Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Menyelesaikan Misi



Pada akhirnya, satu-satunya jalan adalah mengakui bahwa mereka adalah pendatang ilegal. Ilena mengatakan dengan jujur bahwa ia dan Hector telah menyelundup masuk ke Bryxton dan menyerang salah seorang petugas perbatasan. Sementara June datang secara otomatis ke dalam dungeon ketika anggota timnya masuk.


Semuanya diceritakan oleh Ilena sembari duduk di dalam tenda militer yang dibangun secara darurat di tempat munculnya retakan dimensi tersebut. Sang Komandan dan beberapa anak buah pilihannya yang berada di dalam tenda itu pun mendengarkan dengan seksama.


“Jadi maksudmu, ada player lain yang mengincar kalian karena tidak ingin para monster dileyapkan dari dunia ini?” tanya Komandan tersebut merangkum kesimpulan.


“Sejujurnya kami tidak tahu pasti apa tujuan kelompok tersebut menyerang kami. Satu-satunya petunjuk adalah jawaban mereka. Meski aku tidak yakin apakah mereka mau buka mulut,” jawab Ilena sembari menoleh ke arah empat tubuh tak sadarkan diri yang ditaruh di atas tandu. Keempat orang itu adalah anggota Sinister yang sudah dikalahkan Ilena dan rekan tim-nya.


Sang Komandan tampak berpikir sejenak. “Apa pun alasannya, tindakan menerobos masuk ke wilayah kami tanpa izin adalah sebuah pelanggaran. Bahkan kalian sempat menyerang petugas kami. Itu tindakan kriminal,” ujarnya tajam.


Ilena dan Hector hanya bisa terdiam. Meski begitu kepala Ilena terus bekerja. Ia harus mencari jala keluar. June yang duduk di sebelah Ilena mencoba menghubungi managernya. Sementara Rafael berada dalam tenda lain untuk menerima perawatan. Anak itu sudah mengeluarkan banyak energi sihir padahal kondisi tubuhnya sedang kekurangan gizi.


“Jadi apa hukuman yang haraus kami terima?” akhirnya Hector memuka suara setelah menit-menit dalam diam yang terasa seperti selamanya.


“Tidak ada. Tapi aku akan sangat berterima kasih jika perusahaan kalian benar-benar membuka akses untuk player di Bryxton. Bantuan itu sudah cukup untuk menebus kesalahan kalian,” sahut sang komandan masih dengan ekspresi serius yang sama. Kumis tebalnya semakin membuat komandan tersebut terlihat galak dan tidak bersahat.


Meski begitu, Ilena lega karena mereka akhirnya tidak perlu mendapat hukuman. Lebih dari itu, rombongan Ilena pun diantar pulang ke Burca dengan penerbangan kelas pertama yang berangkat hari itu juga. Rafael dan June ikut bersama mereka ke kantor pusat Alcanet Tech karena itu satu-satunya perjalanan yang difasilitasi oleh pihak militer Bryxton.


Sesampainya di Burca, rupanya Baek Hyeon, manager June sudah menunggu dengan ekspresi cemas. Dia marah-marah dan mengomel karena June melakukan perjalanan sendiri ke luar negeri tanpa memberi tahunya. June hanya bisa berkata bahwa itu adalah pekerjaan darurat dan melarang Ilena untuk membantu menjelaskan.


“Tidak apa-apa. Ilena. Biar kutangani managerku. Lagipula aku tidak pergi lebih dari satu hari. Jadi tidak akan mengganggu jadwal kerjaku,” ujar June ketika Hyeon sedang memesan tiket pesawat untuk kembali ke Don-Gan.


“Maaf karena sudah membuatmu kerepotan, June,” ucap Ilena tulus.


June menggeleng pelan. “Lebih dari apa pun, pekerjaan bersama Black Dragon adalah prioritas bagiku, Ilena. Kalau memang perlu, mungkin aku akan mengajukan hiatus beberapa bulan ke depan, agar bisa fokus untuk membantumu.”


Ilena tersenyum kecil. Mereka baru saja saling mengenal, tetapi June kini sudah begitu mempercayainya hingga bersedia mempertaruhkan pekerjaannya sebagai seorang penyanyi idola. Ilena cukup terharu mendengarnya.


“Aku tidak bisa memastikan kapan semua ini selesai. Tapi semoga kita bisa melakukannya dengan cepat,” jawab Ilena sembari tersenyum.


Ilena tertawa kecil. “Kau benar-benar seorang idol yang sembrono. Kalau ada yang melihat kau menggodaku seperti ini, bisa-bisa aku mendapat hujatan dari jutaan fansmu di seluruh dunia,” desah gadis itu sembari menjentik kening June dengan pelan.


June memekik pelan lalu mengusap keningnya yang sudah kemerahan akibat jentikan Ilena. “Apa kau tahu kalau menyerang wajah seorang idola itu dilarang. Wajah ini adalah investasi untuk hidupku,” protes pemuda itu kemudian.


Ilena justru tertawa semakin keras melihat tingkah rekannya yang kekanak-kanakan itu. hingga akhirnya perhatian gadis itu teralih pada rombongan berseragam biru putih keluar dari lift di gedung utama. Setidaknya ada lima orang yang berjalan melalui lobby kantor menuju keluar. Gadis itu pun segera berpamitan dengan June yang sudah akan berangkat bersama managernya, lantas menghampiri orang-orang berseragam biru putih itu.


“Ilena!” sapa sang pimpinan rombongan tersebut, Dean.


“Dean Chandler. Lama tidak melihatmu,” ujar Ilena menyambut sapaan asistennya di departemen pengembang. Benar-benar sudah lama sekali rasanya sejak terakhir ia melihat Dean. Tepatnya saat Ilena pertama kali menerima misi pertama Memory Key dan menemukan Hector.


“Kau melakukannya dengan baik juga hari ini, Bos. Kakakmu mengirimku untuk melakukan persiapan pembukaan cabang baru di Bryxton,” kata Dean tampak bersemangat.


“Bagus untukmu, Dean. Dari semua karyawan yang kakak percayai, kau selalu yang paling kompeten untuk mengurus hal-hal semacam ini,” puji Ilena sembari menepuk-nepuk bahu Dean dengan bangga. Bagaimana pun, asistennya ini memang sangat cakap dalam bekerja.


“Kau juga luar biasa, Ilena. Kabarnya kau menangkap empat penjahat dari dungeon. Para player liar. Sekarang mereka ada di ruang tahanan khusus sambil dirawat oleh dokter perusahaan. Off the record, dokter tua itu juga seorang priest,” terang Dean setengah bercanda.


“Aku berharap bisa mendapat informasi penting dari mereka. Javier dan Hector sekarang sedang mengurus mereka,” timpal Ilena kemudian.


“Yah, aku mengharapkan hal yang sama. Pekerjaanmu benar-benar mempertaruhkan nyawa, Bos,” tukas Dean prihatin. “Ngomong-ngomong anak baru yang kau bawa itu, Rafael Angelo, sekarang sudah berada di ruang perawatan darurat. Tubuhnya lemah karena malnutrisi. Sebenarnya kau menemukan anak itu di mana? Bagaimana bisa ia mengalami malnutrisi di usianya yang sekarang.”


Ilena menghela napas dalam-dalam. Ia juga merasa sedih melihat kondisi Rafael. Sudah begitu ia justru mengajaknya untuk melakukan raid dungeon. Akan tetapi memang itu satu-satunya cara untuk membuat Rafael percaya dan mau mengikuti Ilena sampai ke sini.


“Panjang ceritanya, Dean. Kalau kita bertemu lagi, aku akan memberi tahumu detailnya. Karena itu kau harus melakukan pekerjaanmu dengan baik, lalu segera kembali ke sini,” ucap Ilena kemudian.


“Siap, Bos!” sahut Dean sembari menegakkan badan lalu membuat gestur hormat yang sangat formal. Ilena pun tertawa menanggapinya. Seusai perbincangan kecil itu, Dean pun berpamitan lalu berangkat bersama timnya menuju Brixton. Ilena mendesah lega setelah semua petualangannya hari itu berhasil diselesaikan. Segalanya tampak berjalan lancar hari itu, hingga tiba-tiba rasa nyeri di pergelangan kakinya muncul begitu saja dan membuat Ilena limbung. Gadis itu terjerembab jatuh ke lantai lantas menyadari bahwa kakinya sudah membengkak sangat besar.


“Sepertinya ini bukan luka biasa,” gumam gadis itu sembari menyaksikan beberapa orang karyawan yang berada di lobby itu berbondong-bondong berlari ke arahnya dengan wajah khawatir.