
Tak disangka, Ilena rupanya harus menjalani perawatan penuh karena pergelangan kakinya yang patah. Lokasi tulangnya bergeser dan mengakibatkan cedera serius. Keadaan diperparah karena Ilena terus-terusan memaksakan diri untuk berjalan padahal lukanya itu belum diobati.
Para priest mencoba menyembuhkan luka tersebut dengan kekuatan skill mereka. Namun itu tidak terlalu membantu, karena rupanya kaki Ilena patah itu dilingkupi mantra penetral yang membuat sihir penyembuh tidak berfungsi. Sepertinya Caepio adalah orang yang cerdik. Ia memantrai bomnya dengan sihir rumit itu.
Gara-gara hal itu, Ilena akhirnya terpaksa beristirahat selama beberapa hari untuk proses pemulihan. Javier bersikeras agar Ilena dirawat di rumah sakit perusahaan mereka. Ilena pun tak kuasa menolak karena kakaknya itu benar-benar keras kepala jika menyangkut keselamatan sang adik. Dengan kaki kanan terbungkus gips, akhirnya Ilena pun menjalani perawatan tirah baring atau bed rest sepenuhnya di ruang VIP rumah sakit khusus milik grup Alcanet Tech.
“Kau benar-benar harus menjaga diri lebih baik lagi, Ilena. Sudah berapa kali kau bolak balik masuk rumah sakit sejak menjadi player?” Hector menasehatinya sembari mengupas apel.
“Ini baru kali keduaku dirawat di sini. Sebelumnya kau juga berada sekamar bersamaku di ruangan ini. terluka gara-gara serangan Lycan,” sahut Ilena tanpa beban.
Hector menarik napas panjang. “Saat itu aku belum membangkitkan kekuatanku secara penuh. Masih menjadi player baru. Wajar kalau tubuhku luka-luka,” kilahnya.
Ilena benar-benar frustrasi menghadapi Hector. Pria itu kini semakin mirip dengan Javier. Sangat rewel dan cerewet kalau sudah menyangkut tindakan Ilena.
“Kalau kau datang hanya untuk mengomel, sebaiknya tinggalkan saja aku sendiri. Pasien juga harus beristirhat. Aku bisa lelah secara mental kalau terus mendengarmu mengomel seperti itu,” protes Ilena kesal.
Hector tertawa menanggapi. “Maaf, maaf. Tanpa sadar aku jadi bicara terlalu panjang. Aku kesini agar kau tidak bosan. Bagaimana bisa aku meninggalkan bosku yang terluka dirawat sendirian tanpa ada yang menemani.”
Ilena berdecih pelan. “Padahal kau datang kesini untuk menghabiskan makanan yang disiapkan untukku. Lihat, kau bahkan mengupas apel untuk dirimu sendiri,” gerutu gadis itu sembari melirik kedua tangan Hector yang mulai memotong-motong apel merah di tangannya. Kini pria itu bahkan menyuapkan sepotong apel tersebut ke dalam mulutnya sendiri.
“Lagipula kau juga tidak akan memakannya. Sayang sekali kalau makanan-makanan ini dibiarkan membusuk lalu dibuang,” sahutnya tanpa rasa malu.
“Benar benar … ,” desah Ilena sembari menghela napas.
“Jadi bagaimana quest keempat kita? Siapa lagi yang harus kita cari?” tanya Hector mencoba mengalihkan pembicaraan. Mulutnya kini penuh dengan apel yang dia kunyah dengan nikmat.
Ilena kembali membenamkan tubuhnya di atas kasur busa empuk di ruang VIP tersebut. “Kali ini kita harus menemukan beberapa barang penting, bukan orang,” sahut Ilena sembari menerawang. Gadis itu pun kembali membuka keterangan quest Memory Key 4 di layar horogram di depan wajahnya.
Sub Quest Memory Key : Red Gem
Setiap pejuang menyimpan memorinya di dalam sebuah batu permata yang disebut Obelisk. Temukan permata pertama yang berwarna merah.
Petunjuk: Di tempat yang sangat tinggi, waktu berdentang saat langit berubah menjadi kemerahan. Bak menggenggam cakrawala, segalanya yang semu menjadi nyata.
Rewards: Red Obelisk
Ilena membaca keterangan quest tersebut keras-keras agar Hector bisa mendengarnya. Hector megerutkan dahinya seolah memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya.
“Sepertinya begitu. Tapi apa arti petunjuk ini? Di tempat yang sangat tinggi, waktu berdentang saat langit berubah menjadi kemerahan. Bak menggenggam cakrawala, segalanya yang semu menjadi nyata. Apa artinya?” tanya Ilena penasaran.
Hector tampak berpikir juga. “Aku menduga bahwa permata itu berada di tempat yang tinggi. Tempat itu berhubungan dengan waktu? Apa itu jam?”
“Lantas bagian cakrawala itu apa artinya?”timpal Ilena turut berpikir.
“Kita akan menganalisisnya pelan-pelan. Untuk saat ini fokus saja pada kesembuhanmu, Ilena,” ujar Hector sembari menyodorkan satu piring kecil apel potong.
Ilena mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi pura-pura terkejut. “Kau juga memotongkannya untukku? Ini sangat mengharukan,” godanya jahil.
“Kau pikir aku orang yang setidak tahu malu apa,” gumam Hector sinis.
Ilena tertawa. Gadis itu lantas bangkit duduk di atas tempat tidur lalu mulai memakan potongan apel dari Hector.
“Ngomong-ngomong kau sudah mengunjungi Rafael?” tanya Ilena kemudian.
Hector mengangguk pelan. “Kalau dilihat dari luar, anak itu tampak baik-baik saja. Tapi rupanya ia memiliki banyak komplikasi dalam tubuhnya. Ia menderita gangguan pencernaan, lambung dan paru-parunya lemah. Lalu jantungnya juga mengalami masalah. Aku melihat hasil tes medisnya dan benar-benar tidak menyangka kalau kondisi tubuh seorang anak berusia tujuh belas tahun bisa separah itu.”
“Kabarnya dia ditelantarkan oleh orang tuanya sejak beberapa tahun yang lalau. Anak itu bekerja keras sendirian untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia harus membayar sewa apartemen dan mencari makan. Ayahnya juga meninggalkan hutang yang sangat banyak. Aku sudah meminta Javier untuk mengirim tim khusus menyelesaikan masalah tersebut,” timpal Ilena tampak prihatin.
Hector menarik napas yang panjang. “Beruntung ia adalah seorang pries. Penyembuhan dirinya bisa jauh lebih baik jika Rafael berhasil membangkitkan kekuatannya dengan penuh. Tim medis kalian sedang mengurusnya sekarang,” lanjutnya.
“Syukurlah. Itu melegakan. Aku ingin mengunjunginya kalau saja kaki sialan ini bisa diajak bekerja sama,” kutuk Ilena sembari melirik sadis ke arah gips gemuk di kaki kanannya.
“Kita bisa pakai kursi roda, kan,” sahut Hector memberi solusi.
Ilena menyeringai tipis. “Benar juga. Lagipula kenapa aku harus istirahat total kalau satu-satunya bagian tubuhku yang sakit hanya bagian kaki. Kalau begitu ayo kita ke tempat Rafael.”
Detik itu juga, Hector merasa telah melakukan kesalahan besar. Padahal Javier sudah berpesan padanya agar Ilena tidak berkeliaran dan benar-benar melakukan istirahat total untuk tubuhnya. Kalau bos besarnya itu tahu, mungkin gaji Hector bisa dipotong sekian persen bulan ini. Membayangkan hal itu saja sudah membuat Hector bergidik.
“Setelah kupikir-pikir, sebaiknya kita mengunjungi bocah itu setelah kau benar-benar sudah sembuh. Setidaknya gipsmu sudah dilepas. Melihat pasien lain mengunjunginya di atas kursi roda mungkin tidak akan baik untuk mental Rafael,” ujar Hector mencari alasan. Sebagai mantan petugas polisi, ia cukup lihai memasang ekspresi palsu saat membicarakan omong kosong seperti itu.
Sayangnya Ilena bukan orang yang mudah dikelabuhi. Dengan singkat gadis itu menyadari kebohongan Hector. “Berhenti bicara tidak masuk akal, Hector. Dan cepat bawakan aku kursi roda,” perintah gadis itu sambil lalu.
Hector kehilangan kata-kata. Ilena sama keras kepalanya dengan Javier. Bahkan mungkin sedikit lebih parah. Sia-sia saja kalau dia membantah.
“Siap, Bos,” ujar Hector pasrah. Dan mereka berdua pun berjalan menuju ruang tempat Rafael dirawat.