
Setelah mendapat persetujuan dari June, Ilena pun kembali ke dalam apartemen. Hector tampak masih membujuk Rafael, tetapi pemuda itu masih sama defensifnya seperti sebelumnya. Ilena pun akhirnya memutuskan untuk melakukan usul Hector yang pertama: membuka Memory Key yang keempat.
Ilena terlempar lagi ke dimensi lain. Penglihatannya kali ini melanjutkan kisah yang sebelumnya. Ilena tersungkur lemah, nyaris tak sadarkan diri. Rasa sakit luar biasa mendera tubuhnya, membuat Ilena tidak bisa bergerak sama sekali.
Rafael berlutut di sebelahnya dengan panik. Ia terus berusaha menyembuhkan Ilena dengan sisa-sisa kekuatannya yang tinggal sedikit. Namun luka Ilena sudah terlampau parah. Ia sangat ingin menutup matanya dan melupakan segalanya.
“Komandan! Ilena! Bangun! Tetap bersamaku! Aku pasti bisa menyelamatkanmu!” suara teriakan Rafael menggema di kepala Ilena. Akan tetapi gadis itu sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi.
Medadak mulutnya seperti dimasuki cairan dingin beraroma kuat. Cairan itu memasuki tenggorokan Ilena dan menyisakan rasa dingin yang membekukan tubuhnya. Tak lama setelah itu, Ilena terbatuk dan kembali sadar.
“Apa yang … ,” desahnya dengan suara parau.
Kini di hadapannya, Ilena mendapati Rafael sudah tidak sendirian. Seorang pria berambut coklat muda turut berlutut di sebelahnya.
“Noel?” Ilena kembali mendesah pelan. Ia bangkit dari tanah. Tubuhnya yang sakit tidak lagi terasa begitu nyeri.
“Aku membuatkan ramuan penghilang rasa sakit. Ini cuma sementara, dan sama sekali tidak menyembuhkan luka-lukamu. Sebaiknya kita manfaatkan kesempatan ini untuk mencari tempat yang lebih aman,” ucap pria berambut coklat terang itu, yang ternyata bernama Noel.
“Kenapa kalian selalu berusaha membuatku tetap hidup?” gerutu Ilena sembari bangkit berdiri.
“Tolong jangan bicara seperti itu,” keluh Rafael yang turut berdiri bersama Ilena, berusaha memapahnya.
Ilena menepis tangan Rafael dan kembali mengeluarkan busur panahnya dari udara kosong.
“Perang ini sudah berakhir Noel. Aku tidak mungkin tetap hidup sementara planetku dihancurkan,” sahut Ilena tegas.
“Apa kau sudah gila? Kita harus menjalankan rencana B. Hector pasti sudah mempersiapkan kendaraannya. Kita akan pergi e galaksi terdekat,” bujuk Noel tak menyerah.
Ilena menatap dua rekannya itu dengan putus asa. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum samar. “Kalian pergilah. Aku hanya akan lahir dan mati di sini. Aku tidak akan kemana-mana,” ujarnya keras kepala.
Setelah mengatakan hal itu, pandangan Ilena kembali berubah gelap. Ia mengerjap beberapa kali dan kembali berada di ruang kamar apartemen sempit milik Rafael. Ilena otomatis menatap Rafael yang juga tengah memandangnya dengan terbelalak.
“Apa … lagi itu?” gumamnya bingung.
Tiba-tiba air mata menetes dari kedua mata Rafael. Pemuda itu pun semakin heran dan dengan panik mengusap air matanya.
“Kenapa aku merasa sangat sedih? Katakan padaku, barusan aku melihatmu terluka parah. Sekarang … sekarang hal itu sangat menggangguku. Siapa kalian sebenarnya?” Rafael terus menangis sambil berbicara. Suaranya bergetar seperti menahan kepedihan.
Ilena menarik napas berat. “Kupikir itu ingatan sistem. Tetapi setelah mengalaminya beberapa kali, aku merasa itu adalah kehidupan masa lalu kita di galaksi yang berbeda. Ingatan galaktik. Kita dibangunkan untuk menyelesaikan misi di dunia ini sekarang,” jawab gadis itu nyaris tanpa keraguan.
“Ingatan … galaktik?” desah Rafael menatap Ilena dan Hector secara bergantian.
Ilena mengangguk pelan. “Benar. Jadi apa kau bersedia bergabung dengan kami untuk menyelesaikan misi ini?” tanya Ilena kemudian.
“Aku … tidak yakin,” gumam Rafael sembari tertunduk muram.