Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Phoenix



Tak berapa lama kemudian, mendadak tanah di sekitar mereka mulai bergetar. Ilena sudah hapal akan sensasi tersebut. Itu adalah tanda-tanda awal kalau bos monster dungeon akan segera muncul. Tak lama kemudian, suara gemuruh turut hadir mewarnai tempat itu, sementara goncangan gempa semakin kuat.


Gunung api yang sedari tadi berasap di ujung dataran gersang tersebut ternyata meletus, diiringi semburan lahar panas berwarna merah. Ilena, Hector dan June segera mencari tempat yang aman agar tidak terkena lontaran batu vulkanik yang terlempar hingga ke area mereka berdiri.


“Aku sudah curiga pada gunung itu sejak awal melihatnya. Entah monster apa yang akan keluar dari sana, tapi pasti rasanya akan sangat panas!” seru Hector sembari membuat dinding pelindung transparan yang melingkupi mereka bertiga: Strong Shield.


“Kalau dugaanku tepat, yang akan keluar dari kawah gunung api itu adalah seekor burung api: Phoenix,” ucap Ilena tanpa ragu.


“Burung? Monster terbang lagi? Ah, aku benar-benar benci segala hewan yang bisa terbang,” gerutu Hector.


Pengalaman saat melawan Queen Bee kemarin sangat membekas bagi Hector. Ia adalah petarung jenis serangan jarak dekat, karena itu melawan musuh yang terbang di langit bukanlah keahlian seorang Swordman. Terlebih bos monster biasanya tidak terlalu terpengaruh dengan skil Provokenya. Mungkin bisa dipengaruhi, tapi hanya beberapa saat di awal saja.


“Tenang saja, aku mungkin bisa melawannya. Monster dengan elemen yang jelas seperti api, air, udara atau tanah bisa dilawan dengan elemen yang bertentangan dengan mereka,” jelas June turut berdiskusi.


“Kabar bagus, penyihir. Kalau begitu sebaiknya kau merapal mantra dari sekarang saja. Agar tidak terlalu lama menunggu,” sahut Hector penuh perhitungan.


Tepat saat Hector menyelesaikan kalimatnya, bunyi gemuruh dari gunung itu semakin keras. Sebuah ledakan besar terjadi di puncak gunung tersebut, diikuti dengan suara koak keras. Seekor burung api dengan bulu warna merah menyala terbang membubung, keluar dari perut gunung.


Burung itu begitu besar hingga mencapai dua kali besar tubuh Queen Bee, monster yang terakhir mereka hadapi. June segera melakukan tugasnya. Pemuda itu mulai merapal mantra es untuk bersiap menyerang sang Phoenix.


Ilena melepaskan anak panah pertamanya, bersamaan dengan kibasan sayap sang burung api. Sayangnya kibasan tersebut tidak menimbulkan efek sederhana. Total ada sepuluh bola api sebesar meteor muncul dari kibasan sayap tersebut. seluruh bola api meteor itu melesat cepat menuju ke arah Ilena, Hector dan June.


“Menghindar! Cepat! Shieldku tidak akan kuat menahan serangan itu!” teriak Hector memerintahkan kedua temannya untuk menjauh secepat mungkin.


Ilena, Hector dan June pun lekas melompat ke arah yang berbeda-beda. Mereka berusaha menghindari serangan meteor bertubi-tubi tersebut. Terlambat beberapa detik saja, seluruh tubuh mereka mungkin sudah terbakar hangus dan tergilas menjadi abu.


Rapalan mantra June pun terpecah. Ia tidak berhasil memanggil elemen es untuk menangkal kekuatan api sang Phoenix. Ilena belum sempat memikirkan strategi baru ketika sang burung api rupanya memutuskan untuk menargetkan dirinya sebagai korban pertamanya. Mungkin karena anak panah Ilena-lah yang melesat pertama kali untuk menyerang bos monster itu.


Sang burung api melakukan maneuver keduanya ke arah Ilena. Gadis itu kembali harus berkelit dan berlari ke segala arah demi menghindari serangan hujan bola api meteor. Beruntung sebagai seorang archer, Ilena memiliki kecepatan gerak yang paling unggul di antara kelas lainnya. Karena itu ia bisa menghindar dengan lihai.


“June! Aku akan menarik perhatiannya! Kau gunakan waktu ini untuk merapal mantra!” teriak Ilena dari kejauhan.


June mematuhi perintah Komandannya tersebut. dengan cekatan pemuda itu pun mulai menggambar pola rumit di udara kosong. Kristal biru di tongkat sihirnya bersinar perlahan, hingga akhirnya mantranya pun selesai dirapal.


“Ice Meteor!” seru June keras-keras.