From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 34 : Merah Muda yang berkilau



Seusai pekerjaan Hiruma di hutan, ia beristirahat di Villa sembari mengisi waktu senggang dengan menelepon Willy. Willy yang baru keluar dari toilet, kembali mendekati meja kerja.


"Aaah~ setoran terbaik bulan ini. Hmm? Hiruma? Halo-halo~ ada apa~?" Tanya Willy menerima panggilan.


"Hei. Bagaimana cara berurusan dengan seorang gadis?" Tanya Hiruma pada intinya.


"Gadis? kenapa?" Balas tanya Willy sembari terkejut.


"Seseorang melamarku. Aku tak bisa mengurusnya." Ujar Hiruma.


"Mela--! Pfft! HAHAHAHAHA!" Balas Willy sembari tertawa lepas mendongakkan kepala.


"Aku tak sedang mengadakan sirkus disini." Lanjut Hiruma sembari memejamkan mata sesaat.


"HAHAHA! HA-- Maaf-maaf. Sialan. Tak kusangka kau sama seperti Ard." Ujar Willy menahan tawa.


"Ard? Apa yang terjadi?" Lanjut tanya Hiruma merubah topik.


"Itu akan jadi perbincangan panjang. Kita bahas nanti. Akan kusiapkan tempatnya sekaligus menyelesaikan ini. Sudah." Ujar Willy sembari menutup panggilan.


"Kurasa sebuah kesalahan sekaligus keberuntungan bertanya padanya. Lagi, Ard?" Gumam Hiruma mencoba untuk beristirahat.


Musim Panas berlanjut dengan teriknya. Warga yang sedang beraktifitas di sekitaran kota, memulai obrolan masing-masing.


"Hei. Kau ingat ini sudah Musim Panas?" Tanya salah seorang ibu tua berusia 55 tahun sembari berbisik.


"Gawat! Aku tak menyadarinya karena begitu cepat." Balas ibu muda berusia 35 tahun sembari memegang belanjaan.


"Ah, sial. Apakah akan terjadi lagi? Jika terus seperti ini, tak akan ada yang mau untuk keluar rumah dan festival." Lanjut ibu tua dengan cemas dan tertunduk.


"Sampai sekarang, aku tak mendengar kabar dari para ahli. Entah apa saja yang didapat." Keluh ibu muda.


"Astaga... apa yang sebenarnya terjadi di kota ini? Jika ini berlanjut, tidak hanya mereka takut keluar rumah. Mereka juga akan pergi dari Exgalya." Lanjut ibu tua.


"Terlebih ini terjadi mendadak dan tidak sedari dulu. Sepertinya kita mendapatkan karma karena terlalu banyak berdosa." Lanjut ibu muda dengan pesimisnya.


"Apa yang kau bicarakan?! Kota Exgalya penuh dengan orang baik. Jangan menilai orang sembarangan. Dasar." Bantah ibu tua sembari berjalan pergi.


"E-Eh?! Aku... salah bicara... , ya?" Tanya ibu muda dengan cemas.


Ketika Hiruma sedang mengistirahatkan diri di lab, ia mendapati tamu tak diundang di luar Villa. Dengan segera, Hiruma mempersilahkan Gant masuk sembari menonaktifkan keamanannya. Dan Gant langsung menemui Hiruma di lab.


"Sangat melelahkan, bukan?" Tanya Gant sembari bergurau.


"Begitulah. Staminamu tampak bagus hingga bisa kemari." Ujar Hiruma.


"Jika keadaanku sedang bagus, bukan hal besar hingga bisa repot-repot kemari." Balas Gant sembari tersenyum tipis.


Hiruma dan Gant mulai berbagi informasi yang mereka miliki.


"Kau sudah menemukannya?" Tanya Hiruma sembari duduk.


"Aku hanya mendapatkan senjatanya. Itupun berpindah-pindah pemilik ketika kuselidiki." Balas Gant sembari memberikan koper berwarna perak.


"Begitu. Apa yang terjadi dengan berkasnya?" Lanjut tanya Hiruma sembari menerima koper.


"Pemilik meja itu tak mendapati apapun didalam laci. Itu semakin menguatkan dugaanku bahwa ada yang bergerak selain kita." Balas Gant sembari sedikit bersandar dan menyilangkan kedua lengan.


"Aku mengerti. Keberuntungan kita berakhir disini untuk sementara waktu. Setidaknya, berkatmu kita memiliki satu pijakan lain." Lanjut Hiruma sembari membuka koper dan mengeluarkan senjata tersebut.


Hiruma pun melihat senjata itu dengan seksama. Sebuah senjata berbentuk pistol berukuran besar berwarna perak dan garis biru dengan energi Plasma terkandung didalamnya.


Hiruma yang merasa penasaran dengan kekuatan pistol tersebut, mengambil contoh serpihan Summer Sparkle dan menaruhnya di lantai, beberapa meter ke samping dari meja kerja dan Gant berdiri. Ia mempersiapkan diri dengan membidik dan menekan pelatuk sembari terkejut dengan apa yang akan terjadi.


Seketika, Hiruma terpental kebelakang beberapa meter bersamaan dengan pistol yang terlempar ke udara karena terlepas akan hentakan keras. Hingga Gant menyempatkan diri menyelamatkan Hiruma untuk meminimalisir benturan.


"Ugh!" Gumam Gant dan Hiruma menahan benturannya.


"Hiruma... kau lebih berat dari yang kuduga... Ugh..." Ujar Gant sembari mencoba untuk bangun.


"Maaf. Ugh... kurasa langsung saja untuk membongkar isinya." Ujar Hiruma sembari bangun dan membantu Gant.


Seusai berdiri, mereka terkejut melihat serpihan itu lenyap tak bersisa. Lubang dengan diameter kedalaman sepuluh sentimeter, membuktikan kekuatan pistol tersebut. Hiruma dan Gant tak terlalu menyayangkannya karena sudah mendapati data serpihan.


Selanjutnya, Hiruma mengambil kembali pistol plasma sembari memasukkannya ke tabung untuk mendapati informasi lebih lanjut.


"Senjata ini berlebihan untuk digunakan manusia normal maupun militer. Apa tujuannya menciptakan benda ini?" Tanya Gant dengan heran.


"Tujuan... Pistol Plasma... Summer Sparkle... kurasa aku sedikit mengerti, Gant." Ujar Hiruma mengambil kesimpulan.


"Kau tahu sesuatu?" Tanya Gant sembari melirik Hiruma.


"Kurasa, senjata inilah yang ia gunakan untuk memusnahkan Bunga Cylfagera. Namun, aku tak tahu bagaimana dia bisa bertahan dengan kemampuan ini." Lanjut Hiruma sembari mengetikkan pemograman.


"Memang benar. Belum lagi kasus ini adalah memusnahkannya secara massal. Dan juga, jika dia menggunakannya terus menerus, dia hanya akan merusak tubuhnya sendiri." Ujar Gant sembari menyentuh dagu dengan tangan kanannya.


"Ada dua hal yang menggangguku. Pertama, jika dia melakukannya seorang diri, maka dipastikan dia bukan manusia." Ujar Hiruma akan asumsinya.


"Itulah anggapan kita hingga sekarang. Dia bahkan merubah penampilan dan berbaur dengan Fherlagar secara kebetulan." Sanggah Gant.


"Kedua, Kurasa hal yang mustahil jika dia melakukannya seorang diri." Lanjut Hiruma menghentikan ketikkannya.


"Karena...?" Tanya Gant.


"Asumsiku. Suatu kemungkinan juga dia memiliki keterlibatan dengan orang lain. Karena keberadaannya yang tertutup dan berlangsung sedari dulu." Ujar Hiruma sembari beranjak dari kursi menuju lemari es.


"Bagaimana dengan hutan itu?" Tanya Gant sembari menerima botol soda.


"Tak ada hal khusus dari mayat-mayat yang ada. Misteri ini lebih rumit dari yang kuduga. Kita juga tidak tahu akan motifnya." Balas Hiruma ikut mengambil soda.


"Langkah kita semakin dekat. Namun belum sama sekali untuk kesimpulannya. Ini benar-benar membuatku jengkel." Lanjut Gant sembari membuka penutup botol soda.


"Tenangkan dirimu lebih lagi, Gant. Kita memang harus bergegas, tapi tak boleh terburu-buru agar tak melewatkan petunjuknya. Seringkali kita melewatkan petunjuk yang bahkan ada di depan kita." Bantah Hiruma sembari melirik pistol dalam tabung.


"Bagaimana dengan berkas itu? Haruskah kita merelakannya. Itu barang yang sangat berharga dan berkemungkinan tinggi berisi kesimpulan yang kumaksud." Lanjut tanya Gant sembari menoleh Hiruma.


Seketika, Hiruma teringat akan hal yang diperoleh dari Dewan 1 Galya. Hiruma kembali berpikir sesaat dengan akankah ia melanjutkan keterlibatan Gant dan kawan-kawan pada masalahnya atau tidak.


"Kupercayakan padamu, Gant. Situasi semakin panas dan kurasa tidak perlu membuang segala kesempatan. Tapi jangan memaksakan diri jika tiba saat yang tak memungkinkan. Mengerti?" Balas Hiruma menoleh pada Gant.


"Terima kasih." Ujar Hiruma sembari tersenyum tipis.


"Jika begitu aku pamit. Istirahatlah agar tak tersengat musim panas." Lanjut Gant keluar dari lab dan beranjak pergi dari Villa.


Berpindah pada apartemen, Kamar Ard. Vicchy yang masih terlelap dalam tidur, mendapati getaran pada CyPhone. Seketika, Vicchy terkejut dan terbangun sembari memeriksa CyPhonenya. Ia melihat panggilan dari Paman Kai, pemilik Toko Souvenir Axeru.


"Paman Kai? Ada apa?" Tanya Vicchy sembari mengusap mata dengan kantuk yang membekas.


"Ah, Vicchy. Besok aku akan kembali ke Axeru. Kita kembali membuka toko. Bagaimana kabarmu?" Balas tanya Paman Kai.


"Ahahaha. Aku baik. Terima kasih. Tentu. Aku akan kembali bersiap untuk esok hari." Lanjut Vicchy sembari mengusap mata akan kantuknya.


"Begitu. Baiklah. Jaga kesehatanmu. Sudah." Ujar Paman Kai sembari menutup panggilan.


"Kuharap tak ada hal konyol esok hari. Kurasa aku harus melupakan tanganku untuk Ard juga." Gumam Vicchy sembari melihat tangannya.


Esoknya, Vicchy mulai sibuk akan pekerjaannya bersama Paman Kai. Ketika Vicchy sedang membantunya, Ard berkunjung dengan tiba-tiba beserta senyum lebar yang mengganggu Vicchy.


"Selamat Datang. Kau membolos?" Tanya Vicchy sembari bertolak pinggang dengan raut wajah kesal.


"Aku tak ingat pernah disambut seperti ini. Aku salah apa?" Balas tanya Ard dengan polosnya.


"Salah apa, Gigimu! Apa yang kau butuhkan?" Bantah Vicchy lanjut melayani Ard.


"Kau punya stok Kalung Perak Miko dan Mika?" Tanya Ard sembari melihat-lihat.


"Bukankah seharusnya di tempatmu ada? Kenapa kau jauh-jauh kemari?" Balas tanya Vicchy dengan heran.


"Mereka melarangku memilikinya. Karena aku terlalu dekat dengan Miko dan Mika... Uhuuu~" Keluh Ard sembari berjongkok melihat pernak-pernik.


"Cemburu dengan reptil? Menyedihkan." Lanjut Vicchy dengan tatapan sinisnya.


"Berapa nilai IPA-mu, sialan?" Tanya Ard dengan kesal sembari berdiri.


"...15." Balas Vicchy sembari memalingkan wajahnya.


"Mamalia! MA-MA-LI-A! Lihat kemari! Kupatahkan lehermu sepulang ini." Seru Ard dengan kesal.


"Apa? Kau mulai sombong dengan Nilai Akademismu?! Beritahu nilaimu!" Lanjut Vicchy ikut kesal.


"Oho! 30!" Seru Ard sembari menunjukkan ibu jari kanannya.


"Gigimu! Tak ada yang bisa dibanggakan dengan nilai satu kali diatasku!" Bantah Vicchy dengan kesal.


"Setidaknya aku bisa membedakan ras! Ada apa dengan angka 15 itu?! Kau membolos berapa lama?!" Seru Ard beradu argumen.


Dikala mereka berdebat, Paman Kai kembali dari gudang dan mendengar keributan sedari tadi. Vicchy yang mendapatinya, menahan malu sembari meminta maaf pada Paman Kai.


Ia yang memakluminya, menyuruh Vicchy untuk melayani Ard. Sesuai yang diberitahu Ard, ia mulai mengambilkan salah satu pernak-pernik kalung Miko dan Mika.


"Aaaaahh! Indah sekali! Aku menyayangi mereka!" Seru Ard sembari melihat kilauan kalung di udara.


"Sepertinya aku tak disayang olehnya." Gumam Vicchy sembari memejamkan mata sesaat.


"Kau bilang sesuatu?" Tanya Ard sembari menatapnya.


"Tidak ada. Itu saja?" Balas tanya Vicchy sembari memastikan pesanan Ard.


"Ah, sebentar." Ujar Ard sembari kembali mencari sesuatu.


"Jika kau mencari sesuatu, cukup sebutkan dan akan kubantu mencarinya, Tuan~" Ujar Vicchy dengan sedikit menaikkan nadanya.


"Ah, begitu. Kau punya kalung... bintang laut? Bawakan variasi warna apapun untuk kupilih." Tanya Ard kembali ke hadapan Vicchy.


"Baik, Tuan." Balas Vicchy dengan senyum lebar sembari mencarikan permintaan Ard.


Dengan sigap, Vicchy mengambilkan kalung bintang laut beberapa warna mulai dari merah muda, sian, perak, emas dan ungu orchid. Ketika Ard memilihnya, dia mengangkat kalung bintang laut berwarna merah muda dan segera membelinya. Seusai membayarnya, Ard mengenakan kalung perak Miko dan Mika sembari mulai melangkah keluar.


"Silahkan datang lagi!" Ujar Vicchy dengan ramah.


"Ah! Aku lupa!" Seru Ard kembali masuk ke toko.


"Kau meninggalkan sesuatu, Tuan?" Tanya Vicchy sembari tersenyum lebar.


"Pinjamkan lehermu." Pinta Ard.


"Ha?! Tak diperbolehkan ada kecupan disini, Tuan!" Bantah Vicchy sembari memegang sisi kiri leher dengan kedua tangannya.


"Percaya Dirimu terlalu tinggi, sialan! Cepat kemari!" Seru Ard dengan kesal.


"Jika kau menggigitku, aku akan menuntutmu." Ujar Vicchy.


"Jangan khawatir. Aku lebih suka mematahkan lehermu." Balas Ard.


Vicchy pun memajukan sedikit wajah dan lehernya sembari menahan malu. Dengan segera, Ard mengeluarkan Kalung Bintang Laut berwarna merah muda yang dibelinya. Kemudian, ia memasangkannya ke leher Vicchy. Vicchy yang mendapatinya, menahan malu dan tak bisa berkata-kata untuk sesaat.


"Oke. Cocok sekali." Ujar Ard sembari bertolak pinggang dan mengangguk.


"Ard... apa ini?" Tanya Vicchy dengan terkejut.


"Kau buta, kah? Sebelum matamu kucongkel dan kuganti dengan mata bergaransi." Balas Ard dengan nada kesalnya.


"Aku tahu ini kalung dari sisi manapun! Maksudku kenapa?!" Balas tanya Vicchy ikut kesal.


"Itu... permintaan maafku kemarin. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya. Ah, sial. Otakku panas." Ujar Ard dengan malunya.


"Ini... kau serius...? Terima kasih..." Balas Vicchy ikut malu sembari menggenggam kalung dengan erat.


"Ada apa--" Tanya Paman Kai terpotong.


"AAAAAA!!!" Seru Ard dan Vicchy terkejut.


"AAAAAA!!!" Seru Paman Kai ikut terkejut bersamaan.


Ketika mereka mendapati situasi canggungnya, Paman Kai dengan tiba-tiba menyelip perbincangan, hingga membuat mereka terkejut bersamaan. Paman Kai merasa penasaran dengan situasi mereka yang ramai.


Seusai Vicchy mendapatinya, Ard bergegas kembali ke Gal Aquarium World. Vicchy merasakan hal lebih yang mendorong pompaan hatinya akan pemberian Ard yang tak diduga. Harapan yang ia tanam, mulai menumbuhkan buahnya.