
Sekeluarnya dari dungeon, para tentara kota Bryxton menyambut mereka. Para pria berseragam loreng itu bersorak riuh ketika melihat kemunculan empat player asing dari dalam dungeon. Ilena benar-benar merasa malu karena posisinya yang harus dibopong oleh June.
“Turunkan aku,” bisik gadis itu mendesak June.
Akan tetapi June tak bergeming dan tetap melangkah tanpa rasa bersalah. Ilena sudah akan menggerutu lagi ketika akhirnya salah satu dari tentara tersebut mendekati mereka. Itu adalah sang Komandan yang berkumis tebal.
Komandan tersebut melepas topinya lantas membungkuk kecil ke arah tim Black Dragon. “Terima kasih. Kalian berhasil menyelesaikan dungeon,” ucapnya lega.
Karena June tidak berniat menurunkan Ilena, gadis itu pun berinisiatif untuk melompat sendiri. Mau tidak mau June melepaskannya dan kini Ilena berdiri menghadapi sang Komandan dengan satu kaki sedikit terangkat.
“Sudah tugas para player untuk menyelesaikan dungeon,” jawab Ilena kemudian.
“Kami tidak punya banyak player seperti itu di daerah ini. Anda tahu bahwa Bryxton sangat tertutup, terutama tentang akses internet. Karena itu tidak banyak orang yang bisa memainkan sistem seperti kalian,” jawab sang Komandan setengah mengeluh.
“Apakah dungeon sering muncul di Bryxton?” tanya Ilena.
Komandan itu mengangguk pelan. “Begitulah. Karena itu kami kewalahan untuk menanganinya. Jumlah personel kami terus berkurang karena tewas setelah mencoba memasuki dungeon. Warga sipil ketakutan hingga tak ada lagi yang berani keluar rumah. Sesungguhnya kondisi Bryxton sudah berada di taraf yang sangat berbahaya,” terang Komandan tersebut.
“Kenapa kalian tidak meminta bantuan Negara sekitar? Atau setidaknya membuka akses Negara kalian untuk mendapat bantuan dari luar,” Ilena kembali bertanya.
Ilena menghela napas panjang. Perang politik kedua Negara tersebut memang sudah menjadi rahasia umum. Keduanya kini berada dalam situasi yang tegang, semacam perang dingin yang bisa meledak sewaktu-waktu.
“Kalau begitu setidaknya bekerjasamalah dengan perusahaan kami. Alcanet Tech akan membantu suplay player untuk Negara Anda. Kami juga bekerja secara professional sehingga tidak akan menyebarkan informasi apa pun tentang Negara kalian kepada pihak lain. Anda bisa mempercayai saya,” ucap Ilena sembari mengeluarkan sebuah kartu nama perusahaannya dari balik kantong bajunya.
Sang komandan menerima uluran katu nama yang sudah sedikit kusut dan terkena percikan darah tersebut. “Kami akan mencoba membicarakannya dengan atasan kami,” ujar Komandan tersebut lantas menyimpan kartu nama itu ke dalam sakunya sendiri.
Ilena mengangguk puas. “Tim kami akan menunggu telepon dari Anda,” sahut gadis itu.
Komandan itu mengangguk. “Lalu bagaimana Anda bisa sampai kemari? Kami bisa mengantar Anda ke rumah sakit. Kondisi Anda … ,” lanjut pria berkumis itu sembari mengamati seluruh pakaian Ilena yang sudah compang camping dan dipenuhi bekas darah. Meski lukanya sudah sembuh, tetapi bekas-bekasnya masih tersisa. Sudah begitu Ilena juga berjalan terpincang-pincang karena patah kakinya.
“Saya baik-baik saja. Kalau memungkinkan, saya ingin diantar ke perbatasan saja. Kendaraan kami ada di sana,” ucap Ilena sembari tersenyum bisnis.
Sang komandan tampak terperangah. Ia menoleh ke arah ajudannya yang berdiri tak jauh dari sana. “Kalian … bukan penduduk Bryxton? Bagaimana cara kalian masuk ke sini?” ujar Komandan tersebut tampak heran.
Ilena hanya bisa meringis kecil lalu melirik Hector. Rekannya itu mengangkat bahu dan menyerakan jawaban sepenuhnya kepada Ilena.