
Yoona membawa mobil mereka memasuki sebuah gudang kosong di salah satu bekas pabrik yang terbengkalai. Baik Ilena maupun Hector masih berada di bawah kendali bayangan asasin tersebut. Entah apa yang dia rencanakan dan siapa dalang di balik penculikan ini, Ilena belum bisa menebaknya. Ia masih mencoba menerka motif sang penculik membawa Hector dan dirinya ke tempat tersebut.
Gadis asasin itu akhirnya mengentikan mobilnya. Ia lantas melepaskan kemampuan mengendalikan bayangannya terhadap Ilena dan Hector. Keduanya kembali bebas bergerak dan segera berubah waspada.
“Sebaiknya Anda tidak melakukan tindakan gegabah atau Anda mungkin akan terluka. Silakan keluar dari mobil terlebih dahulu,” ucap Yoona sembari membuka pintu dan keluar dari mobilnya
Ilena mengerling pada Hector yang mengangguk pelan. Keduanya lantas turut keluar dari mobil dan mendapati lima orang lain yang sudah berdiri di dalam gudang, seolah sudah menunggu kedatangan mereka. Yoona berjalan menuju lima orang lainnya yang ada di ujung ruangan dan bergabung bersama mereka. Ilena dan Hector sementara itu masih berjalan pelan ke depan mobil untuk melihat dengan jelas siapa orang-orang yang telah menculik mereka.
Seorang pria jakung berambut merah berdiri paling depan dan berjalan ke arah Ilena dengan tangan terbuka seolah tengah menyambut teman lama. Kedua matanya yang juga berwarna merah tampak bersemangat dihiasi seringai licik yang membuat Ilena semakin waspada.
“Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan?” tanya Ilena kemudian.
“Ilena … Ilena … setelah sekian lama tidak bertemu, kau tetap galak seperti dulu, Komandan,” sapa laki-laki itu seolah sudah mengenal Ilena sejak lama. “Sudah lama juga tidak bertemu denganmu Hector. Apa kau tahu betapa sulitnya aku mencarimu, Kawan Lama,” lanjut pria itu.
Ilena sedikit tertegun dengan sapaan sang pria yang memanggilnya Komandan. Hanya orang-orang dalam penglihatan sistem yang memanggilnya dengan nama itu. Apa itu artinya pria ini juga anggota yang harus dia rekrut? Ilena tidak bisa memastikannya karena ia belum membuka Memory Key yang ketiga. Dan sepertinya dia tidak punya waktu untuk melakukannya sekarang. Satu-satunya jalan adalah bertanya langsung pada pria itu.
“Siapa kau? Apa kau mengenal kami?” tanya Ilena tanpa basa-basi.
Sang pria menghentikan langkahnya dan ekspresi wajahnya berubah masam. “Kau tidak mengenaliku? Komandan, apa ada yang salah denganmu? Hector, kau juga tidak tahu siapa aku?” tanya pria itu dengan nada dilebih-lebihkan.
“Ini pertama kalinya kita bertemu. Dan terus terang saja caramu memperlakukan ‘kawan lama’ sama sekali tidak menyenangkan,” tukas Hector ketus.
“Oh, maafkan ketidaksopanan anak buahku. Padahal aku sudah meminta Yoona untuk membawa kalian sesopan mungkin. Bahkan Taemu juga sepertinya sudah membuat kalian tersinggung sampai kalian memecatnya di pertemuan pertama,” ujar pria itu sembari menoleh menatap seorang pria di belakangnya.
Ilena kemudian menyadari bahwa orang yang bernama Taemu itu adalah sopir pertama mereka yang mencurigakan. Pria itu membungkuk sopan dengan seringai terkembang di wajahnya. Jadi penculikan ini memang sudah direncanakan sejak mereka turun dari pesawat?
“Sebenarnya siapa kau? Kenapa membawa kami kemari dengan cara seperti ini? Kalau kau memang ingin bicara baik-baik seharusnya kau menemui kami dengan prosedur yang tepat,” timpal Ilena tegas.
Sang pria tertawa mendengar kata-kata Ilena. “Prosedur? Komandan, aku bahkan yakin kalau kau langsung akan mengarahkan anak panahmu begitu melihatku. Karena itu aku membawa beberapa anak buah terkuatku. Tapi apa ini? Kau ternyata sama sekali tidak mengenaliku? Jangan bilang kau belum mendapatkan semua ingatanmu.”
“Baiklah, aku akan menganggap kalau kau memang belum mendapatkan seluruh ingatanmu. Aku memang hanya ingin memastikan beberapa hal saja denganmu. Sepertinya kau sudah menemukan June. Itu artinya tinggal lima orang lagi yang belum kau temukan. Mari bertaruh. Apakah kau bisa menemukan mereka lebih dulu sebelum aku membunuh mereka?” tantang pria itu.
Ilena sudah benar-benar kesal sekarang. Pria itu seperti sudah mengetahui segalanya tentang quest miliknya. Ia juga mengetahui tentang masa lalu yang sudah dilupakan Ilena bahkan memanggil Ilena dengan begitu akrab. Selain mencurigakan pria itu juga benar-benar terlihat berbahaya. Tanpa sadar Ilena sudah memanggil busurnya keluar. Busur putihnya itu mewujud di genggaman tangan kiri Ilena begitu saja tanpa perlu ia membuka inventory. Orang-orang yang menculik mereka segera berubah waspada dan langsung mengeluarkan senjata masing-masing. Namun pria berambut merah ini mengangkat tangan untuk menghentikan anak buahnya yang sudah bersiap menyerang.
“Benar-benar tidak sabaran. Baiklah, Komandan, aku akan memberikan hadiah kecil pada pertemuan pertama kita kali ini,” ujar pria berambut merah itu sembari menjentikkan jarinya.
Mendadak sebuah aliran energi muncul di belakang punggung Ilena. Gadis itu segera mencengkeram busurnya dengan erat dan bersiap menyerang sembari menoleh ke belakang. Hector melakukan hal yang sama dengan mengeluarkan Great Swordnya di tangan. Betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat sebuah celah dimensi berkeretak muncul dari udara kosong. Awalnya hanya berupa retakan kecil, tetapi terus melebar dan memanjang diiringi luapan energi gelap yang menghasilkan angin keras.
Helai-helai rambut Ilena yang keperakan berkibar hebat menghadapi luapan energi tersebut. Hanya satu hal yang bisa disimpulkan oleh Ilena: pria itu memiliki kekuatan untuk membuat celah dimensi.
“Apa yang kau lakukan!” teriak Ilena marah sembari mengarahkan anak panahnya ke arah sang pria berambut merah.
Pria itu hanya terkekeh santai lalu menjentikkan lagi jemarinya. “Ingat namaku, Komandan Ilena. Remigus Sixtus. Akulah orang yang akan membinasakan The Black Dragon,” ucapnya sembari berbalik pergi.
Kini di belakang pria itu sudah muncul portal dimensi lain yang sudah terbuka sempurna, sama sekali bukan retakan atau celah. Portal dimensi itu berbentuk melingkar dengan warna gelap yang berpusar pada porosnya. Pria tersebut berjalan masuk dengan santai diikuti kelima orang anak buahnya. Begitu kelima orang itu masuk, portal dimensi itu pun berpusar cepat lantas menghilang. Ilena hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut tanpa bisa mencerna dengan sempurna. Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa pria itu dan apa tujuannya membawa dirinya dan Hector ke sana? Hanya untuk unjuk kemampuan? Tidak ada satu pun pertanyaan yang bisa terjawab dan hal itu membuat Ilena semakin frustrasi.
“Apa yang harus kita lakukan dengan ini?” tanya Hector sembari menatap retakan dimensi yang tersisa. Suara Hector segera mengembalikan kesadaran Ilena dari pikirannya yang rumit.
Ilena menurunkan busurnya lantas berbalik menghadapi masalah yang ada di belakangnya. Kalau celah ini dibiarkan terlalu lama, para monster mungkin akan muncul ke dunia nyata. Tidak ada yang bisa memperkirakan berapa lama sebuah retakan dimensi akan bertahan sebelum terbuka sempurna.
“Orang itu sepertinya meninggalkan celah dungeon untuk kita masuki. Mungkin dia sudah mempersiapkan sesuatu yang spesial di dalam sana,” ujar Ilena sembari melangkah masuk.
“Apa kau yakin ini aman?” cegah Hector waspada.
Ilena menarik napas panjang. “Hector, tidak ada dungeon yang bisa disebut aman.”
Hector tertegun sejenak. “Yah. Kau benar,” ujarnya sembari melangkah masuk ke dalam dungeon mengikuti Ilena.