Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Sinister



“A, aku mungkin punya ide,” gumam Rafael pelan. Hanya June yang berdiri di dekat Rafael yang bisa mendengar gumaman itu.


“Hah? Apa?” serunya memastikan.


“I, itu monster terbangnya. A, aku bisa pakai efek debuf biar dia jadi nggak terlalu kuat,” cicit Rafael masih tergagap.


“Oh, oke. Hei! Ilena! Rafael bilang dia akan mengurus monster itu!” June tiba-tiba berteriak memberitahu Ilena yang berada cukup jauh dari mereka.


Sontak Rafael terlonjak kaget karena June yang mendadak berteriak.


“Lakukan saja!” sahut Ilena ikut berseru kencang.


“Nah, kau dengar kan. Coba lakukan saja, Rafa,” jawab June sembari mengedip penuh gaya.


“Ra, Rafa?” tanya Rafael bingung.


“Binggo. Itu nama panggilanku untukmu. Kau lebih muda dariku kan. Agar kita lebih akrab,” tambah June cepat-cepat. “Ngomong-ngomong bagus kalau kau segera bertindak. Waktu Castku sudah hampir habis,” lanjut pemuda itu kembali mengalihkan perhatiannya pada lingkaan sihir bercahaya biru yang tengah dia buat.


“O, oh, ya. Baik.” Rafael kembali mengangkat mace emasnya. Ia memejamkan mata dengan khidmat lantas meneriakkan skill debuffnya ke arah Saloa. “Holly Grail!” serunya bersamaan dengan kedua mata yang terbuka.


Lesatan cahaya emas meluncur dari mace Rafael, langsung terarah pada bos monster berwujud peri bunga tersebut. Cahaya itu lantas melingkupi sang monster serupa cangkang tipis yang seperti selaput semi transparan.


Saloa tersebut awalnya kebingungan. Namun beberapa detik kemudian, ia mendadak terlihat seperti tercekat ketakutan dan tidak lagi mengeluarkan serbuk-serbuk beracun. Alih-alih sang monster itu justru terjun bebas ke tanah dengan sayap yang lunglai.


Ilena yang melihat kondisi tersebut segera merentangkan anak panahnya untuk melesatkan skill Elemental Arrow ke arah sang Saloa yang sedang terjatuh. Dari sisi lainnya, Hector berlari menyongsong sang bos monster dengan pedang terangkat. Skill Dark Sword siap dia gunakan untuk memotong tubuh Saloa. Dari kejauhan, June pun telah selesai merapal mantra, Fire Meteor sudah siap menghujani dataran itu dan menghanguskan sang bos monster.


Ketiga serangan pamungkas meluncur secara bersamaan mengakibatkan damage maha dahsyat yang langsung meluluhlantakkan area tersebut, sekaligus melenyapkan Saloa dalam satu kedipan mata. Tak ada yang tersisa dari tubuh monster tersebut, selain abu-abu hitam yang beterbangan.


“Kerja bagus, Raf,” ujar Ilena setelah mereka berempat kembali berkumpul di titik yang sama.


“Ra, Raf?” tanya Rafael lagi-lagi kebingungan.


“Itu panggilan akrab. Kita satu tim kan sekarang?” sahut Ilena sembari tersenyum puas.


“Sudah kubilang panggilan seperti itu memang cocok untukmu. Kau yang paling muda di antara kami,” timpal June sambil mengacak-acak rambut Rafael.


Rafael tersenyum sekilas. Ia merasa begitu senang karena telah diterima seperti keluarga oleh keempat rekan barunya itu.


“Ngomong-ngomong kita jadi nggak bisa ambil material dari monsternya. Kenapa kalian berdua harus ikut-ikut menyerang? Terutama kau, Anak Kaya Raya. Kau seharusnya membiarkan tubuh Saloa itu tetap utuh. Apa kau tahu berapa harga sayap dan serbuk serbuk sari bunganya itu? Kita kehilangan material berharga,” omel Hector pada June.


June beringsut mundur menjauhi Hector yang sudah berjalan mendekatinya penuh intimidasi. “Maaf, aku tidak sengaja. Bukan salahku kalau memiliki kekuatan yang besar,” kilah June sembari mengangkat kedua tangannya dengan gestur menyerah.


Hector hanya berdecak kesal sambil terus bersungut-sungut. Sementara itu Ilena dan Rafael tertawa melihat tingkah dua rekan mereka itu. Sejenak, keadaan terasa damai dan menyenangkan. Mereka berempat secara alami sudah menjadi akrab tanpa memakan banyak waktu. Seolah mereka memang sudah saling mengenal sejak lama.


Sebuah portal lain muncul di hadapan Ilena dan Hector. Portal tersebut berbeda dari retakan dimensi tempat mereka masuk sebelumnya. Wujudnya pun berbeda. Lebih gelap dengan percikan-percikan listrik di setiap sisinya.


Ilena dan ketiga rekannya tersebut langsung berubah waspada. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka mengamati portal asing itu sembari bersiap-siap dengan senjata mereka masing-masing.


Beberapa detik berlalu hingga akhirnya dari dalam portal itu, muncul sebuah kaki manusia yang melangkah keluar. Kemunculan itu diikuti oleh sosok sang pemilik kaki tersebut. Seorang pria yang sangat familiar bagi Ilena dan Hector: Remigus Sixtus.


Rambut merahnya yang mencolok tidak membuat sosok Remigus begitu mudah dikenali di antara lima orang lain berjalan di belakangnya. Salah satu dari lima orang itu adalah perempuan berambut hitam yang diikat ekor kuda dengan klimis: Yoona Hong. Ilena belum berkenalan dengan tiga orang lainnya, tetapi jelas ia tidak butuh untuk tahu.


“Wah, kau bergerak dengan sangat cepat Komandan. Tidak mengherankan, tentu saja. Kau memang masih memiliki sentuhanmu,” ujar Remigus dengan seringainya yang menyebalkan.


“Kau mengincar anggotaku?” sergah Ilena sembari berjalan maju ke depan rekan-rekannya. Berusaha melindungi mereka dari apa pun rencana Remigus.


Pria berambut merah itu tertawa panjang. “Akhirnya kau menyadarinya juga. Untuk selanjutnya, akan kupastikan aku membunuh mereka sebelum kau berhasil menemukannya,” kata Remigus berubah serius.


Ilena mengepalkan tangannya dengan penuh amarah. “Sebenarnya apa tujuanmu? Kenapa kau mengganggu kami? Apa sistem memberimu quest itu?” geram gadis itu penuh emosi.


Remigus tertawa sekali lagi. “Sistem kau bilang? Kau memikirkan Galatean seolah-olah tempat itu hanyalah imajinasi yang muncul dari sistem yang kau buat? Sadarlah Ilena. Aku ingin kau cepat mengingat dosa-dosamu di masa lalu.”


Ilena mengernyitkan dahinya, tidak yakin tentang maksud kata-kata Remigus. Meski begitu, itu tidak penting sekarang. Faktanya Remigus adalah orang yang berniat menghancurkannya dan membunuh anggota Black Dragon.


“Mulai sekarang, aku tidak akan bersikap lembut lagi, Komandan,” lanjut Remigus sembari memberi aba-aba pada para anak buahnya.


Sebuah notifikasi sistem lantas muncul di hadapan Ilena dan yang lainnya.


Tantangan PVP: The Black Dragon vs Sinister


Tim yang berhasil mengalahkan seluruh anggota tim lawan akan keluar sebagai pemenang. Lama pertarungan tidak akan terikat pada durasi. Portal dugeon terbuka setelah salah satu tim berhasil keluar sebagai pemenang. Selamat bersenang-senang ^^


“Apa-apaan … ,” gumam Ilena masih mencerna situasi.


“Kalau begitu, selamat menikmati pertarungannya, Komandan. Semoga kita bisa berjumpa lagi,” ujar Remigus sembari berbalik ke arah portal di belakangnya. Yoona, sang asasin mengikuti pria itu seperti ajudan yang mengawal majikannya.


Detik berikutnya, Remigus dan Yoona sudah menghilang bersama dengan celah portal yang dia buat. Sementara itu empat player anak buah Remigus sudah bersiap menyerang dengan tampang garang.


“Apa sekarang kita harus bertarung melawan mereka?” tanya Hector memastikan.


“Sepertinya begitu. Kalian bersiap-siaplah,” perintah Ilena sembari merentangkan busurnya sendiri.


June mengangguk paham. Sementara Rafael kini mengangkat macenya dengan ragu-ragu. Hector harus memberi kode pada Rafael dengan anggukan untuk meyakinkan pemuda itu bahwa tindakannya sudah tepat. Maka Rafael pun mulai melemparkan buff nya kepada seluruh anggota tim.