
Pertemuan dengan June Park akhirnya berakhir dengan memuaskan. Setelah menyelesaikan pembicaraan dan dokumen-dokumen kerja sama, Ilena dan Hector pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Sebuah mobil mewah lain menjemputnya. Kali ini sopir yang mengendarai mobil tersebut adalah seorang perempuan berjas rapi dengan rambut klimis diikat tinggi.
Ilena berencana kembali ke Burca sebelum membuka Memory Keynya yang ketiga. Karena itu mereka segera meluncur ke bandara tanpa banyak singgah di tempat lain. Sekalipun Hector tampaknya ingin menikmati kunjungan dinas mereka dengan melihat-lihat kota Don-Gan, tetapi Ilena memutuskan untuk pura-pura tidak tahu.
Perjalanan mereka kali itu cukup tenang. Sang sopir tidak secerewet sebelumnya. Ilena bisa beristirahat dengan tenang di dalam mobil sambil membalas pesan Javier yang terdengar cemas. Kakaknya itu memang tidak pernah berhenti merasa gelisah pada tingkah Ilena. Gadis itu masih sibuk mengetik ketika mendadak Hector menyenggol kakinya diam-diam. Ilena menoleh penasaran apa lagi yang diinginkan pria itu sekarang. Namun Hector hanya terdiam dan tampak fokus melihat jalanan di jendela samping. Detik berikutnya sebuah notifikasi sistem muncul di hadapan Ilena.
“Orang ini tidak membawa kita ke bandara,” sebuah pesan dari Hector muncul di chat room party mereka. Ilena sontak melirik ke arah Hector yang masih pura-pura memperhatikan jalan.
“Bagaimana kau tahu? Kau kan baru kali ini ke Don-Gan,” jawab Ilena yang mengetik dengan pikirannya.
“Whoa apa ini?” Sebuah pesan baru muncul dengan nama akun June Park.
Hector otomatis berdehem canggung karena lupa bahwa anggota party mereka sekarang sudah bertambah. Ilena pun sama terkejutnya dengan Hector. Namun ia berusaha tetap tenang.
“Maaf lupa memberi tahumu, June. Ini adalah chat room party. Hanya anggota party yang bisa berkirim pesan di sini. Kau bisa membalas pesan kami dengan pikiranmu,” tulis Ilena menanggapi.
“Oke baiklah. Aku mulai terbiasa dengan cara kerjanya. Ngomong-ngomong kalian mau langsung kembali ke Burca?” tanya June.
“Itu keinginan Bos Rubah kita. Dia sama sekali tidak punya rasa peduli pada orang lain yang ingin bersenang-senang. Sayangnya sopir kami sepertinya tidak berniat membawa kami ke bandara. Aku yakin ini bukan jalan menuju ke sana. Aku ingat jelas jalan saat kita datang tadi,” jawab Hector.
“Siapa yang mengizinkanmu memberiku julukan jelek itu, Hector. Aku sama sekali tidak mirip rubah. Seharusnya kau menggunakan kata ganti yang lebih anggun. Angsa misalnya. Dan tolong jangan terlalu paranoid. Siapa tahu sopir kita memang memilih jalan memutar yang lebih pendek,” balas Ilena sembari menginjak kaki Hector kuat-kuat.
“Ouch! Jangan menginjak kakiku dengan sepatu hak tinggimu yang runcing, Ilena. Itu bisa mematahkan ibu jariku!” tulis Hector dengan tanda seru. Sepertinya pria itu sudah berteriak dalam pikirannya. “Kau mungkin tidak berpenampilan seperti rubah. Tapi kau jelas punya sikap mental serupa rubah yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan,” tandas Hector menambahkan.
“Oh, kuanggap itu pujian. Setidaknya hewan itu cerdas dan licik. Dua sifat yang sangat kusukai,” balas Ilena sembari tersenyum.
“Apa hubungan kalian memang selalu seperti ini? Ngomong-ngomong aku bisa membantu kalian untuk menunjukkan jalan yang benar menuju bandara. Coba tunjukkan kalian ada di mana agar aku tahu apakah sopir kalian layak dicurigai atau tidak,” timpal June kemudian.
“Aku tidak selalu sarkastik. Tapi bakat sarkasmeku muncul setelah bertemu Ilena … .”
“Fokus, Hector,” potong Ilena kemudian. “Lebih baik kita pastikan kecurigaanmu dulu pada sopir ini.”
“Ah, benar. Bagaimana caranya mengirim lokasi kita di chat room? Apa sistem ini punya fitur share loc?” tanya Hector yang segera ditanggapi oleh sistem Galatean.
Sebuah peta kecil muncul di bawah balasan Hector di chat room. Peta itu bisa diperbesar dengan menyetuhnya dan menunjukkan tiga titik berwarna merah yang mencolok. Dua diantaranya bergerak sesuai dengan laju kecepatan kendaraan Ilena dan Hector. Satu lainnya berdiam diri di kantor Agensi June.
“Apa kubilang. Aku ini seorang polisi lalu lintas dengan jam terbang yang tinggi. Meskipun aku berada di tempat asing tapi aku tidak mungkin tersesat.”
“Berhenti menyombong, Hector. June, kemana orang ini akan membawa kita?”
“Perjalanan kalian mengarah ke area distrik industri yang sudah ditinggalkan. Hanya ada bekas pabrik kosong dan tambang tua di sana. Aku tidak yakin dia akan membawa kalian kemana, tapi itu kemungkinan paling mendekati kalau ada orang yang berniat menculik kalian,” terang June panjang lebar.
“Brengsek!” seru Ilena dalam bentuk tulisan. Meski tidak merepresentasikan secara sempurna suasana hatinya yang ingin mengumpat, tapi itu sudah cukup.
“Apa yang akan kalian lakukan? Apa aku perlu mengirim bantuan? Akan kupanggilkan polisi,” balas June.
“Tidak perlu, June. Aku ini seorang polisi,” sahut Hector sambil senyum-senyum.
“Terus terang itu bukan fakta yang menarik, Hector. Tapi aku setuju denganmu. June, kau tidak perlu khawatir. Mari kita lihat apa yang diinginkan mereka dan siapa dalang dibalik kekacauan ini. Aku sudah curiga sejak bertemu dengan sopir pertama tadi. Kalau sampai dua orang yang kutemui dalam satu hari bertingkah mencurigakan, berarti mereka memang satu komplotan,” balas Ilena yang dalam hati meninjau rencana untuk merepet pada Javier.
Bisa-bisanya kakak kembarnya itu tertipu dua kali sampai menjerumuskan keselamatan adiknya sendiri. Penyaringan pegawai harus diperketat, sekalipun untuk pihak ketiga atau outsourcing.
“Sepertinya ini akan menyenangkan. Setidaknya aku tidak akan disengat lebah kali ini,” balas Hector ringan.
“Serius kalian benar-benar akan membiarkannya? Apa itu akan baik-baik saja?” tanya June yang entah bagaimana di bawah tulisannya kini diwarnai emotikon cemas.
“Jangan khawatir, June. Kau cukup berhati-hati saja. Siapa tahu kelompok ini juga mengincarmu,” tulis Ilena.
“Baiklah kalau begitu. Jaga diri kalian dan segera hubungi aku kalau ada apa-apa,” sahut June kemudian.
Sesuai dugaan June, sopir perempuan itu ternyata benar-benar membawa mereka menuju kawasan industri yang sudah terbengkalai. Gedung-gedung pencakar langit lenyap, digantikan pepohonan yang jarang-jarag. Beberapa bangunan besar yang sudah tidak layak huni mulai muncul dan dibiarkan tertutup rumput serta semak-semak tak beraturan. Ilena merasa ini adalah saatnya ia merespon keganjilan tersebut. Akan sangat mencurigakan kalau dia dan Hector tampak terlalu tenang.
“Kemana kau membawa kami?” tanya Ilena dengan nada tegas.
“Mohon jangan melawan. Tuan kami ingin bertemu dengan Anda. Sebaiknya Anda menurut kalau tidak ingin terluka,” sahut perempuan itu datar.
“Kau pikir kau cukup kuat untuk melawan kami berdua?” gertak Ilena tajam.
“Saya tidak akan melawan siapa pun karena Anda berdua pun tidak akan bisa melakukan apa-apa selama berada di bawah kendali bayangan saya.” Perempuan itu berbicara seolah telah melakukan sesuatu terhadap Ilena dan Hector. Sayangnya kata-katanya memang bukan omong kosong karena detik berikutnya, satu tangan Ilena mendadak terangkat tanpa bisa dia cegah. Tubuhnya sudah tidak berada dalam kendalinya lagi.
“Maaf karena belum meperkenalkan diri. Nama saya Yoona Hong. Seorang Assasin,” kata perempuan itu sembari melirik kaca spion tengah dan menatap Hector serta Ilena yang dicekam keterkejutan.