Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Trevia Valley



“Setidaknya ikut kami melakukan raid dungeon sekali saja. Dengan begitu kau bisa tahu apakah dirimu cukup mampu atau tidak. Jangan khawatir, kami berdua ini adalah player yang kuat. Nanti juga masih ditambah satu orang anggota kami lainnya yang tak kalah kuatnya,” bujuk Hector masih belum menyerah.


Rafael mengangkat wajahnya dan menatap Hector lekat-lekat. Sepertinya pemuda itu cukup tertarik dengan tawaran tersebut.


“Hector benar. Cobalah untuk melakukan raid dungeon bersama kami. Dengan begitu kau bisa mengukur kemampuanmu. Aku yakin kau pasti memiliki kekuatan yang besar, karena kau adalah bagian dari kami,” ucap Ilena turut meyakinkan.


Rafael kini menatap Ilena. Matanya berkilat-kilat karena menyembunyikan antusiasme yang ada dalam hatinya. Ilena yakin kalau Rafael pasti juga merasakan hal yang sama seperti ia, Hector maupun June sendiri: keinginan untuk bertarung melawan para monster.


Akhirnya Rafael pun memberi jawaban. Pemuda itu mengangguk pelan menyetujui. Meski terlihat ragu-ragu, tetapi ada seberkas keyakinan dalam keputusannya itu.


“O, oke. Aku coba sekali saja,” ujar Rafael masih tergagap.


Ilena tersenyum puas. “Bagus, kalau gitu, aku masukin kamu dalam grup party kami: The Black Dragon,” katanya sembari mengutak atik sistem.


Tak lama kemudian, Rafael sudah masuk ke dalam grup chat party mereka. June menyapa kedatangan Rafael dengan ramah. Pemuda itu terkesiap ketika sebuah layar hologram muncul di depannya, menunjukkan notifikasi chat party. Akan tetapi keterkejutan itu tidak berlangsung lama. Lambat laun Rafael mulai terbiasa dan mulai mempercayai Ilena juga.


Setelah semua urusan itu selesai, Ilena dan Hector pun membawa Rafael keluar dari apartemen. Mereka bermaksud untuk masuk ke dungeon terdekat yang lokasinya sudah dikirimkan oleh Javier.


Mereka berjalan menyusuri lingkungan tersebut. Sebelumnya, jalanan itu lengang. Namun setelah semakin dekat dengan lokasi dungeon, Ilena mulai melihat iring-iringan tentara berseragam yang datang dengan tank-tank besar dan senjata berat.


Secara otomatis, Ilena dan Hector pun menyembunyikan diri mereka, mengingat bahwa mereka adalah penyusup ilegal. Akan tetapi, Ilenda lantas sadar kalau para tentara itu rupanya sama sekali tidak berniat menangkapnya. Para tentara itu sepertinya sedang sibuk membereskan retakan dungeon yang muncul di tengah jalan tak jauh dari sana.


“Apa mereka mengirimkan tentara biasa untuk masuk dalam dungeon?” tanya Ilena sembari memperhatikan dari balik gang tersembunyi.


“Selama ini memang seperti itu. Dungeon-dungeon di sini biasanya dihadapi oleh para tentara. Sebagian besar akhirnya tidak berhasil dibasmi, sehingga para monster pun keluar hingga ke pemukiman. Tragedy itu baru selesai setelah seminggu kemudian,” terang Rafael menjelaskan.


“Separah itu? Kalau begitu caranya, bukankah akan memakan banyak korban jiwa?” sergah Hector tak percaya.


“Memang banyak yang mati. Lihat, para tentara itu pun mengeluarkan jasad teman-temannya yang mati setelah masuk dungeon. Tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Jumlah player di Bryxton tidak banyak. Untungnya dungeon yang muncul di sini pun juga sangat jarang dan hanya mengeluarkan monster-monster lemah.” Rafael kembali menjelaskan.


“Bahkan monster yang paling lemah sekalipun sangat berbahaya bagi orang biasa,” komentar Ilena sembari mengawasi tandu-tandu berisi tubuh para tentara yang hancur. Entah sudah berapa nyawa yang melayang gara-gara sembarangan masuk ke dungeon.


“Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi. Ayo kita selesaikan dungeon itu,” perintah Ilena kemudian.


Hector mengangguk setuju. Rafael, di sisi lain, hanya bisa mengikuti dua rekan barunya yang berjalan keluar gang dan mendekati para tentara itu.


“Berhenti! Apa yang kalian lakukan di sini? Tempat ini berbahaya untuk warga sipil.” Seorang tentara bertubuh kekar menghalangi perjalanan mereka. Sepucuk senapan tertenteng di dadanya. Namun Ilena berani bertaruh kalau senapan itu tidak akan berguna bila digunakan untuk menyerang monster.


“Kami adalah player. Biarkan kami menutup portal dimensi itu dengan masuk ke dalam dungeon sebelum para monster muncul dan membunuh banyak orang,” kata Ilena dengan tegas.


“Kalian pikir kalian ini siapa. Kami para tentara saja kewalahan. Jangan main-main dan pergi dari sini. Biar pihak militer yang mengurus masalah ini,” gertak sang tentara dengan wajah sangar.


Ilena berdecak kesal. Gadis itu lantas mengeluarkan busur panahnya dari inventory. Tindakan itu terlihat seolah-olah seperti memunculkan senjata dari udara kosong. Hector pun melakukan hal yang sama. Sebuah pedang besar muncul di genggaman pria itu. Tampak gagah dan kuat. Rafael dengan ragu-ragu turut mengeluarkan sebuah tongkat besi berwarna emas dengan ujung yang bulat berduri. Beberapa batu permata tertatah di tongkat tersebut. Sebuah Mace, senjata khusus para priest.


“Sudah kubilang kami ini adalah player,” geram Ilena dengan suara rendah. Matanya menatap tentara itu dengan tajam.


Sang tentara terkesiap melihat apa yang baru dilakukan ketiga orang asing tersebut. Rekan-rekan tentaranya yang lain pun ikut memerhatikan mereka.


“Ada apa ini?” seorang pria paruh baya dengan kumis tebal datang mendekat. Seragam pria itu berbeda dengan tentara lainnya. Melihat lima bintang yang tersemat di seragam tersebut, Ilena bisa memastikan bahwa pria paruh baya itu pasti merupakan komandan dari para tentara yang ada di sana.


“Siap, Komandan! Orang-orang ini mengaku bahwa diri mereka adalah player dan berniat masuk ke dalam portal dungeon, Komandan!” sang tentara yang menghadang jalan Ilena itu melapor dengan sigap.


“Apa benar kalian player yang bisa melawan monster dalam dungeon itu?” tanya sang komandan beralih menatap Ilena, Hector dan Rafael secara bergantian.


Sang Komandan lantas memperhatikan senjata-senjata yang dibawa Ilena serta Hector dan Rafael. Senjata mereka memang terkesan kuno jika dibandingkan dengan senapa api modern yang ditenteng para tentara. Akan tetapi, kekuatan senjata para player berbeda dengan senjata biasa. Senjata para player menggunakan kekuatan energi yang bisa melukai monster.


“Tidak ada salahnya mencoba. Kalau begitu kalian akan kuizinkan masuk ke dungeon. Akan tetapi, kami tidak akan menanggung kematian kalian. Ini adalah keputusan kalian sendiri,” ucap sang Komandan kemudian.


Ilena mengangguk dengan yakin. “Tentu saja,” sahutnya pendek.


Setelah pembicaraan itu, akhirnya Ilena, Hector dan Rafael diperbolehkan untuk mendekati portal. Para tentara di sana memerhatikan mereka dalam diam. Tanpa menunggu lama, Ilena pun segera melangkah masuk, diikuti dua rekannya yang lain.


June muncul tak lama setelahnya. Datang begitu saja di sebelah Ilena dan hector sambil membawa tongkat sihir dengan empat batu elemen.


“Halo! Senang bertemu kalian lagi,” sapa June riang.


Ilena tersenyum tipis melihat June yang tampak girang. “Kau terlihat lelah. Apa tidak apa-apa melakukan raid setelah jadwal padatmu itu?” tanya Ilena kemudian.


“Tenang saja. Aku sudah mengguakan ramuan penambah stamina menjadi player benar-benar praktis. Kalau lelah, kau tinggal belipotion di toko,” sahut June ceria.


“Dasar orang kaya,” desis Hector menggerutu.


June dan Ilena hanya tertawa kecil. Tak lama kemudian June menyadari keberadaan Rafael dan menyapanya singkat.


“Kau pasti Rafael. Senang bertemu denganmu,” ucap June sembari menjabat tangan anak muda itu.


Rafael membalas dengan canggung. “Terima kasih,” sahutnya pendek.


“Oke. Cukup berbincang-bincangnya. Makhluk-makhluk itu sudah menunggu kita,” ucap Ilena sembari mengangguk ke depan.


Segerombolan cacing raksasa sepanjang dua meter yang melata dengan mulut bulat terbuka lebar. Mulut mereka dipenuhi gigi taring mengerikan, yang siap melahap apa pun yang ada di hadapan mereka.


“Ough! Menjijikkan!” komentar Hector sembari mengamati lendir-lendir legket yang membasahi seluruh tubuh monster itu.


Darah tampak berceceran di mana-mana, termasuk potongan-potongan tubuh manusia. Jelas itu adalah sisa-sisa perjuangan para tentara yang akhirnya mati terbunuh.


 


Selamat datang di dungeon Trevia Valley,


Dungeon ini hanya bisa dimasuki oleh satu tim yang berada di party yang sama. The Black Dragon adalah tim yang sudah terdaftar dalam sistem. Silakan menyelesaikan dungeon dalam waktu 180 menit. Bos monster akan muncul setelah anda berhasil membunuh monster dengan jumlah tertentu.


Apabila hingga tenggat waktu selesai player tidak bisa menyelesaikan dungeon, maka celah dimensi akan terbuka dan semua monster dari dalam dungeon akan keluar di dunia manusia.


Portal dimensi akan kembali terbuka setelah bos monster berhasil dibunuh.


Selamat bersenang-senang. ^^


 


Pesan notifikasi itu muncul begitu para monster menyadari kedatangan Ilena dan ketiga rekannya. Mereka semua pun segera berubah waspada.


“Ayo kita mulai pestanya,” ucap Ilena dengan senyum simpul.