
Ilena membidikkan anak panahnya ke arah salah satu player yang menyerang Hector. Betapa terkejutnya ia menyadari bahwa rupanya orang yang tengah mereka lawan adalah para player yang sudah mati, jasad-jasad yang hilang!
Dengan tangan bergetar, Ilena membidikkan anak panahnya ke arah mayat Caepio yang sedang melawan Hector. Mayat-mayat itu berkulit biru pucat dengan mata membelalak mengerikan. Gerakannya tidak secepat ketika mereka menjadi manusia, dan damage serangannya juga hanya separuh dari saat mereka masih hidup. Meski begitu, mayat-mayat player tersebut tetap merepotkan.
Anak panah pertama Ilena melesat tepat menembus kepala mayat Caepio. Sang mayat hidup tersebut hanya oleng ke samping, tetapi tidak roboh. Dengan anak panah yang menancap di pelipis, ia masih bisa tetap bergerak dan melemparkan bom-bom ke arah Hector.
“Ilena! Orang-orang itu bukannya yang pernah kita lawan di Bryxton?” anya Rafael setelah menyelesaikan buffnya kepada seluruh anggota tim.
“Necromancer,” gumam Ilena tiba-tiba.
“Apa maksudmu?” Rafael kembali bertanya.
“Orang itu. Dia mau menunjukkan padaku bahwa dia adalah seorang Necromancer,” geram Ilena sembari menyipitkan mata.
Ilena masih ingat tentang job tersebut. Ia sempat membuat konsep untuk kelas tersebut, tetapi batal dirilis. Entah kenapa saat itu Ilena merasa kekuatan Necromancer yang dibuatnya itu terlalu berbahaya dan justru akan menenggelamkan job-job yang lain.
Sekarang Ilena sudah mengetahui kemampuan Remigus. Ia adalah seorang Nectomancer. Orang yang mengendalikan mayat orang mati atau monster yang sudah mati. Ia juga menguasai kemampuan membuka portal dimensi gelap. Dengan cara itulah Remigus dapat berpindah tempat dengan mudah, baik itu di dungeon maupun di dunia nyata.
“Tidak ada gunanya menyerang zombie-zombie itu. Kita harus mencari orang yang mengendalikannya. Dia pasti ada di sekitar sini,” ucap Ilena kemudian.
Gadis itu pun mulai mencari. Hector masih berkutat dengan empat mayat hidup yang menyerbunya. Ia jelas tidak sempat menyapa Ilena maupun Rafael. Sekarang mereka berdua mengerti kenapa Hector langsung memanggil mereka begitu saja tanpa peringatan. Rekan polisi mereka itu memang sedang sibuk.
Sementara Ilena berusaha mencari Remigus, orang yang bertanggung jawab terhadap serangan zombie itu, June pun muncul. Ia mewujud di tempat yang tidak jauh dari Ilena. Pemuda penyihir itu langsung terkejut melihat medan pertempuran menyambut kedatangannya. Meski begitu ia pun segera mengeluarkan tongkat sihirnya dan mulai melempari para zombie dengan bola-bola api. Tubuh mayat-mayat hidup itu pun hangus tak bersisa.
Pertempuran langsung usai begitu June datang. Ilena masih mencoba mencari jejak Remigus tetapi gagal menemukannya di mana-mana. Pada akhirnya keempat orang itu pun berkumpul di sepanjang pantai yang lengang tersebut.
“Maaf memanggil kalian tiba-tiba. Aku mencoba menghadapinya sendiri, tapi mereka tidak mau mati. Tubuhnya selalu tersambung kembali setiap aku memotongnya,” keluh Hector sembari terengah-engah. Entah sudah berapa lama dia menghadapi empat mayat hidup itu. terakhir kali Ilena menghubunginya sudah sekitar lima jam yang lalu.
“Bukannya orang-orang itu adalah para player yang pernah kita lawan di Bryxton?” June mengeluarkan pertanyaan yang sama seperti Rafael.
“Necromancy. Orang itu, Remigus. Ia merupakan Necromancer,” ulang Ilena menjelaskan.
“Hah? Apa itu? Memangnya ada job seperti itu di Galatean?” tanya Hector menimpali.
Ilena menggeleng pelan. “Aku hanya pernah mengonsep karakter tersebut, tetapi batal merilisnya. Karena itu ini adalah hal yang ganjil. Bagaimana bisa job yang batal dirilis bisa masuk ke dalam sistem saat ini?”
“Orang itu benar-benar misterius. Sebenarnya apa yang dia inginkan dari kita?” Hector kembali berkeluh kesah.
“Untuk sekarang, kita sebaiknya fokus pada quest terlebih dahulu. Hari sudah semakin sore. Sebentar lagi matahari terbenam. Sebaiknya kita mencoba pergi ke menara jam,” ucap Ilena kemudian.
Keempat orang itu pun segera melesat ke arah menara jam yang ada di atas tebing pantai tersebut. Menara jam yang mirip mercusuar itu berdiri sendirian tanpa ada bangunan lain di dekatnya. Ilena tidak bisa menebak kenapa ada menara jam di tempat yang ganjil seperti itu. Namun ia memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Benaknya sudah penuh dengan beragam misteri lainnya.
Tempat itu serupa rumah taman yang mana tidak lazim berada di atas tebing. Tidak ada dinding yang menyekati tempat itu. hanya ada empat pilar besar yang menyangga kubah batu dengan arsitektur mirip abad pertengahan.
Taman itu beralaskan rumput hijau dengan bunga-bunga mawar yang merekah merah. Aromanya yang harum memenuhi udara. Sebuah pohon tua dengan daun-daun hijau yang rimbun berdiri tepat di tengah taman yang mengapung di udara tersebut. kiri kanan taman itu hanyalah awan-awan dan langit senja kemerahan. Ilena mencoba berkeliling dan melongok ke bawah. Tidak ada yang bisa dilihat di bawah sana karena tertutup awan yang berarak.
“Di mana kita?” tanya June sembari melihat sekeliling.
“Sepertinya ini adalah lokasi yang tepat. Kita berada di tempat semacam dungeon,” kata Ilena kemudian. Ia tidak ingat pernah membuat tempat seperti ini dalam game nya.
Di tengah kebingungan itu, sebuah hologram super besar muncul di dekat pohon. Semua orang bisa membacanya bersama-sama.
Sub-Quest Memory Key: Red Gem Activate
Player yang terhormat,
Selamat datang di taman gantung Antares. Di dalam taman ini, player akan dihadapkan pada tantangan kecil untuk mendapatkan sebuah Obelisk berisikan memori salah seorang dari kalian.
Tantangannya sederhana. Silakan belah pohon kehidupan Vlove untuk menemukan Kristal merah yang akan membawa ingatan masa lalu salah satu dari kalian. di dalam batang pohon Vlove ini Red Obelisk tersimpan selama ratusan tahun, menunggu sang pemilik menemukannya.
Waktu kalian adalah sampai matahari terbenam. Jika gagal, kalian akan dikirim kembali ke tempat kalian berasal dan tidak akan pernah mendapatkan ingatan galaktik yang penting ini.
Selamat bersenang-senang ^^
Reward misi: Red Obelisk
“Menghancurkan pohon? Itu perkara mudah. Seharian ini aku sudah menebas tubuh mayat berkali-kali,” ujar Hector sembari menghunus pedangnya. Swordsman itu pun melancarkan serangan pertamanya. Dengan kekuatan penuh ia menebas batang pohon besar itu.
Akan tetapi, tanpa diduga, serangan Hector tersebut rupanya tidak menghasilkan efek apa-apa. Pohon itu tetap berdiri kokoh tanpa tergores sedikitpun.
“Apa-apaan … ,” gumam Hector tak percaya.
“Aku akan mencobanya. Hari ini aku belum mengeluarkan banyak tenaga.” Kini giliran June maju dan menjajal kekuatan dahsyatnya.
Pemuda itu merapal mantra selama beberapa saat, hingga memunculkan sebuah bola api selebar dua meter. Dengan gerakan anggun, June melempar bola apinya hingga mengenai batang pohon besar itu.
Sekali lagi, alih-alih terbakar, energi kekuatan June justru memantul dan membuat keempat orang itu terdorong mundur hingga beberapa langkah ke belakang.