Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Kedatangan Musuh



Pesawat Ilena mendarat setelah lewat tengah malam. Perjalanan panjang itu seperti membelah benua. Meski begitu Ilena dan Rafael tidak merasa terlalu lelah. Mereka sudah tidur lama sekali di dalam jet pribadi milik perusahaan.


Karena itu, setelah sampai hotel pun Ilena tidak mengantuk. Mungkin efek jetlag juga. Saat ini di Burca hari mungkin baru masuk sore hari. Setelah perjalanan darat selama kurang lebih satu jam, Ilena dan Rafael pun akhirnya sampai di tempat mereka menginap.


Ilena memesan satu president suite dengan tiga kamar terpisah di hotel binang lima. Di dalamnya juga terdapat ruang tamu, ruang makan, dapur hingga private Jacuzzi dengan air hangat yang nyaman.


Sementara Rafael sedang mengagumi hotel mewah tersebut, Ilena memutuskan untuk berjalan-jalan malam dan meihat keberadaan menara jam yang menjadi tujuan mereka. Lokasinya tidak jauh dari hotel. Ia sekarang berada di area dataran tinggi.


Pemandangan dari menara jam tersebut memperlihatkan hamparan kota di lembah yang ada di bawah sana. Lampu-lampu rumah dan gedung bertingkat bertaburan serupa bintang. Ilena mengedarkan pandangannya dan melihat cakrawala di kejauhan.


Menara jam ini adalah salah satu dari tiga lokasi di mana ia bisa melihat cakrawala. Akan tetapi, saat malam seperti itu, langi dan daratan seperti menyatu. Garis batasnya menyaru menjadi satu seolah langit hanyalah kubah yang sama dengan bumi.


Merujuk pada petunjuk yang mengatakan bahwa langit berwarna kemerahan, juga sesuatu tentang menggenggam cakrawala. Menilik hal itu, Ilena berasumsi bahwa quest tersebut harus dilakukan pada saat matahari terbit atau terbenam. Salah satu di antara dua waktu tersebut, karena hanya di waktu-waktu itulah langit terlihat kemerahan. Ia kembali harus menunggu.


Kurang lebih tiga puluh menit Ilena menatap pemandangan di bawah menara jam tersebut, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki kembali ke hotel yang tidak jauh dari sana. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika menyadari ada seseorang yang memperhatikan di belakang punggungnya.


Ilena pun segera bersikap waspada. Dengan perlahan gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati dua orang wajah tak asing tengah berdiri sembari menyeringai ke arahnya. Remigus dan anak buahnya Yoona.


Remigus mengenakan jubah hijau gelap dengan rambut merahnya yang mencolok. Sejujurnya penampilan musuh Ilena itu sedikit menyerupai pohon natal. Sementara Yoona mengenakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah dari kain. Rambut panjangnya ia ikat rapi ke belakang. Dan di pinggang gadis itu terdapat sebuah katana panjang yang ramping.


“Kau mengikutiku?” geram Ilena sembari menarik keluar busurnya.


Yoona langsung mencabut katananya dan bersikap melindungi Remigus. Namun sang pemuda berambut merah itu menahan Yoona. Ia berjalan mendekat sembari masih menyeringai jahat. Ilena sudah bersiap untuk menarik busurnya, tetapi Remigus pun mulai bicara.


“Aku tidak ingin bertarung denganmu. Aku hanya ingin menemui Anda, Komandan,” ujar Remigus dengan nada mengejek. “Ngomong-ngomong kau sudah menerima hadiah kecilku? Bagaimana menurutmu?” lanjutnya bertanya.


Tanpa perlu dijelaskan, Ilena sudah tahu maksud dari orang tersebut. Remigus sedang membicarakan tentang kematian empat orang yang ditangkap Ilena kemari.


“Kau … membunuh rekanmu sendiri?” Ilena masih menggeram marah.


Remigus tertawa lepas, seolah menertawakan kebodohan Ilena. “Kita memutus ekor untuk menyelamatkan kepala. Bukankah begitu?” ucapnya dengan nada mengejek.


“Benar-benar tidak bermoral,” decih Ilena tajam.


Detik berikutnya sebuah portal muncul di belakang Remigus. Ia dan Yoona pun berbalik pergi dan meninggalkan Ilena sendirian di tengah kegelapan.


Gadis itu pun menurunkan busurnya. Apa maksud kata-kata Remigus? Apa yang sudah dilakukan Ilena di masa lalu? Ia benar-benar tidak ingat pernah bertemu dengan pemuda berambut merah itu sebelumnya. Kenapa orang itu terlihat begitu membenci Ilena? Apa itu artinya ia selalu menghambat quest Ilena semata-mata karena dia membenci gadis itu? Dan sekarang, kenapa tiba-tiba Remigus muncul di Baltimore hanya untuk mengatakan omong kosong semacam itu? Apa tujuannya?


Benak Ilena malam itu dipenuhi dengan pertanyaan demi pertanyaan yang bertubi-tubi. Ilena sama sekali tidak bisa tidur dan akhirnya ia pun terjaga hingga pagi tiba.


Tepat pukul empat dini hari, Ilena kembali beranjak dari kamar hotelnya. Rafael muncul di ruang tamu seolah sudah menunggu gadis itu.


“Kau sudah bangun Raf?” tanya Ilena yang cukup terkesan dengan kerajinan Rafael. Untung saja dia berangkat bersama priest tersebut. Coba Hector yang menemaninya. Ilena mungkin perlu bangun lebih pagi hanya untuk membangunkan tukang tidur itu.


“Ya. Aku sudah beristirahat dengan cukup. Kau yang sepertinya kelelahan. Semalam kau pergi sampai hampir dini hari,” ucap Rafael tampak cemas. “Apa aku perlu memberimu tambahan buff vitalitas?” lanjut pemuda itu menawarkan.


Sepertinya tidak ada salahnya menerima bantuan Rafael itu. Ilena memang sedikit lelah karena perjalanan dan terutama benaknya yang tidak berhenti berpikir sejak semalam.


“Kalau tidak merepotkanmu, Raf,” ucap Ilena kemudian.


Kedua mata Rafael langsung berbinar-binar karena Ilena bersedia menerima bantuannya. Dengan antusias pemuda itu pun segera mengeluarkan mace emasnya dan mulai memberikan buff sembari menutup mata.


“Meditatio … ,” desah Rafael perlahan.


Seketika mace emas Rafael mengeluarkan cahaya. Cahaya tersebut lantas menyulur mendekati Ilena lalu melingkupi seluruh tubuh gadis itu dengan cahaya emas yang hangat. Seketika tubuh Ilena terasa begitu ringan dan bugar. Seluruh rasa lelahnya terangkat, dan pikiran-pikiran buruk yang mengganggunya juga sirna.


Momen menyenangkan itu berlangsung selama beberapa menit hingga akhirnya cahaya emas yang melingkupi Ilena menghilang. Meski begitu tubuhnya masih terasa bugar dan pikiran Ilena juga sudah menjadi jernih kembali.


“Terima kasih, Raf,” ucap Ilena sembari tersenyum puas.


Rafael tampak lega. Pemuda itu begitu bangga karena bisa menjadi berguna untuk rekannya. Setelah selesai memberikan berkat suci, akhirnya Rafael dan Ilena pun mulai berjalan menuju menara jam di ujung bukit. Suasana masih telihat gelap meski di ufuk timur, tepat di arah menara jam itu menghadap, sudah mulai ada sedikit cahaya yang membuat langit menjadi berwarna biru muda.


Masih ada waktu satu jam lagi sebelum matahari benar-benar muncul dan kini masalah baru menerpa Ilena. Haruskah mereka menunggu di bawah? Atau perlu memanjat ke atas menara jam? Dua opsi itu akhirnya terpecahkan dengan kembali membagi tim. Ilena yang akan memanjat ke atas menara jam, sementara Rafael menunggu di bawah. Mereka berdua sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang bisa dilakukan saat ini hanyalah menunggu.