Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Apartemen Kumuh



Ilena dan Hector pun melanjutkan penyusupan mereka menuju alamat yang sudah didapat dari John. Kota Bryxton layaknya kota-kota lain di sekitar sana. Jalanan aspal dengan bangunan-bangunan beton yang tinggi. Bedanya, kota tersebut tampak lengang. Tidak banyak orang yang berkeliaran, nyaris seperti kota mati. Hanya ada satu dua orang yang terlihat sedang berjalan menyusuri trotoar dengan terburu-buru.


Ilena dan Hector membuka penutup wajah mereka dan berpura-pura menjadi bagian dari penduduk kota. Mereka berjalan menyusuri trotoar karena tidak ada mobil atau taxi yang bisa ditumpangi. Kendaraan umum sepeti bis lewat beberapa kali, tetapi mereka tidak yakin mengetahui jalurnya dengan tepat. Selain itu juga biasanya kendaraan umum semacam itu mengharuskan penumpangnya membayar dengan kartu khusus. Ilena dan Hector tentunya tidak memiliki kartu angkutan umum kota tersebut.


Melalui arahan peta digital, Ilena dan Hector akhirnya sampai di sebuah kawasan apartemen yang terlihat usang. Kawasan tempat alamat yang diberikan John rupanya merupakan daerah pinggiran yang kumuh. Beberapa rumah, apartemen dan pertokoan tua berjajar di sepanjang gang tersebut.


“Grizlox Apartment, nomor 27. Benar ini, kan?” tanya Ilena memastikan.


Hector menengadah, memindai gedung apartemen yang sudah berjamur dan dipenuhi coretan pilox warna merah biru hitam. Sebuah papan nama yang sudah miring tertempel di depan pintu masuk apartemen tersebut, bertuliskan Grizlox Apartement, Sejak 1987.


“Tempat ini tidak pernah direnovasi atau bagaimana,” gerutu Hector sembari memicingkan hidungnya. Aroma sampah dari sebuah tempat pembuangan tak jauh dari sana menguar hingga membuat pria itu mual.


“Ayo masuk. Kamarnya ada di lantai dua kalau menurut keterangan di sini,” sahut Ilena tanpa mempedulikan gerutuan Hector. Gadis itu membaca sebuah papan keterangan yang hurufnya sudah memudar, menunjukkan denah nomor kamar setiap lantai.


Tidak ada lift apalagi elevator di gedung tersebut. mereka terpaksa berjalan melalui tangga yang sempit dan gelap di ujung koridor. Semua pintu kamar tertutup rapat, bahkan jendelanya. Sepanjang koridor itu dipenuhi sampah dan barang-barang bekas yang sudah berdebu. Tempat itu benar-benar tidak terawat. Lampu di tangga bahkan selalu berkedip-kedip nyala mati membuat pening orang-orang yang melewatinya.


“Ini kamarnya,” ucap Ilena setelah sampai di depan pintu bernomorkan 27, dengan angka dua yang sudah lepas terbalik.


Ilena kembali tidak mempedulikan rekannya. Gadis itu hanya mengetuk pintu beberapa kali. Namun tidak ada jawaban. Sekali lagi ia mengetuk, hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki yang diseret mendekat.


“Siapa?” Sebuah suara rintihan terdengar dari dalam ruangan.


“Maaf mengganggu, kami mencari Rafael Angelo, apakah benar tinggal di tempat ini?” tanya Ilena menyahut.


Sunyi selama beberapa saat. Setelah kurang lebih semenit, akhirnya terdengar bunyi gerendel pintu dibuka. Seorang pemuda berambut pirang dan mata biru yang cekung mengintip dari balik pintu.


“Ada perlu apa?” tanyanya dengan suara parau.


Meski terlihat lesu dan berantakan, Ilena langsung mengenali anak itu. “Kau Rafael Angelo? Permisi sebentar,” ucap Ilena sembari nekat memegang jemari pemuda itu yang tengah mencengkeram sisi pintu kamarnya.


Pemuda itu begitu terkejut dan berusaha untuk menarik tangannya. Akan tetapi gerakannya terlambat karena kini, baik dirinya maupun pemuda itu, sudah berada dalam dimensi sistem yang menceritakan tentang peran mereka di entah kehidupan mana.