From Grey To Red

From Grey To Red
BAB 7 : Api di puncak



"Begitu. Baiklah. Aku akan menemanimu." Balas Ard sembari membungkus buah dan sayurnya.


"Azzel... terima kasih!" Seru Hikky.


"Jadi, apa yang ingin kau lakukan lebih dulu?" Tanya Ard usai dengan belanjanya.


"Bisa kita berbincang di tempat biasa?" Pinta Hikky.


"Roger." Balas Ard.


Hikky mengajak Ard menuju taman, tempat ia berlatih tenis seperti biasa. Hikky pun mengajak Ard bermain tenis sembari berbincang akan hal yang dipintanya.


"Azzel!" Seru Hikky dengan posisi berlawanan pada lapangan.


"Apa?" Seru tanya Ard dari kejauhan.


"Jika aku menang, aku ingin meminta sesuatu darimu!" Lanjut Hikky.


"Katakanlah!" Seru Ard.


"Jika aku menang... bantu aku mendapatkan Karu! Seusai pertandinganku!" Seru Hikky akan permintaannya.


"Roger!" Balas Ard memulai pukulannya.


Ard dan Hikky mulai latih tanding dalam tenisnya. Ard terus memblokir pukulan Hikky dan tampak tak mengizinkannya mencetak skor, begitupula sebaliknya. Pertandingan terus berlanjut dengan skor dua sama.


Hingga Ard memikirkan sesuatu untuk bagian akhirnya. Ard mengelabuhi Hikky secara diam-diam dengan cara membiarkan Hikky mencetak angka secara sengaja. Hikky yang mencetak skor tiga dua dengan Ard merasa puas tanpa mengetahui niat Ard.


"Seperti yang kuduga. Kemampuanmu memang siap untuk sekarang." Ujar Ard sembari memutar bahu kanannya.


"Tidak. Aku butuh lebih dari ini. Terima kasih, Azzel." Balas Hikky.


Ard dan Hikky beristirahat di bangku luar lapangan yang sejuk. Hikky melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Karu saat memberi minumannya.


Hikky mulai mengatakan segala hal mengenai Karu. Ard yang mendengarnya bisa memahami bahwa yang Hikky rasakan ialah ia ingin melepaskan segala keraguannya pada Karu baru-baru ini. Dengan tekadnya, Hikky memohon sekali lagi atas bantuan Ard.


"Pada intinya, kau benar-benar menyukai Karu. Dan, apa yang membuatmu merasa seperti itu?" Tanya Ard dengan senyum tipis sembari meminum minumannya.


"Sifat dan senyumnya. Dia benar-benar menarikku. Dan aku tak ingin melepaskannya." Balas Hikky dengan tertunduk.


"Hooo. Yah, aku yakin kau akan berhasil. Tapi, hanya sedikit saranku padamu. Jangan melakukan hal di luar otakmu. Cukup katakan segala isi hatimu, tanpa kekerasan dari ambisimu." Ujar Ard kembali minum.


"Azzel... kau pernah merasakan ini sebelumnya?" Tanya Hikky penasaran.


"Hahahaha. Tidak. Itu hanya saran dari ayahku. Karena pada dasarnya dia adalah seorang gadis yang rapuh dan pemalu jika aku melihatnya." Lanjut Ard.


"Begitu, ya? Uhm." Gumam Hikky sembari mengangguk.


"Yang kutahu hanya itu. Sisanya adalah tindakanmu untuk selalu lembut padanya." Pinta Ard kembali.


"Aku mengerti. Terima kasih sudah mau mendengarkan. Keraguanku sudah hilang sekarang." Balas Hikky dengan semangatnya sembari berdiri dari bangku.


"Tak masalah. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Tanya Ard sembari merentangkan kedua tangannya pada bahu bangku.


"Tidak. Sisanya aku akan melakukannya dengan keyakinanku sendiri." Lanjut Hikky.


"Begitu. Jika sudah, aku pamit lebih dulu. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan." Ujar Ard sembari berdiri.


"Ah, maaf! Aku lupa menanyakan waktumu dan menggunakannya seenakku." Balas Hikky dengan canggung.


"Hahahaha! Tak perlu secanggung itu. Aku pergi dulu." Lanjut Ard sembari beranjak pergi.


Ard yang usai berbincang dengan Hikky, melanjutkan langkahnya untuk menaruh belanjaan lebih dulu sebelum pergi ke Pelabuhan Gal-Alya.


Suasana dingin dan basah, berganti cerah dan hangat. Setibanya di apartemen dan menaruh belanjanya, Ard langsung berangkat dengan segera. Ketika ia berjalan, terdengar deruan lembut berupa CyMotobike yang dikendarai Xion.


Xion langsung menyapa dan menawarkan Ard untuk ikut dan berangkat bersama. Dengan singkat, mereka tiba di pelabuhan dan berbincang kecil.


"Tak kusangka. Itu milikmu?" Tanya Ard sembari berjalan bersama Xion menuju gudang.


"Tepat. Tabungan terbaikku, kulimpahkan untuk si tampan itu." Balas Xion dengan bangga.


"Seperti yang kuduga, Penjaga Laut Dalam Gal-Alya." Lanjut Ard dengan guraunya.


"Kau menyebutku Kraken?!" Tanya Xion dengan kesal.


"Kenapa kau justru merasa?! Aku tak menyebutmu itu!" Balas Ard sembari mengunci kepala Xion.


"Jika kalian punya tenaga untuk bergulat, sumbangkanlah untuk disini." Sanggah Paman Zaunt.


"Pagi, Kapten !" Sapa Ard dengan semangat.


"Lepaaaas ! Aye, Sir !" Seru Xion sembari hormat.


"Aku suka semangat kalian berdua. Lanjutkanlah." Balas Paman Zaunt sembari beranjak pergi.


Ard dan Xion kembali memulai pekerjaannya. Dikala para warga mengisi kesibukkan di Kota Exgalya, berita hangat ditampilkan secara massal.


Hiruma, telah dinobatkan sebagai Walikota Exgalya. Setelah pemilihan panjang, berita tersebut mengejutkan mereka sekaligus membuat lega.


"Ambisi dan kejeniusan yang luar biasa, Hiruma." Ujar Gant.


"Mata empat sialan. Dia akhirnya berhasil. Oi! Xion! Bersiap dengan taruhanmu!" Seru Ard sembari mengangkuti barang.


"Dia akhirnya berhasil. Selamat Kak Hiruma." Gumam Karu.


"Waw. Kak Hiruma memulai misinya sekarang." Ujar Risu sembari mengupas apel.


"Dengan begini, dia bisa kusuapi dengan produk baruku." Ujar Willy sembari menghentikan desainnya.


"Yahuuu! Hiruma sukses besar!" Seru Miccha.


"Dia akhirnya menang. Selamat, Kak Hiruma." Ujar Fhay sembari tersenyum tipis dan memakan donat.


"Dia berniat memegahkan Festival Budaya di El Vee?! Kejutan mu tak baik untuk jantung!" Seru Ard sembari berniat melempar


CyPhonenya.


"Oi! Tahan! Sayangi CyPhonemu!" Seru Xion sembari menahan Ard melempar Cyphonenya.


"Risu, Aziru, Karu. Jika kau melihat ini, Maka ini adalah yang terbaik!" Seru Miccha dengan girangnya.


"Jika kabarnya seperti ini, aku akan datang lagi." Ujar Gant sembari menopang pipi kanannya.


"Akan kumanfaatkan kekuatan barumu, Hiruma." Ujar Willy sembari melanjutkan desainnya.


"El Vee... itu berarti... bulan depan?!" Ujar Karu dengan terkejut.


"Apa mataku salah melihat? Pesta Dansa?! Mata empat sialan!" Seru Ard.


"Kejutanmu memang yang terbaik, Hiruma." Ujar Miccha.


Hiruma yang telah tiba di Villa, turun dan bergegas masuk sembari disambut oleh para penjaga pribadinya.


"Mulai sekarang, aku berterima kasih untuk kalian semua. Dan mohon kerjasamanya." Sapa Hiruma dengan hangat.


"Baik, Tuan Hiruma!" Seru seluruh penjaga pribadinya.


Seusai penyambutan, Ketika Hiruma sedang menuju ruang kerjanya, ia diikuti salah satu penjaganya hingga membuat Hiruma penasaran dan menengok kebelakang.


Agen tersebut memberitahu sebuah kabar angin akan seseorang yang menargetkan Hiruma. Hiruma yang mendapati laporan tersebut, siap untuk mewaspadainya. Di lain tempat, Pelabuhan Axeru, Ard kembali selesai lebih dulu.


Ketika ia sedang berjalan untuk pulang melewati jalur Toko Buah dan Sayur Paman Zaunt, langkahnya terhenti oleh seseorang di depan toko. Ketika dilihat lebih dekat, yang menunggunya tidak lain ialah Hikky.


"Yo, Azzel. Ada hal yang lupa kutanyakan padamu." Sapa Hikky.


"Tentu, apa itu?" Tanya Ard.


"Waktumu luang? Bisa kau menemaniku menemui Karu?" Pinta Hikky.


"Sesuai janji. Tentu." Balas Ard sembari masuk kedalam toko dan membeli souvenir buah.


"Terima kasih. Itu membuatku lega." Lanjut Hikky.


"Hahahahaha. Tak perlu canggung. Biasakan dirimu." Sanggah Ard.


"Ah, baik. Ayo." Balas ajak Hikky.


Ard dan Hikky mulai bergegas menuju Rumah Karu. Sesampainya di sana, Hikky mengkonfirmasikan ID nya pada Karu yang berada di rumah. Seusai Karu mengizinkannya, Hikky dan Ard masuk ke dalam dan menuju kamar Karu.


Ketika mereka masuk ke kamarnya, Karu terkejut dengan kedatangan Ard yang lupa disebutkan oleh Hikky.


"Yo. Karu. Bagaimana dengan kakimu?" Tanya Hikky sembari duduk dekat kasurnya.


"Uhm... baik. Hanya saja aku masih merasakan nyeri didalamnya." Balas Karu sembari sedikit menggerakkan kaki kirinya.


"Ah, ini Azzel. Maaf aku lupa menyebutkannya. Tak apa?" Tanya Hikky dengan khawatir.


"Tak apa." Balas Karu dengan angguknya.


"Maaf mengganggu, Aku Azzel. Salam kenal, Karu." Sapa Ard kembali berbohong memainkan perannya dan tersenyum tipis.


"Uhm. Salam kenal juga." Balas Karu dengan canggung.


"Ah, Karu? Kau demam? Suaramu tampak berat." Sanggah Hikky memeriksa kondisi Karu.


"Tidak. Tak apa, Hikky. Aku masih sehat." Balas Karu dengan senyum tipisnya.


"Uhm. Begitu. Syukurlah. Uhh??" Lanjut Hikky sembari merasakan getaran pada CyPhonennya.


Hikky yang mendapati pesan darurat, meminta izin untuk segera bergegas akan hal mendadaknya. Karu pun memaklumi hal tersebut untuk mengizinkan Hikky dan ia segera pergi.


Ard yang tersisa bersama Karu, menaruh keranjang berisi buah-buahannya dekat kasur Karu dan berniat untuk pamit.


"Tunggu." Ujar Karu.


"Hmm?" Gumam Ard sembari berbalik.


"Kenapa... kau melakukannya sejauh ini? Dendam apa yang kau punya, Ard?" Tanya Karu menahan rasa kesalnya.


"Aku tak pernah berani menaruh dendam padamu, ataupun rasa negatif lainnya, Karu." Balas Ard dengan senyum tipisnya.


"Lalu... kenapa?!" Bantah Karu sembari menggerakannya kakinya secara paksa ke pinggir kasur dan berniat akan berdiri.


"Karena dia menyukaimu sepenuhnya, Karu." Lanjut Ard akan kebenarannya.


Karu yang larut dalam kesalnya, memaksakan kakinya untuk turun dari kasur dan melesat pada Ard sembari menjatuhkannya bersamaan dengan dirinya.


Ard yang berada di bawah Karu dengan posisi ditindih, hanya bisa terdiam menunggu respon Karu.


"Jika begitu... bukan seperti ini kau melakukannya! Kau justru membunuhku perlahan!" Seru Karu dengan puncak emosinya.


"Karu..." Gumam Ard.


"Kau menipu Hikky! Kau mempermaikan perasaannya! Hanya karena agar dia bisa menyampaikannya padaku?! Jangan bercanda!" Seru Karu.


"Aku serius." Balas Ard dengan senyum tipisnya.


"Kumohon... hentikan sandiwaramu ini... inilah kenapa aku membencimu, Ard. Kau pria yang penuh kebohongan. Dan itu menyakitkan untukku." Lanjut Karu dengan isak tangisnya sembari mencengkeram baju Ard.


"Dan itulah kenapa aku menjaga jarak darimu. Karena sifatku ini, kau justru tersakiti." Sanggah Ard.


Karu yang mendengarnya, seketika menampar Ard dengan keras pada pipi sebelah kirinya beserta tatapan tajamnya. Suasana yang merekat pada Ard dan Karu menjadi terbakar karena Karu sudah berada di puncak emosi, akan perasaannya pada Ard.