Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Mencari Target



“Kita bisa menggunakan big datadari kepolisian. Kalau Ilena dan June sudah pernah melihat wajahnya, mungkin kita bisa menemukan orang itu lebih cepat,” usul Hector.


“Perlu alasan yang bagus untuk membuat kepolisian membuka data rahasia semacam itu. Mana mungkin aku bilang itu sekedar untuk quest? Mereka tidak akan mempercayaiku dengan mudah,” ujar Javier rasional.


“Biar aku yang mengurusnya. Aku punya kenalan di Markas Besar,” sahut Hector sembari bangkit berdiri dan menyambar kunci mobilnya. Hector kini punya mobil sendiri.


“Apa kau yakin, Hector? Kau kan petugas lalu lintas,” komentar Ilena yang masih duduk manis di kursinya.


Hector mendesis tak sabar. “Kau suka sekali meremehkanku, ya, Ilena Lockart. Sudah, tidak usah banyak bicara. Bangun dan ikut aku saja,” sahutnya sembari berdecak tak sabar.


Ilena menarik napas panjang. “Kalau begitu, aku akan membiarkanmu memimpin proyek kita kali ini,” ucap gadis itu sembari menata barang-barangnya yang berserak di meja lantas bangkit berdiri dan mengikuti Hector.


“Aku pergi dengannya, ya, Jav.” Ilena kembali bicara pada kakaknya.


“Padahal kau baru sampai, tapi kalian harus pergi lagi. Kalian sudah seperti pegawai lapangan saja. Yasudah, pergilah. Hati-hati,” ucap Javier tampak sekhawatir biasanya.


“Dan June, jaga dirimu baik-baik,” lanjut Ilena sembari mengendik pada layar besar. June masih tersambung secara daring.


“Siap, Bos. Kalau begitu aku lanjut bekerja dulu. Sebentar lagi giliranku di wawancara. Semoga beruntung, kalian. Kabari aku secepatnya,” ujar June sembari melambai.


Ilena, Hector dan Javier balas melambai. Tak lama kemudian layar besar itu pun mati. Ilena dan Hector berjalan keluar kantor Javier menuju ruang kendaraan di lantai dasar. Hari ini Hector yang mengemudi. Ia sudah punya mobil baru berikut surat-surat lengkap berkendara. Mobil mewah keluaran terbaru berwarna hitam metalik.


Hector tampak puas sekali dengan mobilnya. Berkali-kali ia memuji mobil barunya itu sendiri tanpa mengindahkan ekspresi lelah Ilena. Hector bilang ia mendapat uang dari menjual material yang dia dapat dari dungeon, ditambah gaji dari Javier. Entah yang mana yang lebih besar di antara dua sumber pendapatan Hector tersebut, yang jelas pria itu mengaku membeli mobil keluaran baru itu secara tunai. Ia sudah menjadi orang kaya sekarang.


Para penduduk juga sudah mulai beraktifitas di jalan-jalan. Meskipun tidak ada banyak orang di luar, tetapi mereka tampak sudah mulai berani menata hidupnya lagi. Orang-orang di Starfa masih tampak muram, mungkin karena bencana di tempat itu memang jauh lebih mengerikan daripada Burca, atau tempat-tempat lainnya.


“Apa kau yakin kantormu masih beroperasi, Hector?” tanya Ilena ragu-ragu.


“Tentu saja. Kepolisian adalah departemen pertama yang harus tetap bertahan. Meskipun kota hancur, tapi para polisi tidak boleh ikut hancur,” sahut Hector dengan jiwa korsanya.


“Kau terdengar bangga. Kenapa kita tidak mengunjungi kantor polisi di Burca? Bukannya sama saja?”


“Tentu saja berbeda. Pertama, Burca dan Starfa adalah Negara yang berbeda. Secara dokumen, aku sebenarnya warga Negara Starfa, meskipun keluargaku sekarang tinggal di Burca. Ceritanya panjang. Sebaiknya kita lewatkan bagian itu.”


“Aku setuju. Lanjutkan,” celetuk Ilena sembari mengangguk-angguk.


Hector berdecih pendek. “Jadi intinya, aku lebih punya wewenang di Starfa daripada Burca.”


“Sebagai petugas lalu lintas? Wewenang apa?


“Ck, kau selalu meremehkanku.Yang kedua, aku punya kenalan di markas besar. Berapa kali aku harus menjelaskan,” sahut Hector gemas.


Ilena tertawa kecil. “Baiklah, baiklah. Aku akan mempercayaimu,” ujarnya kemudian.