
John kembali ke mejanya, diikuti oleh Hector. Mereka berdua pun mengutak-atik komputer selama beberapa waktu sambil saling bergumam tak jelas. Ilena menunggu dengan sabar sementara kedua pria tersebut kini saling berdebat mengenai nomor kode sandi.
Setelah bebrapa menit berlalu, Hector pun akhirnya memanggil Ilena mendekat. “Ilena, kemarilah. Kami menemukan beberapa orang dengan nama yang sama. Yang mana anak yang kau maksud?” tanya Hector sembari melambaikan tangannya, menyuruh Ilena mendekat.
Gadis itu pun beranjak dari tempat duduk lantas turut melihat ke layar monitor di hadapan John. Ada setidaknya dua baris penuh data orang bernama Rafael Angelo. Rupanya yang dibuka oleh John adalah big data dari seluruh dunia. Pantas saja kepolisian mungkin akan sulit memberikannya pada Javier sekalipun. Ilena kini menyadari bahwa partner kerjanya itu mungkin bukan sekedar polisi lalu lintas biasa.
“Coba scroll ke bawah,” ucap Ilena memberi perintah. John menurunkan daftar nama tersebut. ada beragam wajah pemuda dengan nama Rafael Angelo.
Setelah memindai selama beberapa saat, akhirnya Ilena pun menemukannya. Seorang pemuda dengan wajah yang sama persis dengan penglihatannya. Rambutnya emas bergelombang, dengan mata biru yang seperti malaikat.
“Ini. Anak ini,” celetuk Ilena sembari menunjuk ke orang yang dimaksud.
John menghentikan laju layarnya yang discroll ke bawah, lalu mengeklik data anak yang ditunjuk oleh Ilena. Namanya sesuai, Rafael Angelo. Tertulis anak itu baru berusia tujuh belas tahun. Seorang pelajar dari kota Bryxton. Berada di benua yang sama dengan Starfa maupun Burca.
“Masalahnya, Bryxton sedang ditutup sementara sejak kejadian dungeon break. Negara itu tidak mengizinkan siapa pun masuk atau keluar dari sana. Kita harus mencari cara untuk bisa melewati perbatasan,” ucap Hector setelah membaca data pribadi Rafael.
“Itu bukan hal yang sulit. Biar aku yang memikirkannya,” celetuk Ilena sembari mengenang bagaimana ia nekat memasuki Starfa dulu saat mencari Hector.
“Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang?” tanya Hector lagi.
Ilena mengangguk mantap.
“Terima kasih banyak, John. Bantuanmu tidak akan kami lupakan,” ucap Hector beralih pada rekan lamanya.
“Tenang saja. Kami ini player. Kau tidak perlu cemas,” kata Hector menenangkan.
Setelah berpamitan singkat dengan John, Hector dan Ilena pun melanjutkan perjalanan mereka. Mereka bisa pergi dengan pesawat atau moda transportasi umum lainnya seandainya Bryxton tidak sedang ditutup. Akan tetapi karena masalah tersebut, bandara Bryxton mungkin juga tidak bisa digunakan sekarang. Karena itulah akhirnya Ilena dan Hector harus berkendara dengan mobil saja.
Perjalanan mereka mungkin akan memakan waktu dua hari. Tapi itu lebih baik daripada harus menyewa sopir pengganti lagi, yang mungkin akan mencelakakan mereka nantinya. Hector juga masih gemar mengendarai mobil barunya.
“Dulunya kau bekerja di divisi kriminal?” tanya Ilena yang penasaran pada pembicaraan Hector dan John tadi.
“Yah, aku memang sempat bertugas di divisi kriminal. Tapi karena suatu sebab akhirnya timku dibubarkan. Kami harus dipindahtugaskan ke divisi yang berbeda-beda, tapi semuanya adalah divisi buangan,” kisah Hector sembari mengenang masa lalunya.
“Sepertinya kau tidak suka membicarakan hal ini.”
“Yah, bukan hal yang menyenangkan mengalami penurunan jabatan. Lagipula kasus yang membuat tim kami dibubarkan juga sangat konyol. Ah, begitulah. Bukan cerita yang menarik sejujurnya,” kenang Hector sembari tertawa hambar.
Ilena menghela napas simpatik. “Pasti sulit melalui masa-masa itu. Kau sudah melakukan hal yang luar biasa. Pantas saja performamu bagus saat di dungeon,” puji Ilena mencoba memperbaiki perasaan rekannya itu.
Hector mendengkus geli sembari melirik Ilena. “Tidak biasanya kau memujiku. Benar-benar membuatku merinding,” godanya berkelakar.
Ilena hanya berdecak ringan. “Lupakan saja kata-kataku kalau begitu,” gumamnya ketus.
Hector hanya tertawa menanggapi. Kedua orang itu pun melanjutkan perjalanan mereka sambil mengobrol ringan.