From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 11 : Petunjuk yang berbahaya



Hiruma yang mendapati pesan dari Ard, berjalan menjauh ke dalam area kampus dan mengarah ke tempat sepi. Seusai dia mendapati pesan tersebut, Hiruma melakukan panggilannya. Sebaliknya, Ard yang mendapati panggilan dari Hiruma, berjalan keluar dan menjaga jarak dari Vicchy.


"Kau masih meragukannya?" Tanya Ard sembari menatap jauh.


"Bagaimana kau mendapatinya?" Balas tanya Hiruma.


"Teman baikku. Tanpanya, hal ini tak akan terjadi. Dan kuharap kau tak mengkaitkan hal lebih padanya. Dan juga... dia menggila setelah melihatnya." Lanjut Ard memberitahu situasinya.


"Aku tak akan melakukannya tanpa seizinmu. Kapan?" Lanjut tanya Hiruma.


"Esok. Lakukan seluruhnya untuk hal ini. Kita bahkan tak tahu dengan isi dan resikonya." Balas Ard.


"Aku akan berhati-hati. Bagaimana dengannya?" Tanya Hiruma.


"Dia mendapati tamu tak diundang akan traumanya. Dia sudah reda sekarang." Lanjut Ard menghembuskan nafasnya.


"Aku turut prihatin. Aku akan mengusahakan seluruhnya." Balas Hiruma dengan tekadnya.


"Terima kasih. Aku mengandalkanmu." Balas Ard sembari menutup panggilan.


Hiruma mendapati informasi berharga dari Ard. Ia pun Semakin meyakinkan ambisinya agar dapat menyelesaikan masalah tersebut. Tengah malam telah tiba dan membuat mereka masih terjaga akan pikiran yang berputar. Usai Ard berbincang dengan Hiruma, ia kembali ke kamar dan melihat Vicchy dari kejauhan.


Ard yang mengetahui keadaan Vicchy saat ini, berharap hal tersebut tak terjadi lagi padanya. Xion dan kawan-kawan telah pulang dari festival. Gant pun harus segera kembali keluar kota pada tengah malam sembari mempersiapkan perpisahannya dengan Miccha.


Miccha merasa berat hati setelah bersenang-senang, ia pun kembali menitipkan rindunya dengan memeluk Gant.


"Jaga kesehatanmu. Suatu saat, aku pasti di dekatmu. Yakinkan hal itu hingga terwujud." Bujuk Gant sembari mengelus Miccha.


"Aku akan menguatkan diri. Dan kumohon... jangan ada hal lain yang menakutiku." Balas Miccha akan pintanya.


"Aku mengerti. Aku akan selalu mendengarkanmu." Lanjut Gant sembari mengecup kening Miccha.


"Kau tak ingin melakukannya di sini ?" Tanya Miccha dengan guraunya sembari menunjuk bibirnya.


"Hahahaha. Aku akan memberikannya suatu saat nanti." Balas Gant.


"Baiklah, Aku menantikannya. Jaga dirimu. Aku mencintaimu." Ujar Miccha berpisah dengan Gant.


Gant mulai berpisah dengan Miccha di rumahnya lalu bergegas pergi. Berlanjut pada Rumah Xion, dikala Risu tak bisa pulang karena seluruh keluarganya menginap di rumah kakek dan neneknya, Xion masih terjaga sembari melihat keluar jendela dibanding Risu yang tidur lebih dulu.


"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Risu secara tiba-tiba dengan mata yang masih tertutup.


"Karena pikiranku berputar mengkhawatirkan anak laut itu." Balas Xion sembari menatap langit kamarnya.


"Sebuah kebetulan. Kurasa Karu juga meruntuhkannya." Lanjut Risu.


"Pria yang berdansa dengannya? Kau mengenalnya?" Tanya Xion melihat Risu.


"Tidak terlalu. Namun, dia sangat dekat dengan Karu. Bahkan mampu membentuk senyum di wajahnya." Balas Risu.


"Begitu. Anak itu kehabisan keberuntungannya dari yang kuduga." Ujar Xion.


"Akupun tak mengerti, dengan apa yang di inginkan Ard pada Karu." Lanjut Risu sembari mencengkeram bedcover.


"Jika dia meneruskannya, kurasa petaka bisa menyambutnya dengan tak terduga." Lanjut Xion.


"Kuharap itu tak terjadi." Balas Risu dengan cemasnya.


"Ada yang kau pikirkan saat ini?" Tanya Xion sembari melihatnya.


"Dia. Kuharap ia kembali." Balas Risu melanjutkan tidurnya.


"Kau justru membahasnya. Padahal itu berbahaya untukmu." Gumam Xion sembari menghela nafas.


Malam yang dingin dan panjang berlalu. Waktu telah berganti fajar dengan hangatnya. Waktu menunjukkan pukul enam pagi, Ard bangun lebih dulu dikala Vicchy masih tertidur lelap sembari menyiapkan sarapan untuk Vicchy.


Seusai dia menyiapkannya, Ard menuju kasur dan naik perlahan sembari duduk bersila disebelah Vicchy. Dikala Ard menunggu, mata Vicchy terbuka perlahan dan mengusap matanya. Vicchy pun merasakan sesuatu dengan berbalik dan melihat Ard.


"Apa yang kau lakukan saat ku tidur?" Tanya Vicchy dengan sinisnya.


"Mungkin, memainkan seluruh tubuhmu." Balas Ard dengan senyum tipisnya.


"Orang dengan senyum bodoh di wajahnya, tak akan berani melakukannya." Bantah Vicchy akan kebohongan Ard sembari memiringkan kembali tidurnya.


Ard yang sedang bergurau, seketika membalikkan posisi Vicchy menjadi telentang dan menghadang Vicchy di atasnya. Vicchy pun terkejut sembari menanyakan hal konyol yang dilakukan Ard.


"Ard. Apa yang kau lakukan?" Tanya Vicchy dengan heran.


"Tak akan berani, ya? Kau yakin kalimatmu tepat?" Tanya Ard sembari memegang dagunya dan mendekatkan sedikit wajahnya.


"Ard? Jangan lakukan ini. Kau bergurau, bukan?!" Tanya Vicchy semakin khawatir.


"Bergurau? Hal itu tak ada di kamusku." Lanjut Ard sembari memainkan dagu Vicchy.


"Ard... kau membuatku takut!" Seru Vicchy meronta.


"Hahahahaha! Lain kali berhati-hatilah jika berbicara. Cepat isi perutmu." Balas Ard menjauhi Vicchy menghentikan guraunya.


"Ard! Kau yang terburuk!" Seru Vicchy dengan kesal dan terbangun.


"Jika kau ingin mandi, baju ganti sudah kusiapkan." Ujar Ard sembari membasuh piring.


"Kau ini... tak perlu repot-repot melakukannya. Dasar." Gumam Vicchy mengambil setelan baju dan bergegas mandi.


Seusainya, Vicchy menikmati sarapan dengan Ard dan berbincang banyak hal. Vicchy yang sudah puas, berpamitan dengannya.


"Terima kasih. Maaf menyebabkan masalah padamu." Ujar Vicchy dengan sedikit termenung.


"Sudah kubilang itu tak jadi hal besar." Balas Ard sembari menyentil keningnya.


"Ugh! Baik! Baik! Jaga dirimu." Lanjut Vicchy.


"Begitu pula denganmu. Bergegaslah. Mereka pasti khawatir padamu." Ujar Ard.


"Uhm. Aku pergi dulu." Balas Vicchy bergegas pulang.


Vicchy telah berpamitan dengan Ard dan mulai melakukan rencana kegiatannya. Ard berlanjut mengambil CyPhone dan meminta bertemu dengan Dyenna perihal hal yang dibahas. Dyenna pun sudah menantikan hal tersebut dan merasa lega akan informasi dari Ard.


"Kau tak apa dengan waktu sekarang?" Tanya Ard dengan khawatir.


"Begitu. Terima kasih, aku berhutang padamu." Lanjut Ard dengan senyum tipisnya.


"Bodohnya. Kau mengabaikanku yang seharusnya memiliki hutang padamu." Bantah Dyenna.


"Hutangmu lunas saat menemukannya. Jika begitu, berhati-hatilah." Ujar Ard mengakhiri panggilan.


Ard mengambil cuti dari pelabuhan dan segera menemui Dyenna di Jalur Sungai Exgalya. Masing-masing dari mereka terpikirkan hal yang mengganggu dalam perjalanannya.


Terlebih Dyenna sedang berada di CyRail, merasakan kembali penasaran dan khawatirnya dengan apa yang akan terjadi ketika memberikan serpihan tersebut. Dyenna melihat beberapa kali pada toples yang berisi salah satu butiran Summer Sparking.


"Benda bersinar dan indah seperti ini, justru membuat petaka?" Tanya Dyenna dalam hati.


"Keberuntungan luar biasa. Hal yang didapati Dyenna bukanlah omong kosong. Dia mendapat langkah pertama untuk menenangkan jiwa mereka sebelumnya. Sisanya adalah tindakan ini hingga akhir." Ujar Ard dalam hati.


Ard pun dalam perjalanan menggunakan CyHovernya dan sepintas melewati Hikky yang sedang berjalan kaki di Area Distribusi Gal. Hikky yang melihatnya, merasakan sesuatu tak biasa dikarenakan Ard tampak tergesa-gesa dalam mengendarainya.


"Azzel? Tidak biasanya dia setajam itu. Kurasa sesuatu terjadi." Ujar Hikky dalam hati akan penasarannya.


Seketika, Hikky menunda latihan karena terpaku pada Ard dan mengikutinya. Dia pun langsung berlari ke Cyber Transport State dan melakukan penyewaan.


"CyMotoBike untuk 1 orang dan sekali pakai." Ujar Hikky pada Android sembari menunjukkan DIGI-ID nya.


"1 CyMotoBike. Hikky. Gal. Kode ID 071569-FR. Terkonfirmasi." Balas Android sembari menyerahkan Cyber Cubenya.


Hikky yang sudah menerima Cyber Cube langsung keluar dan melemparnya ke depan. CyMotoBike dengan segera terbentuk dan Hikky langsung mengendarainya menyusul Ard. Hikky membuka Cyber Maps pada CyMotoBike dan menyalakan kemana Ard pergi.


"Perasaan apa ini? Sialan." Gumam Hikky dalam perjalanannya.


Ard yang sampai di Area Sungai Gal, telah ditunggu oleh Dyenna ditempat sebelumnya.


"Maaf membuatmu menunggu. Tak apa?" Tanya Ard dengan khawatir.


"Uhm. Sepertinya... benda ini benar-benar membuatku takut. Mengingat itu terjadi padanya." Balas Dyenna sembari menyerahkan toples.


"Begitu. Terima kasih sudah menjaganya. Aku tak menyangka ini masih bertahan dan membuatku penasaran bagaimana dia akan hilang?" Balas Ard sembari bertanya dalam dirinya.


"Tak apa. Aku senang bisa membantu." Balas Dyenna sembari menunjukkan senyum canggungnya.


Dikala Ard sedang berbincang kecil, Hikky sampai di lokasi dan melihat sekitar. Dari arah jembatan, Hikky melihat Ard duduk bersebelahan dengan seorang gadis. Hikky pun semakin penasaran dan menghampiri Ard sembari menonaktifkan CyMotoBike sewaannya.


"Azzel?" Panggil Hikky dari belakang Ard.


"Hikky? Kenapa kau disini?" Tanya Ard dengan heran.


"Azzel? Siapa? Ard?" Tanya Dyenna dalam hati dengan bingung.


"Maaf. Tiba-tiba aku merasa cemas ketika melihatmu terburu-buru. Seketika aku berpikir dengan apa yang sebenarnya terjadi." Balas Hikky dengan canggung.


"Ah, Hikky. Aku sungguh mohon maaf membuatmu seperti ini. Hanya perihal Cyber Dog nya mengalami malfungsi." Balas Ard kembali berbohong pada Hikky.


"Tragisnya." Gumam Hikky dengan cemas.


Hikky yang mendengar berita dari Ard, membuka D-Bagnya. Kemudian, ia mengambil Cyber Pass dan memberikannya pada Dyenna. Dyenna berusaha menolaknya namun dipaksa oleh Hikky.


Dyenna merasa keberatan akan kebohongan terpaksa dari Ard. Ia pun hanya bisa menerimanya dengan berat hati. Ard yang melihat alur tak sesuai ekspektasinya, mempersiapkan diri akan resikonya.


"T-Terima kasih... Itu..." Balas Dyenna dengan bingung akan namanya.


"Hikky. Alya." Lanjut Hikky dengan ramah.


"Ah, 1 bagian denganku. Dyenna, Alya." Ujar Dyenna dengan senyum canggungnya.


"Dyenna." Balas Ard sembari mengeluarkan Cyber Prism nya dan memberikannya pada Dyenna.


"Ard? Kenapa?" Tanya Dyenna dengan bingung.


"Ard?" Sanggah Hikky sembari bertanya dengan bingung.


"Ah, aku lupa memberi tahumu. Itu panggilan lamaku." Balas Ard sembari menengok Hikky.


"Oh... begitu." Gumam Hikky.


"Maaf, Dyenna. Kau bisa pulang dengan CyHoverku. Terima kasih banyak." Ujar Ard.


"Uhm, tentu. Jika begitu, aku selesai disini. Hati-hati." Balas Dyenna sembari mulai pergi.


Mereka yang masih berada di lokasi, membuat Ard memberikan Cyber Prism pada Hikky. Ard meminta Hikky untuk kembali dikarenakan urusannya telah selesai. Hikky melihat ke arah toples yang di genggam Ard, dibantah olehnya.


Ia mendapati permintaan Ard dan tak bisa memikirkan hal lebih untuk menerima tawaran Ard. Ketika Ard tersisa seorang diri, dia mendapati getaran pada CyPhonennya.


"Dimana?" Tanya Hiruma dalam perjalanannya.


"Area Sungai Gal. Kau siap?" Tanya Ard memastikan Hiruma.


"Sejak awal. Aku segera kesana." Balas Hiruma menutup panggilannya.


Seusainya, Ard menunggu kedatangan Hiruma. Empat menit berlalu, Hiruma tiba dengan CyLimo dari arah yang sama ketika Dyenna datang. Ard langsung masuk dan bergegas pergi dengan Hiruma menuju tempat tertutup.


Hiruma yang menerima toples dari Ard, seakan tak percaya bahwa itu masih bertahan dan tidak lenyap. Misteri mereka semakin bertambah akan kemampuan serpihan yang tak banyak mereka ketahui.


"Kau belum menyentuhnya sama sekali?" Tanya Hiruma dengan heran.


"Belum. Itu seakan membuatku takut pada benda mungil ini." Balas Ard dengan nada seriusnya.


"Jika dilihat dengan teliti, serpihan ini bisa bertahan ketika bersentuhan dengan objek fisik. Kau tak memikirkannya?" Balas Hiruma sembari bertanya kembali.


"Aku hanya ragu. Kau ingin mencobanya?" Sanggah Ard melempar tanya pada Hiruma.


Dengan perlahan, Hiruma membuka toples tersebut. Dengan perlahan juga, Hiruma menuangkan serpihan itu pada telapak tangannya. Sesuai dugaan Hiruma, serpihan tersebut tidaklah hilang ketika disentuh oleh kontak fisik. Ard yang melihatnya merasa lebih lega dan khawatir disaat bersamaan.


"Ketika dirasakan, benda ini sangatlah lembut dan hangat. Dia tak bisa hancur karena terbuat dari cahaya." Ujad Hiruma akan opininya.


"Bisa tersentuh, namun tak bisa hancur? Misteri ini semakin mengerikan untuk diselesaikan." Keluh Ard dengan guraunya.


Ard dan Hiruma semakin penasaran dengan apa sebab di dalamnya hingga dapat membentuk benda berbahaya tersebut.