Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Survivor Armor



Serbuan anak panah Ilena segera menghujani kawanan kuda api itu. Hector bergerak dengan cepat dan berlari sembari mengayunkan pedangnya menyongsong para monster. Namun monster di dungeon ini memiliki level yang cukup tinggi. Baik Ilena maupun Hector, keduanya tidak bisa membunuh Fire Horse dalam satu kali serangan. Ilena harus menembakkan tiga kali Arrow Shower sampai bisa membinasakan kuda api itu. Sementara serangan Hector kebanyakan tidak melukai para monster itu karena ia memang memiliki poin pertahanan yang lebih banyak ketimbang serangan.


Dalam waktu singkat, mereka bertiga sudah dikepung oleh puluhan kuda api yang menyerang secara bertubi-tubi. Ilena harus susah payah menghindar agar tubuhnya tidak terbakar oleh lidah-lidah api atau terkena serudukan. Baik Ilena maupun June merupakan player bertipe serangan jarak jauh, mereka sedikit kewalahan karena jumlah monster yang terus mengerubuti.


“Maaf, tapi aku tidak bisa melakukan casting skill dengan kondisi seperti ini. Aku butuh waktu setidaknya sepuluh detik untuk membaca mantranya!” seru June sambil melompat-lompat dan berlari menghindar dari kejaran para kuda.


“Hector!” teriak Ilena kemudian.


“Aye aye, Komandan,” sahut Hector dari kejauhan. “Memang sepertinya aku lebih bermanfaat kalau menjadi umpan daripada penyerang,” gerutunya kemudian.


Hector lantas mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan meneriakkan skill Provokenya. Seberkas cahaya emas muncul dari pedangnya dan langsung menarik perhatian semua kuda api di area itu. Semua monster tersebut berbondong-bondong menyerbu Hector.


“Cepatlah!” teriak Hector sambil mengayun-ayunkan pedang besarnya untuk menepis serudukan monster-monster kuda.


Ilena segera melesatkan anak-anak panahnya untuk mengurangi jumlah monster. Akan tetapi damage serangannya tidak bisa menghabisi mereka dalam waktu cepat. June di sisi lain, sudah mulai membaca mantra. Sebuah buku tebal melayang didepan wajahnya. Satu tangannya mengangkat tongkat sihir bertatahkan empat batu elemen, sedangkan tangannya yang lain sibuk menggambar pola sihir yang rumit.


Sepuluh detik berikutnya, sebuah bola cahaya berwarna biru terang menggumpal di atas tongkatnya. Bola cahaya itu sangat besar hingga mencapai ukuran dua meter lebih. Ilena sempat tertegun sejenak melihat betapa dahsyatnya kekuatan sihir June.


“Ice Storm!” seru June meneriakkan nama skillnya.


Serta merta bola cahaya kebiruan itu pun melesat ke langit disusul bongkahan-bongkahan es tajam sepanjang satu meter yang berjatuhan mengenai kawanan Fire Horse yang mengerubuti Hector. Hujan es itu berlangsung selama kurang lebih lima menit dan membunuh ratusan kuda api sekaligus.


Ilena sampai menurunkan busurnya saking kagumnya terhadap kekuatan luar biasa June. Ia dan Hector bahkan tidak perlu melakukan apa-apa lagi karena selama lima menit penuh hujan e situ sudah menghabisi semua monster yang menyerang mereka.


“Wah, efisien sekali,” puji Ilena sambil melihat hologram notifikasi yang memberi menampilkan jumlah monster terbunuh. Sudah hampir mencaapai enam ratus ekor.


“Ini juga pertama kalinya aku mencoba skill ini. Aku jadi penasara dengan skill lainnya,” sahut June yang lantas merapal mantra lagi.


Kali ini ia mencoba menyerang kawanan Fire Horse yang baru muncul dari balik gunung api. Hector kembali melakukan Provoke. Sementara Ilena membidik monster-monster lain yang terpencar di kejauhan. Kerja sama tim mereka berlangsung stabil. Dan dengan cepat mereka berhasil membunuh sepuluh ribu ekor Fire Horse. Serbuan monster pun berhenti.


“Apa kau tidak kelelahan? Kau mengeluarkan banyak skill luar biasa,” tanya Ilena pada June.


“Staminaku baik-baik saja. Tapi manna recoveryku ternyata sedikit lebih lambat. Aku harus membeli manna potion dulu,” jawab June sembari membuka fitur toko sistem. Ia membeli banyak manna potion sebagai cadangan.


“Untung kau punya banyak uang,” komentar Hector yang sudah berjalan ke arah mereka.


“Kau baik-baik saja, Hector?” tanya Ilena menyambut rekan swordsmannya yang selalu menjadi umpan.


“Panas sekali dikelilingi monster api,” sahut Hector sembari menyeka peluhnya yang sudah membasahi seluruh tubuh.


 


Survivor Armor +5


Type      : Armor


Level      : 35


- Def      : 180


-Base-


Def +58


Fire Resistance 20%


-Refine-


When Def reaches 270, Fire Resistance +10%


-Requirement-


Level 20-40 | Swordman, Knight


 


“Pakai ini. Armor ini mungkin akan sedikit membantumu merasa sejuk. Dia punya tambahan fire resistance,” ujar Ilena sembari menyerahkan sebuah armor besi berwarna perak yang terlihat berat tapi nyatanya sangat ringan itu.


Kedua mata Hector sontak berbinar-binar saat menerima armor itu. “Seharusnya sejak awal kau membelikanku barang seperti ini,” ujarnya girang.


Ilena mendengkus singkat. “Akan kupikirkan untuk menyediakan satu set equipment untukmu Hector. Sepertinya kau memang membutuhkannya.”


“Tentu saja. Aku selalu berada di garis depan dan menerima banyak serangan,” timpal Hector sembari mengenakan armornya. Zirah besi itu tampak cocok untuk Hector. Ia kini terlihat jauh lebih aman dan kuat. “Ini keren,” celetuknya puas.


“Baguslah kalau kau menyukainya,”


“Terima kasih, Ilena,” kata Hector sambil tersenyum puas.