
Empat hari sesudahnya, Universitas El'Vee mengadakan Study Tour ke luar kota. Sebuah kota bernama Kryvoxa, Kota besar yang memiliki kemampuan dua kali lipat dari kemajuan Exgalya. Bagian yang mereka tuju ialah, Rivyoxa.
Sebuah tempat yang memiliki banyak ilmu dan wisata. Karu, Risu, Miccha dan Aziru berada dalam kelompok yang sama. Mereka diarahkan lebih dulu melewati Jalur Utama Altar Rivyoxa, yang memiliki banyak peninggalan di sekelilingnya.
Peninggalan yang terlihat, memiliki umur ratusan bahkan ribuan tahun sebelum kemajuan kota tersebut. Seluruh artefak dijaga dengan rutin dan tetap menunjukkan nilainya. Sembari dipandu oleh pembimbing, Risu memulai keluhannya.
"Kau berpikir ini menyenangkan, Miccha?" Tanya Risu dengan tatapan heran.
"Ini adalah kesempatan kita melihat isi kota yang lebih dari Exgalya." Bantah Miccha pada Risu.
"Semaju apapun kota itu, jika tak membuat nyaman apa gunanya?" Balas Tanya Risu dengan keluhnya.
"Risu, kau minta di pulangkan?" Bisik Aziru dari belakang Risu.
"Ah! Bukan begitu!" Bantah Risu dengan nada kecil.
"Tak ada yang bisa kita lakukan, Risu. Lebih baik kita nikmati ini sebisa mungkin. Ayo." Ujar Karu sembari menarik Risu.
"Eh?! Karu! Mau kemana?!" Tanya Risu ditarik oleh Karu.
"Karu tak biasanya bersemangat seperti itu." Ujar Miccha dengan heran.
"Kurasa ada yang terjadi sebelum keberangkatan." Balas Aziru.
Sembari mereka berkeliling sesuai kelompok, Risu melihat jadwal kegiatan Study Tour pada lembarannya.
"Kunjungan Rivyoxa, Catatan Artefak, Pencarian Artefak Kelas S, Waktu senggang, Hotel, makan dan lain-lain. Aaaaah! Tak ada yang membuatku bersemangat dengan formalitas ini!" Seru Risu dengan rasa kesalnya.
"Kau berharap apa pada Study Tour ini, Risu?" Tanya Miccha yang semakin heran.
"Aaaaaaaa~ Entahlah." Balas Risu dengan senyum lebarnya.
Seketika Miccha melayangkan lembaran jadwalnya yang digulung pada kepala Risu akan rasa kesalnya.
"Jika yang kau harapkan adalah jalan-jalan, kita sudah mendapatkannya!" Balas Miccha sembari di tahan oleh Aziru dan Karu.
"Miccha. Tahan." Pinta Aziru sembari menahan Miccha dari belakang.
"Risu, kumohon berhentilah mengeluh. Aku khawatir pada Miccha jika seperti ini." Pinta Karu sembari mengerutkan dahi.
"Baik~ baik~ aku hanya bercanda. Jika begitu kita kembali berkeliling. Ayo!" Seru Risu melanjutkan perjalanannya.
Kegiatan sedari pagi menjelang siang telah usai di bagian Rivyoxa. Universitas El'Vee melanjutkan perjalanannya menuju hotel untuk beristirahat pada gelombang pertama perjalanan mereka.
Sesampainya di Hotel Kryvoxa Lima, mereka bergegas menuju masing-masing kamar dan beristirahat. Kelompok Risu mendapati bagian di lantai dua dengan nomor kamar 315. Ketika memasukinya, kamar tersebut tampak luas dan memanjakan mereka. Dengan Dinding warna Krem dan putih beserta dekorasi yang beragam.
"Aha~ Inikah kelebihan Kryvoxa? Luar biasa." Ujar Risu sembari melayangkan tubuhnya dengan posisi tengkurap pada kasur.
"Ampun. Padahal tak begitu berbeda dengan Exgalya, aku tak mengerti dengan pikiranmu, Risu." Balas Miccha sembari menaruh tasnya.
"Kurasa Risu hanya terlalu senang, Miccha. Kita harus memakluminya." Sanggah Karu dengan lembut.
"Daaaaan aku penasaran denganmu. Apa yang terjadi padamu sebelum keberangkatan?" Tanya Miccha dengan penasaran sembari mendekatkan wajah dan bertolak pinggang.
"Aku mengerti. Pria itu, Miccha." Sanggah Aziru dengan tebakannya sembari merapihkan tas.
"Aziru!" Seru Karu dengan malunya sembari menengok.
"Hooo~ dia sudah melakukan sesuatu terhadapmu, ya? Jika begitu, itu lebih baik." Lanjut Miccha menggoda Karu.
"Bukan begitu! Miccha !" Seru Karu menahan malu dan kesalnya.
"Kalian berdua... lebih baik beristirahat selagi bisa. Selamat malam." Ujar Risu dalam tidurnya.
"Padahal sekarang waktu makan siang. Bagaimana?" Tanya Aziru pada Miccha.
"Kuyakin, Risu kelelahan lebih dulu setelah dia mengeluarkan tenaga lebih dibanding kita. Ayo." Balas Miccha sembari mengajak Karu dan Aziru.
Miccha, Karu dan Aziru berjalan ke aula makan untuk mengisi perut. Suasana begitu ramai dan terdengar perbincangan dari mereka semua.
Tanpa terduga, gerombolan orang bersenjata dengan mengenakan topeng tak dikenal, menerobos pintu masuk aula utama dan menodongkan senjata mereka sebagai ancaman.
Miccha dan kawan-kawan yang sedang menikmati makan siangnya, tertunda sembari terkejut. ******* tersebut menendang properti mereka untuk membuat jalan.
Dengan seketika, suasana hangat menjadi mencekam. Sekelompok ******* membuat seluruh penghuni hotel berkumpul menjadi satu lingkaran. Risu yang sedang menikmati tidurnya, ditarik paksa hingga terbangun dan terkejut.
Salah satu anggota ******* tersebut menyekap mulut Risu sembari menodongkan senjata pada pinggang kanan Risu. Risu yang tak tahu apa yang terjadi, ketakutan dan menuruti perintah ******* tersebut. ******* yang membawa Risu, bertanya pada rekannya.
"Jadi, untuk gadis ini lebih baik kita apakan?" Tanya ******* topeng cokelat.
"Jadikan satu dengan mereka. Bos ingin kita lebih profesional dibanding sebelumnya." Balas ******* topeng hitam.
"Baiklah. Ayo, jalan!" Balas ******* topeng cokelat sembari menyuruh Risu menggerakan langkahnya.
******* yang membawa Risu, mendorongnya dengan keras dan terjatuh di hadapan Karu, Miccha dan Aziru. Mereka yang melihat Risu, langsung menariknya dan berhimpit ketakutan.
Suasana di luar maupun di dalam sama tegangnya karena polisi harus berhati hati agar tidak salah langkah. Para warga sekitar yang melihat dari luar hotel sangat khawatir akan tragedi yang sedang mengancam mereka saat ini.
"Bagaimana jika kita giring mereka ke dalam?" Tanya ******* topeng hitam.
"Ide bagus, itu akan mempersempit ruang gerak mereka. Bos akan memulai negosiasinya. Kita bagi kelompoknya! itu akan memudahkan kita." Balas ******* topeng cokelat.
"Tunggu. Jika kita bergerak di dalam ada kemungkinan mereka menerobos bagian sana. Waspadalah lebih dulu." Sanggah ******* topeng ungu.
"Aku lengah. Jika begitu tetap di tempat dan lihat sekitar." Balas ******* topeng cokelat.
"Oke!" Ujar para ******* bersamaan.
******* yang beraksi terdapat dua belas orang, ditambah satu Bos mereka. Berita yang menyiarkan tragedi itu membuat yang ada di Exgalya ikut terkena imbasnya akan kekhawatiran mereka. Hiruma sedang melihat berita tersebut dan langsung dihubungi oleh Bos ******* yang ingin bernegosiasi dengannya.
"Tuan Muda Hiruma. Mengenai situasi ini, kuyakin tak perlu panjang lebar padamu, bukan?" Ujar Bos ******* dengan keramahannya.
"Aku paham. Benar-benar paham." Balas Hiruma menahan kesalnya.
Seisi Kota Exgalya dibuat panik akan korban yang menimpanya, terlebih Hikky tak percaya dengan apa yang terjadi. Keluarga korban menuturkan doanya agar mereka selamat dan tak terjadi hal yang tak di inginkan. Ard yang berada di Pelabuhan Gal-Alya melihatnya beberapa lama sembari memegang CyPhone.
[Akses Diterima. Perangkat akan hancur dalam sepuluh detik. Harap jauhkan dari jangkauan anda.]
Ard yang mendapati pesan pada Cyphonenya, langsung melempar Cyphone ke arah laut dan meledak di dalam air beberapa lama kemudian.
Di lain tempat, sebuah Server yang memuat berbagai macam CyDroid mendapati kepanikan karena empat Guardian CyDroid Type S terbang keluar tanpa kendali dari server.
"Siapa yang mengaksesnya?! Sialan! Bagaimana ini?!" Seru petugas yang berada di Aula Server sembari meminta bantuan dengan menyalakan alarm.
"Hei! Ada apa?! Kemana CyDroid itu pergi?!" Tanya Wakil Kepala Server CyDroid.
"Aku tak tahu! Mereka tiba-tiba lepas landas begitu saja!" Balas Petugas CyDroid dengan kebingungan beserta rasa kesalnya.
"Aaaaahhh! Lupakan! Temukan penggunanya!" Seru Wakil Kepala Server memberitahu staff yang lain.
"Baik!" Seru Petugas Server CyDroid akan konfirmasinya.
"Seperti yang kukatakan, kau turun dari sana sekarang. Maka aku akan menjamin keselamatan mereka. Kami semua tentu membencimu ketika kau mendapatkan segalanya, Tuan Muda Hiruma." Ujar Bos ******* akan permintaannya.
"Sebenarnya, aku ingin melawanmu secara penuh. Tanpa melibatkan mereka dan menyelesaikan masalah ini." Balas Hiruma.
"Maaf. Tapi aku lebih menyukai cara kotor, Hiruma. Itu lebih efisien untukku. Dan bisa melihat ekspresimu yang memikirkan segalanya." Lanjut Bos ******* mempermainkan Hiruma.
"Aku tak mengerti dengan kalian yang bersikeras bertindak konyol sejauh ini. Manusia primitif bahkan lebih baik darimu dalam berpikir." Ujar Hiruma.
"Karena kau menjengkelkan. Kau mengacaukan bisnis kami. Dengan kau di sana, kami tak bisa bergerak banyak. Kenapa kau begitu bodih, Hiruma?" Balas tanya Bos ******* sembari tersenyum bengis.
"Aku bersyukur bisa mencegah kalian jika begitu." Lanjut Hiruma.
[Guardian CyDroid 1 : Koordinat terkonfirmasi. Memulai taktik sesuai komando. Pelapis Kamuflase, dinyalakan.]
[Guardian CyDroid 2 : Target terkonfirmasi. Suhu panas pada subjek bersenjata. Segera melakukan Blocking. Level Blocking : Annihilation.]
[Guardian CyDroid 3 : Co-Operation, diterima.]
[Guardian CyDroid 4 : Kalkulasi selesai. Dikonfirmasi dalam 10 detik. Menambah Booster. Memasuki Boost. Level : Jet-Dash.]
[All Guardian CyDroid : Pemusnahan, dilakukan.]
"APA INI?! AAAAA!!" Ujar Kelompok ******* yang diserang oleh pedang laser Guardian CyDroid dengan kecepatan tinggi.
"BO...S---" Seru ******* topeng ungu yang tertebas oleh Guardian CyDroid.
"AAA!!!" Seru ******* topeng hijau tertembak pada dadanya.
Baku tembak pun terjadi beberapa kali dan membuat para korban tiarap ketakutan. Baku tembak yang terdengar sangat dekat dengan mereka, membuat mereka berdoa agar terlindungi dari setiap peluru yang ditembakkan.
"Apa ini?! Hiruma... Padahal aku ingin bernegosiasi dengan ramah padamu. Tapi apa yang kau tunjukkan di sini?!" Seru Bos ******* menunjukan berita baru yang beredar.
"Guardian CyDroid?!" Gumam Hiruma dalam hati dengan terkejutnya.
Hiruma terdiam karena tak menduga bahwa ada yang menggunakan senjata militer paling rahasia digunakan ke muka publik.
"Hiruma... HIRUMAAAAA!!!" Seru Bos ******* menghancurkan komunikasinya.
"Siapa... yang melakukannya?" Tanya Hiruma dalam hati.
Di tengah kekacauan, ******* yang berada di dalam hotel dibuat kewalahan akan rencana mereka. Salah seorang ******* yang tersisa menyekap salah satu Mahasiswi El'Vee dalam jangkauannya sembari menodong senjata api pada kepala Mahasiswi tersebut.
Bersamaan dengan Guardian CyDroid yang mengarahkan meriam laser pada ******* yang tersisa seorang diri.
"Mundur! Mundur! Sebelum kalian membunuhku, aku akan membunuhnya lebih dulu!" Ujar ******* pada tiga Guardian CyDroid yang berada di depannya.
Tanpa terduga, Guardian CyDroid 2 menebas dengan cepat memotong kepala ******* tersebut dari belakang dan tak terlihat karena mengenakan Pelapis Kamuflase nya. Mahasiswi yang disekap olehnya diamankan oleh Guardian CyDroid. Mereka yang melihat kesempatan, beramai-ramai keluar dengan segera dari dalam hotel. Guardian CyDroid usai dengan misi pertama, kembali terbang mengurus Bos dari ******* tersebut.
"Apa sebenarnya... itu ?" Gumam tanya salah seorang polisi sembari melihat Guardian CyDroid terbang menjauh.
[Guardian CyDroid 1 : Target tereliminasi. Melanjutkan pada Subjek 2. Mengirim Data.]
[Guardian CyDroid 2 : Data terkonfirmasi. Memulai pencarian koordinat.]
[Guardian CyDroid 3 : Suhu panas terdeteksi. Mengkonfirmasi Data. Data sinkron. Subjek ditemukan.]
[Guardian CyDroid 4 : Koordinat EX-1441-75273-1. Terkonfirmasi. Boost : Jet-Dash.]
Seusai pencarian singkat, Guardian CyDroid berhasil menemukan Bos ******* yang sedang kabur mengenakan CyMobile.
"Sialan! Mereka itu apa?! Ah!" Gumam Bos ******* tersebut dan terhenti dengan tiba-tiba.
Ketika ia sedang melaju dengan CyMobilenya, Guardian CyDroid berhasil mengepung Bos ******* tersebut.
"H-hei... b-bisa kita bicarakan ini? Aku takkan--" Ujar Bos ******* terpotong dengan paniknya.
[Guardian CyDroid 1 : Memulai eliminasi. Tipe Eliminasi : Pemusnahan.]
[Guardian CyDroid 2 : Komando dikonfirmasi. Tembak.]
Tanpa keraguan, empat Guardian CyDroid menembaki Bos ******* beserta CyMobilenya bertubi-tubi hingga CyMobile meledak menyelimuti Bos ******* tersebut.
[Guardian CyDroid 3 : Misi selesai. Mengakses Server untuk kembali. Server terbuka.]
[All Guardian CyDroid : Diterima.]
Keempat Guardian CyDroid tersebut selesai dengan keseluruhan misi dan kembali ke server di Exgalya. Suasana di hotel masih terasa akan ketegangan dan traumatik dari para korban terorisme.
Pihak El'Vee pun merundingkan untuk melanjutkan atau tidaknya kegiatan sekolah mereka. Mereka yang menjadi korban, seluruhnya menutup diri di masing-masing kamar hotel.
Terlebih Risu yang meringkuk ketakutan. Miccha, Karu dan Aziru mencoba sebisa mungkin menyemangati Risu. Mayat para ******* mulai diidentifikasi dan dibersihkan dari tempat kejadian.
Hari mulai sore dan sunyi, suara yang terdengar hanyalah kicauan burung yang melewati area di langit Kryvoxa. Sebagian dari mereka mulai menenangkan diri keluar dari kamar untuk menghirup udara segar.
Selang beberapa lama, Risu kembali sadar dengan perlahan dan mau berbicara.
"Risu? Syukurlah. Kami khawatir terjadi sesuatu lebih buruk padamu." Ujar Miccha sembari memeluk Risu.
"Hei. Apa kita akan baik-baik saja sehabis ini? Kuyakin tak akan semudah itu, bukan?" Tanya Risu sembari memeluk kedua kakinya.
"Kita akan baik-baik saja, Risu. Pihak El'Vee sedang merundingkan hal yang aman untuk kita sekarang." Balas Karu dengan lembut menyemangati Risu.
"Aku... tak ingin melanjutkan ini. Mereka pasti berpikir hal yang sama." Lanjut Risu membenamkan wajahnya di antara kedua himpitan kakinya.
"Risu benar, Karu. Bahkan kita telah mengetahuinya, Kryvoxa tidak sepenuhnya melebihi Exgalya. Jika itu hanya kejadian kali ini, cepat atau lambat hal yang sama pasti akan terjadi lagi. Semaju apapun, jika manusia masih memiliki nafsu duniawi yang tak terkontrol, maka itu hanya akan menghancurkan kemajuannya." Sanggah Aziru mengikuti keputusan Risu.
"Tunggu sebentar, Aziru. Jika itu adalah ******* Kryvoxa, kenapa mereka mengincar kita dari Exgalya sebagai sandera?" Tanya Karu dengan rasa herannya.
"Jika yang diincar adalah kita, maka targetnya pasti Kota Exgalya, bukan?" Ujar Miccha dengan perkiraannya.
"Bukankah bisa saja mereka menyandera kita sebagai yang terdekat untuk menjatuhkan Kryvoxa?" Balas tanya Karu.
"Bisa jadi ini adalah kebetulan perihal internal Kota Kryvoxa. Bagaimana denganmu, Aziru?" Ujar Miccha sembari melihat Aziru.
"Jika bukan Kryvoxa, pendapatku ialah Hiruma terlibat sesuatu lagi akan hal ini." Balas Aziru akan opininya.
"Itu juga masuk akal. Mengingat banyak yang mengincar Hiruma dengan segala cara." Ujar Miccha sembari mengelus kepala Risu untuk menenangkannya.
"Aku tak ingin berasumsi negatif lebih lanjut, kita hanya harus menanyakannya perihal ini." Ujar Aziru.
"Kurasa tak perlu, Aziru. Kita cukup bersyukur karena bisa selamat." Bantah Miccha.
"Ah, benar. Maaf." Pinta Aziru dengan menyesal.
Ketika mereka sedang berdiskusi kecil, CyPhone Miccha bergetar akan panggilan video. Ketika dilihatnya, itu berasal dari Hiruma. Hiruma yang menghubungi Miccha memberitahu mereka agar melanjutkan pesannya untuk Pihak El'Vee.
Mereka yang mendapati pesan Hiruma, menuruti pintanya dan segera memberitahu Pihak El'Vee. Mereka yang diberitahu Miccha dan kawan-kawan, mendengarkan pesan Hiruma.
"Pertama, aku mohon maaf sebesar-besarnya tak dapat bertindak dengan cepat karena terdapat hal tak terduga olehku. Atas tragedi ini aku meminta pada pihak El'Vee untuk segera kembali ke Exgalya. Jika seluruhnya selamat aku berterima kasih sekaligus bersyukur untuk semuanya. Untuk jadwal, kegiatan disatukan dengan senior tahun depan dan akan kutambahkan penjagaan. Sekali lagi, aku mohon maaf tak bisa menyampaikan hal lain akan tragedi ini, karena aku harus melakukan pertanggung jawaban lebih dulu. Sekian." Ujar Hiruma mengakhiri pesannya.
Informasi dari Hiruma membuat mereka merasa lega. Pihak El'Vee dengan segera membatalkan jadwal mereka di Kryvoxa. Kemudian, CyPhone mereka berdering bersamaan.
Karu mendapati panggilan dari Hikky, Miccha oleh Gant, Risu oleh Xion, dan Aziru oleh Jay. Mereka semua saling memberitahu keadaan mereka masing-masing.
Di lain tempat, Pelabuhan Axeru. Ard yang sedang berbaring miring sembari memancing, mendengar beberapa langkah kaki dari belakang.
Terlihat sosok empat orang Agen Exgalya beserta dua Guardian CyDroid Type
A tampak mencari Ard.
"Permisi." Ujar salah seorang agen wanita.
"Hmm?" Gumam Ard sembari menengoknya.
"Anda yang bernama Ard, dari Bagian Alya?" Tanya Salah seorang Agen.
"Ya. Itu aku." Balas Ard dengan senyum ramahnya.
"Tolong ikut dengan kami, tanpa perlawanan." Lanjut salah seorang Agen.
"Tentu." Balas Ard sembari merapihkan alat-alat memancingnya dan menaruhnya di kapal.
Dengan ringan hati, Ard ikut dengan mereka dan mengetahui apa yang terjadi sebagai penyebabnya.