
Ilena menjejak tanah dan melompat ke atas atap menara jam. Hanya dalam satu kali loncatan, gadis itu sudah berhasil mendarat di puncak menara setinggi sepuluh meter. Ilena lantas duduk bersila di atap menara yang landai. Jamnya sudah tidak berfungsi. Menara tersebut juga sudah terlihat usang dan tua.
Satu jam berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Matahari mulai terbit di ufuk timur. Langit yang kemerahan berubah terang dan cerah. Bahkan sampai pukul enam pagi, Ilena dan Rafael tidak juga menemukan apa pun. Mereka sudah menunggu, mengitari seluruh area dekat menara jam, dan tetap saja tidak ada yang terjadi.
Akhirnya Ilena menyerah setelah jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia turun dari puncak menara dan menghampiri Rafael yang duduk di atas batu besar di kaki menara.
“Ayo kita kembali ke hotel dan sarapan. Kita bisa mencoba lagi saat sore nanti,” ajak Ilena kemudian.
Rafael bangkit berdiri. “Tapi menara ini menghadap ke timur. Saat sore matahari tenggelam pun tidak terlihat,” ujarnya sembari berjalan menyejajari Ilena.
Kata-kata Rafael memang benar. Menara jam itu hanya memperlihatkan pemandangan matahari terbit, dan bukan terbenam. Itu artinya tempat ini bukanlah yang dimaksud oleh petunjuk dari quest. Lantas kenapa Remigus mengikutinya sampai ke sini? Ilena pikir Remigus datang karena mengetahui tentang questnya tersebut. Rupanya bukan.
“Tunggu, Rafael,” kata Ilena tiba-tiba berhenti berjalan. Gadis itu tampak berpikir serius. Rafael pun segera menghentikan langkahnya dan menatap Ilena dengan bingung.
“Ada apa?” tanya pemuda itu ikut panik.
“Aku belum menceritakan ini padamu atau pada yang lainnya juga. Semalam Remigus mendatangiku bersama gadis assassin itu. Mulanya kupikir karena dia sedang mengincar menara ini untuk mengganggu quest kita. Tapi melihat bahwa tempat ini bukanlah lokasi yang tepat, itu artinya Remigus bukan mengincar quest kita. Dia semata-mata mengikutiku,” ulas Ilena merunut pemikirannya.
“Lalu untuk apa dia menemuimu?” tanya Rafael.
“Entahlah. Dia tidak melakukan apa-apa semalam. Dia hanya sedikit mengancamku dan mengatakan omong kosong tentang empat orang mati itu.”
Rafael tampak ikut berpikir. “Lalu apakah dia juga mendatangi June dan Hector?” tanya pemuda itu.
Itulah kekhawatiran terbesar Ilena. Remigus hanya berniat memancingnya agar lengah. Beberapa kali mereka bertemu dan Remigus selalu memprovokasi Ilena, seolah bersenang-senang melihat Ilena marah dan menderita.
“Kita harus segera menghubungi mereka,” ucap Ilena.
Untungnya keadaan Hector dan June baik-baik saja. June baru mendarat di Valez. Sementara Hector sudah berada di resort pinggir pantai di Crouz. Menara jam di tempat itu menghadap ke barat, yang artinya Hector bisa mencoba mencari petunjuk saat senja hari nanti.
Ilena menyuruh kedua rekannya itu agar tetap berhati-hati. Remigus mungkin mengincar mereka juga. Keduanya pun berjanji untuk menjaga diri.
Setelah memastikan kedua rekannya yang lain baik-baik saja. Ilena dan Rafael pun memutuskan untuk menunggu sambil menikmati liburan mereka di Baltimore. Mereka menikmati sarapan di rooftop bar hotel, lalu berjalan-jalan di kebun strawberry yang ada di puncak bukit.
Menjelang siang, Javier menghubungi Ilena. Gadis itu sedang menikmati makan siang di salah satu restoran lokal di daerah tersebut.
“Ada apa, Javier?” tanya Ilena setelah mengangkat panggilan dari kakak kembarnya tersebut.
“Ilena, apa kau baik-baik saja?” tanya Javier dengan nada suara yang cemas.
“Jasad-jasad itu menghilang semalam. Kami tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya keempat jasad itu dicuri saat pergantian shift penjaga,” kata Javier.
“Hilang? Empat tubuh sebesar itu hilang hanya dalam waktu beberapa detik?” tanya Ilena sedikit terkejut. Meski begitu, melihat bagaimana kekuatan Remigus membuat portal untuk berpindah tempat, Ilena tidak terlalu heran kalau dia bisa melakukannya.
Ia benar-benarh harus mencari tahu bagaimana cara kerja kekuatan Remigus. Musuhnya itu memiliki kemampuan yang merepotkan, sampai-sampai bisa menyelundup masuk ke dalam gedung kantornya yang berpenjagaan ketat.
“Tidak ada saksi mata. CCTV di ruang jenazah juga mendadak rusak, seperti sengaja dihancurkan. Orang itu sangat berbahaya, Ilena. Kita tidak tahu apa tujuannya mengincar kita.”
“Dia mengincarku. Semalam dia menemuiku, hanya untuk membicarakan tentang tubuh teman-temannya yang mati itu. Sekarang aku mengerti kenapa dia melakukannya. Remigus hanya ingin memprovokasiku. Dia menunjukkan bahwa level kami terlalu jauh berbeda. Kemampuannya berada jauh di atasku,” terang Ilena kemudian.
Javier menghela napas di seberang panggilan. Kakak kembarnya itu terdengar lelah. “Sebenarnya kenapa kau bisa punya masalah dengan orang berbahaya seperti itu?” desah pemuda itu sendu.
Ilena pun turut menarik napas panjang. “Entahlah, Jav. Aku juga tidak pernah merasa pernah bertemu dengannya,” gumam gadis itu.
Panggilan itu pun terputus setelah Ilena berjanji untuk lebih berhati-hati. Sementara Ilena menyelesaikan quest, Javier akan mulai mengusut kasus menghilangnya para jenazah player Sinister di kantor mereka.
Baru saja menutup telepon, notifikasi sistem mereka mendadak menyala. Sebuah hologram hijau transparan muncul di hadapan Ilena, menampilkan permintaan untuk bergabung.
Anggota party [Hector Gianni] memanggil Anda untuk datang.(Ya/Tidak)
“Kenapa Hector tiba-tiba memanggil kita tanpa pemberitahuan lebih dulu?” tanya Ilena.
“Apa mungkin dia sudah menemukan lokasi questnya?” tanya Rafael turut membaca pesan notifikasinya sendiri.
Ilena melirik jam tangannya. “Tidak mungkin. Masih dua jam lagi sebelum matahari terbenam di Crouz. Apa dia salah memencet tombol fitur?”
“Sebaiknya coba kita datangi saja, Ilena. Toh kita juga tidak punya banyak pekerjaan di sini,” usul Rafael kemudian.
Ilena mengangguk pelan. Setelah itu keduanya pun meninggalkan restoran dan mencari tempat yang sepi untuk menerima panggilan Hector yang misaterius itu.
Tubuh Ilena seperti terurai menjadi partikel-partikel kecil. Detik berikutnya sensasi seperti disedot terasa sangat kuat. Tubuh dan kesadaran Ilena dibawa ke tempat yang sangat jauh. Setelah beberapa saat merasakan sensasi tersebut, partikel-partikel tubuh gadis itu pun kembali menyatu.
Suara ledakan besar menyambut kedatangan Ilena di sebuah pantai pasir putih yang indah. Sontak Ilena pun terkejut. Gadis itu berusaha mencerna keadaan dan melihat Hector tengah bertarung dengan empat player lain yang tampak familiar.
Otomatis Ilena dan Rafael pun mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Mereka tidak sempat bertanya apa yang terjadi pada Hector, atau situasi apa yang tengah dia alami. Lepas pantai itu memang lengang, tanpa pengunjung. Meski begitu, bertarung dengan player lain di luar dungeon tampak tidak wajar.
Hector pun tampak kewalahan dikeroyok oleh empat orang sekaligus. Pedang besarnya menyambar ke segala arah, ledakan besar terjadi di mana-mana membuat pasir berhamburan menutupi pandangan. June belum datang dan hanya ada Ilena serta Rafael yang bisa membantu Hector.