
Ilena menemui Javier dan Hector di kantor. Mereka berdua sudah siap untuk melakukan diskusi tertutup yang tidak dihadiri oleh karyawan yang lain. Entah mengapa Ilena menjadi terlalu waspada setelah sistem memberi info bahwa musuhnya ternyata juga merupakan seorang player lain.
Javier sudah mengetahui perihal sabotase yang terjadi pada dua supir Ilena dan Hector kemarin. Dengan protocol keamanan perusahaan sebesar Alcanet Tech, para penyusup itu tetap bisa beraksi dengan mudah. Ilena khawatir kalau-kalau orang-orang jahat itu juga sudah menyusup ke dalam perusahaan.
Javier perlu meyakinkan Ilena beberapa kali agar adik kembarnya tersebut tidak terlalu paranoid. Seluruh karyawan Alcanet Tech sudah direkrut melalui prosedur ketat, berbeda dengan pegawai outsourcing yang kemarin disewa dari pihak ketiga.
“Seharusnya aku yang mudah paranoid. Tapi ternyata kau bisa juga ketakutan, Ilena,” komentar Javier saat melihat adiknya tengah memindai seluruh data karyawan satu per satu.
“Musuh kita berbahaya, Jav. Dia bukan monster. Dia manusia. Punya kecerdasan dan kelicikan. Ditambah pikiran yang jahat. Aku tidak bisa mengorbankan seluruh questku berakhir hanya karena ulahnya yang seenaknya itu,” sahut Ilena masih fokus pada pekerjaannya.
“Aku juga bertemu dengannya. Dia jelas bukan player biasa. Dia bisa membuat portal dimensi menuju dungeon monster dengan sangat mudah. Kalau benar cerita Ilena bahwa target kita sekarang adalah seorang priest, maka semuanya akan berakhir kalau Remigus memasukkannya ke dalam dungeon. Priest jelas bukan petarung yang handal,” sahut Hector menimpali.
“Namanya Remigus Sixtus ya. Aku sudah mencari di seluruh database identitas player dari seluruh dunia, tetapi aku tetap tidak menemukan namanya. Apa mungkin dia menggunakan nama samaran?” tanya Javier menanggapi.
“Entahlah. Yang jelas sistem Galatean sudah mengatur nama asli kita sebagai identitas yang terdaftar dalam sistem. Bisa jadi orang itu memang menggunakan nama palsu. Aku pun akan bertindak demikian kalau akan berbuat kejahatan.” Ilena bicara tanpa berpaling dari layar monitornya.
“Masuk akal … ,” desah Javier sambil berpikir. “Apa kau bisa menggambarkan ciri-ciri orang itu, Hector. Aku akan coba mencarinya dari ciri fisiknya,” lanjut Javier enggan mengganggu kesibukan adik kembarnya.
Baru saja Hector hendak menjawab, tiba-tiba layar besar di ruangan Javier memunculkan wajah June yang baru tersambung dari panggilan interlokal.
“Halo, Teman-teman. Maaf karena aku baru bisa bergabung sekarang. Jadwalku sedikit padat hari ini,” sapa June dari balik layar.
“Halo June. Maaf karena mengganggu waktumu. Kita hanya akan meeting sebentar saja. Oh, ya, kau belum berkenalan dengan kakakku. Dia Javier Lockart. CEO Alcanet Tech,” ujar Ilena sembari memperkenalkan June dan kakak kembarnya. “Javier, dia June Park. Kau sudah cukup mengenalnya pasti. Dia seorang penyanyi idola.” Ilena berbalik pada Javier.
“Halo June. Senang akhirnya kita bisa bertemu meski baru secara virtual,” sapa Javier lengkap dengan senyum bisnisnya.
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan CEO luar biasa seperti Anda. Anda juga sudah memberi saya banyak proyek iklan. Terima kasih banyak,” ucap June tersenyum lebar. Senyuman bisnis yang sama.
“Baik. Kita sudahi pertemuan bisnisnya. Sekarang mari kita fokus pada masalah yang sebenarnya,” potong Ilena buru-buru.
“Tunggu, sebelum itu, Ilena. Apakah kau membuka Memory Key tadi pagi? Aku kembali tersedot dalam visualisasi sistem bersamamu. Kita bertemu dengan pemuda berambut emas bernama Rafael Angelo,” ujar June mengisahkan kejadian yang dia alami pagi tadi saat sedang berada di ruang make up artist untuk persiapan wawancara di salah satu stasiun radio.
June hanya tertawa ringan. “Tidak apa-apa. Itu pengalaman yang sangat menarik. Aku kebetulan juga sedang mengantuk pada saat dirias. Jadi aku bisa segar kembali setelah itu,” sahutnya riang.
“Syukurlah kalau begitu.” Ilena tersenyum lega.
“Baiklah. Karena semua orang sudah berkumpul di sini, mari kita mulai rapatnya,” ujar Javier membuka pertemuan itu. “Pertama kalian harus waspada pada player bernama Remigus Sixtus. Ilena dan Hector sudah bertemu dengan orang itu dan anak buahnya, jadi mereka mungkin bisa mengenali mereka sebelum terjadi kejadian buruk. Tetapi June mungkin belum sempat melihatnya. Karena itu Hector telah berbaik hati memberikan gambaran visual para penjahat yang mengincar kalian.”
Layar besar yang menampilkan wajah June menyempit. Lalu di sebelahnya muncul gambaran lengkap sosok Remigus Sixtus, berikut antek-anteknya. Rupanya tidak sia-sia Hector menjadi seorang polisi. Meski kini bertugas di divisi lalu lintas, tetapi kemampuan modelingnya cukup akurat. Wajah Remigus dan seluruh anak buahnya digambarkan dengan begitu mirip.
“June, kau harus berhati-hati jika bertemu dengan salah satu dari mereka, atau justru mereka semua sekaligus. Mereka mungkin bisa menyamar dan menyusup ke dalam perimetermu, semata-mata untuk membuatmu lengah lalu menculikmu. Mereka berbahaya. Dan aku yakin mereka memiliki misi yang berlawanan dengan kita,” terang Ilena melanjutkan penjelasan.
June tampak mengangguk-angguk sembari menyimpan ketiga gambar itu dalam gawainya sendiri.
“Aku akan mengirim gambar mereka melalui surel agar kau bisa menyimpannya. Katakana juga pada managermu untuk mewaspadai mereka semua,” lanjut Ilena.
“Mereka memiliki misi yang berlawanan dengan kita. Apa tepatnya quest mereka?” tanya June kemudian.
“Aku tidak tahu pasti. Tapi dari sikap mereka kemarin, lalu juga notifikasi sistem yang kudapat pagi ini, semua pertanda mengarah bahwa mereka memang bersilangan arah dengan kita. Remigus sudah pasti mengincarku dan seluruh anggota Black Dragon, party kita. Kalau salah satu dari kita tidak bisa ditemukan, atau mati sebelum quest selesai, maka gerbang dimensi tidak akan pernah bisa ditutup selamanya.” Ilena terus menjelaskan dengan lancar.
June mengangguk-angguk paham. “Baiklah. Aku akan mewaspadai mereka semua. Semoga mereka belum punya anggota lain lagi.”
“Itu juga kekhawatiranku. Tapi untuk saat ini kita fokus dulu pada wajah-wajah yang sudah kita kenali. Aku juga berpikir kalau mereka mungkin sudah satu langkah lebih maju dari kita. Remigus seolah bisa membaca gerak gerikku. Permasalahan kedua yang harus segera ditangani adalah menemukan anggota keempat kita: Rafael Angelo,” ujar Ilena sampai pada pokok pembicaraan.
“Untuk masalah itu, aku bisa mencarinya melalui sitem data player yang terekam dalam database perusahaan. Seperti saat kita mencari Hector dulu,” timpal Javier sembari mengutak-atik keyboard di hadapannya.
“Mencariku? Bagaimana kalian mencariku dulu?” tanya Hector turut penasaran.
“Kita tidak bisa melakukan hal itu lagi, Jav. Dungeon break sekarang sudah diatasi dengan baik. Jadi kurasa sudah tidak ada hubungannya antara quest player ini dengan dungeon break,” timpal Ilena tidak mengindahkan pertanyaan Hector.
“Jadi bagaimana cara menemukannya?” sahut Javier balas bertanya.