Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Memecahkan Teka Teki



Dua minggu lamanya hingga akhirnya kaki Ilena berhasil sembuh total. Itu adalah waktu yang relatif cepat jika dibandingkan dengan penyembuhan pada orang biasa. Ilena sangat bosan menunggu, karena itulah dia membeli beragam potion penyembuh, juga berkali-kali memanggil priest perusahaannya untuk memberinya mantra-mantra penyembuh.


Mulanya upaya tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil. Luka di kaki Ilena tetap parah seperti sebelumnya. Sihir gelap yang membuat kakinya terluka sangat sulit ditembus. Akan tetapi, setelah usaha panjang melibatkan puluhan potion penyembuh dan belasan kali percobaan sihir suci penyembuhan, akhirnya kaki Ilena menampakkan tanda-tanda akan sembuh.


Pemulihannya lantas berlangsung dengan cepat hingga membuat dokter yang menanganinya turut heran. Rupanya usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Ilena akhirnya bisa melepas gips di kakinya dan diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Meski begitu Javier masih melarangnya malanjutkan Quest. Terlebih karena tidak ada batas waktu untuk menyelesaikan sub-quest kali ini.


Akan tetapi Ilena tetap merasa khawatir terhadap para player dari Sinister. Bagaimana kalau Remigus kembali menyabotase questnya? Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan oleh kelompoknya. Meski Ilena yakin bahwa mereka sudah pasti akan mengganggu keberhasilannya menyelesaikan quest.


Karena itu, Ilena pun terus berusaha membujuk kakak kembarnya. Gadis itu bisa saja memilih untuk mengabaikan peringatan Javier. Tetapi jika ia melakukannya, mungkin hubungannya dengan sang kakak hanya akan menjadi buruk. Ilena memilih opsi pertama: membujuk dengan sedikit paksaan.


“Kau baru saja mengalami patah tulang yang tidak wajar, Illy. Bagaimana bisa aku membiarkanmu melakukan hal-hal yang berbahaya lagi?” tolak Javier ketika mereka berdua sedang makan siang bersama di restoran mahal. Javier benar-benar memperlakukannya dengan baik setelah keluar dari rumah sakit.


“Ayolah, Jav … . Kau tahu kalau aku harus secepatnya menyelesaikan masalah ini. Kau sendiri tahu betapa sibuknya para player untuk menangani dungeon yang selalu muncul setiap waktu. Bahkan terakhir kali kemarin ada sekitar lima belas dungeon muncul serentak di Burca. Belum di kota-kota dan Negara-negara lain. Semakin lama kita menunda quest ini, semakin parah keadaannya.


“Dan kita juga harus memikirkan ancaman Sinister. Kita harus selalu selangkah di depan mereka. Dua kali aku nyaris tergelincir gagal gara-gara mereka menyabotase quest. Dan jika aku terlambat kali ini, mungkin dunia ini benar-benar tidak akan bisa diselamatkan lagi,” bujuk Ilena pantang menyerah.


“Justru itu yang kukhawatirkan. Setidaknya bawalah beberapa player lain untuk membantumu. Misa atau Dean, atau siapa pun yang cukup kuat di perusahaan. Kau bisa memasukkan mereka dalam partymu. Semakin banyak orang yang ikut, maka semakin besar keberhasilanmu,” pinta Javier sembari meletakkan pisau steaknya di atas meja. Selera makannya sudah hilang sejak Ilena terus mendesak dengan gigih.


“Bukan begitu cara mainnya. Aku merasa bahwa orang-orang yang bisa masuk ke dalam partyku hanyalah para player yang telah ditunjuk oleh sistem melalui quest. Aku tidak bisa sembarangan membawa orang lain di luar itu. Resikonya terlalu besar jika aku nekat memasukkan player lain.” Ilena tetap mengiris daging sapinya sembari terus berbicara. Makanan enak tidak boleh dilewatkan begitu saja.


Di sisi lain Javier hanya bisa menghela napas. “Keadaan anak baru itu juga belum stabil. Kekuatannya memang besar, tapi dia belum bisa mengendalikannya. Ia belum cukup berlatih” ujar pria berambut perak itu merujuk pada Rafael.


“Kondisi tubuh Rafael sudah membaik. Aku yakin semua player di dunia ini juga sama-sama tidak punya kesempatan untuk berlatih dalam waktu yang lama. Kita semua mendapat pengalaman langsung saat memasuki dungeon. Tolong percayalah padaku seperti sebelumnya, Jav. Aku tahu kau cemas, tapi aku akan lebih berhati-hati kali ini. sekarang juga sudah ada Hector, June dan Rafael. Mereka cukup bisa diandalkan, kau tahu?” kata Ilena sembari menggenggam tangan Javier dengan lembut. Gestur yang selalu dia gunakan untuk meyakinkan saudara kembarnya itu.


Sekali lagi Javier menarik napas panjang. “Aku hanya tinggal memilikimu sebagai keluarga, Illy. Sejak ayah dan ibu meninggal, tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa kusebut keluarga,” desahnya muram.


Ilena menatap Javier dengan lembut. Mereka berdua memang hanya memiliki satu sama lain. Terlepas dari ikatan saudara kembar mereka, fakta tersebut juga membuat hubungan keduanya semakin erat. Ilena memahami perasaan Javier. Kalau dia ada di posisi kakaknya, Ilena juga pasti akan melakukan hal yang sama.


“Karena itu, cobalah untuk menikah, Jav. Dengan begitu kau tidak akan terlalu kesepian lagi. Aku tahu kau sudah lama menjalin hubungan dengan Linda. Dia sudah menunggumu selama bertahun-tahun. Kalau dia sudah berkorban selama itu hingga melewatkan masa mudanya bersamamu, setidaknya kau harus bertanggung jawab, kan,” goda Ilena mengalihkan topik.


Javier mendengkus kecil. Jika Ilena sudah mulai membicarakan hal-hal lain, itu artinya gadis itu sudah tidak bisa dibantah lagi. Javier pun terpaksa mengalah kali ini.


“Yah, kata-kataku tidak sepenuhnya keliru. Jangan pikirkan aku dan menikahlah. Aku sudah punya banyak teman di sekitarku. Jadi berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu,” kata Ilena kemudian.


“Aku akan menikah kalau waktunya sudah tiba. Oke? Mari kita bahas hal lain saja,” kilah Javier enggan meneruskan topik pembicaraan tersebut.


Ilena tertawa kecil melihat kakak kembarnya yang salah tingkah itu. “Baiklah. Aku tidak akan mengungkitnya lagi kalau kau mengizinkanku pergi hari ini. Hector dan Rafael sudah menungguku. Jangan perlakukan aku seperti seorang putri yang serapuh kaca,” serang Ilena telak.


Javier tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ilena sudah bertekat, dan kegigihannya melebihi barisan semut yang bekerja sampai mati. Pada akhirnya Javier pun harus mengalah lagi.


“Lakukan sesukamu,” jawabnya pendek.


Ilena tersenyum lega lantas mengangkat gelas winenya. “Kau memang kakak yang terbaik, Javie. Bersulang untuk kakakku yang sangat pengertian,” ujar gadis itu kemudian menghirup anggurnya.


 


Sudah menjelang senja ketika akhirnya Ilena sampai di apartemennya. Ia mengundang Hector dan Rafael untuk datang. Bersama June yang tersambung melalui panggilan video internasional, mereka berempat pun kembali membahas sub-quest mereka yang pertama.


“Di tempat yang sangat tinggi, waktu berdentang saat langit berubah menjadi kemerahan. Bak menggenggam cakrawala, segalanya yang semu menjadi nyata,” ulas Hector sembari mencatat potongan petunjuk dari sistem. Ia memiliki sebuah buku catatan kecil yang biasanya da gunakan untuk menuliskan hal-hal penting.


“Entah kenapa aku berpikir tentang menara jam,” timpal June dari balik layar virtual. Wajah sempurna sang idola menghiasi hologram besar di hadapan tiga rekannya yang lain.


“Menara jam? Itu masuk akal. Kalau begitu kita harus memecahkan baris selanjutnya. Menggenggam cakrawala,” sahut Ilena bersemangat.


“Apa itu artinya menara itu harus berada di tempat yang bisa melihat garis cakrawala?” tanya Rafael turut membuka suara.


“Berarti tempatnya tidak di tengah kota. Cakrawala akan tertutup pemukiman dan rumah-rumah di kota,” tandas Hector menanggapi.


“Oke, mari kita cari menara jam yang ada di daerah terbuka. Mungkin di pinggir kota, atau di tempat yang tidak terlalu ramai penduduk,”