
Mereka akhirnya sampai di kantor polisi distrik dua di Starfa, tempat kerja Hector sebelumnya. Hector memarkir mobil barunya yang mentereng di parkiran depan kantor polisi. Mobil tersebut menarik perhatian beberapa orang yang ada di sana. Hector keluar dengan bangga dan berlagak sealami mungkin.
Ilena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan rekannya tersebut. Sebagai mantan pegawai negeri, pencapaian Hector memang melesat cepat.
Kantor polisi terlihat sibuk hari itu. Beberapa warga sipil mengantre untuk membuat laporan kehilangan. Sepertinya dampak dari kejadian sebelumnya masih meninggalkan buntut masalah yang panjang.
Hector masuk ke gedung kantor dengan percaya diri. Meskipun ia sudah tidak mengenakan seragam dinasnya, tetapi beberapa orang polisi mengenalinya dengan baik. Mereka saling menyapa dan mengobrol selama beberapa waktu.
“Hector Gianni! Kudengar kau sudah menjadi orang sukses sekarang, setelah melepaskan pekerjaan membosankan ini,” kata salah seorang petugas polisi berkumis tebal. Tampak beberapa tahun lebih tua dari Hector.
“Yah, begitulah. Segalanya lebih lancar untukku di bidang ini,” ujar Hector meringis bangga.
“Baguslah. Senang mendengarnya. Kurasa memang inilah jalanmu yang sebenarnya. Kau tahu betapa sedihnya aku saat pangkatmu diturunkan dan kau dipindahtugaskan ke bagian lalu lintas bersamaku?” ujar pria itu.
“Sudahlah, John. Jangan mengungkit cerita lama. Sebaiknya kita fokus pada apa yang saat ini,” potong Hector tampak tidak nyaman membicarakan hal tersebut. ia beberapa kali melirik Ilena dengan canggung.
“Kau benar,” sahut rekan Hector itu terlihat merasa bersalah.
“Ah, sebaiknya aku memperkenalkan kalian lebih dulu. Ini Ilena Lockart. Dia adik dari bosku. Dan Ilena, ini John Greece. Dia adalah atasanku di bagian lalu lintas,” ujar Hector memperkenalkan keduanya.
Ilena mengulurkan tangannya pada John untuk berkenalan. John menyambutnya dengan antusias. Mereka pun berjabat tangan dengan professional.
“Senang bertemu dengan Anda. Saya Ilena, pengembang dari Alcanet Tech,” ucap Ilena.
“Panggil saja saya John. Saya rekan Hector sejak di bagian kriminal. Tapi karena satu dan beberapa sebab, kami berdua dilempar ke divisi buangan ini,” ujar John sembari mengedip pada Hector.
“Sudah kubilang berhenti membicarakan masa lalu,” protes Hector jengah.
John hanya tertawa menanggapi. “Ayo kita bicara di kantorku saja. Sepertinya ada hal yang kau butuhkan dariku, kan, Hector?” tebak John sembari berjalan ke arah ruangan kantor kepala divisi lalu lintas.
Hector dan Ilena mengikutinya. Ruangan tersebut terletak di ujung barisan meja-meja petugas lapangan. Tidak ada yang istimewa di dalam kantor John. Semuanya tampak seperti ruangan kepala kopisi pada umumnya. Kabinet-kabinet berwarna putih gading berjajar di sisi dinding. Rak-rak berisi tumpukan buku tentang tata tertib lalu lintas ada di sisi lainnya. Meja kerja kecil dengan satu komputer layar datar tersemat di ujung ruangan, membelakangi sebuah jendela yang tertutup roller blind yang sudah nyaris rusak.
John mempersilakan tamunya duduk di satu-satunya sofa yang ada di dekat pintu masuk. Sofa itu berwarna coklat, terbuat dari kulit sintesis dan meski terlihat tua, anehnya terasa nyaman. John duduk di meja kerjanya sendiri karena memang tidak ada kursi lain yang tersisa.
“Kami sedang mencari seseorang, John,” sahut Hector apa adanya.
John tampak berpikir. Kumisnya bergerak-gerak naik turun, tanda dia sedang mempertimbangkan sesuatu. “Sebenarnya sudah lama aku tidak lagi mencoba membuka big data. Aksesku dibatasi setelah nyaris ketahuan meretas data pelaku dalam kasus tahun lalu. Pengamanannya juga sudah diperketat sejak saat itu,” ungkap John tampak serius.
“Aku hanya perlu kau mencari satu orang saja John. Dia tidak terkait kasus apa pun. Hanya warga sipil biasa. Jadi kurasa itu tidak akan terlalu menarik perhatian orang-orang di markas besar,” bujuk Hector tak menyerah.
“Hmm … tepatnya untuk apa kau mencari data warga sipil biasa?” John balik bertanya dengan penasaran.
“Itu … terkait dengan urusan player ini,” ungkap Hector tampak bingung menjelaskan.
Ilena berdehem pelan, menengahi pembicaraan tersebut dan mencoba membujuk John agar mau membantu mereka.
“Orang ini memang warna sipil biasa menurut hukum. Akan tetapi, perannya terhadap bencana dungeon break sangat besar. Pegawai kepolisian mungkin tidak akan terlalu memperhatikan orang tersebut, karenanya akan aman untuk dilihat datanya.
“Akan tetapi, ia adalah bagian penting dalam proses penyelamatan umat manusia. Orang ini bisa membantu kita untuk menutup dungeon break selamanya, dan mengembalikan kedamaian di dunia. Kuharap Anda mempertimbangkan hal ini dan bisa membantu kami,” ujar Ilena mencoba bernegosiasi.
John terlihat tertekan. “Kenapa kalian tidak secara resmi meminta bantuan markas besar?” tanyanya logis.
“Waktu kami sempit, John. Sistem birokrasi kepolisian sangat panjang dan rumit. Mereka juga belum tentu bersedia membuka data pribadi seseorang hanya dengan alasan tersebut. Kami mungkin tidak bisa membuktikan peran orang itu sekarang. Tapi di masa depan orang tersebut akan sangat penting bagi kami.” Hector menimpali, seolah begitu mendesak.
“Dan satu hal lagi. Orang yang kami cari itu, sekarang mungkin juga menjadi target player lain yang berniat jahat. Nyawa anak itu berada di tangan kita.” Ilena turut memberi sedikit tekanan lagi.
John menelan ludah dengan kelu. Entah kenapa kalimat Ilena membuatnya begitu tertekan, padahal dia yang adalah seorang kepala polisi. Gadis itu seperti memiliki kekuatan dalam kata-katanya untuk mengintimidasi orang lain. John sedikit yakin kalau Ilena memang bukan orang biasa.
Dengan gugup, akhirnya John pun berdiri dari tempat duduknya, lantas berjalan menuju jendela yang ada di belakang Ilena dan Hector. Ia mengintip keluar, seolah sedang memastikan kalau tidak ada yang sedang menguping pembicaraan tersebut.
“Baiklah. Kali ini saja. Aku akan membantu kalian. Siapa nama orang yang kalian cari?” tanya John dengan suara rendah.
Ilena dan Hector berpandangan sejenak. Seulas senyum terbit di bibir keduanya. Ilena lantas mengangguk kecil pada Hector. Pria itu membalas anggukan Ilena, lalu berdiri mendekati John. “Namanya Rafael. Rafael Angelo,” ucap Hector kemudian.