Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Berpencar



Setelah memindai beberapa area yang kondisinya mirip dengan syarat dalam petunjuk quest, akhirnya mereka pun mendapatkan tiga lokasi yang berbeda. Sayangnya ketiga lokasi tersebut berada di tempat yang berjauhan. Akan memakan waktu yang cukup lama kalau harus mendatangi ketiga lokasi tersebut secara bergantian.


“Aku punya ide. Bagaimana kalau kita berpencar. Selama ini kita punya fitur party yang belum pernah dicoba. Calling Party Member. Bukankah ini fitur untuk memanggil rekan setim ke suatu tempat?” June tiba-tiba berceletuk sembari membuka hologram sistemnya.


Ilena mengikuti apa yang dilakukan June. Gadis itu juga membuka fitur partynya di hologram sistem dan menemukan sebuah tulisan di pojok kiri atas: Calling Party Member. Iseng, ia pun memencetnya. Seketika Hector, Rafael dan June mendapat pesan hologram baru di hadapan mereka.


Anggota party [Ilena Lockart] memanggil Anda untuk datang.(Ya/Tidak)


“Bagaimana aku harus menjawab ini? Kau ada tepat di depanku,” ujar Hector sembari menoleh ke arah Ilena.


Gadis itu hanya mengangkat bahu. “Aku juga baru pertama mencobanya,” sahutnya ringan.


Mengikuti keisengan Ilena, Hector pun menjawab pertanyaan sistem itu dengan jawaban [Ya]. Seketika tubuh pria itu mulai memudar perlahan, dimulai dari tangannya, hingga ke seluruh tubuh.


“Hei, apa yang terjadi?” celetuk Hector sembari mengamati tubuhnya yang menghilang pelan-pelan.


Ilena, June dan Rafael hanya memperhatikan kejadian tersebut dalam diam. Setelah beberapa detik, tubuh Hector pun hilang sempurna, tidak menyisakan apa-apa lagi di tempat itu.


“Hector?” desah Ilena mulai mencari-cari.


“Ya?” sebuah jawaban dari Hector sekonyong-konyong muncul dari balik punggung Ilena. Dengan kaget gadis itu pun menoleh dan melihat tubuh rekannya itu kembali mewujud secara perlahan. Muncul dari udara kosong.


“Wah, aku berpindah sejauh dua langkah dari tempat dudukku. Apa memang kita harus jadi sedekat ini setelah menggunakan fitur tersebut?” komentar Hector berpura-pura takjub.


Ilena mendengkus kecil, diikuti tawa ringan dari June dan Rafael. “Apa aku perlu mencobanya? Kalian bisa berkunjung ke Don-Gan tanpa visa atau paspor,” kelakar June.


“Hector bisa mencobanya,” sahut Ilena sembari menunjuk Hector yang kini sedang berjalan kembali ke tempat duduknya.


Pria itu mengeluh panjang. “Selalu aku. Kau benar-benar memperlakukanku dengan buruk, Ilena,” gerutunya.


Ilena hanya tersenyum tipis sambil mengangkat alis.


Akhirnya Hector pun menyerah. “Baik ayo lakukan,” ujarnya kemudian.


Kini giliran June yang mencoba menggunakan fitur memanggil rekan party. Lokasinya yang jauh bisa menjadi bahan uji coba bagi mereka.


Anggota party [June Park] memanggil Anda. (Ya/Tidak)


“Oke. Karena kita sudah menemukan solusi, maka kita akan mulai berpencar. Hector, kau pergilah ke Crouz, paspor dan visamu akan segera kukirim setelah ini. Lalu June … .”


“Aku kebetulan ada pekerjaan di Valez selama satu minggu, jadi aku yang akan pergi ke sana,” potong June sebelum Ilena menyelesaikan kalimatnya.


“Ah, baiklah. Kalau begitu June ke Valez. Sementara aku dan Rafael akan pergi ke Baltimore,” kata Ilena kemudian.


Hasil diskusi mereka akhirnya telah ditentukan. Dengan strategi tersebut ketiga lokasi yang paling mendekati petunjuk bisa didatangi di waktu yang bersamaan. Setelah pembicaraan selesai, Ilena pun memutus hubungan komunikasinya dengan June dan Hector yang saat ini ada di Don-Gan.


Ia berniat untuk segera bersiap-siap dan berangkat ke Baltimore dengan Rafael. Ilena perlu memesan tiket pesawat dan segala akomodasi yang dibutuhkan. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ilena melirik layar telepon genggamnya dan mendapati nama Misa, sang pimpinan Divisi Keamanan di perusahaannya, muncul. Gadis itu pun mengangkat panggilan itu tanpa ragu. Tidak biasanya Misa menghubunginya secara langsung. Biasanya semua pegawai akan melapor pada Javier sebelum akhirnya kakak kembarnya memberi tahu Ilena.


“Ya, Misa. Ada apa?” tanya Ilena sembari mempersilakan Rafael meninggalkan kediamannya untuk bersiap-siap. Ilena pun turut bersiap mengepak kopernya sendiri.


“Ilena, apa kau masih di Burca?” tanya Misa dengan nada suara yang tegang.


Ilena pun segera menghentikan kegiatannya dan mendengarkan Misa dengan lebih seksama. “Aku masih ada di apartemen. Kenapa?” tanyanya serius.


“Syukurlah. Sebaiknya kau datang ke kantor dulu sekarang. Ada yang perlu kau lihat secara langsung,” desak Misa terdengar tidak sabar.


“Oke. Aku akan berangkat sekarang. Tapi tentang apa ini?” tanya Ilena sembari menyambar kunci mobilnya di atas meja makan.


“Orang-orang yang kau tangkap waktu itu. Di Bryxton. Mereka … Kau harus melihatnya sendiri,” desah Misa kesulitan memberi penjelasan.


Tidak biasanya Misa seperti itu. Misa adalah wanita yang tenang. Sebagai pimpinan Divisi Keamanan, dia selalu bersikap rasional dan tidak terpengaruh dengan emosi hingga terdengar sepanik itu. Akan tetapi sekarang jelas terdengar tegang. Hal itu membuat Ilena semakin penasaran.


“Aku berangkat sekarang, Misa,” jawab gadis itu lantas menutup telepon. Buru-buru ia keluar apartemen dan meluncur langsung ke lantai bawah, tempat mobilnya diparkir. Ternyata Rafael masih ada di koridor lantai apartemen Ilena. Dengan bingung anak itu bertanya pada Ilena yang terlihat tergesa-gesa.


“Ada apa, Ilena?” tanya Rafael.


“Sepertinya terjadi sesuatu pada orang-orang yang kemarin kita bawa. Anggota Sinister itu,” sahut Ilena cepat.


“Apa aku perlu ikut?” Rafael kembali bertanya.


Ilena menggeleng pelan. “Tidak perlu. Sebaiknya kau lanjutkan saja persiapanmu untuk perjalanan kita. Aku akan mengurus ini sebentar lalu menghubungimu, Raf,” ujar Ilena lalu melesat pergi.


Sebenarnya apa yang terjadi? Setelah dua minggu berada dalam pengawasan, dan disembuhkan dari semua luka-luka, apa mereka sekarang kabur? Entahlah. Semakin dipikirkan, semakin Ilena tidak bisa menebak apa yang membuat Misa cemas. Satu-satunya cara untuk tahu adalah melihatnya secara langsung.