Galatean: The Lost Archer

Galatean: The Lost Archer
Terluka Parah



Ilena seolah berada di luar tubuhnya. Gadis itu seperti berdiri di depan layar besar yang menampilkan adegar dirinya sedang bertarung. Melalui layar itu, Ilena melihat bagaimana tubuhnya yangp penuh luka bangkit berdiri dan mulai menyerang membabi buta ke arah Caepio.


Anak panahnya melesat dengan wujud dua kali lebih besar dari biasanya, menghasilkan efek ledakan setiap kali menyentuh sesuatu. Dan lebih dari itu, Ilena takjub melihat dirinya bisa terbang di udara. Lebih tepatnya ia melompat sangat jauh dan tinggi dalam sekali pijakan. Gerakannya juga luar biasa cepat hingga tidak lagi bisa dilukai oleh ranjau yang ditanam oleh Caepio.


Keadaan pun berbalik seratus delapan puluh derajat. Caepio tidak lagi berada di atas angin. Alih-alih pria itu kini terlihat begitu terdesak dengan rentetan serangan anak panah Ilena yang bertubi-tubi.


Setelah serangan beruntun selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Ilena pun melesatkan serangan pamungkasnya. Elementar Arrow yang sanggup menghabisi Caepio dalam satu serangan.


Begitu menyelesaikan pertarungan, layar di hadapan Ilena itu pun akhirnya padam. Ia kini diliputi kegelapan dan sekonyong-konyong merasa sangat mengantuk. Ilena pun memejamkan matanya dan mulai tertidur.


Rasa nyeri luar biasa membangunkannya. Seluruh tubuhnya terasa perih menggigit dan beberapa tulang agaknya patah.


“Ilena!”


“Bos!”


“Ko, Komandan!”


Ketiga rekannya berseru panik sembari berlari menyongsong ke arahnya. Ilena mengerjap beberapa kali. Debu dan tanah terasa masuk di dalam mulutnya. Rupanya gadis itu tengah tersungkur di atas tanah dengan tubuh penuh luka.


Hector, June dan Rafael datang mendekat tak lama kemudian. Keadaan mereka baik-baik saja. Bahkan Rafael yang baru saja terkena bom pun tampak baik-baik saja. Hanya beberapa darah kering yang terlihat mengotori pakaiannya.


“A, aku punya auto imun. Bisa menyembuhkan diri secara otomatis,” ungkap Rafael memberi penjelasan tanpa ditanya.


“Kalau gitu cepat sembuhkan Ilena sekarang,” desak Hector tak sabar.


“Apa musuh yang lain … ,” tanya Ilena merintih dalam pelukan June.


“Kami berhasil mengalahkan semuanya. Dan kau juga sudah membunuh si perakit bom itu,” terang Hector sembari mengawasi proses pemulihan Ilena.


“Kita sudah berhasil menang, Ilena. Tetapi kau tiba-tiba ambruk setelah membunuh lawanmu.” June turut menjelaskan.


Tak berapa lama kemudian semua luka bakar dan luka terbuka di kulit Ilena pun berhasil disembuhkan. Akan tetapi rasa nyeri di rusuk dan pergelangan kakinya masih terasa menusuk-nusuk. Ilena tidak bisa berjalan dengan baik.


“Te, tenagaku tidak cukup untuk menyembuhkan patah tulangnya. A, aku harus istirahat dulu selama beberapa saat. Ma, maaf. Ini karena tadi juga aku auto imun, jadi … ,” Rafael tergagap, terlihat begitu merasa bersalah.


“Tidak apa-apa, Rafael. Segini juga sudah cukup. Terima kasih banyak,” ucap Ilena tulus.


Akhirnya gadis itu pun berdiri dengan dipapah oleh June dan Hector di kanan kirinya. Portal dimensi sudah kembali terbuka, dan tim mereka pun sudah bisa keluar.


“Lebih gampang kalau aku membopongmu, Bos,” ucap Hector sembari bersiap-siap untuk mengangkat tubuh Ilena.


“Jangan coba-coba, Hector!” geram Ilena sungguh-sungguh.


Otomatis Hector menghentikan niatnya karena Ilena sudah melotot penuh ancaman. Akan tetapi, tubuh Ilena justru tetap melayang tanpa aba-aba. Gadis itu memekik kaget dan menyadari bahwa June telah membopongnya tanpa menunggu persetujuan.


“Memang lebih efektif seperti ini. Jangan menolak karena hanya akan merepotkan kalau kita harus memapahmu berjalan sangat pelan,” ujar June tak kalah serius.


Hanya kali ini Ilena akhirnya tidak bisa membantah. Gadis itu justru mendengkus pelan karena tingkah rekan-rekannya tersebut.