Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Menjenguk



Ruangan yang digunakan Rafael juga merupakan bangsal VIP yang berada di lantai yang sama dengan tempat Ilena di rawat. Sejujurnya bangsal yang terletak di lantai teratas gedung rumah sakit tersebut dibuat khusus untuk dewan direksi Alcanet Tech, termasuk salah satunya Javier. Ilena bisa menggunakannya semata-mata karena dia adalah adik dari sang CEO. Meski Ilena juga memiliki peran penting dalam pendirian perusahaan tersebut.


Kini bangsal VIP yang hanya ada empat ruang saja itu bebas digunakan oleh seluruh anggota Black Dragon termasuk Rafael. Saat Ilena datang, Rafael sedang berbaring sendirian sembari melamun menatap langit-langit. Rasanya menyedihkan melihat anak muda seumuran Rafael tampak pucat dan kesepian.


“Halo, Raf, apa kau sudah merasa baikan?” sapa Ilena dari atas kursi roda yang didorong oleh Hector.


Rafael terkesiap sejenak, lantas buru-buru bangun dari tempat tidurnya. “Ka, kalian datang. Ma, maaf aku sedang melamun,” ujarnya tergagap.


“Tidak apa-apa. Tidurlah lagi, Rafael. Dan sampai kapan kau akan terus merasa canggung di depan kami. Bicaramu sampai tergagap begitu. Santai saja. Kita sudah menjadi keluarga sekarang,” ucap Ilena sembari bersandar di pinggir ranjang Rafael.


“Te, tetap saja kalian sangat kuat. Aku merasa tidak pantas berada bersama kalian,” desah Rafael muram.


“Kenapa kau berkata seperti itu. Kau juga sangat kuat, Raf. Berkat buffmu, kami bisa bertambah kuat berkali-kali lipat. Kau harus percaya pada kemampuanmu,” timpal Ilena terus terang.


“Ilena benar. Kau juga sudah membantu kami mengalahkan Saloa. Kau sudah banyak berkontribusi dalam raid kali ini. Sebelumnya aku selalu dihantui perasaan akan mati setiap masuk dungeon. Tapi setelah kau bergabung dengan kami, perasaan itu sirna. Kemampuan penyembuhmu membuatku merasa lebih berani menyerang musuh,’ ungkap Hector panjang lebar.


Ilena menoleh ke arah Hector dengan satu alis terangkat. Ia tidak pernah menyangka kalau pria yang gemar menggerutu itu rupanya juga pandai berkata-kata manis. Seharusnya Hector melakukannya sejak dulu. Dengan begitu Ilena tidak perlu merasa terlalu kesal setiap kali harus berduaan bersamanya.


“Terima kasih,” ucap Rafael pelan dan singkat. Setidaknya kata-kata itu sudah tidak diucapkan dengan tergagap lagi.


“Bulan depan aku berulang tahun yang ke delapan belas. Kurasa aku sudah cukup dewasa untuk mengurus masalah administrasi sendiri,” sahut Rafael kemudian.


“Itu kabar bagus. Kalau begitu bulan depan kau bisa mulai mengurus kepindahanmu. Itu juga kalau kau setuju dengan rencana ini. Bagaimana menurutmu?” tanya Ilena mempertimbangkan pendapat Rafael.


Pemuda itu bahkan tidak perlu berpikir untuk menjawabnya. Ia langsung mengangguk antusias sambil menjawab. “Tentu saja itu ide bagus. Terima kasih banyak karena kalian telah banyak membantuku,” ujar Rafael serius.


Ilena tersenyum lega. “Kau juga harus mempertimbangkan untuk melanjutkan sekolah. Kalau kau tidak nyaman datang ke sekolah umum, kita bisa mencarigan guru privat untukmu,” lanjut Ilena penuh perhatian.


Akan tetapi kali ini Rafael tercenung sejenak. “Bagaimana bisa aku menghabiskan begitu banyak biaya dari kalian. Kebaikan yang kuterima sudah lebih dari cukup,” tolaknya sopan.


“Yah, kau bisa menganggap pekerjaan kita sebagai sumber pendapatan. Tapi kita tidak pernah tahu kapan portal dimensi akan tertutup selamanya. Kalau itu terjadi, seluruh dungeon di dunia tidak akan pernah muncul lagi. Kita mungkin akan kehilangan pekerjaan,” tandas Ilena serius.


“Meski begitu aku tetap akan bekerja untukmu,” tiba-tiba Hector menimpali.


Rafael turut mengangguk bersemangat. “Ya, aku juga,” ucapnya yakin.


Ilena hanya bisa tertawa kecil menanggapi tingkah dua rekannya itu. Ia tidak bisa membayangkan Hector atau Rafael megurus pekerjaan pengembangan game. Namun bayangan itu cukup menyenangkan untuk diimajinasikan.