
Sebuah padang gersang menyambut Ilena dan Hector begitu memasuki celah dimensi. Pemandangan didominasi warna merah jingga mulai dari langit tanah yang sudah retak-retak. Hawa panas menerpa mereka dan di sejauh mata memandang, tidak ada satu pun tanaman yang tumbuh. Hanya batu-batu besar dan sebuah gunung raksasa yang mengeluarkan asap di puncaknya.
Selamat datang di dungeon Vocano of Beast,
Dungeon ini hanya bisa dimasuki oleh satu tim yang berada di party yang sama. The Black Dragon adalah tim yang sudah terdaftar dalam sistem. Silakan menyelesaikan dungeon dalam waktu 180 menit. Bos monster akan muncul setelah anda berhasil membunuh monster dengan jumlah tertentu.
Apabila hingga tenggat waktu selesai player tidak bisa menyelesaikan dungeon, maka celah dimensi akan terbuka dan semua monster dari dalam dungeon akan keluar di dunia manusia.
Portal dimensi akan kembali terbuka setelah bos monster berhasil dibunuh.
Selamat bersenang-senang. ^^
Pesan notifikasi tersebut muncul di depan mereka berdua. Ilena segera menyadari bahaya yang harus mereka hadapi setelah ini.
“Ini dungeon level tinggi. Seharusnya dungeon ini muncul jika setidaknya sudah ada seratus orang player yang mencapai level di atas lima puluh,” gumam Ilena.
“Memangnya dungeon ini level berapa?” tanya Hector sembari mengusap peluhnya yang mulai bercucuran karena hawa panas yang menyengat.
“Level 60. Aku sudah mendapat data player di seluruh dunia. Selain orang-orang di perusahaan, level player tertinggi haya mencapai empat puluhan. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Bagaimana bisa orang itu menciptakan dungeon besar ini. Siapa dia sebenarnya?”
“Fakta bahwa orang itu bisa membuat dungeon saja sudah mengejutkan,” komentar Hector.
Saat tengah berpikir, mendadak sebuah hologram lain muncul di samping mereka. Bukan hologram notifikasi melainkan hologram kotak-kotak kecil yang secara perlahan mewujud menjadi sosok seorang pemuda.
“Whoa.. apa ini?” ujar pemuda yang baru saja muncul dari hologram.
“June?” tanya Ilena tak percaya.
June menggeleng pelan dan terlihat lega setelah menyadari keberadaan Ilena dan Hector di sana. “Aku mendapat pesan notifikasi panggilan dungeon. Katanya anggota timku memasuki dungeon dan aku akan dikirim ke sini dalam waktu lima menit sejak notifikasi muncul. Begitulah aku tiba-tiba ada di sini,” terang June sambil masih mengamati tubuhnya yang berteleportasi dengan kekuatan sistem.
“Jadi begitu cara kerjanya. Maafkan kami. Ini kondisi mendesak dan kami juga tidak tahu kalau kau akan secara otomatis di kirim ke dungeon. Lain kali aku akan memberitahumu dulu sebelum masuk ke dungeon,” kata Ilena.
“Ah, tidak apa-apa. Aku juga sedang tidak ada jadwal hari ini. Masalahnya, aku belum pernah bertarung. Sejujurnya ini kali pertama aku berhadapan dengan monster,” desah June terus terang.
“Tidak apa-apa. Kau akan terbiasa. Ngomong-ngomong, berapa levelmu, June?” tanya Ilena sembari mengeluarkan busur dari inventory, diikuti oleh Hector yang juga turut mengeluarkan pedang besar miliknya.
“Empat puluh sembilan,” sahut June apa adanya.
“Wah, levelmu tinggi sekali. Bagaimana kau bisa mendapat level itu padahal kau belum pernah bertarung?” komentar Hector keheranan.
“Aku membeli potion experience di pasar lelang. Aku khawatir kalau suatu ketika harus menghadapi situasi tak terduga dan muncul monster di depanku. Jadi untuk berjaga-jaga … ,” jawab June sambil meringis.
Hector berdecih pelan. “Dasar orang kaya,” gerutunya kesal.
Potion experience adalah sebuah item langka yang hanya dijual oleh sistem dalam periode waktu tertentu dengan jumlah sangat sedikit. Biasanya hanya lima item saja. Harganya sangat mahal, bahkan mencapai jutaan Moonstone, yang kalau dikonversikan bisa mencapai ratusan juta dolar. Satu potion experience bisa meningkatkan delapan hingga sepuluh level pemain. Itu artinya June berhasil membeli kelima potion itu saat pelelangan dibuka.
“Kalau begitu, kau tinggal berlatih menggunakan kekuatanmu di sini, June. Dengan levelmu yang sekarang, mungkin kita bisa menyelesaikan dungeon ini lebih cepat,” kata Ilena kemudian.
June mengangguk mantab. Pemuda itu lantas membuka inventorynya sendiri dan mengeluarkan sebuah tongkat sihir sepanjang dua meter yang terbuat dari uranium. Ujung tongkat itu bertatahkan empat batu elemen berwarna merah, biru, hijau dan putih. Tongkat sihir June bercahaya keperakan dengan ujungnya mengeluarkan empat warna aura sesuai warna batu elemennya.
“Menjadi orang kaya memang sangat menguntungkan,” komentar Hector yang tampak sedikit iri. Tongkat sihir June itu memang merupakan salah satu senjata Legendaris bernama Ladon Staff yang konon berisi jantung naga. Harganya di pasar lelang pun tak kalah fantastis.
“Mereka datang,” sahut Ilena ketika menyadari tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar.
Tak berapa lama kemudian ratusan kuda bersurai api berderap ke arah mereka bertiga. Kuda-kuda itu bertubuh merah terang dengan api menyala-nyala di kepala hingga punggung dan ekor mereka.
“Fire Horse,” desah Ilena sembari merentangkan busurnya untuk membidik monster yang menghampiri mereka: kawanan kuda api.