Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Kematian Burung Api



Gemuruh kembali terdengar. Namun kali ini gemuruh tersebut berasal dari langit, yang kemudian disusul oleh kilatan serta suara petir yang menyambar-nyambar. Awan gelap berkumpul di area tersebut, begitu pekat dan tebal.


Ilena masih melompat kesana kemari untuk meghindari serangan bola api dari Phoenix. Hector sesekali melempar skill Provoke demi memecah perhatian sang burung api. Akan tetapi Phoenix itu tidak mudah dialihkan. Sekali waktu ia berpaling menyerang Hector. Namun setelah serangan ketiga, burung itu kembali mencari-cari Ilena yang tengah sibuk melesatkan anak panah.


“Kalian berdua menyingkirlah. Hujan es akan segera datang!” seru June setelah selesai meneriakkan nama skillnya.


Awan gelap dan kilat yang sahut menyahut itu pun akhirnya reda. Sebagai gantinya, bongkahan-bongkahan es sebesar meteor muncul dari langit dan berjatuhan ke arah sang burung api. Phoenix itu berkoak panik. Ia terbang melayang menghinari serbuan hujan meteor es yang menyambar-nyambar tubuhnya.


Akan tetapi jurus June sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun harus melakukan casting selama sepuluh menit penuh, tetapi damage yang dihasilkan tidak main-main. Awan gelap yang menjatuhkan meteor-meteor es itu terus mengikuti kemana pun sang burung api terbang.


Beberapa bongkahan es sukses mengenai sayap Phoenix, bahkan punggung dan kepalanya. Phoenix itu menyemburkan api dari mulutnya ke segala arah. Ia panik karena beberapa kali oleng akibat terjangan meteor es.


Ilena dan Hector segera mendatangi June dan mereka bertiga pun hanya perlu berdiri diam menyaksikan kehancuran sang Phoenix secara perlahan.


“Kelemahan penyihir adalah waktu casting skill yang lama. Untuk serangan yang kuat, Soccerer membutuhkan waktu lama dalam merapalkan matra. Karena itu bantuan kalian tadi sangat berguna,” ucap June sembari tersenyum.


“Apa kau baik-baik saja?” sahut Ilena balas bertanya. June kelihatan pucat dan kelelahan.


Meski berkata demikian, tetapi June jelas kehilangan banyak tenaga. Pemuda itu terengah-engah dan peluh membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya yang menggenggam tongkat sihir bahkan gemetar hebat.


“Sebaiknya kau beristirahat, penyihir. Kau terlihat kacau,” ucap Hector yang turut prihatin.


June mengangguk setuju. Pemuda itu pun akhirnya memilih untuk duduk di atas tanah kering dan membiarkan tenaganya pulih kembali. Sepertinya bahkan dia sedang membuka sistem Galateannya. Mungkin mencoba menggunakan manna potion, untuk mengembalikan energi sihirnya.


Ilena dan Hector melanjutkan kesibukan mereka mengamati kehancuran burung api. Sedari tadi bunyi koak-koak memilukan terdengar. Ilena nyaris tergerak untuk menyelamatkan bos monster tersebut, tetapi urung ketika mengingat bagaimana si burung api melemparinya dengan hujan meteor.


Tak berapa lama kemudian, sebuah meteor es terbesar muncul membelah awan hitam. Ukuran es tersebut hampir sebesar tubuh sang bos monster. Dengan satu serangan pamungkas itu, Phoenix sang burung api akhirnya berhasil dikalahkan. Monster itu hancur tergencet oleh bongkahan es sebesar tubuhnya.


Bunyi koak lemah menjadi pesan terakhir bos monster itu sebelum akhirnya seluruh api di tubuhnya padam. Burung api itu pun mati.


Ilena, Hector dan June pun berinisiatif untuk mendekati bangkai burung api tersebut, mencari berbagai barang berharga yang mungkin bisa mereka ambil. Wajah June kini sudah mulai berwarna, tidak sepucat sebelumnya. Sepertinya perkiraan Ilena benar. June baru saja menenggak manna potion berwarna biru saat ia dan Hector sibuk memperhatikan kematian burung api. Meski begitu, Ilena tidak berkomentar apa-apa. Toh itu hak June untuk membeli apa pun yang dia butuhkan.