
“Rafael, bisakah kau memberi kami buff?” tanya Ilena sembari mengarahkan anak panahnya ke arah gerombolan monster yang mulai menggeliat mendekati mereka.
Ternyata memang benar kata Rafael. Dugeon ini hanya berisi monster level rendah yang sebenarnya bisa langsung mati dalam satu serangan. Akan tetapi, Ilena tetap ingin agar Rafael mencoba mengeluarkan skillnya. Dengan begitu pemuda itu bisa lebih percaya diri dalam pertempuran.
“O, oke,” sahut Rafael sembari mengangkat mace nya tinggi-tinggi. Ia lantas memejamkan mata seolah sedang menghafal skill-skill miliknya sendiri.
“Impositio Magnus!” seru Rafael meneriakkan skill pertamanya. Serta merta, seluruh tingkat serangan senjata anggota tim meningkat sebesar lima kali dari level skill masing-masing.
“Sanctuary!” Skill kedua yang diteriakkan Rafael membentuk sebuah lingkaran sihir bercahaya hijau di bawah kaki setiap player dalam tim. Lingkaran sihir itu akan secara otomatis menyembuhkan luka yang diderita para player.
“Kyrie Eleison!” Skill Rafael yang ketiga memberikan perlindungan berupa cincin keemasan yang melingkupi tubuh para player. Tingkat deffence semua anggota tim bertambah sebanyak dua kali lipat.
Terakhir, Rafael pun meneriakkan buffnya yang terkuat. “Aspersio!” seluruh physical damage pemain dalam tim meningkat sebanyak seratus persen.
“Su, sudah,” kata Rafael menyelesaikan tugasnya. “Aku akan perbaharui buffnya setiap sepuluh menit sekali. Kalian bisa fokus menyerang,” lanjutnya sembari menurunkan mace emasnya.
“Kerja bagus,” celetuk Ilena yang sudah dua kali menembakkan hujan anak panah. Ratusan monster cacing yang bernama Wormtail menggeliat-geliat mati terkena serangan anak panah.
“Wow! Ini keren! Aku menjadi sangat kuat berkali-kali lipat!” teriak Hector dari kejauhan. Ia sudah membunuh puluhan monster dengan memutar-mutar pedang besarnya. Ilena hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Hector begitu kegirangan, seperti berdansa di tengah kumpulan cacing raksasa.
Efek paling luar biasa terlihat jelas pada kemampuan June. Buff dari Rafael membuat June bisa merapal mantra lebih cepat. Bola-bola cahaya yang dia lemparkan juga menjadi lebih besar dan dahsyat. June berkali-kali menceletukkan komentar puas setiap kali habis melakukan serangan.
“Ini luar biasa! Aku seperti lahir kembali!” seru June sembari melemparkan mantra-matra kuatnya.
Berkat kerjasama tim yang efektif itu, ditambah kekuatan monster cacing yang lemah, akhirnya tim Black Dragon itu dengan cepat berhasil menyelesaikan syarat pertama raid dungeon membunuh sepuluh ribu ekor monster. Kini mereka sedang bersiap menanti kedatangan sang bos monster yang akan muncul tak lama lagi.
“Kemampuanmu luar biasa, Rafael. Seharusnya kau lebih percaya diri. Rasanya aku bisa membunuh naga setelah mendapat buff darimu,” tukas Hector yang sudah kembali berkumpul bersama rekan-rekannya.
“Hector benar. Apa kau lihat serangan sihirku tadi? Tanpa buff darimu, seranganku tidak akan sedahsyat itu.” June turut menimpali.
“Jumlah anak panahku dalamArrow Shower juga berlipat ganda. Damage serangannya menjadi dua kali lipat. Semua berkat kemampuanmu, Rafael,” puji Ilena tak mau kalah.
Rafael tertunduk malu. Selama ini mungkin dia tidak pernah tahu bahwa kemampuannya begitu hebat. Sebagai seorang, priest, bertarung sendirian sama sekali tidak mudah. Priest adalah bahan bakar bag sebuah tim. Ia baru akan terlihat cemerlang ketika mengambil role sebagai support player dalam tim penyerang.
“Be, begitukah?” tanya Rafael ragu-ragu.
“Kau harus pecaya pada kemampuanmu, Nak. Berkatmu, aku bisa bertahan dari serangan puluhan monster sekaligus,” ucap Hector sembari merangkul Rafael dengan akrab.
“Ka, kau terluka. Co, coba aku sembuhkan,” ucap Rafael sembari mengangkat tangannya ke arah luka Hector.
“Heal,” ucap Rafael pelan. Detik berikutnya, kedua telapak tangan Rafael becahaya keemasan. Cahaya itu menerpa luka Hector dan secara ajaib luka tersebut perlahan menutup hingga tak tersisa sama sekali.
“Emang nggak ada duanya, Priest ini,” celetuk Hector takjub. “Terima kasih, Rafael,” lanjutnya tulus.
Rafael mengangguk pelan lantas tersenyum. Sepertinya pemuda itu juga merasa senang karena kemampuannya sudah diakui oleh tiga orang player hebat.
Sayangnya, keadaan akrab tersebut tidak bisa berlangsung lama. Tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar dan bergoncang. Ilena, Hector dan June segera menyadari bahwa kondisi tersebut mengindikasikan datangnya sang bos monster.
Setelah mendapat perintah dari Ilena, Rafael kembali memberikan efek buff kepada seluruh anggota tim itu. Ilena, Hector dan June pun segera memasang kuda-kuda dan bersiap menghadapi monster selanjutnya yang akan muncul.
Tanah di bawah kaki mereka mendadak terbuka. Ilena dan yang lainnya pun segera melompat menghindar. Dimulai dari retakan kecil yang semakin besar, tanah kering itu pun akhirnya mengaga lebar menampakkan jurang gelap tak berujung.
Selama beberapa detik, keadaan menjadi sunyi. Hanya ada tanah berlubang yang mengaga lebar. Ilena, Hector dan June sudah terbiasa dengan kondis tersebut dan tetap bisa bersikap tenang dengan kuda-kuda mereka. Di sisi lain, Rafael tampak lebih tegang dari biasanya. Pemuda itu mencengkeram mace emasnya erat-erat sembari menunggu kemunculan monster.
Tanpa aba-aba, mendadak dari dalam jurang yang menganga di tanah, melesatlah seekor monster kupu-kupu raksasa bersayap merah jambu. Monster itu terbang dengan sangat cepat hingga nyaris tak bisa diikuti oleh mata Ilena. Namun, begitu ia menfokuskan pandangan, rupanya monster itu memiliki tubuh seperti manusia dengan sayap kupu-kupu dan antenna panjang yang mencuat dari kepalanya. Rambut dan pakaian monster itu juga berwarana merah muda.
“Itu … Saloa!” seru Ilena yang langsung mengenali monster peri bunga tersebut.
Saloa memiliki mata hitam yang seperti serangga. Lebih dari itu seluruh tubuhnya tetap menyerupai manusia. Makhluk tersebut menyeringai jahat saat melihat keempat player yang berdiri di bawah kakinya.
“Ah, sialan! Monster terbang lagi?” keluh Hector yang kesal karena jangkauan senjatanya yang pendek membuatnya sulit menyerang monster terbang.
“Berpencar! June, lindungi Rafael,” perintah Ilena sembari berlari ke arah yang berbeda dari teman-temannya.
Perintah Ilena untuk berpencar memang sangat masuk akal, karena serangan Saloa bisa menyapu area yang sangat luas. Saloa itu terbang berputar di udara sembari menebarkan serbuk putih yang berkilauan. Serbuk itulah yang sangat berbahaya karena mengandung racun mematikan.
Ilena mati-matian menghindari area jatuhnya serbuk racun tersebut. Ia harus menyerang sambil menutup hidung. Gadis itu tidak bisa menyuruh Hector untuk menggunakan provoke karena tipe serangan Saloa yang jarak jauh membuat monster itu tetap tidak akan mendekat meski telah dipancing.
Sementara itu, June juga mungkin akan kesulitan merapal mantra sambil menghindari serbuk racun dari Saloa. Padahal satu-satunya harapan tim itu mungkin serangan dahsyat dari June. Ilena benar-benar harus memutar otak untuk menghadapi monster merepotkan tersebut.
“Saloa itu sebenarnya lemah, tapi ia merepotkan karena bisa terbang dengan sangat cepat, dan memiliki serangan jarak jauh. Apa yang harus kulakukan?” gumam Ilena pada dirinya sendiri.