Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Bertemu



Ilena berada di medan pertempuran seperti sebelumnya. Akan tetapi kini Rafael ada di sebelahnya. Samuel terluka dan perut pemuda itu mengalami pendarahan hebat. Ilena sendiri nyaris tidak bisa bergerak karena seluruh tubuhnya terluka. Rasa nyeri luar biasa mendera gadis itu, membuatnya mengerang kesakitan.


Rafael terus berusaha menyembuhkan Ilena dengan kekuatan cahayanya yang mulai meredup. Pemuda itu bahkan mengabaikan lukanya sendiri dan hanya fokus untuk menyembuhkan Ilena. Di sekitar mereka, para prajurit yang berseragam sama dengan Ilena sudah mulai terdesak. Ia melihat banyak monster terus mengamuk dan menghancurkan orang-orang yang berseragam hitam.


“Rawat lukamu sendiri, Rafael. Dan pergilah dari sini. Kau harus menyelamatkan diri,” rintih Ilena lemah.


Rafael menggeleng kuat sambil masih mencoba mengobati Ilena. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Kalau kita harus kalah sekarang, aku akan mati bersamamu,” ucap Rafael tegas. Meski begitu pemuda itupun tampak menahan rasa sakitnya.


Tanpa diduga, dari balik punggung Rafael, seekor monster goblin muncul dengan sebuah gada besi yang terayun. Goblin tersebut memukulkan gada besi ke kepala Rafael dengan cepat.


“Rafael, awas!” pekik Ilena sembari menyambar tubuh Rafael agar tidak terluka.


Alhasil, gada besi tersebut sukses mengenai punggung Ilena hingga berbunyi krak keras. Satu atau dua tulang punggung Ilena pasti patah. Gadis itu mengerang kesakitan, lalu pandangannya mulai gelap lagi.


Ilena mengerjap dan mendapati dirinya kembali berada di depan pintu kamar sebuah apartemen kumuh. Rafael tampak mengintip dari balik pintu. Ekspresinya kini berubah heran dan bingung.


“Apa itu tadi?” tanya Rafael ragu-ragu.


“Kita perlu bicara, Rafael Angelo. Bolehkah kami menjelaskan situasinya? Kita tidak punya banyak waktu,” ucap Ilena sembari melirik ke hologram notifikasi yang sudah muncul di hadapannya.


 


Quest Memory Key 3


Player yang terhormat,


Selamat karena telah menyelesaikan Quest ketiga Memory Key. Anda sudah selangkah menuju kebenaran. Terus lanjutkan Quest Memory Key untuk mendapatkan jawaban atas semua rahasia terselubung kehidupan Anda.


 


Ilena mengabaikan notifikasi tersebut dan hanya menyambar sebuah kunci hitam yang seperti sebelumnya. Rafael yang menyaksikan hal tersebut akhirnya bersedia membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Sebuah kamar sempit yang kosong menyambut mereka.


Ilena dan Hector pun masuk ke dalam kamar tersebut. Tidak banyak benda ada di dalam kamar. Hanya sebuah kasur lipat tipis dan sebuah meja pendek yang tertutup kain putih polos. Dapur sederhana ada di salah satu sudut ruangan. Sementara sebuah kamar mandi kecil ada di sebelah pintu masuk. Kamar itu hanya memiliki satu ruangan dengan jendela yang tertutup Koran bekas.


“Silakan duduk,” ucap Rafael canggung.


Ilena dan Hector pun duduk di lantai, mengelilingi meja kayu rendah di tengah ruangan.


“Apa kau tinggal sendiri?” tanya Ilena mencoba berbasa-basi sekadarnya.


Rafael mengangguk pelan. “Ibuku meninggal saat aku masih kecil. Ayahku pergi meninggalkanku setahun yang lalu,” kisahnya muram.


Ilena mengerutkan keningnya sambil menghela napas. “Jadi bagaimana kau bertahan hidup selama ini? Bukankah kau masih di bawah umur?” tanyanya khawatir.


“Yah, aku mengerjakan ini dan itu. Tidak penting. Ngomong-ngomong tadi itu apa? Dan siapa kalian?” tanya Rafael mengalihkan pembicaraan.


“Ah, maaf kami lupa memperkenalkan diri. Namaku Ilena, aku adalah pengembang game Galatean dari Alcanet Tech. Dia adalah Hector, dulunya petugas polisi di Starfa. Kini kami berdua adalah player. Kami ada di sini untuk merekrutmu sebagai anggota tim kami,” ucap Ilena menjelaskan dengan cepat.


“Merekrutku? Kenapa? Aku bukan player yang kuat. Dan lebih dari itu, bagaimana kalian bisa tahu tentang aku?”


“Sebenarnya ada sebuah Quest yang harus kita selesaikan,” Ilena pun menceritakan semua kisahnya mengenai Quest Memory Key, termasuk penglihatan yang dia dapat setiap kali berhasil menemukan player yang merupakan anggota timnya.