang baik-baik, hingga terpaksa menggunakan kekerasan dan ancaman. Tapi mereka tetap tutup mulut. Rencananya hari ini aku akan memberi mereka ramuan kejujuran yang dibuat oleh Linda, tetapi mereka tiba-tiba mati dengan keadaan mengenaskan seperti ini,” terangnya panjang lebar.


Ilena mendengkus marah. Tiba-tiba ingatannya terpaku pada Yoona Hong. “Asassin itu,” gumam Ilena.


“Apa?” tanya Misa.


“Dalam tim sinister, mereka memiliki seorang Asassin. Namanya Yoona Hong. Aku sudah meminta Javier menyelidikinya. Tapi orang itu sama misterusnya dengan seluruh anggota Guildnya yang lain. Aku yakin kematian empat orang ini terkait dengan Yoona Hong. Dia punya kemampuan untuk menyusup dan membunuh dengan racun,” ujar Ilena sembari berpikir.


“Aku akan memperketat penjagaan, Ilena,” janji Misa kemudian.


Ilena mengangguk setuju. “Terima kasih, Misa. Tolong lakukan yang terbaik. Kurasa kelompok mereka juga bisa membaca pergerakan kita selama ini melalui Asassin itu. Berhati-hatilah,” ucapnya sungguh-sungguh.


Kini Ilena menggeleng penuh simpati. “Tidak. Ini bukan salahmu. Orang-orang itu memang tidak bisa ditebak. Biarkan kasus ini menjadi pembelajaran untuk kita.”


Misa pun tersenyum. “Kau benar,” jawabnya pendek.


Setelah selesai dengan urusan para jenazah itu, Ilena pun kembali ke apartemennya. Ia ingin buru-buru menyelesaikan sub-questnya yang sekarang. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk dalam perjalanan selanjutnya ini. Ilena menghubungi anggota partynya melalui fitur chat sistem.


Ia tidak percaya lagi pada ponsel pintar atau segala perangkat canggih lainnya. Bisa saja hubungan komunikasi mereka disadap juga. Berbicara secara langsung tatap muka juga rasanya sedikit riskan. Percakapan mereka bisa saja direkam entah bagaimana caranya.


Setidaknya fitur chat party di Sistem Galatean ini lebih aman karena setiap orang biasanya tidak bisa melihat layar hologram orang lain. Lagi pula ini sistem yang muncul dari dimensi yang lebih tinggi. Pastinya lebih aman.


Seluruh anggota Black Dragon terkejut mendengar berita tersebut. Bahkan Rafael sampai langsung datang kembali ke apartemen Ilena secara langsung untuk membahas masalah tersebut lebih lanjut.


Ilena mengemukakan kecurigaannya terhadap Yoona Hong sang assassin dari Sinister. Ia menyuruh seluruh anggota Black Dragon untuk lebih waspada dan berhati-hati. Selain itu, Ilena juga memberi perintah pada keempat rekannya tersebut untuk segera menyelesaikan misi, terutama Hector dan June.


Hector berjanji dia akan langsung berangkat begitu seluruh dokumen dan surat identitasnya diterima. Sementara itu June memang akan berangkat keesokan harinya karena jadwalnya di Valez.


Setelah menyelesaikan percakapan dan memberikan mandat-mandat penting, Ilena dan Rafael pun berangkat saat itu juga. Seperti sebelumnya, Javier menyediakan satu pesawat jet pribadi untuk adik kembarnya tersebut. mereka terbang ke Baltimore, tempat yang menjadi tujuan Ilena dan Rafael.


“Ini pertama kalinya aku naik pesawat. Apa semua pesawat memang semewah ini?” tanya Rafael kagum.


Ilena mendengkus kecil lantas mengangkat wajahnya dari layar tabletnya yang seukuran buku tulis. “Pada umumnya pesawat penumpang biasa tidak seperti ini Rafael. Dia punya lebih banyak kursi yang berjajar rapi. Apa kau tidak pernah melihatnya di internet?” tanya gadis itu kemudian.


Rafael menggeleng pelan. Aku tidak sempat memikirkan tentang banyak hal dulu. Yang kupikirkan hanyalah cara untuk tetap bertahan hidup,” jawab anak muda itu muram.


Ilena menarik napas panjang. Rasa simpatinya kembali muncul. “Maafkan aku karena harus menyeretmu pada masalah ini di usia yang masih sangat muda. Seharusnya kau bisa menggunakan masa mudamu untuk bersekolah dan bermain. Aku berjanji setelah semuanya selesai, perusahaan akan menanggung hidupmu hingga kau benar-benar dewasa dan lulus kuliah,” ucap gadis itu penuh perhatian.


Sontak Rafael pun menggeleng keras. “Tidak perlu, Ilena. Aku sudah sangat berterima kasih karena kau menolongku dari keterpurukan. Kau telah mengubah hidupku dan aku sama sekali tidak keberatan harus bekerja seperti ini. Ini menyenangkan. Kalian semua adalah teman-teman yang sangat baik padaku,” ucap pemuda itu tulus.


Ilena tertawa kecil lantas mencondongkan tubuh dan mengusap kepala Rafael yang duduk di hadapannya. “Bagaimana bisa kau berteman dengan orang-orang tua seperti kami. Usiaku saja sepuluh tahun lebih tua darimu. Kau harus mencari teman-teman yang sebaya setelah ini, Raf,” tukas gadis itu sembari tersenyum.


Rambut emas Rafael yang ikal semakin berantakan setelah diusap oleh Ilena. Meski begitu Rafael tidak keberatan. Pemuda itu hanya meringis senang karena merasa telah diperhatikan. Selama ini ia tidak pernah merasakan kasih sayang yang hangat seperti itu. Sejak kecil kedua orang tuanya hanya mengabaikan Rafael dan membiarkan anak itu hidup dengan sendirinya. Bagi Rafael, Black Dragon sudah seperti rumah yang selalu dia rindukan selama ini.