
Api membakar suasana Ard dan Karu, kemudian membeku seketika karena keheningan yang terjadi. Karu mencengkeram kerah Ard perlahan lalu melepaskannya. Namun masih tertunduk sembari menindih Ard.
Ard tak berpikir panjang untuk mengangkat Karu dan menaruhnya pada kasur. Seusainya, Ard pamit pada Karu dengan senyum tipis diwajahnya. Karu yang tak merespon, masih memeluk kedua kakinya sembari membenamkan wajah dengan kesedihannya.
Awan gelap belum menerjunkan airnya untuk memberi suasana sinkron akan hubungan mereka yang mendapati retak. Ard yang sedang berjalan melewati Jalur Besar Kota Exgalya, dihampiri oleh CyLimo berwarna putih.
Ard pun menengok ke kanan, bersamaan dengan CyLimo tersebut. Dengan seketika, kaca mobil dibuka perlahan. Begitu dilihat, Hiruma menyapa Ard dan menyuruhnya bergabung dalam perjalanan.
Ard tak berpikir panjang dan membalasnya dengan senyum tipis sembari masuk ke dalam CyLimo. Hiruma yang duduk berlawanan dengan Ard, menyajikan limun dinginnya.
"Ada apa? tiba-tiba menculikku disini, Hiruma?" Tanya Ard sembari menerima limunnya.
"Aura sepimu yang menyengat, terasa hingga kedalam mobil." Balas gurau Hiruma.
"Ledekanmu memang terbaik dan menyebalkan. Seperti yang kuduga tak ada perubahan darimu. Hanya kesuksesan luar biasa." Lanjut Ard.
"Dan ada yang membuatmu penasaran sekarang?" Tanya Hiruma.
"Hadiah apa yang kau maksud dengan mengadakannya di El Vee?" Balas tanya Ard sembari meminum limunnya.
"Tak ada hal khusus. Hanya saja itu untuk meramaikan tempat mereka." Sanggah Hiruma.
"Kau mencari kesempatan untuk melakukan proyek mu? Aku tak ingat mata empat sialan kami bisa sejahat ini." Gurau Ard.
"Konyolnya. Tak seru jika kau sudah mengetahui hal ini. Tapi, jangan libatkan pemikiran mereka, mengerti?" Tegas Hiruma akan pintanya.
"Aku hanya orang yang suka mengikuti alur. Bukan perusak." Bantah Ard.
"Walau proyek tersebut belum kumulai, keraguan ini justru menggangguku." Ujar Hiruma sembari melihat pemandangan luar.
"Aku tak mengenalmu jika kau menyebutkan kalimat itu. Fokuslah pada konsistensimu. Jangan jatuhkan dirimu yang terbang ke parit yang dalam." Bantah Ard kembali.
"Aku mengerti. Karena jika salah langkah. Maka itu bisa saja terjadi lagi." Lanjut Hiruma melihat Ard.
"Hal sederhananya adalah berhenti pesimis. Jika terjadi, terjadilah. Jika belum, cegahlah. Aku disini ingin melihat aksi dan tindakanmu, Hiruma." Ujar Ard sembari menambah limun.
"Aku turut berduka dengan Risu. Dia terus menyembunyikannya hingga sekarang." Lanjut Hiruma.
"Aku pun begitu. Dan aku tak ingin terlalu bergantung padamu. Namun, yang paling bisa diandalkan hanya kau disini. Mereka, termasuk diriku, hanyalah spesies biasa yang menjalani harinya dengan normal." Ujar Ard.
"Jika begitu. Bisa kucoba bantuanmu sedikit?" Tanya Hiruma.
"Katakanlah." Balas Ard.
"Temukan sesuatu untukku. Aku yakin, hal itu masih menyisakan jejaknya. Jejak yang kita abaikan." Lanjut Hiruma akan pintanya.
"Kau meminta hal itu pada orang yang memiliki keberuntungan dibawah rata-rata? Baiklah. Aku akan mencobanya untukmu. Demi mereka juga." Gurau Ard sembari melihat keluar kaca.
"Terima kasih. Aku tertolong." Balas Hiruma sembari menghela nafas.
Hiruma yang mengajak Ard ke Taman Hiburan Exgalya milik proyek Hiruma, langsung berlanjut mengajaknya berkeliling dan berbincang hal lain.
Awan gelap sebelumnya, disingkirkan oleh cahaya matahari yang menembus awan satu persatu hingga Exgalya cerah kembali. Disaat Hiruma sedang melakukan cek ke setiap bagian, Ard melihat sekitar dengan pantauan matanya. Ard yang mendapati hal janggal dari seseorang yang diragukannya mengingatkan Hiruma.
"Hiruma." Ujar Ard.
"Hmm? Aku mengerti. Mereka mengejarku dan berniat menjatuhkan yang kumiliki." Balas Hiruma sembari melihat denah taman.
"Mereka belum menerimanya. Dan kau hanya memberi alur pada mereka tanpa kejutan ataupun kekerasan? Kau meremehkan mereka, Hiruma." Ujar Ard sembari melihat sekitar.
"Itu hal yang jelas. Bagaimana aku akan melancarkan kekerasan pada wargaku sendiri tanpa bukti yang kuat?" Tanya Hiruma sembari berjalan ke bagian lain.
"Dunia politik penuh orang-orang bodoh. Bahkan dengan Exgalya yang mereka tempati, mereka masih haus akan kuasa dan ambisi mereka." Lanjut Ard.
"Maka dari itu aku menyerahkan ini padamu. Jika berhasil, lautmu kutambah." Ujar Hiruma.
"Penawaran luar biasa. Setuju." Balas Ard dengan semangat dalan dirinya.
"Jika begitu, kau bisa pergi. Ingin kuantar?" Tanya Hiruma mengakhiri pertemuannya dengan Ard.
"Tak perlu. Aku lebih nyaman dengan jalur lautku sendiri." Balas Ard sembari pergi ke bagian ujung taman dan turun ke dermaga mengeluarkan CyJetskinya.
Ard yang menaiki CyJetski, segera menuju Perairan Gal-Alya dan pulang ke rumah. Usai perbincangan akan informasi Hiruma, Ard mengambil beberapa kesimpulan dengan niat Hiruma. Waktu berlalu hingga tiba Festival Budaya Universitas El Vee.
Festival tersebut membuka gerbangnya untuk umum. Seluruh Warga Exgalya akan minatnya, mendatangi festival dengan berbondong- bondong. Ard dan Xion yang berada di Pelabuhan Axeru, seketika diajak oleh kapten untuk pergi ke Festival Budaya di El Vee.
"Libur kali ini harus diisi dengan sesuatu yang menarik semangat. Bukankah begitu, Xion ?" Ujar Ard dengan minatnya.
"Maaf saja, aku ada janji dengannya. Dan kau, pergilah mencari seorang gadis atau temui Karu." Bantah Xion dengan gurauan Ard.
"Padahal dia tak ada salah, namun kau menyangkut pautkannya." Balas bantah Ard sembari mengunci kepala Xion.
"Jika sudah siap, kita langsung saja. Ayo." Ujar kapten.
"Roooger!" Balas Ard sembari melepaskan Xion dan mulai berjalan bersamaan.
Berpindah di sebuah Halte CyBus Exgalya. Miccha menunggu dengan semangat dikarenakan Gant akan tiba beberapa menit lagi.
Sesudah tujuh menit berlalu, CyBus Type 11XC telah sampai dan enam penumpang turun termasuk Gant yang telah ditunggunya. Tanpa pikir panjang, Miccha langsung memeluk Gant seperti biasa akan rasa rindunya.
"Maaf karena sangat jarang waktuku untukmu, Miccha." Ujar Gant.
"Sungguh tak apa. Dan mana dosisku yang lain ?" Tanya Miccha dengan guraunya.
"Ahahaha~ itu..." Balas Gant dengan canggung.
"Hooo~ jika begitu, gantikan di festival. Ayo !" Seru Miccha sembari menggandeng Gant.
Risu, Karu dan Aziru menyajikan Kafe Hewan sebagai kiosnya. Risu mengenakan kostum kucing cokelat, Aziru sebagai serigala dan Karu sebagai singa.
Ketua Kafe melatih mereka bertiga sesuai dengan perannya untuk menarik pengunjung. Risu melakukannya dengan semangat, Karu menccoba mengumpulkan tekadnya untuk berani, sedangkan Aziru fokus dengan penghayatannya.
"Bagus~ bagus~ Karu, Risu, Aziru. Kalian melakukannya dengan baik." Ujar Ketua.
"Terima kasih atas perannya, ketua-miaw~" Balas Risu dengan nada kucingnya.
"Nnng... Gaaooo~! A-Aku akan melakukannya sebisaku." Ujar Karu dengan malunya.
Ard, Xion dan Kapten, tiba di festival dan berniat menikmatinya. Kapten yang berada di depan mereka berbalik dan menyampaikan sesuatu.
"Ard, Xion. Aku ingin melihat beberapa penjual ikan laut. Kalian ingin sesuatu?" Tanya Kapten.
"Satu hadiah luar biasa. Jika begitu, Lobster." Balas Ard.
"Cumi dan Gurita." Balas Xion.
"Baiklah. Kalian nikmati acara ini. Aku akan menemui kalian nanti." Balas Kapten sembari pergi.
"Terima kasih, Kapten !" Seru Ard dan Xion bersamaan.
Seusai Kapten berpisah sementara waktu. Xion ingin berpamitan menemui Risu sementara waktu. Ard yang mendengarnya tak keberatan dan mulai berkeliling seorang diri.
Hikky pun tiba di festival dan mencoba mencari Karu akan janjinya. Dia mencoba mencari kedalam terlebih dulu dikarenakan bagian luar sangatlah padat. Setibanya di lantai tiga, Hikky melihat sembari melewati berbagai kios.
"Baiklah Karu, kau siap melakukannya jika bertemu pelanggan ?" Tanya Ketua.
"A-Aku siap." Balas Karu dengan sedikit gugup.
"Ayo, Karu ! Lepaskan rasa takutmu. Kau akan terbiasa." Ujar Risu sembaru menyemangati Karu.
Seusai Hikky melewati berbagai kios di koridor, Hikky menemukan Kafe Hewan yang diberitahu Karu sembari memasukinya perlahan.
"Selamat Datang, GAOOOO~" Seru Karu pada Hikky.
Hikky terkejut dan terdiam seketika, dikarenakan melihat Karu menyambutnya mengenakan kostum singa.
Karu yang membuka matanya ikut terdiam dan terkejut melihat Hikky. Karu pun tak bisa menahan malunya sembari berlari keluar dan menuju samping kanan gedung.
"K-Karu?!" Seru Ketua.
"Ah, aku akan---" Ujar Risu terpotong.
"Aku akan menyusulnya." Ujar Hikky sembari berlari mencari Karu.
"Siapa dia?" Tanya Aziru dengan heran.
"Entahlah..." Balas Risu dengan canggung.
Karu yang berada di samping gedung, terduduk lemas sembari memeluk kedua kakinya. Karu tak menyangka bahwa yang akan melihatnya ialah Hikky secara langsung. Hikky menanyakan jejak Karu pada beberapa orang yang melihatnya dan segera menuju arah yang ditunjukkan.
Disaat itu, Ard melihat Hikky dari kejauhan sembari berlari menembus kerumunan dan berniat mendekatinya. Hikky yang melihat sekitar, terpaku pada sesuatu di sebelah ujung kanan.
Sebuah ekor boneka tampak memperlihatkan tanda Karu bahwa ia di sana. Hikky yang melihatnya, langsung mendekati Karu perlahan.
"Karu?" Panggil Hikky.
"Huh? H-Hikky ?" Gumam Karu dengan terkejut dan menghapus air matanya yang sepintas mengalir.
Ard mendekati lokasi Hikky berada, ia pun terhenti sesaat ketika melihat hal lain yang tak diduganya.
"Aku tak melihat apapun." Gumam Ard sembari tersenyum tipis sembari pergi ke tempat lain mengabaikan Karu dan Hikky.