
“Haruskah kutanya Javier untuk mencarikan dungeon terdekat? Tapi apa tidak apa-apa langsung menyeret anak itu ke dalam dungeon? Kita belum emasukkan dia ke dalam party juga,” tanya Ilena ragu.
“Kalau begitu kau bisa merekrutnya dulu lalu membawanya ke dungeon terdekat. Tidak perlu cemas soal keselamatan. Ada kita berdua juga June,” kata Hector tampak yakin. Namun keyakinannya segera memudar dalam beberapa detik saja. “Ah, benar, kita harus mempertimbangkan jadwal June,” keluhnya patah arang.
“Kau sepertinya suka sekali masuk dungeon,” komentar Ilena penuh selidik.
Hector mengangguk mantap. “Tentu saja. Aku dapat banyak material berharga setelah raid dungeon. Aku bisa membeli mobil setelah menjual material-material itu,” ungkap Hector terus terang.
Ilena hanya menghela napas melihat tingkah rekannya yang mata duitan. Gadis itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Javier.
“Bagaimana pencarianmu? Kau tidak memberi kabar padaku setelah pergi selama berhari-hari,” sapa Javier di ujung panggilan.
“Maaf, jadwal kami padat dan aku juga harus mengurus beberapa hal sampai lupa memberi kabar. Aku ada Bryxton sekarang. Aku sudah menemukan anak itu,” jawab Ilena tanpa rasa bersalah.
Jeda selama beberapa detik. Setelah itu, suara brak keras terdengar dari panggilan telepon Ilena. Sepertinya kakak kembarnya menjatuhkan sesuatu yang besar. Ilena menebak Javier menjatuhkan kursi kerjanya karena berdiri secara tiba-tiba.
“Bryxton?!” pekik Javier dengan suara keras. Ilena sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinga karena teriakan kakaknya itu.
“Kenapa?” bisik Hector yang juga mendengar suara Javier dari balik panggilan telepon.
Ilena hanya menggeleng pelan, menyuruh Hector untuk tenang. “Ya … Bryxton,” ucap gadis itu mengonfirmasi.
“Jangan khawatir. Kami baik-baik saja. Kami akan segera kembali setelah berhasil meyakinkan Rafael. Karena itu aku butuh bantuanmu, Jav,” kata Ilena dengan sabar.
“Kau seharusnya meminta bantuanku sebelum nekat masuk ke Bryxton. Kuduga kau menyelundup secara ilegal. Apa kau tahu betapa berbahayanya tindakanmu itu? Bryxton adalah Negara yang sangat ketat tentang keamanan. Mereka tidak pernah membuka diri pada pihak luar. Tindakan gegabahmu bisa membuatmu menjadi buronan internasional, apa kau tahu?” omel Javier panjang lebar.
Ilena menarik napas panjang. “Iya, aku mengerti. Maafkan aku. Meski begitu aku tidak bisa berjanji untuk tidak melakukan tindakan serupa.”
“Kau sama sekali tidak menyesal ternyata,” sindir Javier sarkastik. Kakaknya lalu menghela napas pendek yang berat. “Jadi apa yang kau butuhkan sekarang?” tanyanya kemudian.
Senyum Ilena merekah di wajahnya. Gadis itu mengacungkan jempol kepada Hector, tanda bahwa sudah sukses membujuk Javier. Hector ikut tersenyum lalu ikut mengangkat tangannya dan membuat tanda oke.
“Aku butuh informasi dungeon di dekat area ini. Aku akan mengirim lokasiku sekarang, tolong carikan dungeon terdekat,” pinta Ilena kemudian.
“Apa kau mau melakukan dungeon raid di sana? Ilena, seperti yang kau tahu, kita tidak pernah membuka server di Bryxton. Anak yang kau cari itu pasti menggunakan jaringan luar negeri untuk mengakses Galatean. Karena itu aku juga tidak bisa memastikan bagaimana cara pemerintah Bryxton menyelesaikan masalah dungeon break. Bisa saja mereka menurunkan pasukan militer untuk melawan monster. Kau tidak bisa sembarangan ikut campur dalam masalah itu,” cecar Javier masih mengomel panjang.
“Aku tahu, Jav. Tolong carikan saja. Aku juga tidak akan langsung mengintervensi mereka begitu saja,” desak Ilena tak sabar.
Javier sekali lagi menghela napas berat. “Baiklah.”