
Rafael tampak tidak bisa mempercayai penjelasan Ilena. Ia tidak mengerti kenapa orang sepertinya bisa memiliki takdir seluarbiasa itu. Ia bahkan merasa dirinya tidak sepenting itu sampai Ilena dan Hector harus susah payah mencarinya.
“Mungkin Anda salah orang. Tidak mungkin orang sepertiku bisa melakukan hal-hal hebat seperti menyelamatkan dunia. Aku sama sekali tidak berbakat. Bahkan orang tuaku saja menelantarkanku,” ucap Rafael tampak rendah diri.
“Itu tidak benar. Kau sendiri sudah mengalami bagaimana kita berdua terlempar dalam visualisasi sistem. Itu artinya kau memang orang yang kami cari, Rafael,” bujuk Ilena masih terus berusaha meyakinkan.
Rafael tertunduk muram. “Tapi aku benar-benar bukan player yang kuat. Saat dungeon break pertama, hal yang kulakukan hanya bersembunyi di dalam rumah. Setelah itu pun aku tidak pernah menggunakan kemampuanku lagi. Aku hanya bekerja serabutan untuk menyambung hidup,” ungkap pemuda itu sedih.
Ilena dan Hector berpandangan sejenak. Kondisi Rafael memang cukup memprihatinkan. Walaupun secara fisik ia sudah lebih tinggi dari Ilena, tetapi fakta bahwa Rafael adalah anak di bawah umur tetap tidak terpungkiri. Di atas segalanya, Rafael harus bekerja banting tulang di usia semuda itu untuk menghidupi dirinya sendiri.
“Begini saja. Sebaiknya kau ikut dengan kami dulu. Aku akan memberimu tempat tinggal yang layak, termasuk biaya hidup sehari-hari. Kalau kau mau melanjutkan sekolah, perusahaan kami juga bisa memberikan fasilitas itu,” kata Ilena memberi penawaran.
Rafael tampak ragu-ragu. Jelas ia curiga bila ada orang asing yang tiba-tiba datang ke rumahnya dan menawarkan banyak hal menjanjikan.
“Ilena, apa kita bisa bicara berdua dulu sebentar,” ucap Hector tanggap.
Ilena menoleh kebingungan, tetapi Hector sudah menyeretnya keluar dari kamar Rafael. “Mohon tunggu sebentar,” kata pria itu sembari keluar bersama Ilena.
“Kenapa?” sergah Ilena begitu Hector menutup pintu apartemen.
“Apa kau tidak merasa dirimu mencurigakan? Orang waras mana yang mau begitu saja mengikuti kita dengan iming-iming seperti itu?” timpal Hector logis.
Hector mendesis tak sabar. “Itu beda perkara. Aku orang dewasa, pegawai polisi, dank au juga datang bersama anggota timmu dari Alcanet Tech. Tentu saja aku percaya padamu. Anak ini masih di bawah umur, tidak punya siapa-siapa, dan hidup dengan keras. Bagaimana mungkin dia bisa sembarangan mempercayai orang lain. Dilihat dari segi manapun, kita memang mencurigakan,” terang Hector serius.
Ilena mendesah kesal sembari berkacak pinggang. “Jadi harus bagaimana? Kita tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi mungkin kita akan menjadi buronan pemerintah Bryxton. Kita jelas tidak bisa membawa Rafael secara legal kan.”
Hector mengangguk pasrah.
“Ah! Ini membuatku frustrasi. Apa yang harus kita lakukan? Kita tinggal punya waktu beberapa hari lagi sebelum Remigus menemukan Rafael. Ia mungkin akan mencelakakkannya. Kita tidak bisa meninggalkan anak ini sendirian,” keluh Ilena lelah. Gadis itu memijat keningnya yang mulai berdenyut-denyut karena pusing memikirkan jalan keluar.
Hector pun tak kalah pusing. Ia berjalan mondar-mandir sambil terus berpikir. “Aku terpikirkan dua cara. Pertama, kau bisa langsung membuka Memory Key yang keempat. Bukankah biasanya targetmu sebelumnya akan terseret dalam visualisasi sistem itu?”
Ilena mengangguk menanggapi. “Memang benar. Tapi kau lihat sendiri, Rafael sama sekali belum percaya ketika kami pertama kali terseret dalam visualisasi itu,” sanggah Ilena.
“Untuk pertama kali memang rasanya aneh. Seperti tidak nyata. Tapi kedua kalinya, kau bisa menggunakannya untuk memastikan bahwa kata-kata kita memang bisa dipercaya,” saran Hector kemudian.
Ilena masih terlihat ragu-ragu. Akan tetapi ia sendiri juga tidak punya jalan keluar lainnya. “Lalu, apa cara kedua yang kau pikirkan?”
“Kita bisa masuk ke dungeon bersama-sama. Dengan begitu anak itu bisa percaya padamu, sekaligus percaya pada kemampuannya sendiri,” ujar Hector tegas.