
Keempat anggota Sinister tiba-tiba berpencar dan mengepung kelompok Ilena dalam empat penjuru. Formasi itu membuat Ilena tidak bisa menyerang mereka sekaligus. Gadis itu lantas menyadari bahwa posisi timnya yang berdiri berdekatan akan berbahaya karena memudahkan lawannya untuk menyerang mereka secara bersamaan.
“Berpencar! Hector lawan yang rambutnya berkelabang itu! June jangan jauh-jauh dari Rafael!” perintah Ilena kemudian.
“Siap Bos!”
“Laksanakan, Komandan!”
June dan Hector berseru bersamaan. Gadis itu sendiri melesat ke arah seorang pria berkacamata yang mengenakan jas biru tua yang kelimis. Pria itu tidak terlihat membawa senjata, tetapi hal itu justru meresahkan Ilena. Itu artinya dia punya teknik bertarung yang misterius. Ilena harus siap dengan segala kemungkinan.
Rentangan busur Ilena mengarah pada sang pria berkaca mata itu. Anak panahnya melesat sepersekian detik kemudian dan langsung mengarah ke pelipis pria tersbut. Dengan sigap lawan Ilena itu melompat menghindar. Bahkan setelah Ilena melesatkan serangan bertubi-tubi, tidak ada satu pun anak panahnya yang berhasil melukai musuhnya.
“Kuduga kau belum pernah melawan sesama player, Ilena Lockart,” ucap pria itu sembari tersenyum tipis. “Para player berbeda dengan monster yang hanya bergerak dengan insting. Kita bisa berpikir dan membuat strategi. Jadi jangan melawan membabi buta seolah kau cuma sekadar membasmi monster,” lanjutnya kemudian.
Ilena mendengkus pelan. Ia tak percaya harus mendapat ceramah dari seorang player asing yang sedang dia lawan.
“Kau tidak akan bisa banyak bicara lagi kalau anak panahku berhasil menembus kepalamu,” sahut Ilena sembari merentangkan busurnya lagi.
Pria itu tertawa. “Namaku Caepio Brutus. Dan aku adalah ahli strategi di Sinister. Coba saja tangkap aku dengan anak panahmu yang lamban itu,” lanjutnya sembari melompat mundur untuk menjauhkan diri dari jangkauan serangan Ilena.
Caepio yang bergerak menjauh memaksa Ilena untuk berlari mengejarnya. Ilena pun melesat secepat mungkin untuk mendekati pria tersebut. Akan tetapi, pada langkah ketiganya, mendadak tanah yang dia injak meledak begitu saja dan melontarkan tubuh Ilena ke udara. Gadis itu mendarat di atas tanah dengan seluruh tubuh penuh luka. Kakinya yang terutama terasa paling nyeri. Ilena yang terkejut segera memeriksa kondisi kakinya yang ternyata sudah terkena luka bakar serius.
“Sialan! Orang itu rupanya seorang Bomber,” gumam gadis itu sembari mencoba bangkit berdiri.
Caepio berjalan mendekati Ilena lagi. Ia tertawa dengan puas melihat gadis itu terluka di sekujur tubuhnya. “Tidak semua orang menyerang secara frontal seperti kalian. Dalam sebuah tim, ahli strategi dibutuhkan untuk mengendalikan situasi,” kata pria itu sembari memutar-mutar tiga bola hitam di tangannya.
“Dasar banyak omong,” geram Ilena kembali melesatkan anak panahnya.
Caepio lagi-lagi menghindar dengan anggun. Anak-anak panah Ilena tidak bisa menjangkaunya ketika ia sudah bergerak menjauh.
Ilena berdecak kesal. Ia tidak bisa lagi bergerak sembarangan atau bisa-bisa bom lain yang tertanam di bawah tanah meledak setelah terinjak. Sementara itu targetnya sudah berada di tempat yang begitu jauh.
Ilena mengedarkan pandangannya untuk melihat rekan-rekannya yang lain. Hector kini tengah bertarung dengan seorang Beastmaster. Seekor beruang besar meraung-raung marah sambil menyerang Hector dengan membabi buta. Sejauh yang bisa dipantau Ilena, rekan swordsmasternya itu bisa mengimbangi kekuatan beruang dengan baik. Hector hanya perlu mencari celah untuk membunuh sang master pengendali hewan buas yang bekerja di belakang layar.
Di sisi lain, June tengah melawan dua player sekaligus. Keduanya merupakan sepasang gypsi yang menggunakan sihir nyanyian untuk mengirimkan efek buruk pada lawannya. Beruntung June tengah bersama Rafael. Holy spirit Rafael bekerja dengan baik menangkal debuff dan serangan dari pasangan gypsi yang bersenjatakan alat musik Lyra dan cambuk itu.
Bom kecil itu meledak sebelum Ilena sempat menghindar terlalu jauh. Alhasil tubuh gadis itu kembali terlontar sejauh lima meter. Ilena terluka parah. Darah segar keluar dari mulutnya, menunjukkan bahwa organ dalamnya mungkin terluka akibat serangan tersebut.
Ia belum pernah menjadi bulan-bulanan orang lain sebelumnya. Kini Ilena merasa bahwa di antara ketiga rekannya yang lain, kondisinya adalah yang terburuk.
Saat masih tersungkur kesakitan, Ilena melihat langkah kaki Caepio yang berjalan mendekat. Pria berkacamata persegi itu lantas berlutut di hadapannya dan mengangkat dagu Ilena yang sudah dipenuhi darah segar.
“Ternyata kemampuan seorang Komandan hanya sejauh ini. Pantas saja planetmu dulu berhasil dihancurkan,” ujar pria itu dengan ekspresi penuh cela.
Ilena meludahkan gumpalan darahnya ke wajah Caepio. Pria itu tersentak kaget dan langsung melepaskan tangannya dari wajah Ilena.
“Perempuan sialan,” geramnya penuh amarah.
Ilena mendorong pria itu menjauh dari wajahnya lantas segera bangkit berdiri dengan sigap. Caepio tersungkur jatuh. Memanfaatkan waktu yang sempit itu, Ilena langsung merentangkan busurnya tepat di pelipis pria tersebut.
Sejenak, Caepio tertegun. Namun wajah kagetnya segera berubah menjadi seringai bengis yang menyebalkan.
“Tidak semuda itu, Ilena,” gumamnya sembari menjatuhkan satu lagi bola hitam kecil di tanah.
Ilena sudah melesatkan anak panahnya. Dari jarak sedekat itu, seharusnya tembakan Ilena bisa mengenai Caepio. Namun di waktu yang bersamaan, bom yang dilemparkan Caepio meledak. Sekali lagi Ilena terlempar menjauh dan membuatnya tidak bisa melihat hasil dari lesatan anak panahnya lagi.
“Dasar orang gila. Dia meledakkan diri sendiri demi menghindari anak panahku,” gumam Ilena setelah sekali lagi bangkit dari tanah berdebu dengan luka bakar serius di seluruh tubuhnya.
Di kejauhan, Ilena melihat bahwa Caepio juga sama terbakarnya seperti dirinya. Anak panahnya berbelok arah karena tekanan ledakan bom yang kuat. Caepio berhasil bertahan hidup meski tubuhnya penuh luka bakar.
“Ilena!” seru suara Rafael yang berteriak dari kejauhan
Ilena menoleh dan mendapati pemuda itu sudah berlari ke arahnya dengan ekspresi cemas. June masih bertarung dengan pasangan Gypsi. Sementara Rafael pasti melihat luka-luka Ilena dan bermaksud untuk menyembuhkannya. Sayang niat itu sama sekali tidak akan membuahkan hasil yang baik. Ilena menatap ngeri ke arah Rafael dan segera berteriak untuk mencegah pemuda itu mendekat.
“Berhenti! Rafael, berhenti!” serunya sekuat tenaga.
Sayangnya perintah Ilena itu terlambat. Rafael sudah berada dalam area jangkauan Caepio. Begitu langkah pemuda itu berada dalam radius yang sudah dikuasai sang bomber, maka selesai sudah semuanya. Rafael menginjak ranjau. Ledakannya membuat tubuh kurus pemuda itu terlempar sejauh lima meter.
Segalanya seperti bergerak lambat di mata Ilena. Ia mencoba berlari meraih Rafael. Ia tidak lagi memperhatikan langkahnya karena satu-satunya yang ada dalam pikiran Ilena adalah untuk menyelamatkan sang anggota baru. Ilena ingat ia berteriak sangat keras memanggil nama Rafael. Namun detik berikutnya, kesadarannya lenyap.