
“Pembuka Gerbang Dimensi,” gumam Ilena pelan.
Sebuah hologram berwujud lubang kunci muncul di hadapan Ilena. Gadis itu pun segera memasuukan Memory Keynya yang ketiga tepat ke dalam lubang kunci tersebut. Seperti biasa, gadis itu pun segera masuk ke dalam dimensi sistem. Visualisasi yang merupakan kelanjutan dari kisah sebelumnya.
Ilena mendapati dirinya terluka dan tengah dibawa oleh June menuju suatu gedung tinggi berbentuk pentagon. Dindingnya terbuat dari batu onyx berwarna hitam metalik. Gedung ini sama persis seperti bangunan yang dia lihat dalam mimpinya.
Bedanya, saat ini bangunan tersebut sudah separuh hancur dan berasap. Meski begitu, ada satu bagian di tengah bangunan hingga ke dasarnya, terlihat diliputi semacam gelembung bening yang entah bagaimana diketahui Ilena sebagai sihir pelindung. Informasi itu muncul begitu saja dalam benakknya.
June membawa bongkahan tanah yang mengangkut dirinya dan Ilena masuk ke tengah bangunan tersebut tanpa kendala, seolah perisai bening tersebut telah mengenali mereka berdua. Sebuah pintu otomatis bergeser terbuka setelah melakukan pemindaian singkat pada mereka berdua.
June lantas membopong Ilena dengan cekatan lalu melompat masuk ke dalam bangunan, meninggalkan bongkahan tanah yang mereka pijak jatuh begitu saja ke bawah. Di dalam bangunan tersebut terdapat ruangan serba putih dengan beragam alat-alat canggih yang sebagian besar terlihat asing bagi Ilena. Meski begitu, entah bagaimana Ilena merasa yakin bahwa ia bisa menyebut nama semua benda canggih tersebut. Seolah memang semua data itu ada dalam ingatannya yang terkubur.
Ada banyak pasien lain di dalam sana yang dibaringkan di atas ranjang-ranjang medis tanpa kaki. Semua ranjang itu melayang kurang lebih dua puluh inci dari lantai. Semua pasien tersebut terluka parah. Mereka mengerang kesakitan karena sebilah kapak bersarang di bahu, atau lima belas anak panah yang menancap di punggung. Beragam luka mengenaskan seharusnya membuat Ilena secara normal bergidik ngeri. Anehnya Ilena sama sekali tidak merasa miris. Alih-alih ia menjadi marah.
“Para pasien itu terluka lebih parah dariku, June. Luka kecil sepertiku tidak perlu melihabtkan para priest. Sebaiknya mereka mereka fokus merawat para prajurit lain,” desak Ilena sembari melepaskan diri dari June.
“Tapi Anda adalah komandan. Kalau terjadi sesuatu pada Anda, seluruh pasukan kita sudah pasti hancur lebur.” June tak mau mengalah.
Dalam ruang kesehatan tersebut beberapa orang pria dan wanita berjubah serba putih hilir mudik mendatangi ranjang demi ranjang pasien. Mereka mencabuti panah atau benda apa pun yang menancap di tubuh pasien-pasien tersebut, lantas menggunakan kekuatan cahaya keemasan untuk membuat seluruh luka tersebut sembuh seketika.
Tidak butuh waktu lama untuk melakukannya. Paling lama lima belas menit untuk luka yang sangat parah, dan sang pasien sudah kembali sehat seolah tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya. Pasien yang sudah disembuhkan itu berterima kasih singkat, lalu segera pergi dari sana untuk kembali ke medan perang.
Terlihat mudah memang. Akan tetapi kemampuan penyembuh itu benar-benar menguras tenaga para priest. Orang-orang berjubah putih itu justru terlihat lebih pucat dan lemas dibanding para pasien. Entah sudah berapa banyak orang yang mereka rawat sampai tenaga mereka tersedot habis begitu.
Ilena masih merasa kesakitan. Namun gadis itu rasanya tetap ingin bersikeras untuk kembali ke medan pertempuran. Ia tidak ingin membebani para priest lagi dengan lukanya yang tidak seberapa.
Sayangnya keinginan Ilena tidak bisa terlaksana. Seorang pemuda dengan rambut emas bergelombang dan mata biru cemerlang menghampiri mereka dengan wajah khawatir.
“Komandan Ilena? June, apa Komandan terluka?” tanya pemuda itu.
“Aku baik-baik saja, Rafael. June terlalu berlebihan. Kembalilah bekerja. Aku juga akan … .” Ilena belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika mendadak pemuda berambut emas bernama Rafael itu menangkupkan tangannya ke atas luka Ilena.
Cahaya emas keluar dari telapak tangan pemuda itu dan melingkupi tubuh Ilena yang terluka. Sensasi hangat yang nyaman muncul menggantikan rasa nyeri yang sedari tadi menusuk-nusuk. Ilena merasakan lukanya sedikit demi sedikit tertutup dan darahnya tidak lagi mengalir deras.
Ilena mendengkus pendek. Dia benar-benar tidak bisa menang melawan Rafael. “Pantas saja namamau Rafael Angelo. Kau memang memiliki aura seperti malaikat. Tidak ada yang bisa menyanggah ucapanmu,” komentar Ilena kemudian.
“Karena itulah Anda mempercayakan jabatan ini kepada saya, Komandan. Tapi saya menjadi Ketua Paramedis Galatean, bukan semata-mata karena penampilan saya,” tandas Rafael masih tersenyum.
“Tentu saja karena kau juga memiliki berkat kemuliaan di kekuatan sucimu ini,” timpal Ilena balas tersenyum.
“Tepat sekali.” Rafael mengedipkan mata sembari secara perlahan menarik kedua tangannya yang tengah menyembuhkan Ilena. “Nah, sudah selesai,” ucapnya kemudian.
Cahaya keemasan sudah menghilang, berikut luka-luka Ilena. Tubuhnya sudah sembuh dan hanya menyisakan robekan pada baju serta bekas darah kering.
“Terima kasih, Rafael,” ucap Ilena sembari tersenyum.
Penglihatan sistem berhenti sampai di sana karena kini pandangan Ilena kembali menjadi gelap. Saat mengerjap, gadis itu sudah kembali berada di atas ranjang di kamar tidurnya. Sembari mengusap matanya yang masih sedikit pedih, Ilena pun membaca sebuah layar hologram yang sudah muncul di hadapannya.
Quest Mistery Key 3:
Temukan Rafael Angelo. Batas waktu Quest 168 jam sejak diaktifkan. Target mendapat ancaman dari player tak dikenal. Temukan target sebelum terlambat. Kematian target akan menggagalkan seluruh rangkaian Quest Mistery Key.
Sontak Ilena terbangun dari atas ranjangnya. Ia duduk dengan terkejut setelah membaca notifikasi questnya yang lebih panjang dari biasanya. Beruntung hologram tersebut mengikuti gerak tubuh sang player yang tiba-tiba, sehingga wajah Ilena tidak perlu menembus hologram tersebut. Ilena terus fokus pada informasi tersebut. Targetnya yang ketiga, Rafael Angelo, tengah diincar oleh player lain. Apa itu artinya ada seseorang yang memiliki quest yang sama dengannya?
“Tunggu … . Kalau questnya sama denganku, seharusnya orang itu juga merekrut target. Tapi di sini Rafael mendapat ancaman. Apa artinya player lain tersebut mencoba membunuh … targetku? Apa artinya dia punya quest yang berlawanan denganku?” gumam Ilena merunut pemikirannya sendiri.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Aku cuma punya waktu seratus enam puluh delapan jam … itu artinya tujuh hari. Sebelum satu minggu, aku harus menemukan Rafael Angelo itu,” geram Ilena sembari bangkit dari tempat tidur dan segera bersiap-siap untuk menemui Javier serta Hector.
Gadis itu pun langsung memberi kabar kepada anggota partynya melalui room chat party yang rahasia. Barangkali June juga bisa membantu mencari identitas target mereka selanjutnya.