From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 1 : Angin baru Exgalya



1 Januari, 2711. Karu, Risu, Aziru dan Miccha kembali menjalani kuliahnya pada kelas Astronomi di Universitas El Vee yang berlokasi di Kota Exgalya bagian Gal sisi barat.


"Seperti yang kuduga, Profesor Ixa menegurku lagi dengan motivasinya." Ujar Miccha dengan keluh kesahnya.


"Dia menolak tugas bulanan mu? Kurasa kau butuh perubahan, Miccha. Bagaimana denganmu, Karu?" Balas Risu sembari bertanya pada Karu.


"Hmm? Sejauh ini masih aman, ada apa?" Tanya Karu dengan nada kecilnya.


"Kau ini... berusahalah untuk beradaptasi. Aku khawatir padamu sejak awal." Ujar Risu sembari memegang kedua bahu Karu dengan resahnya.


"A-aku mengerti. Selalu kucoba..." Balas Karu dengan gumamnya.


Usai berbincang, Kelas Astronomi pun dimulai pada pagi hari. Miccha yang sudah duduk, berbisik pada Risu dari belakang.


"Hei, Risu. Bagaimana dengan orang yang kau maksud itu?" Tanya Miccha dengan penasaran.


"Dia? Aku belum melihatnya lagi. Kenapa?" Balas tanya Risu dengan nada kecilnya.


"Kurasa dia tertarik denganmu. Kita bahas lain kali." Ujar Miccha dengan tandanya.


Dosen yang sedang menuliskan teori, menghentikan sesaat tangannya sembari melihat Risu dan Miccha yang berlanjut melihat sekitar. Kelas mereka pun selesai pada siang hari dan menjalani waktu senggangnya. Miccha, Risu dan Karu berjalan melewati area Pelabuhan Transport Gal-Alya.


"Sudah kubilang aku tak tertarik!" Seru Risu pada Miccha.


"Jadi... kau memang berkomitmen dengan Xion, ya?" Gurau Miccha pada Risu.


"Miccha!" Seru Risu dengan kesal.


"Hooo~ Jika begitu semoga beruntung. Aku duluan!" Seru Miccha meninggalkan Risu dan Karu sembari menaiki CyBus.


Miccha yang sudah memisahkan diri, membuat Karu memilih ikut dengan Risu menuju Pelabuhan Gal-Alya. Risu berniat menemui Xion yang bekerja di pelabuhan bersamaan dengan Ard. Dikala Xion sedang mengangkuti kotak barang ke gudang bersama Ard, mereka melihat Risu dan Karu.


"Xion!" Seru Risu menghampiri Xion.


"Risu? Kenapa dia kemari?" Tanya Xion dengan heran.


"Bahahahaha! Dasar bodoh. Jelas datang untukmu." Sanggah Ard dengan guraunya.


"Maksudku kenapa sekarang?! Yo, Risu." Bantah Xion sembari menyapa Risu.


"Yo. Karu." Sapa Ard.


"Uhm." Balas Karu dengan angguknya.


"Ahh~ masih sibuk seperti biasa?" Tanya Risu sembari bertolak pinggang.


"Seperti yang kau lihat, hari ini banyak yang berlabuh. Dan selanjutnya mengurusi penangkapan musim ini."  Balas Xion.


"Sepertinya ini memang bukan waktu yang tepat. Jika begitu, berjuanglah. Aku akan menunggu lain waktu." Ujar Risu sembari tersenyum lebar.


"Terima kasih. Aku akan menemuimu nanti. Ayo, Ard." Balas Xion berlanjut mengajak Ard.


"Roooger. Begitu juga denganmu, Karu. See You." Ujar Ard mengikuti Xion.


Xion dan Ard bergegas melanjutkan pekerjaannya dan berpisah dengan mereka. Di perjalanan pulang, saat Risu dan Karu berpapasan dengan Aziru. Aziru yang sedang senggang, mendadak diundang oleh mereka untuk berbincang di suatu tempat dan berniat pergi ke Cafe Zergalya sebagai yang terdekat.


"Satu lagi sasaran Ard pada Karu. Dia tak bisa melepas pandangannya padamu." Gurau Risu sembari menyedot Milkshake Cokelatnya.


"Dia hanya bermain-main saja, tidak lebih. Bahkan aku tak tertarik dengannya." Bantah Karu sembari meminum teh sodanya.


"Kurasa kau naif, Karu. Yah, walaupun dia memang usil bahkan juga tak ada ketampanan pada dirinya, tapi dia tetap orang baik. Begitulah." Balas Risu dengan pendapatnya.


"Jika begitu berhentilah menyangkut pautkannya, Risu." Lanjut Karu dengan kesal.


"Baiklah~ baiklah~. Jadi, ada yang kau temukan dalam penemuanmu, Aziru?" Tanya Risu sembari menopang dagu dengan tangan kanannya.


"Beberapa. Tapi semenjak saat itu aku selalu terpikirkan dan sulit fokus pada tugasku." Balas Aziru menghentikan ketikkan laptopnya.


"Hal apa yang kau khawatirkan?" Tanya Karu penasaran.


"Tragedi tahun lalu. Itu selalu membuatku cemas." Balas Aziru sembari mengerutkan kedua dahinya.


"Tragedi itu, ya? Memang benar, itu adalah hal mengerikan yang pernah terjadi. Dan mereka, maupun kita belum menemukan penyebabnya." Ujar Risu sembari memainkan sedotan pada minumannya.


"Aku sangat menginginkan petunjuk kecil untuk memecahkan tragedi tersebut." Lanjut Aziru sembari memainkan laptopnya.


"Dan yang tak kusangka ialah... sepupuku Elgar sebagai salah satunya." Ujar Risu dengan cemas.


"Kak Elgar?! Sulit kupercaya..." Gumam Aziru.


"Risu, Kak Aziru. Bukankah terlalu cepat jika kita merenung sekarang? Jika memang ingin ditemukan penyebabnya, maka kita harus mengambil langkah tersebut. Bukan seperti ini!" Ujar Karu sembari berdiri dan menghentak meja dengan mendadak.


"Karu..." Gumam Aziru.


"Ah! Maaf!" Balas Karu kembali duduk dan menutup wajahnya.


"Hahaha. Kau ada benarnya, Karu. Nah, Aziru... seperti yang di katakan Karu, kurasa kau terlalu sering mengingatnya. Kita bahkan tidak tahu apakah akan terjadi lagi atau tidak." Ujar Risu sembari menatap Aziru.


"Begitulah. Aku hanya tak bisa melepaskan pikiran ini. Maaf." Balas Aziru.


"Tak apa. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Jay?" Tanya Risu dengan antusias.


"Tahun ini dia belum memberi kabar. Kurasa dia masih tertahan dengan kesibukannya." Balas Aziru sembari melanjutkan ketikkannya.


"Sudah banyak yang berubah semenjak kita lulus SMA. Hingga aku penasaran apa yang akan dibawanya nanti." Lanjut Risu.


"Dan sepertinya kita lupa akan sesuatu. Di luar mendadak hujan." Sanggah Karu sembari melihat kearah jendela.


"Oi oi~ ini sangat mendadak. Kita tidak bisa pulang jika begini." Keluh Risu.


"Kita juga tidak membawa payung. Mau bagaimana lagi..." Ujar Karu.


Di lain tempat, Pelabuhan Perikanan Axeru. Xion dan Ard melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Selepas melakukan penangkapan ikan laut, mereka segera memindahkan muatannya dengan hujan yang mereka abaikan.


"Baik!" Balas mereka bersamaan.


"Huft~ hari ini sungguh Jackpot. Kerang Mutiara, Big Bass, Tuna dan Kakap Merah." Ujar Ard dengan semangatnya.


"Mengenai Jackpot, kurasa ada lagi yang akan datang sebagai Jackpotnya." Sanggah Xion sembari mensortir ikan.


"Apa itu?" Tanya Ard sembari ikut mensortir.


"Dia kembali. Sebagai angin baru." Ujar Xion.


"Dia?! Serius, kah?!" Balas Ard dengan terkejut.


Hujan terus berlanjut membasahi Kota Exgalya di kedua bagian. Xion mendengar kabar Hiruma telah kembali ke Kota Exgalya dan akan menjadi pertemuan yang mengejutkan mereka.


"Kota ini, semakin maju dengan pesat." Ujar Hiruma dalam mobil.


"Sekian lama, akhirnya anda bisa kembali, Tuan Hiruma." Balas supir pribadi Hiruma.


"Perihal insiden tahun lalu, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Hiruma dengan heran.


"Summer Sparkle. Beberapa dari mereka, menghilang secara tiba-tiba seperti serpihan yang bersinar. Mengenai hal tersebut, bahkan para ahli tidak ada yang mengetahui penyebabnya, Tuan Hiruma." Balas supir.


"Hal itu terjadi di Alya dam Gal, bukan?" Tanya Hiruma sembari menengok kaca mobil.


"Benar. Aku harap, orang-orang anda masih ada seutuhnya, Tuan Hiruma." Ujar supir pribadinya.


"Jika mereka yang dimaksud, aku meyakini sepenuhnya." Gumam Hiruma.


Seusai perjalanan panjang, Hiruma sampai di rumahnya. Dia pun bertemu dengan adik dan teman terdekatnya, Mashu dan Ikky


"Selamat datang, Kak Hiruma. Lama tak bertemu." Sapa Mashu sembari memutar kursi kantor milik Hiruma.


"Yo~ Hiruma. Akhirnya kau kembali." Sapa Ikky.


"Aku lega kalian tampak sehat dan semakin dewasa." Balas Hiruma sembari menaruh barangnya.


"Yah... Semenjak kau di luar kota dan tak kembali selama 3 tahun. Kita mendapati hal mengerikan tahun lalu." Ujar Mashu sembari memutar kursinya mengarah jendela.


"Summer Sparking. Apa kau berpikir hal itu terjadi secara alami?" Sanggah Hiruma.


"Sampai sekarang, kita tak mendapat petunjuk yang meringankan keadaan. Namun, kita bisa menduga sementara waktu jika itu alami." Balas Ikky.


"Setelah semua ini, hal di luar nalar bahkan bisa terjadi. Tapi, yang tak kumengerti adalah mereka menghilang seperti terpilih." Lanjut Hiruma.


"Itu tidak memungkinkan, Kak Hiruma. Bukankah lebih tepatnya hal tersebut terjadi secara acak?" Bantah Mashu.


"Aku tak memiliki kunci yang lain. Aku akan mencobanya seusai pemilihan besar ini." Ujar Hiruma mendekati jendela.


"Itu benar, kau akan menjadi Walikota Exgalya. Dengan begitu, kau memiliki kesempatan melakukannya. Kuharap, tahun ini tak terjadi." Balas Ikky.


Di lain tempat, Pelabuhan Perikanan Axeru. Xion dan Ard telah selesai dengan pekerjaannya pada senja hari.


"Wooogh~ lebih segar dari yang kuduga!" Seru Ard sembari menggosok rambutnya dengan handuk seusai mandi.


"Kurasa hari ini adalah hari baik selanjutnya." Ujar Xion.


"Xion! Ard! Kerja bagus hari ini!" Seru Kepala Nelayan Axeru sembari mendekat menyerahkan hasil Xion dan Ard.


"Yo~ Kapten. Terima kasih. Hari ini memang yang terbaik." Balas Ard sembari menerima D-Cash.


"Terima kasih juga, Kapten." Lanjut Xion.


"Jika begitu, nikmati waktu kalian!" Seru kapten sembari berjalan pergi.


"Baik!" Seru mereka bersamaan.


"Oi, Xion! Sudah reda!" Seru Ard melihat sekitar area luar.


"Semakin baik. Bagaimana jika ke Paman Zekko lebih dulu?" Tanya Xion sembari mengajak Ard.


"Ide bagus. Ayo!" Balas Ard dengan semangat.


Hujan pun telah reda dan membuat mereka kembali menjalani aktifitasnya. Risu, Karu dan Aziru juga melanjutkan langkahnya keluar ketika melihat hujan telah reda. Waktu yang menunjukkan pukul tiga sore, membuat mereka memutuskan untuk berpisah saat ini. Kembali pada Xion dan Ard yang berada di Kedai Paman Zekko, mereka pun memulai obrolannya.


"Seperti yang kuduga, Hiruma akan menjadi angin baru untuk Kota Exgalya." Ujar Xion meminum es serutnya.


"Benar sekali. Dan ingin rasanya kubelikan kacamata baru untuk si empat mata itu." Lanjut Ard sembari menikmati daging sapi goreng jumbonya.


"Dan menurutmu, dia bisa menyelesaikan insiden tahun lalu?" Ujar Xion sembari bertanya-tanya.


"Untuk Si Jenius Mata Empat itu tak akan mudah, Xion. Tapi, untuk orang seperti dirinya, hal itu bisa menjadi mungkin." Lanjut Ard.


"Jika kau tak memegang kata-katamu, tangkap Big Bass selama seminggu." Sanggah Xion sembari menantang Ard.


"Setuju! Dan untukmu, lima puluh kerang mutiara dalam seminggu, Tuan Otot." Lanjut Ard dengan pertaruhannya.


Hari berlanjut hingga malam hari. Ard memutuskan pulang dan berpisah dengan Xion. Di perjalanan nya yang cukup gelap, Ard tidak begitu fokus hingga bertabrakan dengan seseorang berjubah putih layaknya seorang dokter saat melakukan belok ke kanan perempatan gang.


"Ah, maaf! Aku tak fokus melihat jalan." Ujar Ard pada orang tersebut.


"Ah, tidak. Aku lah yang melamun. Maaf. Permisi." Balas pria tersebut dan lanjut pergi.


"Kurasa tempat ini lupa disentuh oleh mereka." Gumam Ard.


Setibanya Ard di kamar apartemennya, ia merebahkan diri pada kasur beberapa saat.


"Hoaaah~ lelahnya~. Begitu banyak hal baik hari ini. Tapi, terasa kurang karena dia yang belum kugapai." Gumam Ard sembari memandang langit kamar.


Malam dingin yang menyelimuti Kota Exgalya, berlangsung cukup panjang. Fajar yang tiba masih menyisakan dingin dari semalam. Ard yang baru keluar dari apartemennya pada pagi hari, merasakan getaran pada ponsel disakunya akan sebuah pesan yang tak dikenal.