
Ketiga orang itu pun akhirnya sampai di dekat bangkai Phoenix. Burung itu tidak lagi berapi-api, alih-alih hanya berbulu merah biasa. Meteor es yang menimpanya sudah mencair dengan cepat begitu targetnya mati.
Seperti biasa, Hector langsung menambang material dari bangkai tersebut. Ia mengambil jantung phoenix yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat potion kebangkitan. Potion luar biasa yang bisa menghidupkan seseorang dari kematian dalam jangka waktu tertentu. Meski begitu, material lain untuk membuat potion itu juga tidak mudah didapat.
Ilena di sisi lain hanya mengamati burung api itu sambil masih memikirkan tentang Remigus Sixtus, orang yang sudah membuat portal dimensi itu. Ia tidak memiliki petunjuk apa pun tentang orang itu, dan hal tersebut membuatnya frustrasi.
“Anu … bolehkah aku pergi lebih dulu? Managerku pasti sedang panik sekarang karena aku menghilang tiba-tiba,” kata June meminta izin.
“Oh, baiklah. Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat. Tunggu sebentar,” ucap Hector sembari mencabut beberapa bulu phoenix.
Ilena mencomot kedua mata burung itu lalu menyerahkan pada June. Sebuah pesan notifikasi sistem muncul di hadapannya.
Phoenix Eyes
Tipe: material
Phoenix eyes memiliki kemampuan meningkatkan manna poin yang tinggi. Jika ditempa menjadi sebuah aksesoris sangat cocok digunakan oleh Soccerer.
Ilena hanya membacanya sekilas. Gadis itu lantas memberikan kedua bola mata yang berwarna merah itu pada June.
“Kau bawalah ini. Kau bisa menyewa jasa blacksmith untuk menempa material ini menjadi aksesoris,” ujar Ilena sembari mengulurkan Phoenix Eyes.
“Wah, kau memberikan bagian termahal pada orang yang sudah kaya,” komentar Hector iri.
“Dia berkontribusi besar dalam pembasmian dungeon ini, Hector,” sahut Ilena.
June menerima pemberian Ilena dengan gembira. “Terima kasih. Aku akan mencari blacksmith melalui fitur jual beli sistem,” ucap June sembari menerima pemberian Ilena.
“Kalau begitu kita keluar sekarang. Ayo Hector. Jangan mengais mayat seperti orang miskin,” lanjut Ilena sembari berbalik pergi.
Hector berdecih kesal. Akan tetapi pria itu tetap menuruti Ilena. Mereka bertiga pun keluar dari portal yang sudah muncul kembali di tempat mereka datang tadi. Gudang kosong menyambut mereka. Sebuah mobil yang dikendarai oleh Ilena dan Hector tadi pun masih berada di tempatnya.
“Kurasa kita harus berkendara sampai ke Agensi,” ujar June menatap mobil itu.
“Aku dan Ilena sih bisa menyetir. Masalahnya kami tidak punya SIM dari negaramu,” kata Hector sembari melipat tangan. Biar bagaimanapun dia adalah polisi lalu lintas. Pelanggaran semacam itu tidak bisa dia toleransi.
“Tenang saja. Aku punya, kok. Kebetulan sudah lama juga aku tidak menyetir mobil sendiri. Ayo,” sahut June riang.
Ketiganya lantas kembali ke gedung agensi June. Hyeon, manager June, sontak mengomel karena artisnya mendadak hilang dan justru kembali bersama Ilena dan Hector. Sudah begitu dia juga yang menyetir mobil. June harus mati-matian mencari alasan masuk akal agar tidak terdengar mencurigakan. Meskipun sebenarnya semua alasan yang dia buat sangat tidak masuk akal.
Beruntung Hyeon akhirnya bersedia mempercayainya, karena nomina iklan perusahaan Alcanet Tech yang diberikan oleh Ilena. Ia lagi-lagi harus membuat Javier memikirkan hal baru: membuat konten iklan bagi perusahaan mereka. Padahal jelas-jelas Alcanet Tech sedang dihujat gara-gara Galatean muncul ke dunia nyata. Biarlah itu menjadi urusan departemen pemasaran.
Akhirnya Hyeon sendiri yang mengantar Ilena dan Hector menuju bandara. Mereka berdua telah melewatkan penerbangan yang sudah dijadwalkan dan terpaksa menunggu jadwal keberangkatan selanjutnya untuk pesawat pribadi perusahaan mereka. Selama menunggu itu pun Javier beberapa kali menelpon Ilena.
Akhirnya, setelah huru-hara berkepanjangan itu, Ilena dan Hector pun kembali ke Burca. Gadis itu langsung menuju apartemennya untuk beristirahat dan membiarkan Hector yang menjelaskan situasinya pada Javier. Rasa lelahnya sudah bertumpuk hingga tak lama kemudian ia pun terlelap.
Ilena bermimpi aneh. Ia tengah berada di sebuah taman dengan padang rumput hijau yang sangat indah. Ilena mengenakan pakaian serba hitam dengan rambut diikat ekor kuda. Di ujung taman tersebut sebuah bangunan berbentuk pentagon menjulang tinggi hingga menembus awan. Kendaraan terbang berlalu lalang di langit dan terlihat begitu teratur.
Beberapa orang yang berpakaian sama dengannya juga terlihat ada di taman itu, berjalan bergerombol dan saling mengobrol dengan gembira.
“Kau suka sekali menghabiskan waktu di bawah sini. Cuaca sedang terik. Sebaiknya kita kembali ke pangkalan dan melanjutkan uji strategi untuk melawan pasukan Dragonian itu. Mereka sudah hampir mencapai batas wilayah antariksa kita,” ujar seorang pria dengan suara yang amat dikenal Ilena.
Gadis itu menoleh dan mendapati Hector berdiri di belakangnya. Pria itu juga mengenakan seragam yang sama dengannya. Polyester hitam ketat dengan emblem huruf G besar berwarna biru tersemat di dada kiri.
“Hector?” tanya Ilena bingung.
Tempat ini persis seperti tempat yang ditunjukkan oleh sistem saat Ilena membuka Memory Key. Bedanya, dalam mimpi ini Ilena memegang kendali penuh atas tubuhnya.
“Aye, aye, Kapten. Aku juga lapar. Ayo kita ke kantin saja. Aku bosan makan pil energi. Sudah enam bulan sejak kita bisa kembali ke daratan,” lanjut Hector terus berceloteh.
“Kita ada di mana?” tanya Ilena bingung. Gadis itu pun mengikuti Hector berjalan ke arah bangunan pentagon yang berwarna hitam metalik, seperti terbuat dari batu opal.
“Apa maksudmu? Kita ada di Pangkalan Utama Galatean. Apa otakmu mengalami penurunan fungsi karena terlalu lama bekerja di Pangkalan Antariksa?” sahut Hector dengan wajah bingung.
“Pangkalan Utama? Antariksa?” gumam Ilena tak mengerti.
Hector menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak tak sabar. Pria itu pun merangkul Ilena lantas membawanya berjalan lebih cepat.
“Sepertinya kau hanya kelaparan, Komandan. Ayo kita makan makanan yang layak mumpung sedang ada di sini,” ujar Hector kemudian.
Seketika pandangan Ilena memburam. Segalanya menjadi gelap dan saat ia mengerjap membuka mata, Ilena sudah ada di kamarnya sendiri. Hari sudah pagi, dan itu artinya dia sudah tidur selama lebih dari dua belas jam.
“Mimpi? sekarang aku bahkan bermimpi tentang Galatean? Apa sistem sialan itu sudah masuk sampai ke alam bawah sadarku?” gerutu Ilena yang kini tubuhnya terasa pegal karena sudah tidur terlalu lama.
Gadis itu pun menggeliat pelan lantas membuka inventory sistem. Ia melihat memory keynya yang ketiga. Kunci itu belum sempat dia buka. Mimpi tadi seolah memperingatkannya agar segera melanjutkan quest tersebut. Akhirnya dengan malas ia pun mengambil kunci itu, masih dalam kondisi terbaring di atas tempat tidur.
“Oke, mari kita lihat siapa lagi orang yang harus kucari.”