From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 36 : Kutukan - Bagian 2



Sesampainya di apartemen, Ard yang berniat merebahkan Vicchy agar beristirahat, digagalkan olehnya. Vicchy tak henti-henti mengunci leher Ard, karena rasa takut mendalam.


"Aku janji. Aku takkan kemanapun. Kumohon istirahat, Vicchy." Pinta Ard sembari meyakinkan Vicchy.


"A ... A ... A-A ... A ..." Gumam Vicchy terbata-bata sembari gemetar.


"Ya?" Tanya Ard sembari mendekap Vicchy.


"A-Ard ... b-berapa ... banyak la-lagi ... kutukan yang, menung-guku ... ? Aku ... anak nak-al ... ya?" Balas tanya Vicchy dengan terbata-bata dan nafas tak beraturan.


Ard yang mendengarnya, tak bisa menjawab pertanyaan Vicchy yang begitu berat. Selang sepuluh menit, Vicchy kelelahan dengan rasa traumatiknya. Lalu, CyPhone Ard bergetar akan panggilan masuk. Terlihat panggilan tersebut berasal dari Goura dan Ard pun menjawabnya dengan segera.


"Ya?" Tanya Ard.


"Ard! Ada apa?! Kau terlihat buru-buru dan pergi begitu saja! Kemana kau?!" Tanya Goura dengan cemas.


"Jika senggang, kalian bisa ke apartemenku. Sudah." Balas Ard sembari menutup panggilan.


"Eh?! Ard? Ard! Apa yang terjadi?" Lanjut tanya Goura dengan heran.


"Apa yang dikatakannya?" Tanya Argy.


"Jika senggang, datang ke apartemennya. Itulah yang dia katakan." Balas Goura sembari menggaruk belakang kepala dengan tangan kanan dan bertolak pinggang.


"Kurasa ada hal lain mengenai 'Vicchy' yang disebutkannya. Firasatku buruk mengenai ini." Lanjut Argy sembari menyimpulkan.


"Ah, sial! Apa yang terjadi, Ard?! Aku jadi tak sanggup menemuimu jika seburuk ini." Seru Goura dengan cemas.


"Jadi, bagaimana?" Tanya Argy.


"Aku tak sanggup. Jika kau berminat, pergilah temui Ard." Balas Goura sembari tertunduk dan bertolak pinggang.


"Tidak. aku pun tak sanggup. Kalimat Ard sangat berbeda kali ini. Aku akan menanyakannya nanti." Ujar Argy sembari kembali bertugas.


Seusai Ard menelepon mereka, Ard tak dapat melakukan apapun untuk sementara waktu karena berjanji dengan Vicchy. Ia tetap duduk di samping kasur sembari memejamkan mata memikirkan sesuatu.


Kemudian, berita hangat mulai dimunculkan di Exgalya. Paman Kai terdakwa karena melakukan pelecehan seksual pada Vicchy. Mereka yang melihatnya, terkejut karena orang yang selama ini mereka percaya, memiliki kebejatan di dalamnya. Terlebih kawanan Ard terdiam kaku ketika melihat kejutan tak terduga tersebut.


Seusai Ard berpikir, ia memberanikan diri melanggar janjinya karena berubah pikiran. Ard berjalan keluar kamar dan berniat menuju suatu tempat. di lain tempat, Villa Bukit Thyfaro, Hiruma dengan segera melakukan panggilan pada Ard. Kesialan pun terjadi padanya, karena Ard mengabaikan panggilan.


Ard bergegas mengendarai CyHovernya ke Pelabuhan Axeru. Sesampainya di sana, Ard langsung masuk Ruangan Komandan Vygas tanpa mengetuk pintu. Komandan Vygas yang melihat Ard datang tiba-tiba dengan senyum tipisnya, tak bisa berkata-kata dan tersenyum canggung.


Seketika, Komandan Vygas yang berada di ruangan bersama Ard, terpental dengan keras menembus kaca ruangan hingga mengejutkan karyawan di sekitarnya. Mereka terdiam kaku melihat kejadian Komandan Vygas yang tergeletak di lantai dengan Ard di arah berlawanan. Karyawan pria yang ingin melerai, ditahan oleh rekan wanitanya.


"Hei, Komandan. Ada yang bertanya padaku. 'Ard, berapa banyak lagi kutukan yang menungguku? Aku anak nakal, ya?'." Ujar Ard sembari mendekat perlahan dengan Komandan Vygas yang ikut merangkak mundur.


"A-Ard ... Apa yang kau bicarakan ...?" Tanya Komandan Vygas dengan panik.


"Untuk pertama kalinya. Aku tak bisa menjawab itu sama sekali. Bahkan untuk mengelak. Dan kau melupakan ini." Lanjut Ard sembari melempar sesuatu.


Ketika dilempar, terlihat dua benda berwarna putih terbungkus plastik di tengah-tengah mereka. Mereka yang melihatnya, terkejut hebat karena barang yang diduga milik Komandan Vygas, ialah narkoba. Hal tersebut semakin membakar suasana hingga menjadi abu untuk komandan Vygas. Ia yang ingin mengambilnya, justru ragu karena merasa percuma akan rasa terpojoknya.


"… ini … bohong, kan? Itukah alasannya … gaji kami sering terlambat … Komandan?" Tanya karyawan pria di belakang Ard.


"Um …" Gumam Komandan Vygas sembari tertunduk di lantai.


"JAWAB KAMI!" Seru Karyawan pria di belakang Ard sembari maju beberapa langkah.


Komandan Vygas yang sudah diambang batas, terbangun dan berlari keluar sembari membawa dua kantung plastik narkoba tersebut. Suasana dalam kantor menjadi sedingin es dengan keheningan yang terjadi. Karyawan pria sebelumnya, terkulai bertekuk lutut karena merasa tidak percaya sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Lalu … bagaimana sekarang?" Tanya karyawan pria berambut Spiky hitam.


"Kurasa tak ada hal lain untuk pergi dari sini. Seusai melihatnya, kepercayaanku justru menipis." Balas karyawan pria berambut Undercut hitam.


"Ard … jika ingin memberi kejutan ulang tahun, aku tak akan mengajakmu. Tapi, terima kasih …" Ujar karyawan pria berambut Bowlcut hitam di belakang Ard.


"Tentu. Beritahu pada mereka, akan kubawakan sesuatu untuk tempat ini, Rouki." Balas Ard sembari berjalan keluar.


"Eh? Sesuatu …?" Gumam Rouki sembari terkejut dan berdiri perlahan.


Ketika Ard keluar dari kantor, Paman Zaunt berlari menghampirinya bersama Xion.


"Ard … apa yang terjadi?! Vicchy--" Tanya Xion sembari ditahan Ard untuk diam sesaat.


"Aku akan menceritakannya nanti. Paman Zaunt, kemari." Balas Ard sembari menarik tangan kanan Paman Zaunt menuju kantor.


"E-Eh?!" Seru Paman Zaunt sembari terkejut.


"A-Ard?! Oi!" Seru Xion dengan bingung dan memilih mengikutinya.


Keadaan dalam kantor tampak negatif karena mendapati putus asa akan jalan buntu mereka. Kemudian, Ard yang membawa Paman Zaunt mengejutkan mereka.


"Ard! Bagaimana? Mereka bertanya-tanya dengan maksudmu. Katakanlah." Pinta Rouki.


Seketika, Ard menarik nafas sedikit dan mempersiapkan kalimatnya.


"Dengar! Tak akan ada lagi keluhan perihal Komandan. Karena, Paman Zaunt yang akan menjadi Komandan, mulai sekarang!" Seru Ard.


"K-Komandan?! Paman Zaunt?!" Tanya Rouki.


"Oi, Ard! Apa maksudmu?!" Bantah Paman Zaunt dengan heran.


Ard yang mendapati banyak pertanyaan, mulai melangsungkan ringkasan sebagai alasannya. Seusai mendengarnya, Paman Zaunt terkejut karena masih tak percaya.


"Aku tak akan memaksamu, Paman. Itulah kenyataannya. Jika aparat mendapatinya, lihatlah kabar berita dikemudian hari." Lanjut Ard.


"Jadi, kau serius menjadikannya Komandan, Ard?" Tanya Rouki.


"Dibanding membual, aku lebih memilih untuk memancing di dermaga sebagai waktu luang." Balas Ard sembari tersenyum tipis.


"Tapi, apakah dia bisa kita percaya?" Lanjut tanya karyawan berambut Spiky hitam.


Seketika, Ard mengeluarkan CyLaser dari CyBag dan menancapkannya di tengah-tengah lantai.


"Jika aku menipumu, kau boleh membunuhku. Tawaran yang sebanding, bukan?" Balas tanya Ard melanjutkan senyumnya.


"Begitu. Baiklah. Aku tak keberatan!" Seru Xion dengan tiba-tiba.


"Xion?" Tanya Rouki.


"Kuberikan suaraku pada Paman Zaunt. Ada yang keberatan?" Lanjut tanya Xion sembari melihat sekitar.


Mereka yang mendengarnya, meyakinkan tekad untuk memutuskan. Tak sampai sau menit, suara diberikan seluruhnya untuk Paman Zaunt sebagai Komandan baru di Kantor Kelautan Axeru. Paman Zaunt yang terkejut, tak bisa berkata-kata sembari melihat mereka dan melihat Ard.


"Sudah diputuskan. Aku tahu kau keberatan, Paman Zaunt. Tapi ini adalah bukti kami mempercayaimu sebagai yang sudah terikat di laut yang sama." Ujar Ard.


"Jika Ard seyakin ini, aku tak bisa membantah karena sebagai saksi. Kami mempercayakan masa depan laut ini padamu bersama-sama, Paman." Ujar Rouki membujuk Paman Zaunt.


"HORMAT AXERU! BENTANGKAN JIWA KELAUTAN UNTUK BERLAYAR!" Seru Ard memberi komando.


"BENTANGKAN LAYAR! MELINDUNGI SUMBER DAYA! DENGAN SEGENAP JIWA DAN RAGA! AXERU!" Seru karyawan keseluruhan.


[Hormat Axeru]


[Membentangkan tangan kanan sembari membuka kaki ke kanan]


[Menekuk tangan kanan ke depan dada bersamaan menekuk tangan kiri ke depan dengan menangkap pukulan tangan kanan]


[Melepas cengkeraman tangan kiri pada kanan dan membentangkan kedua tangan dengan cepat]


[Menaruh tangan kanan telapak terbuka di depan perut dan tangan kiri mengepal di belakang punggung, sembari sedikit bungkuk memiringkan badan ke kiri dengan kaki dirapatkan]


[Menegakkan badan dan membentangkan kedua lengan]


[Menyilangkan kedua lengan ke depan dan menurunkannya dengan cepat menggantung di kedua pinggang sembari membuka kaki yang dirapatkan]


Paman Zaunt yang melihatnya, terus terkejut hingga tak bisa berkata-kata. Ia pun mulai menerima pelantikan mendadak tersebut karena suatu insiden. Dengan bermodalkan kepercayaan dan pengetahuan Paman Zaunt, mereka melakukan sorak dan tepuk tangan dengan bangga.


Seusainya, Ard dan Xion melangkah keluar. Dan dengan seketika, Paman Zaunt berlari memanggil mereka.


"Ard. Maukah--" Pinta Paman Zaunt terpotong.


"Aku menolak." Balas Ard seolah mengetahui niat Paman Zaunt.


"Oi, dia belum bilang apa-apa. Kau bukan cenayang, kan?" Sanggah Xion dengan sinis.


"Hahahahaha! Dia memberikan jawabannya sendiri di wajahnya. Kau terlalu mudah dibaca, Paman." Balas Ard sembari tersenyum lebar.


"Ah, aku lupa bahwa kau adalah Ard. Jadi, kau ingin melemparnya pada Xion?" Lanjut Paman Zaunt menatap Xion.


"Eh? Apa?!" Sangga tanya Xion dengan heran.


"Sudah jelas!" Balas Ard sembari ikut menatap Xion dan tersenyum lebar.


"Oi, kalian menakutiku! Apa?!" Lanjut tanya Xion dengan heran.


"Xion. Maukah kau menjadi Kapten Laut Axeru?" Balas tanya Paman Zaunt sembari Hormat Axeru.


"Ka-Kapten?! Oi, Ard!" Seru Xion dengan dengan kesal.


"Kupercayakan kawan-kawanku padamu, Kapten Kraken!" Seru Ard sembari pergi menjauh dan melambai.


"Ard! Sialan!" Lanjut seru Xion.


"Hahahahaha! Mohon kerjasamanya, Kapten Xion!" Seru Paman Zaunt sembari memegang kepala Xion.


Paman Zaunt dan Xion, telah mendapati takdir baru. Ard yang usai dengan urusannya, kembali ke apartemen. Sesampainya di sana, terlihat sepatu dan sendal di dekat pintu begitu ramai. Ketika Ard masuk, mereka melihat Ard dengan tatapan negatif.


"Aku kembali kecewa denganmu yang meninggalkannya semudah itu. Bagaimana, Ard?" Tanya Willy.


Kemudian, Ard dengan segera melakukan gerakannya untuk sedikit bersujud. Dia mulai menceritakan awal mula hal itu terjadi.


"Aku tahu dia adalah prioritas utama. Namun, ada yang harus dilakukan agar hati kami berdua lega." Balas Ard.


"Lalu, bagaimana kau akan membantu membayar satu ini? Kami bosan melihat maafmu." Lanjut Jay.


"Tentu. Aku akan menikahinya." Balas Ard sembari bangun dan tersenyum tipis.


"Sungguh?" Tanya Vicchy dengan posisi tidurnya secara tiba-tiba.


"Eh?! Vicchy?! Kau sudah baikan?!" Balas tanya Risu berbalik.


"Sungguh." Balas Ard sembari tersenyum tipis.


"Katakan, 'Aku Mencintaimu'." Lanjut Vicchy sembari mengganti posisi tidur menjadi duduk dan memeluk boneka serta menyembunyikan wajahnya.


"Aku mencintaimu seluruhnya, tanpa keraguan sedikitpun. Aku menginginkanmu untuk hidup dan matiku, beserta janji untuk selalu bersama." Balas Ard sembari mendekat dan bertekuk lutut layaknya prajurit di depan Ratu."


"Aaaahh! Aku hanya memintamu satu kalimat saja! Kau bisa membuatku mati muda karena malu …" Seru Vicchy sembari memalingkn wajahnya ke jendela.


"Cepat balas kalimatku! kakiku bisa keram, sialan!" Pinta Ard dengan kesal.


"A-Aku tak ingat ada prajurit seperti itu pada Sang Ratu." Ujar Miccha dengan herannya.


"Kurasa, aku harus membaca buku tentang kerajaan lagi untuk memastikannya." Ujar Jay ikut heran.


"Jika masakanku jelek, kau menerimanya?" Tanya Vicchy tak menatap Ard sembari memeluk boneka dengan erat.


"Tentu." Balas Ard sembari masih bertekuk lutut.


"Jika majalah pornomu kubakar, kau menerimanya?" Tanya Vicchy memainkan jari di pelukannya.


"Tentu. Lagipula aku sudah bilang tak membutuhkannya." Balas Ard dengan heran.


"Jika ada wanita yang lebih unggul dariku, kau tak akan berpaling?" Lanjut tanya Vicchy dengan wajah semakin memerah.


"Tentu. Lagipula aku lebih baik mati jika melakukannya." Balas Ard sembari bergumam.


"Jika aku memintamu, kau mau mendengarkanku?" Tanya Vicchy mulai membalikkan badan dan masih memalingkan wajahnya.


"Tentu. Selama telingaku tidak tuli." Balas Ard.


Pertanyaan Vicchy terus berlanjut akan permintaan terdalamnya, hingga membuat kawanan Ard tertidur, dengan Miccha dan Risu yang masih bermain catur. Ard mulai merasakan kebas di kakinya dan mencoba bertahan dengan tekadnya.


"Lalu … jika aku selalu memukulmu, kau menerimanya." Tanya Vicchy masih memalingkan wajah.


"Te … ntu …" Balas Ard akan rasa nyerinya.


"Duh!! Kau serius atau tidak?! Aku tak mendengarmu!" Seru Vicchy dengan kesal.


"Aku serius! Sangat serius!" Seru Ard sembari bertahan.


Dengan seketika, Vicchy melesat dan mengambil ciuman pertama Ard sembari memeluk dan menindihnya. Miccha dan Risu yang melihatnya, tersenyum lebar dan merasa bangga akan kemajuan Ard dan Vicchy. Seusai mengambilnya, Vicchy melepaskan kuncian suci bibirnya dengan Ard dan membenamkan wajah di kiri leher Ard.


"Ard … terima kasih. Untuk kali ini, biarkan aku membantu membentuk masa depanmu yang berputar-putar. Akan kubuat kau menunjukkan ego-mu sebagai manusia. Aku mencintaimu … Ard." Ujar Vicchy dalam hati.


"Apa yang kalian lihat?" Tanya Ard dengan posisi berbaring telentang dan melihat ke kanan.


"Selamat, Ard. Bagaimana?" Balas tanya Miccha sembari menunda giliran caturnya.


"Terima kasih. Kakiku keram." Balas Ard sembari tersenyum lebar.


Dengan itu, Ard mendapatkan takdir lain yang mengubah putaran hidupnya. Ard kembali berharap bahwa segala yang mengganggunya, bisa ia selesaikan agar mendapat jawaban jelas akan takdir terbesarnya.