
Ard yang kedatangan Agen Exgalya, ikut dengan mereka sembari menumpangi CyMobile Exgalya. Suasana di dalam mobil tampak hening dengan Ard yang tetap tenang. Ard tahu kemana dia akan dibawa dan dugaannya menjadi kenyataan ketika sampai di Kepolisian Exgalya. Terlihat dua CyDroid Guardian Type A, Staf Server dan Wakil Kepala Server Exgalya menunggu di depan pintu masuk. Sebelum Ard memasuki tempat tersebut, salah satu Guardian CyDroid memborgol tangan Ard di belakang untuk berjaga-jaga. Sesudahnya, ia dibawa masuk bersamaan dengan mereka yang menunggunya. Ard lanjut dibawa ke ruang interogasi sebelum mendapat penghakiman. Bersamaan dengan Staf Kepolisian, mereka memulai perbincangannya.
"Kau tampak siap dengan segalanya." Sapa Staf Pria dengan basa basinya.
"Begitukah? Terima kasih." Balas Ard sembari tersenyum tipis.
"Pertama-tama, kenapa kau melakukannya tanpa pikir panjang?" Tanya Staf Pria.
"Aku ingin bertaruh, untuk yang terakhir kalinya." Balas Ard.
"Kau tentu tahu, nyawa mereka bukanlah Chip mu untuk berjudi. Jika terdapat peluru yang menembus mereka karena keagresifan itu, kehidupanmu berakhir. Sekalipun kau pria tangguh di dunia ini." Balas Staf Pria.
"Ya. Dan aku tak akan menyangkalnya. Seperti yang kukatakan, sebagai terakhir kalinya. Setelahnya, seluruh keputusan ada pada kalian. Kuharap kalian bijak dalam menanganinya." Lanjut Ard.
"Dengan ini, seisi kota bisa terancam pada waktu berikutnya. Kerahasiaan militer paling utama, kau gunakan dengan mudahnya." Ujar Staf Pria.
"Lanjutkan." Pinta Ard.
"Dan... namamu akan terlanjur kotor sebagai pelanggar di Exgalya. Serta... lupakan. Aku tak memiliki hal lain untuk kutanya, karena kau tampak menyadari semuanya, hingga tak bisa menyangkal apapun. Untuk hukumanmu akan diberitahukan satu bulan berikutnya." Ujar Staf Pria mengakhiri interogasinya.
"Ini terlalu singkat. Aku mengerti." Keluh Ard sembari lanjut tersenyum.
"Kenapa, kau tak gentar? Apa yang sebenarnya kau takutkan?" Lanjut tanya staf pria.
"Hahahaha. Maaf. Yang kutakutkan? Masa Depan mereka." Balas Ard dengan guraunya.
"...Tapi, kau juga memiliki masa depan dibanding melakukan ini." Bantah staf pria.
"Anda menyuruhku untuk mencintai diri sendiri lebih dulu dibanding orang lain?" Tanya Ard memojokkan staf pria.
"Itu---" Gumam staf pria terpotong.
"Hahahaha. Maaf. Anda salah orang jika mengharapkan hal itu." Balas Ard sembari tersenyum lebar.
"Begitu. Hanya satu yang ingin kusampaikan. Kesalahanmu adalah yang terberat di Exgalya. Kuharap kau selamat." Lanjut Staf Pria meninggalkan Ard lebih dulu.
"Aku mengerti. Terima kasih." Balas Ard dengan senyum tipisnya.
Seusai interogasi singkat, Ard mengakui kesalahannya. Dua Guardian CyDroid Type A mengantar Ard pada menuju sel tahanan. Ard mendapatkan sel khusus seorang diri di bagian dalam Kantor Kepolisian Exgalya. Dengan Type Sel A-6711, sel tersebut hanya berbentuk ruangan 5x5m persegi, namun tak terasa panas atau pun minim oksigen.
"Bagaimana dengan anak itu?" Tanya Wakil Kepala Server Exgalya.
"Dia mengakui seluruhnya. Kita tak perlu menanyakan apapun lagi. Bahkan dia tak bisa menyangkal. Walau dia berniat menolong, namun caranya merupakan kesalahan fatal." Balas staf pria sembari mengambil kopi di mesin penyaji.
"Begitu. Inginnya aku menyampaikan amarahku padanya. Namun, itu hanya akan membuang energiku. Bahkan hal konyol jika kulakukan ketika mengetahui situasinya." Balas Wakil Kepala Server Exgalya.
"Menurut anda, bagaimana dengan pemuda itu, pak?" Tanya Petugas Server Exgalya.
"Dia orang yang nekat, namun tampak sudah menyiapkan segalanya dengan matang. Aku hanya ingin dia mendapat hukuman terbaik. Sebagai pembelajaran untuknya, agar tidak nekat lebih jauh lagi." Lanjut Wakil Kepala Server Exgalya.
Disaat situasi masih memulihkan dirinya, Para pelajar Universitas El'Vee dalam perjalanan kembali ke Exgalya. Selang tiga jam di perjalanan, mereka sampai di Kampus dengan selamat. Para orang tua yang mendengar kabar tragedi tersebut, menunggu beramai-ramai akan kekhawatiran anak-anak mereka. Mereka yang berada di dalam CyBus, turun dan berlari memeluk orang tua mereka. Isak tangis akan kekhawatiran pun terdengar. Selang beberapa menit, Pihak El'Vee mengumumkan agar mereka pulang terlebih dulu dan meliburkan jadwal kampus selama tiga hari. Seusai insiden yang mendapati Hiruma sebelumnya, gangguan kembali mendatangi Hiruma atas permintaan Petinggi Exgalya dengan mengadakan pertemuan. Seusai mendapati pemberitahuan, Hiruma langsung menuju tempat Petinggi.
"Hiruma. Jika kau sudah siap, silahkan mulai." Ujar Dewan 1 Galya.
"Baik. Pertama, aku mohon maaf sebesar-besarnya karena tak mengambil langkah baik untuk menangani insiden ini. Namun, mengenai insiden Guardian CyDroid Type S bukanlah aku yang melakukannya." Ujar Hiruma.
"Seberapa serius jika bukan anda yang melakukannya, Tuan Hiruma?" Tanya Dewan 2 Zyroxa.
"Di waktu yang bersamaan, aku sedang berkomunikasi dengan Bos dari ******* tersebut. Dan aku memiliki sedikit contoh sebagai bukti bahwa ini bukan dongeng." Balas Hiruma membuktikan rekaman yang dibawa dan mulai menyalakannya.
Mereka yang melihat isinya, mendapati jawabannya. Hal tersebut ialah benar, bahwa bukan Hiruma yang mengendalikannya. Mereka yang memahaminya, kembali berdiskusi.
"Seperti dugaanku. Maka, satu ini menjadi bukti pelakunya." Ujar Dewan 1 Galya sembari menyodorkan CyData berisi informasi Ard.
"Ard?! Bagaimana mungkin?!" Tanya Hiruma dengan terkejut dan heran.
"Singkatnya. Dia mengakses tanpa izin bermodal kenekatan. Niatnya memanglah baik, namun caranya sangat fatal. Dia punya nyali sangat tinggi dari seluruh penduduk disini untuk menyentuh benda terlarang itu." Ujar Dewan 3 Urtora.
"Dengan ini sangat disayangkan, Tuan Hiruma. Kita tak bisa memberi kelonggaran atas kehidupannya." Lanjut Dewan 4 Erzoga.
"Maksud anda, kita bertindak sebagai tuhannya?! Semudah itu kita mengambil kesimpulan?!" Bantah Hiruma dengan argumen Dewan 4 Erzoga.
"Jika begitu, kuharap kau memiliki solusinya, Tuan Hiruma. Menyangkut keselamatan Kota Exgalya." Sanggah Dewan 5 Syxera.
"Lalu, beri waktu sebagai jalan tengahnya. Ini terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan." Pinta Hiruma pada seluruh Dewan.
"Kemudian, jika solusimu tak membuahkan hasil, kekuatanmu dicabut dengan segera, Tuan Hiruma." Ujar Dewan 6 Artora.
"Aku mengerti. Terima kasih." Balas Hiruma merasa lega.
Suasana semakin memanas karena insiden menyangkut mereka. Esoknya, Ard yang telah menjadi tahanan Exgalya, datanya terlampirkan pada berita terbaru di Kota Exgalya.
"Dia? Yang mengakses sembarangan CyDroid Guardian Type S?!" Gumam warga pria berbaju biru.
"Jadi... dia yang melakukan hal ceroboh itu?" Gumam wanita dewasa bersama temannya.
"Pelanggaran ini terlalu besar." Gumam pria berjaket hitam dengan kecewa.
"Aku khawatir jika dia melakukan hal besar selanjutnya." Ujar gadis SMA dengan seorang temannya.
"Kurasa tak ada kesempatan untuk dia melakukan selanjutnya. Kau tahu dengan tingkat kasus ini, bukan?" Balas teman gadis SMA tersebut.
"Ard... kebodohan apa lagi yang kau lakukan?" Gumam Xion dengan ketidakpercayaannya.
"Hei... ini berita bohong, kan? Ard..." Ujar Risu ikut tertegun dan menjatuhkan Crepe nya.
"Hei, ada a--?!" Balas tanya Miccha terpotong.
Karu yang sedang bersama Hikky, mendapati getaran pada CyPhonenya. Ia pun membuka pesan masuk dari Risu berupa berita hari ini. Karu yang melihatnya, tak bisa menahan rasa kejut akan insiden yang terjadi pada Ard. Hikky melihat ekspresi Karu yang tak biasa, mencoba memanggilnya.
"Karu? Karu? Karu!" Tanya Hikky.
"Ah! Hikky? Tidak. Tak apa. Ada sesuatu?" Tanya Karu sembari melanjutkan perbincangan.
"Ah, tidak. Tak apa." Balas Hikky melanjutkan alurnya.
Situasi yang buruk masih menyelimuti mereka, terlebih Hiruma kembali memikirkannya seorang diri di Villa Bukit Thyfaro. Tanpa terduga, Xion dan kawan-kawan mendobrak masuk pintu yang dikunci oleh Hiruma. Hiruma menyadarinya dan berbalik sembari dihantam oleh Xion dengan cepat pada pipi kiri Hiruma. Xion yang melakukan kekerasan pada Hiruma, ditahan oleh yang lain karena teringat akan hal yang dibencinya. Mereka pun dilerai agar situasi tidak semakin pecah.
"Hiruma! Keparat! Kau kembali memikirkannya seorang diri?! Harus kutegaskan berapa kali agar ingatanmu cair?!" Seru Xion ditahan Willy dan Jay.
"Xion!" Seru Risu menampar pipi kiri Xion.
"Tenangkan dirimu, Xion. Ini bukan masalahmu dengan Hiruma saja." Ujar Jay membujuk Xion.
"Baiklah. Jika seluruhnya sudah disini, kita mulai. Kau siap, Hiruma?" Ujar Miccha mendinginkan suasana.
"Ya." Balas Hiruma membersihkan lukanya.
"Karu, tidak datang?" Tanya Miccha pada Risu.
"Dia sudah kuhubungi, tapi dia tak merespon. Aku bisa memakluminya." Balas Risu dengan acuh.
Hiruma mulai menceritakan situasi yang terjadi akan kebingungan mereka. Semua berawal ketika tragedi terorisme yang mengancam seisi Study Tour El'Vee. Hiruma sendiri sedang mengalami situasi sulit karena dipojokkan oleh bos ******* yang menghubunginya untuk mengambil langkah aman. Tak lama saat Hiruma sedang bernegosiasi, CyDroid Guardian Type S yang paling rahasia pun tersentuh oleh Ard dengan nekat dan melakukan melakukan komando ilegal. Hal yang paling beresiko pun menyelimuti Ard dan memperkuat ganjarannya, serta resiko keselamatan mereka. Setelah ketahuan bahwa yang melakukan hal itu adalah Ard, pihak berwenang menahannya dan mempersiapkan hukuman terburuk di Exgalya. Hal lain yang Hiruma kecewakan adalah ia terlambat mendapat informasinya.
"Jadi... maksudmu Ard sebagai pahlawan kesiangan? Dan tak bisa mendapat kelonggaran sedikitpun setelah dia mengorbankan dirinya?!" Tanya Xion dengan kesal.
"Ini bukanlah sekedar masalah biasa. Pikirkan nasib banyak orang termasuk kota ini. Dan ini bukanlah masalah yang bisa diselesaikan dengan kekerasan!" Bantah Hiruma memperingati Xion.
Xion yang mendapati teguran Hiruma, terdiam dan mencoba berpikir. Hiruma menginginkan satu hal untuk menolong Ard dengan bertaruh apapun resikonya, karena posisi Hiruma pun ikut terancam. Karu yang usai puas berbincang dengan Hikky, pulang menenangkan diri. Karu terdiam di kamarnya sembari berbaring miring dengan posisi menghadap dinding kamar.
"Ard... apa aku berlebihan? tidak-tidak. Tak ada alasan bagiku untuk memikirkannya. Dia hanya harus menanggung seluruhnya sendiri, kan? Aku tak boleh terganggu dengan ini. Bahkan olehnya." Gumam Karu bertikai dengan pikirannya.
Selang lima belas menit, mereka terus berpikir akan rencana menolong Ard agar bisa menembus pertahanan yang kokoh menahannya. Hiruma yang melihat sekitar, merasa iba dengan ekspresi datar. Ia pun diam-diam menyusuh sesuatu pada CyTabnya sembari bersandar di tembok.
"Aku belum pernah melihat Ard sejauh ini selama aku mengenalnya. Dia sangat berbahaya." Keluh Willy sembari duduk tertunduk bertongkat paha.
"Kurasa kita harus membuat suara. Dan mencari dukungan ke segala tempat. Bagaimana, Risu?" Tanya Miccha sembari melirik Risu.
"Maaf, Miccha. Otakku mendidih akan kejadian ini. Bagaimana caraku berpikir jernih untuk jalan keluarnya?" Balas Risu sembari tertunduk memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Aku ingin menolong Ard. Tapi, keberanianku sangat buruk jika dinilai oleh publik sebagai pelanggar. Aku ingin berani seperti anak itu." Ujar Jay sembari bersandar bokong pada belakang sofa.
"Itu hal wajar jika kau sedang melindungi milikmu, Jay. Memang terdengar egois, namun harus kita pikirkan apa yang akan kita terima kelak." Sanggah Risu.
"Sebenarnya aku tak setuju untuk bersifat ragu, Risu. Tapi sebagai realitas, apa yang bisa kita perbuat dengan cara seaman mungkin, ketika tahu dengan pemikiran mereka terhadap kita untuk maju?" Lanjut Miccha sembari mencoba menilai situasi.
"Akh! Persetan dengan keraguan!" Seru Xion sembari berlari keluar dan menjauh dari villa.
"Xion?!" Seru Jay sembari menyusulnya.
Willy yang tak ingin ragu, mencoba mencari cara dengan versinya sembari berjalan keluar.
"Willy? Kau mau kemana?" Tanya Miccha melihat Willy berjalan mendekati pintu keluar.
"...Aku kecewa dengan kalian. Termasuk kau, Hiruma." Balas Willy ikut pergi dari villa.
"Willy!" Seru Miccha sembari berdiri melihat ke arah pintu.
"Tak menemukan jawaban, kah? Hiruma." Gumam Risu memanggil Hiruma.
"Hmm?" Balas Hiruma merespon singkat.
"Kau sungguh tak menemukan solusi? Maaf. Aku terlalu bergantung padamu." Ujar Risu sembari tersenyum tipis.
"Ada." Balas Hiruma sembari meminum teh dan menaruh CyTabnya.
"Eh?! Ada?!" Tanya Risu dan Miccha sembari terkejut.
"Mereka tidak sabaran. Sebagai gantinya, beritahu ini pada mereka. Aku ingin menyelesaikan urusanku terlebih dulu." Sembari memberikan CyTab pada mereka.
Risu dan Miccha melihat rencana Hiruma dan membacanya. Mereka yang mendapati maksud Hiruma, menghubungi Xion dan kawan-kawan. Hiruma berpisah terlebih dulu akan urusannya dengan beranjak keluar. Risu yang teringat akan suatu hal, menyerahkannya terlebih dulu pada Miccha. Miccha yang merasa heran, memilih menuruti permintaan Risu dengan menerima CyTabnya. Risu berpisah dengan Miccha dari Villa Bukit Thyfaro. Risu yang tinggal seorang diri, mulai menelpon Karu di perjalanan. Ketika Karu sedang tertidur, ia dikejutkan oleh getaran CyPhone di kasurnya. Karu yang mendapati panggilan tersebut, mengangkatnya dan berbincang dengan Risu.
"Ah, Risu? Ada apa?" Tanya Karu.
"Sekarang... kau dimana?" Tanya Risu dengan tatapan kosong.
"A-Aku? Di rumah. Kenapa?" Lanjut Karu bertanya akan hal yang mengherankan dari Risu.
"Baiklah. Tunggu di sana." Ujar Risu sembari menutup panggilannya.
Karu yang mendapati panggilan tiba-tiba Risu, hanya bisa penasaran sembari sedikit berasumsi. Setelah lima belas menit di perjalanan. Risu sampai di Rumah Karu dan menekan bel. Karu yang menyadari kedatangan Risu, langsung turun dan membukakan pintu. Risu yang berada di luar pintu masuk dipersilahkan masuk. Risu tampak lesu dengan ekspresi wajahnya, Karu pun mencoba membaca suasana dengan mengajak Risu ke kamar. Ketika sampai di dalam kamar, Risu dan Karu saling mempersiapkan diri agar tidak semakin canggung. Risu yang berada di depan Karu, merasa lebih lega setelah menarik nafas. Dengan seketika, Risu menampar Karu cukup keras dengan tangan kanannya pada pipi Karu. Saat itu juga, Karu yang ditampar oleh Risu, semakin bingung dan menunjukan ekspresi kejut yang dalam karena tak menyangka dengan yang dilakukan Risu. Keduanya pun larut dalam keheningan yang panas.